"Nggak usah Pak." Shafa terlihat membuang pandangannya ke arah sekitar, enggan menatap lawan bicaranya. Selain malu tentu saja karena debaran dalam d**a Shafa yang berdentum begitu kencang jika berdekatan dengan pria itu. "Saya mau balik ke kantor aja Pak," ucapnya kemudian memberikan alasan yang begitu logis.
El menggelengkan kepalanya tidak setuju. "Jam pulang kerja sebentar lagi berakhir," jelas pria bersurai hitam legam itu kemudian. "Oh ya dan satu lagi Shafa yang harus kamu tau, saya nggak suka di bantah." Setelah mengucapkan hal itu El pun langsung melepaskan rangkuman tangannya pada wanita cantik itu. Sedetik kemudian El lalu mulai menyalakan kembali mesin mobilnya dan mulai melajukan nya secara perlahan.
Shafa tampak menghela nafasnya kasar. Alih-alih menolak dan melakukan pemberontakan ia malah terlihat begitu pasrah saat El hendak membawanya ke apartemen. Ya, Shafa pikir mungkin nanti ia akan menanyakan lebih lanjut tentang wanita itu. Sebab yang Shafa tahu wanita itu masih ada hubungan saudara dengan El. Shafa benar-benar penasaran sehebat apa wanita itu hingga mampu membuat sang suami berpaling darinya.
"Kamu lapar Fa?" tanya El lalu mulai membelokkan mobilnya ke area basement apartemen yang cukup mewah di Jakarta.
Shafa yang diam termenung menatap keluar jendela pun sontak menoleh. "Saya masih kenyang Pak," akunya jujur. Mungkin Shafa tak akan memiliki nafsu makan untuk saat ini apalagi setelah terbongkarnya fakta yang cukup membuatnya seolah kesulitan untuk bernafas tadi.
"Ayo turun," ajak El saat pria itu sudah berhasil mematikan mesin mobilnya.
Shafa mengangguk, meski enggan nyatanya wanita itu pun tetap mengikuti langkah kaki El dari belakang. Sedikit menundukkan kepalanya saat berpapasan dengan orang-orang yang ada di sana. Sejujurnya Shafa merasa tidak nyaman apalagi saat ini posisi mereka masih memakai seragam dinasnya yang Shafa takutkan mereka akan menimbulkan asumsi negatif pada publik.
"Jangan jalan di belakang saya Fa." El menarik pelan jemari Shafa agar sejajar dengan nya.
"Saya nggak nyaman Pak," ucapnya risih saat beberapa pasang mata menatap ke arah nya.
"Santai aja, nggak usah mikirin yang lain." El lalu menekan tombol dua puluh pada benda berbentuk kubus itu. Tepat dimana unit apartemen nya berada.
Suara dentingan lift pun berbunyi. Membuat beberapa diantara mereka keluar dari benda berbentuk kubus itu begitupun dengan El dan Shafa. Kini El pun terlihat melangkahkan kakinya lebih dulu menapaki lorong-lorong lift tersebut.
"Silahkan masuk Fa," ucap El tersenyum ramah lalu membuka lebar pintu apartemen nya, meminta Shafa untuk melangkah lebih dulu.
Tanpa bersuara atau berniat membalas ucapan pria itu, Shafa pun langsung melangkahkan kakinya menuju sofa yang terletak di ruang tamu. Mewah dan megah itu kesan pertama Shafa saat memasuki unit apartemen milik El, kesan maskulin semakin terlihat dari beberapa furniture yang melengkapi ruangan tersebut dengan mendapatkan sentuhan gaya rustic. Shafa tak hentinya berdecak kagum kala melihat keadaan di sekeliling apartemen. Katakanlah Shafa norak atau kampungan itu memang benar adanya karena seumur hidup ini pertama kalinya Shafa menginjakan kaki di sebuah apartemen.
"Gimana kamu suka apartemen ini?" Tanya El membuyarkan lamunan Shafa, pria itu lalu mengajak Shafa untuk duduk di atas sofa berwarna gold tersebut.
Shafa menoleh sekilas lalu menganggukan kepalanya. "Apartemen Bapak bagus, seumur hidup baru kali ini saya tau isi dalam apartemen," ucap Shafa jujur lalu kembali memandangi setiap sudut ruangan yang ada di depannya. Saking asyiknya bahkan Shafa sampai melupakan sejenak problematika kehidupan rumah tangga nya.
El mengulas senyuman tipis di bibirnya. " Kalau gitu tinggalah disini bersama saya." Tanpa permisi El pun kembali menyelipkan sejumput anak rambut yang menutupi wajah cantik wanita itu.
Shafa sontak membulatkan matanya seketika. Ia tercengang akan tawaran El barusan. Tinggal bersama? Tanpa ikatan yang jelas? Oh my god, sepertinya El sedikit tidak waras. Bagaimana bisa ia mengatakan hal itu padahal jelas status Shafa saat ini masih menjadi istri orang lain, jika ia nekat menuruti perintah El bukankah itu sama saja Shafa seperti Dion yang telah berselingkuh dan tinggal serumah dengan orang lain. Jelas kali ini Shafa akan menolak mentah-mentah permintaan konyol El barusan.
"Saya nggak mau Pak," tolak Shafa dengan tegas, lalu memundurkan sedikit badanya hingga berada tepat di sudut sisi pegangan sofa. Menghindari sentuhan fisik yang hendak dilakukan lagi oleh pria itu.
Melihat Shafa yang terus berusaha menghindar membuat El akhirnya berdecak kesal. Kini perlahan tapi pasti pria itu mulai mencondongkan tubuhnya ke arah Shafa. "Kamu lupa apa yang saya katakan tadi di mobil?" Ucap El dengan suara bariton khas miliknya yang terdengar begitu berat dan serak, terlihat jelas pria itu kini tengah mengunci tatapan lawan bicaranya. Ya, bahkan posisi El kini sudah berada tepat di atas tubuh Shafa, bahkan jarak nya hanya beberapa inci saja dari bibir ranum wanita itu.
***
Sementara itu di rumah sakit Dion tampak terlihat kesal bercampur marah, hal itu terlihat jelas saat ia dengan sengaja melemparkan benda apa saja yang ada di depannya saat ini.
"b******k, INI SEMUA GARA-GARA KAMU," tunjuk Dion pada seorang wanita muda yang tengah terduduk sambil menangis sesenggukan, wanita itu tampak lemah juga terlihat begitu mengenaskan lantaran warna biru keunguan yang tercetak jelas di lengan tangannya. Ya, setelah beberapa saat tidak sadarkan diri Aura pun langsung mendapatkan penanganan dari dokter. Bukan perhatian dan kekhawatiran yang Dion tunjukan, pria itu malah bersikap kasar bahkan tadi Dion sempat mencengkeram lengan Aura dengan begitu kencang nya.
"Mas, ini bukan salah aku. Nggak ada yang salah dengan semua ini," ucap Aura melakukan pembelaan, tentu saja ia tak mau disalahkan atas kejadian ini. Dengan tertatih wanita itu lalu bangkit dan mendekati ke arah pria yang sudah merajai hatinya itu seraya berkata. "Jika memang Shafa meminta bercerai itu lebih bagus, kita tidak perlu menyembunyikan hubungan ini lagi," meski sedih karena perlakuan Dion yang berubah kasar padanya, setidaknya Aura mempunyai secercah harapan, anak yang dikandungannya ini akan memiliki keluarga seutuhnya.
Dion menghela nafasnya berat, ia lalu menjambak rambutnya frustasi. "Jangan mimpi!" sentak Dion kasar lalu mendorong bahu Aura kencang hingga wanita itu terhempas mundur beberapa langkah. "Sampai kapanpun aku tidak akan pernah menceraikan Shafa. Dan harus kamu ingat Aura setelah anak ini lahir biar aku dan Shafa yang merawatnya." Setelah mengatakan hal itu Dion pun memilih pergi dari ruangan tempat Aura di rawat. Bahkan Dion tidak memperdulikan teriakan kencang Aura yang meminta nya untuk kembali.
"ARGH, SHAFA KEMANA KAMU PERGI!" teriak Dion frustasi, saat mencoba menghubungi Shafa namun sayang nomor teleponnya itu tidak aktif. Penyesalan Dion semakin bertambah saat mengingat kejadian semalam dimana dengan tidak sengaja ia menampar pipi kanan Shafa. Dion memandang telapak tangannya sendiri, sungguh ia menyesal melakukan hal itu. Andai Shafa tak meminta cerai padanya, mungkin Dion tak akan berbuat kasar pada istri cantiknya itu. "Shafa sayang, pulanglah Mas minta maaf," gumam Dion terduduk lemas di sebuah kursi taman rumah sakit, ia lalu mengusap wajahnya gusar, berharap Shafa mau kembali padanya dan memaafkan semua kesalahannya.