El tampak menggelengkan kepalanya heran. "Jadi selama ini kamu menikah dengan suami orang?" tanya pria itu lalu melipat kedua tangannya di d**a.
"Apa salahnya sama suami orang sih Bang? toh di agama kita seorang pria boleh mempunyai istri lebih dari satu," bela Aura begitu angkuh, wanita itu sama sekali tidak mau mengakui kesalahannya karena telah menikah dengan suami wanita lain, di tambah saat pernikahan mereka terjadi pun Salma selaku istri sah tidak mengetahuinya.
"Astaghfirullah!" EL pun mengelus dadanya perlahan, merasa kesal melihat sikap Aura yang sama sekali tidak mencerminkan penyesalan. "Om dan tante harus tahu bagaimana kelakuan anak mereka sebenarnya." Setelah mengucapkan hal itu El pun langsung pergi meninggalkan Aura seorang diri. Pria itu berjalan cepat hendak menyusul Shafa yang ia yakini masih berada di sekitar halaman rumah sakit.
Dugaan El tepat sekali karena benar saat ini Shafa pun masih berada di sekitar parkiran. Tunggu, wanita itu tengah menangis dan sepertinya Dion memperlakukan Shafa dengan kasar, hal itu terlihat jelas saat Shafa mulai menarik pergelangan tangan kanannya dengan kasar. El yang melihat pemandangan itu pun menjadi tidak tega, pria itu lalu berjalan mendekat ke arah keduanya.
"Lepas Mas!" Shafa menyentak kasar tangan suaminya, wanita itu ingin menghindar. Namun, secepat kilat Dion kembali menahan lengannya.
"Shafa sayang, kita pulang ya. Kita selesaikan semua masalah ini," lirih Dion dengan wajah yang teramat sendu. Melihat Shafa menangis seperti ini membuat sudut hatinya berdenyut nyeri. Oh Tuhan, tak seharusnya Dion terjebak hubungan terlarang dengan wanita itu. Wanita yang telah tega menghancurkan biduk rumah tangganya.
Shafa menggelengkan kepalanya cepat. "Nggak! Aku tetap mau pisah," ujar Shafa dengan tegas. Wanita itu lalu mengusap kasar air mata sialan yang terus saja mengalir di pelupuk matanya. Setelah semua kejahatan yang Dion lakukan padanya, kini pria itu pun tak tahu malu dan ingin mengajaknya pulang. Oh, Dion pikir sekuat apa hati Shafa menghadapi perilaku buruknya selama ini. Tak ingin berlama-lama Shafa pun langsung membalikkan badannya dan berjalan cepat menuju keluar rumah sakit.
"Shafa, sayang tunggu," cegah Dion dengan cepat. Ingin mengejar Shafa tapi sayang secara bersamaan ponselnya berdering. Satu panggilan dari pihak rumah sakit yang mengatakan bahwa Aura kembali pingsan. "Sialan, b******k!" umpat Dion begitu kesal mau tak mau, pria itu pun memilih masuk ke dalam rumah sakit lagi dari pada menyusul Shafa yang sudah berlari entah kemana.
Shafa tersenyum getir, saat melihat Dion tidak mengejarnya dan malah kembali masuk ke rumah sakit. Shafa kira ia adalah rumah untuk Dion, nyatanya ia hanya sebuah tempat untuk bersinggah. Sungguh mengenaskan sekali kisah hidup Shafa selama ini.
"Naik Fa!" titah El lalu membukakan pintu mobilnya itu. Mempersilahkan Shafa untuk segera masuk. Beberapa saat yang lalu setelah melihat Shafa yang berlari keluar rumah sakit, El pun langsung menyalakan mesin mobilnya dan menyusul keberadaan wanita itu.
Shafa tampak sedikit terkejut. Wanita itu lalu menolehkan kepalanya sekilas. "Pak El?" ucap Shafa lirih. Sejak kapan El sudah berada di sini, seingatnya El masih berada di rumah sakit tadi. Menggelengkan kepalanya pelan Shafa pun kembali berkata. "Terima kasih Pak, saya naik ojek online aja," ujar Shafa pelan, wanita itu tak mungkin merepotkan El untuk yang kesekian kalinya. Lagi pula saat ini Shafa memang benar-benar ingin sendiri tanpa ada yang mengganggu.
"Sebentar lagi akan turun hujan, lagi pula saya nggak melihat ada tanda-tanda angkot akan lewat sini," jelas El, pria itu pun keukeuh ingin memaksa Shafa masuk ke dalam mobilnya.
"Tapi Pak." ucapan Shafa terputus. Secara bersamaan rintik-rintik hujan mulai turun, membasahi sebagian besar wilayah di Jakarta.
"Ayo cepat naik!" El kembali memberi perintah. Pria itu kembali menatap Shafa meski ragu-ragu wanita itu akhirnya mau menuruti perintahnya, masuk kedalam mobilnya. Seulas senyum pun terbit di bibir pria tampan itu, saat Shafa mau menuruti perkataannya. "Ini usap kepala kamu basah," ucap El lalu menyodorkan sebuah kotak tissue pada Shafa.
"Terima kasih Pak." Shafa mengambil beberapa lembar tissue tersebut lalu mengusap pada bagian wajahnya yang terkena air hujan tadi. Wanita itu kembali menundukkan kepalanya, ingin menangis kembali namun, ia urungkan mengingat saat ini Shafa sedang bersama orang lain. Ia tampak memejamkan matanya sebentar, mencoba menahan cairan bening itu agar tidak keluar lagi. Tidak! Shafa tidak boleh terlihat lemah di mata orang lain. Shafa tidak ingin mendapatkan belas kasihan dari siapapun itu.
Hening, tidak ada lagi percakapan di antara mereka. El yang paham pun tidak lagi mengajak Shafa berbicara, ia membiarkan Shafa terdiam dan termenung menatap ke arah luar jendela, sedangkan El sendiri, pria itu kini tengah fokus mengendarai mobilnya. Hingga di menit berikutnya El yang tidak tahan pun akhirnya membuka pembicaraan ini.
"Saya antar kamu kemana, Fa?" tanya El melirik ke arah wanita itu sekilas.
Shafa pun menoleh. "Turunkan saya di halte depan saja Pak," ucap Shafa, wanita itu lalu memakai kembali tas berwarna hitam yang tadi ia pangku.
"Saya antar ke rumah kamu." tak ingin menuruti ucapan Shafa, El pun malah melajukan mobilnya sedikit kencang, bahkan sudah melewati halte yang Shafa tunjuk tadi.
"Saya nggak mau pulang kerumah Pak, kalau begitu tolong turunkan saya di sini," ucap Shafa menolehkan kepalanya menatap pria itu, berharap El langsung memberhentikan mobilnya.
Benar saja, setelah mendengar suara Shafa dan merasa wanita itu menatapnya El pun langsung memarkirkan mobilnya tepat di bahu jalan. "Kemana tujuan kamu? biar saya antar," El pun menoleh, lalu menatap dalam manik mata wanita yang ada di sampingnya ini. Menarik jarinya perlahan lalu mengelus nya dengan begitu lembut mencoba menyalurkan rasa tenang dan nyaman, bahkan El pun terus membisikkan kata-kata seolah semua akan baik-baik saja.
Merasa ditatap seperti itu, Shafa pun langsung membuang pandangannya lalu melepaskan jarinya seketika. Bukan tidak sopan atau tidak menghargai lawan bicaranya hanya saja sekali lagi Shafa tegaskan ia tak mau mendapat belas kasihan orang lain. Shafa sangat tahu, El menolongnya pasti karena rasa iba dan kasihan melihat wanita itu menangis sedari tadi.
"Nggak usah Pak, saya turun di sini aja," ucap Shafa tetap keukeuh pada pendirian nya. Wanita itu ingin membuka pintu mobil El. Namun, ia urungkan saat mendengar El memanggilnya. Kini wanita itu pun terlihat menolehkan kepalanya lagi.
"Shafa?" panggil El lembut, pria itu lalu memajukan kepalanya semakin mendekat hingga berada tepat di depan wajah cantik Shafa. Tangan kanan pria itu terulur mengusap butiran air mata yang jatuh membasahi pipi wanita itu dengan begitu lembut. "Ikut saya ke apartemen," ucap El lalu menangkup wajah Shafa dengan telapak tangan nya. "Mulai sekarang kamu bisa tinggal disana, sampai kamu bisa memutuskan bagaimana hubungan rumah tangga kamu kedepannya."