"Lho Pak kita udah sampai?" Shafa pun terbangun saat merasakan mobil telah berhenti, wanita itu lalu mengusap wajahnya perlahan. "Maaf Pak, saya ketiduran," ucap Shafa lirih, merasa tidak enak hati karena membiarkan El menyetir seorang diri tanpa ditemani.
"Nggak apa-apa." El lalu melepaskan seat belt yang melingkar di tubuhnya. "Ayo turun, kita cari buahan dulu buat anak Tante saya," ajak El, pria itu lalu mengambil sebuah tas selempang kecil berwarna hitam lalu memakainya.
Shafa pun menganggukkan kepalanya, setelah memastikan riasan wajahnya tidak berantakan wanita itu pun langsung bergegas menyusul langkah kaki El dari belakang. Tiba di supermarket El pun lalu mengambil beberapa aneka buah dan memasukkannya ke dalam troli.
"Kamu mau apa, Fa? biar saya yang bayar," ujar El lalu berhenti tepat di sebelah etalase besar yang berisikan beraneka jenis buah-buahan. "Kamu suka buah kiwi?" tanya El kemudian mengangkat kiwi itu tepat di depan Shafa.
Shafa menggelengkan kepalanya cepat. "Nggak Pak, saya nggak suka kiwi." dibanding buah kiwi Shafa lebih menyukai buah strawberry. Ya, meski keduanya kadang menciptakan rasa asam dan manis secara bersamaan.
"Terus kamu sukanya buah apa?" tanya El lalu kembali mendorong troli belanjaan nya. Lihatlah kini mereka bahkan tampak seperti pasangan suami istri yang tengah berbelanja memenuhi kebutuhan rumah tangga nya.
"Strawberry Pak, saya lebih suka ini." tunjuk Shafa pada sekotak strawberry yang ada di depannya. Awalnya ia ingin membeli buah favoritnya itu, tapi sesaat kemudian Shafa teringat akan keuangannya yang semakin menipis, alhasil ia harus bisa menghemat untuk makan sampai gajian bulan depan.
Mendengar jawaban wanita itu, El pun tampak tersenyum tipis. Tanpa pikir panjang pria itu lalu memasukan lima kotak buah strawberry ke dalam keranjang, Awalnya Shafa keukeuh menolak Karena tak ingin merepotkan El untuk kesekian kalinya. Namun, seperti biasa semakin Shafa menolak, semakin keras pula El mendesaknya. Alhasil lagi-lagi Shafa hanya bisa pasrah dan menganggukan kepalanya patuh saat El memberi titah pada dirinya.
***
Kini mereka pun telah tiba di sebuah rumah sakit swasta terbesar di Jakarta. Keduanya pun tampak melangkahkan kakinya pelan menuju lift, tujuan mereka kali ini adalah lantai enam, tempat di mana adik sepupu El dirawat.
"Temani saya sebentar ya Fa, abis itu kamu saya antar pulang," ujar El lalu menekan tombol enam pada lift tersebut.
Shafa pun mengangguk patuh. "Iya Pak, tenang aja."
El melirik ke arah Shafa sekilas. "Sini saya bawa aja barang belanjaan nya." El mengulurkan tangannya hendak mengambil plastik putih tersebut.
Shafa terlihat menggelengkan kepalanya cepat. "Nggak usah Pak, biar saya aja yang bawa." tolak Shafa dengan halus. Tentu saja ia di belikan banyak buahan hari ini sudah sepatutnya ia membalas kebaikan El dengan membantu El membawakan barang belanjaan nya. Ya, hitung-hitung balas budi dan tahu diri. Meski sejujurnya Shafa masih canggung berduaan dengan El tapi perlahan Shafa pun mencoba bersikap biasa saja seolah tidak pernah terjadi apa-apa diantara mereka malam itu.
Denting lift pun berbunyi, benda berbentuk kubus itu terbuka. El dan Shafa pun langsung melangkahkan kakinya keluar dari lift dan berjalan ke sebuah kamar yang diyakini sebagai kamar rawat inap adik sepupu El. Perlahan El pun mulai membuka pintu kamar tersebut dan mengajak Shafa untuk ikut masuk ke dalamnya.
"Kenapa berhenti, Fa?" EL membalikkan badannya saat mereka Shafa tak mengikutinya.
"Saya tunggu di sini aja ya Pak," ucap Shafa menunjuk pada sebuah kursi kosong yang tersedia di luar ruangan.
El pun langsung menggelengkan kepalanya tidak setuju. "Kamu ikut saya masuk ke dalam, hanya sebentar," ajak El lalu mengulurkan tangannya hendak menggandeng jemari Shafa.
"Baik Pak," sahut Shafa cepat, wanita itu lalu menundukkan wajahnya dan menautkan jari-jari tangannya sendiri tanpa ingin menggenggam jemari El.
El pun paham akan penolakan yang Shafa lakukan. Pria itu lalu membalikkan badannya lagi dan berjalan pelan masuk ke dalam ruangan rawat inap kelas VVIP tersebut.
"Gimana kabar kamu, Dek?" sapa El saat melihat adik sepupunya itu tengah terduduk bersama seorang pria di sampingnya.
Shafa langsung mengangkat wajahnya, berniat menyapa saudara dari rekan kerjanya itu. Namun, hal itu ia urungkan karena saat ini dadanya bergemuruh hebat, tubuh nya lemas seketika, bahkan kedua bola matanya pun memanas saat melihat pemandangan menyakitkan yang ada di depannya.
"Mas Dion?" lirih Shafa dengan air mata yang sudah mengalir deras di pelupuk matanya. Ia lalu menggelengkan kepalanya lemah, mencoba tidak mempercayai penglihatan nya kali ini.
"Shafa," Dion tak kalah terkejut, sesaat setelah melihat sang istri yang kini sudah berada di hadapannya.
"Maaf saya harus keluar," ucap Shafa dengan suara yang sudah bergetar hebat, wanita itu lalu menaruh plastik putih tadi tepat di atas brankar, dan tak lama Shafa pun membalikkan badannya dengan bahu yang bergetar hebat menahan tangisnya. Shafa pun melihat melangkahkan kakinya keluar rumah sakit.
"Shafa?" panggil El dan Dion secara bersamaan, keduanya tampak saling pandang. Menatap sinis satu sama lain.
"Itu bukan Shafa istrimu kan Mas?" tanya wanita yang tengah terbaring lemah di atas brankar dengan nada yang begitu ketus, wanita itu lalu mengguncang kasar bahu Dion Meminta penjelasan pada pria itu.
Dion tidak menjawab, pria itu lalu menepis kasar jemari Aura yang bertengger di bahunya. Kini pria itu pun terlihat mempercepat langkah kakinya menyusul keberadaan istri sahnya itu. Dion harus segera menemui Shafa, ia rindu akan wanita cantik itu terlebih semalam ia memilih meninggalkan Shafa seorang diri di rumah hanya demi menemani Aura di rumah sakit. Dion tak habis pikir bagaimana bisa Shafa datang kesini dan menemui Aura? Ada hubungan apa sebenarnya Shafa dengan kakak sepupu Aura? berbagai pertanyaan pun kini tengah menari-nari di dalam benak Dion.
Sementara itu El menatap Aura dengan tatapan penuh selidik. Sejak awal El tahu bahwa Aura akan menikah siri dengan seorang pria. Namun, ia tak tahu jika pria itu adalah Dion, suami Shafa. Terlebih baru kali ini juga El bertemu dengan suami dari adik sepupunya itu. Andai saat itu El mengetahuinya mungkin, ia akan melarang adik sepupunya itu untuk menikah dengan seorang pria beristri.
"Jelaskan semuanya sama Abang," titah El lalu menatap tajam wanita yang kini sudah terduduk di atas brankar. Pria itu terlihat tengah berkacak pinggang.
Aura menatap jengah pada pria di depannya ini. "Apa lagi yang mau di jelasin sih Bang?" ucap Aura begitu ketus. Wanita itu lalu mengusap perutnya yang mulai membuncit.