Menggendong Shafa

1023 Kata
"Pak," lirih Shafa mencoba melepaskan tangkupan tangan El dari wajahnya. "Hmm." Bukan menjauh El malah semakin mendekatkan wajahnya hingga kini hanya berjarak beberapa senti saja dari wajah Shafa. "Kenapa semalam nggak balas pesan saya?" Bisik El tepat di telinga Shafa, tanpa persetujuan si empunya pria itu lalu menaruh kepalanya tepat di ceruk leher Shafa. Diam-diam pria itu tengah menikmati parfum aroma vanilla yang terasa begitu manis dan lembut, El mengeram dalam hati hanya menghidu wangi tubuh Shafa saja bisa membuat sesuatu dalam tubuhnya membuncah seketika. Bayang-bayang sosok Shafa yang manis dan polos pun kian melambai-lambai dalam angan nya ingin El kecup dan merengkuh tubuh mungil ke dalam dekapan hangat miliknya. "Sialan, baru gini aja udah turn on lagi gue," geram El kesal, ia begitu frustasi saat ini. Sangat ingin mengajak Shafa mengulangi pergulatan panas malam itu, tapi sadar El tak mungkin melakukannya saat ini. "Pak," lirih Shafa mencoba membuyarkan lamunan El yang sedari terus menatap dirinya tanpa berkedip. Sejujurnya Shafa begitu begitu gugup ditatap seperti ini oleh El, pria tampan dengan sejuta pesona. "Iya, ada apa Shafa?" Bukan menjauh El malah semakin mendekatnya tubuhnya, bahkan dengan entengnya pria itu mengangkat tubuh ramping Shafa agar sejajar dengan wajahnya. Shafa memekik terkejut karena takut jatuh wanita itu refleks mengalungkan kedua tangannya tepat di leher El. "Maaf Pak." Wajah Shafa mendadak berubah warna semerah tomat, ia begitu malu saat ini apalagi saat mengingat tindakan nya barusan. "Tolong turunkan saya Pak," ucap Shafa lalu mengalihkan pandangannya ke arah sekitar, enggan menatap lawan bicaranya. "Kenapa?" El tampak menyelipkan sejumput anak rambut yang menutupi sebagian wajah Shafa dengan lembut. "Saya suka posisi ini." Ucapnya kemudian. Tidak tahan melihat bibir ranum wanita itu El pun langsung mendekatkan wajahnya, bahkan sebelah tangan nya sudah berada di belakang tengkuk leher Shafa, mengunci pergerakan wanita itu untuk tetap menatap dirinya. Tanpa aba-aba dan persiapan lebih dulu El langsung memiringkan kepalanya mengecup bibir berwarna semerah cherry itu dengan lembut. Tak puas dengan kecupan El pun menginginkan hal lebih, menggigit, menyesap bahkan memagut bibir ranum itu. Tapi, tiba-tiba saja suara ketukan seseorang yang begitu keras terdengar di balik benda berbentuk persegi itu, dengan cepat El pun langsung menurunkan tubuh Shafa tak lupa ia pun meminta wanita itu untuk merapikan penampilan yang terlihat cukup berantakan. "Ya, ada apa?" tanya El to the point sesaat setelah membuka pintu tersebut. Pria berkacamata itu pun tampak menunduk hormat. "Maaf Pak saya mau menyerahkan berkas ini," jelas pria itu yang bertugas sebagai kasi tindak pidana umum, sama seperti Shafa. El. mengangguk. "Terima kasih, kamu bisa kembali keruangan kamu." El pun mengulurkan tangannya hendak mengambil berkas itu dari tangan pria tersebut. Tak seperti biasanya bahkan kali ini El pun tak mempersilahkan rekan kerjanya itu untuk masuk ke dalam, tentu saja karena saat ini ada Shafa di ruangan nya. Setelah pria itu berpamitan El pun langsung menutup dan mengunci rapat pintu tersebut, tak lama pria dengan tinggi badan seratus delapan puluh lima centimeter lalu berjalan menuju Shafa yang tengah terduduk di kursi tepat di depan meja kerja nya. "Shafa, hari ini kamu ikut saya ke Kejati," ucap El yang kini telah kembali duduk di kursi kebesaran nya. Shafa menggelengkan kepalanya cepat. "Maaf Pak saya nggak bisa. Saya harus merangkum beberapa surat tilang bersama Bu Ester." Shafa menolak halus permintaan atasan nya barusan. "Kamu ikut saya, biar Bu Ester di bantu Vina." Suara El lantang terdengar begitu tegas tak terbantahkan, El tahu ini hanya akal-akalan shafa aja agar menjauh darinya. Tentu saja El tak akan membiarkan hal itu terjadi. "Kamu lupa Shafa, ada beberapa pekerjaan yang belum kamu selesaikan dan saat ini berkas itu harus kita serahkan ke Kejati," jelas El panjang lebar, manik mata setajam elang itu kini tengah menatap dalam manik mata Shafa. Mengisyaratkan wanita itu untuk tidak membantah ucapannya. Shafa tampak menghela nafasnya pasrah. "Baik Pak siap," ucap Shafa lirih tak bersemangat. Ia lalu beringsut dari duduknya dan pamit hendak kembali ke ruangan nya. "Saya tunggu kamu di parkiran jam sepuluh," ucap El sebelum wanita itu benar-benar pergi. Kini El pun kembali memfokuskan pada layar berbentuk kubus yang tadi sempat ia tutup. Tak bisa di pungkiri semangat kerja El hari ini kian meningkat apalagi setelah mendapatkan satu kecupan hangat dari bibir hangat wanita itu. "Cepat atau lambat kamu harus menjadi milikku Shafa," gumam El dengan seulas senyuman manis yang mengembang di bibirnya. *** Pukul dua siang El dan Shafa pun telah menyelesaikan beberapa pekerjaan di kantor Kejaksaan Tinggi atau yang biasa dikenal dengan sebutan Kejati. Kini keduanya pun sudah berada di dalam sebuah mobil berwarna merah tersebut. El yang telah selesai memasangkan seatbelt pun menoleh sekilas ke arah wanita itu seraya berkata. "Shafa, nanti temani saya dulu ya ke rumah sakit," pinta El pada rekan kerjanya itu. Sesekali pria itu pun menyempatkan diri melirik kearah samping. Tak lama pria itu pun mulai mengemudikan mobil nya secara perlahan keluar dari kantor Kejaksaan. "Siapa yang sakit Pak?" tanya Shafa lalu menoleh menatap El sekilas. Bukan bermaksud ingin tahu hanya saja Shafa berpikiran ia berhak tahu apa tujuan El mengajaknya pergi ke rumah sakit. Tepat di lampu merah mobil El pun berhenti. Pria itu lalu menolehkan kepalanya menatap lekat wajah cantik Shafa dari dekat. "Anak tante saya sakit. Semalam tante saya telpon suruh saya jenguk dia. Kasihan dia orang tuanya sibuk semua di luar negeri." jelas El panjang lebar pada lawan bicaranya. Shafa pun mengangguk setuju. "Baik Pak kalau gitu," ucap Shafa singkat lalu membuang pandangannya seketika. Jujur saja Shafa tidak nyaman ditatap terlalu lama seperti tadi oleh El. Kini lampu lalu lintas pun berubah warna menjadi hijau, tanpa menunggu lama El lalu melanjukan kembali mobilnya. Selama di perjalanan tampak hening, Shafa sendiri sengaja memejamkan matanya tak ingin banyak berinteraksi dengan El. Sedangkan pria itu terlihat tengah fokus mengendarai mobilnya, ia sama sekali tidak berniat membangunkan Shafa dan membiarkan wanita itu beristirahat karena firasat El mengatakan semalam wanita itu tidak dapat tertidur dengan pulas mungkin saja tengah memikirkan nasib rumah tangga nya, begitu pikir El. Selama kurang lebih tiga puluh menit El mengendarai mobilnya, kini mereka pun telah tiba di salah satu pusat perbelanjaan terbesar di Jakarta. El pun terlihat tengah memarkirkan kendaraannya pada basement sebuah Mall di kawasan Kelapa Gading, Jakarta Utara.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN