"Kamu mau makan apa Fa?" tanya El yang kini tengah mendudukan dirinya di kursi makan.
Pria itu terpaksa menahan hasrat yang menggebu-nggebu saat melihat butiran air mata yang mulai mengalir di kedua pipi Shafa. Saat itu juga El tersadar tak seharusnya ia mengulangi kesalahan yang sama, dengan berat hati pria itu harus melepaskan kungkungan nya dari tubuh mungil Shafa. Dan disinilah mereka sekarang di sebuah pantry berukuran cukup besar di apartemen nya.
Shafa menggelengkan kepalanya pelan. "Saya nggak laper Pak," lirih wanita itu lalu kembali menundukkan wajahnya. Hati nya kembali marah dan bersedih saat mengingat kejadian dirumah sakit tadi dimana Dion tengah menemani wanita hamil yang Shafa yakini wanita itu adalah selingkuhan Dion selama ini.
"Kamu harus makan Fa, menyelesaikan masalah juga membutuhkan tenaga." Tanpa menatap lawan bicaranya, mata El pun terlihat sibuk memilih beberapa menu makanan yang terdapat di ponsel pintarnya.
"Sejak kapan Pak?" Tanya Shafa secara tiba-tiba, wanita itu bahkan tidak berniat menjawab perkataan El barusan.
"Apa nya?" El refleks mengerutkan kening nya bingung, pria itu lalu meletakkan ponselnya di atas meja setelah sempat memesan beberapa menu makanan sebelumnya.
Shafa pun terlihat memberanikan diri menatap lawan bicaranya dengan lekat. "Sejak kapan saudara Bapak menikah dengan suami saya?" tanya Shafa seolah meminta penjelasan karena ia berpikiran pernikahan Dion dengan wanita itu pasti diketahui oleh keluarga besar sang pengantin wanita, bukankah El termasuk juga di dalam nya.
El tampak mengangkat bahu nya acuh. "Saya nggak tau," aku nya jujur. "Yang saya tahu Aura menikah dengan seorang pria, pemilik toko kue yang cukup terkenal di Jakarta." El terlihat menjeda ucapanya sebentar, pria itu lalu menolehkan kepalanya dan membalas tatapan dalam wanita itu padanya. "Kalau saya tahu Aura menikahi suami orang sudah pasti akan saya larang," ucap El dengan sungguh-sungguh karena biar bagaimanapun Aura ini adik sepupu yang begitu akrab dengan nya. Ya, El menganggap wanita itu sudah seperti adik kandung nya sendiri.
Shafa dapat melihat dengan jelas tak ada kebohongan saat kalimat ini terlontar dari bibir pria itu. Menghembuskan nafasnya kasar Shafa akhirnya pasrah percuma juga mengorek informasi dari pria itu. Toh nyatanya El juga terlihat sangat terkejut saat fakta itu terungkap. Licik! Shafa yakin kedua manusia tak punya hati itu sudah menyusun rencana pernikahan mereka dengan sebaik mungkin hingga Shafa terlihat begitu bodoh di mata keduanya.
"Setelah mengetahui fakta ini kamu masih akan tetap mempertahankan rumah tangga mu?" tanya El lalu menempelkan punggungnya pada sandaran kursi. Pria itu pun lantas teringat pada ucapan Shafa yang ingin memaafkan kesalahan suaminya saat El berkunjung kerumah Shafa dua hari yang lalu.
Shafa kembali menunduk lalu menggelengkan kepalanya ragu. "Entahlah," lirih wanita itu dengan suara yang mulai bergetar hebat. "Saya nggak tau apa yang harus saya lakukan Pak." Kini Shafa terlihat menepuk-nepuk keras dadanya. "Rasanya sakit Pak, saya nggak kuat." Dan seketika tangis wanita itu pun kembali pecah. Shafa tak tahan, ia tak sekuat itu untuk menyembunyikan luka hatinya.
Harapan memiliki rumah tangga yang harmonis nyatanya kini hancur berantakan. Shafa kehilangan dunianya ia kehilangan rotasi hidupnya. Pria yang dulu digadang-gadang akan menjadi tempatnya berkeluh kesah, tempatnya berbagi kebahagian dalam suka dan duka. Dan tempat nya berlindung dari setiap permasalahan hidup. Tapi kini pria itu juga yang sudah membuat hati Shafa hancur berkeping-keping dengan sebuah pengkhianatan. Shafa benci! Ia benar-benar benci pada dirinya sendiri yang terlalu bergantung sepenuhnya pada Dion. Bahkan Shafa terlihat kesusahan menentukan pilihan untuk masa depan rumah tangga nya karena Shafa sadar di dunia ini ia tidak punya siapa-siapa lagi kecuali Dion dan keluarganya.
"Shafa," panggil El dengan nada yang begitu lembut. Melihat Shafa menangis hati kecil pria itu tak tega terlebih ia begitu membenci butiran air mata yang lolos tanpa permisi melewati kedua pipi mulus wanita itu, ia lalu beringsut dari duduknya dan memutasi sisi meja makan. "Jangan menangis," ujarnya lalu memeluk tubuh Shafa dengan erat, sebelah tangan nya ia gunakan untuk mengusap-usap punggung wanita itu dengan lembut.
Tanpa sadar Shafa pun terhanyut, ia lalu menempelkan kepalanya pasrah pada d**a bidang pria itu. Entahlah saat ini Shafa hanya butuh ketenangan ia membutuhkan seseorang untuk berbagi keluh kesah nya dari masalah yang tengah dihadapi saat ini. Ini seperti dejavu, Shafa jadi teringat akan kejadian di hotel waktu itu. Dimana El yang terus memeluk menenangkan dirinya untuk tetap bersabar menghadapi masalah yang tengah ia hadapi kala itu. Hari ini untuk pertama kalinya Shafa tidak merasa keberatan mendapatkan perlakuan lembut dari rekan kerja nya itu.
"Maaf Pak," Shafa kembali tersadar atas tindakan kurang sopan nya barusan. Ia lalu melepaskan dirinya dari dekapan pria itu.
"No problem." Kini El pun menggenggam erat kedua pergelangan tangan Shafa seraya berkata. "Mulai saat ini apapun yang kamu rasakan ceritakan pada saya, jangan sungkan. Anggap saya seperti sahabatmu sendiri," ucap El lalu mengusap air mata wanita itu dengan ibu jarinya. "Apapun yang terjadi nanti kamu bisa mengandalkan saya Shafa, saya janji akan terus membantu kamu." El mengucapkan hal itu dengan begitu tulus, dalam hati El terus berjanji akan terus menjaga dan menjadi orang paling terdepan membela wanita itu dari setiap masalah yang akan dihadapi Shafa nanti.
Degup jantung Shafa pun berdentum keras, tak bisa di pungkiri ada rasa hangat yang menjalar di sudut hatinya kala mendengar perkataan El barusan. Bolehkan Shafa berharap dan merasa sedikit senang? Saat ini ia sudah mempunyai tempat berbagi keluh kesah selain dengan Dion tentunya.
Wanita itu lalu tersenyum samar. "Terima kasih Pak," ucap Shafa kemudian.
El mengangguk, ia lalu beringsut dari duduknya seiring dengan suara bel apartemen nya yang terus berbunyi. "Saya kedepan dulu Fa, mungkin itu kurir foodgo. Oh ya tolong kamu siapkan peralatan makan nya ya." El tersenyum manis ia lalu mengelus puncak Shafa dengan lembut sebelum melangkahkan kakinya menuju pintu.
Pintu apartemen pun terbuka, sedetik kemudian mata El pun membulat seketika ia begitu terkejut melihat seorang wanita yang sudah berdiri di depan nya. Wanita cantik dengan penampilan yang begitu modis.
"Ngapain kesini?" Tanya El to the point. Bisa dilihat El sepertinya tidak menyukai kehadiran wanita itu.
"Hay?" Sapa wanita itu dengan begitu lembut, ia lalu mengangkat dua buah paper bag yang tengah berada di tangan kirinya. "Aku bawain makanan ini buat kamu," ujar wanita itu tanpa malu dan berusaha untuk segera masuk ke dalam apartemen El.