"Kak Shinta. Tunggu Kak," teriak El saat saudara kandung satu-satunya itu nekat masuk ke dalam apartemennya. Pria itu lalu membalikkan tubuhnya, melangkahkan kakinya dengan cepat guna menyusul sang kakak.
Shafa yang tengah mengaduk-aduk makanan nya pun sontak menoleh saat mendengar suara teriakan El dan betapa terkejut nya Shafa saat melihat seorang wanita cantik dan modis sudah berdiri tepat di hadapannya. Kedua wanita cantik itu sama-sama terdiam di terpaku di tempat nya hingga salah suara El lah yang memecahkan keheningan itu.
"Kak, ngapa nggak bilang sih mau kesini?" Tanya El lalu menarik salah satu kursi makan, dan meminta sang kakak untuk duduk di sana.
Bukan menjawab pertanyaan sang adik, Shinta pun malah balik bertanya. "Who is she?" Tanya seorang wanita cantik yang diketahui bernama Shinta Yolanda. Wanita berusia tiga puluh tujuh tahun itu menyipitkan matanya, memindai penampilan Shafa dari atas hingga bawah secara berulang.
Sementara Shafa yang ditatap seperti itu pun mendadak kaku, ia refleks menundukan kepalanya karena takut melihat tatapan penuh intimidasi dari wanita itu.
"Kak, jangan ngeliatin Shafa kayak gitu," tegur El saat melihat sang kakak terus menatap tajam Shafa. Pria itu lalu menuangkan segelas air mineral dingin. "Nih minum dulu," ucapnya lalu mencolek lengan Shinta, meminta wanita itu menoleh padanya.
Shinta mengangkat sebelah alis matanya menuntut penjelasan dari adik nya itu. "Shafa?" Shinta sengaja mengulangi nama wanita itu, sedetik kemudian ia lalu menenggak minuman itu hingga tandas tak tersisa.
El menganggukan kepalanya. "Shafa, kenalin ini kakak saya, namanya Shinta." El mencoba mencairkan suasana, pria itu lalu mengusap lembut punggung tangan Shafa.
Sedetik kemudian Shafa memberanikan diri menatap wanita yang diketahui kakak dari atasan nya itu, menganggukan kepalanya sopan Shafa pun lalu tersenyum tipis. "Salam kenal Mbak, nama saya Shafa," lirih Shafa, dengan ragu ia pun mengulurkan tangan nya pada Shinta.
"Shinta," ucap wanita itu singkat lalu membalas uluran tangan Shafa. "Kalian pacaran?" Tanya Shinta to the point tanpa basa basi. Wanita itu lalu menatap El dan Shafa secara bergantian meminta penjelasan.
"Nggak," sahut Shafa cepat.
"Iya," sahut El sama cepat nya.
Shinta mengerutkan kening nya bingung. "Jadi kalian pacaran apa nggak?" Tanya nya memastikan sekali lagi. Wanita itu lalu menyandarkan punggung nya pada sandaran kursi lalu melipat kedua tangan nya di d**a.
El pun tampak mengusap tengkuk kepalanya yang tidak gatal. Ia bingung harus menjelaskan nya dari mana. Salah bicara sedikit saja Shinta pasti akan mengadu pada sang mama, mengingat keduanya memang terlihat begitu akrab. El begitu hafal watak sang mama, wanita paruh baya begitu over protektif pada siapa saja wanita yang tengah dekat dengan nya. Ya, Mama Diyah ini memang tipe ibu yang benar-benar pemilih. Siapa saja yang berteman dengan kedua anaknya harus dipastikan dulu bibit, bebet dan bobotnya. Dan El sendiri tidak bisa membayangkan jika nanti mama nya itu mengusik Shafa karena untuk saat ini El ingin melindungi Shafa, membantu wanita menyelesaikan masalah rumah tangga nya.
Melihat ketidaksukaan Shinta pada dirinya membuat Shafa menjadi takut. Shafa pun berniat menjelaskan semuanya agar tidak menimbulkan kesalahpahaman di kemudian hari. "Maaf Mbak, saya benar nggak ada hubungan apa-apa sama Pak El karena saya sendiri sudah punya suami," aku Shafa pada wanita yang sedari tadi terus menatap tajam dirinya.
"APA? KAMU MAU JADI PEBINOR EL?" Pekik Shinta lalu membulatkan matanya terkejut, sesaat setelah mendengarkan penjelasan Shafa barusan.
***
Dion memilih meninggalkan Aura sendiri di rumah sakit, setelah sebelumnya ia meminta satu perawat wanita khusus memantau dan menjaga istri siri nya itu. Meski kesal dengan sikap Aura barusan tapi Dion tidak mengabaikan wanita itu begitu saja karena biar bagaimanapun saat ini Aura tengah mengandung buah hatinya.
Saat ini Dion tengah berada di salah satu toko kue miliknya. Pria berusia tiga puluh tahun itu ingin menenangkan dirinya sejenak, sebelum benar-benar mengambil keputusan pada hubungan rumah tangga nya dengan Aura karena satu hal yang pasti sampai kapanpun Dion tak akan pernah menceraikan Shafa, wanita cantik yang setia menemaninya merintis usaha dari nol.
"Ada apa, Ma?" Tanya Dion sopan, baru saja pria itu mengangkat panggilan dari sang mama.
"Nggak ada apa-apa Mas, mama cuma kangen aja sama kalian berdua." Ada rasa lega saat anak sulungnya itu mau mengangkat panggilan teleponnya karena jujur beberapa hari ini wanita paruh baya merasa resah memikirkan anak juga menantu nya.
"Hmm, baik Ma," jawab Dion berdusta. Pria itu menengadahkan langit-langit ruangan kerja nya memikirkan Shafa. Dion yakin wanita itu sedang tidak baik-baik saja saat ini.
"Syukurlah Mas, Mama hanya khawatir sudah dua minggu kalian nggak main kerumah mama," ujar wanita paruh baya itu, mendengar anak dan menantu nya sehat ia pun mulai bisa bernafas lega.
Dion memilih Diam tidak menanggapi ucapan sang mama. Saat ini pria itu tengah berpikir bagaimana cara membujuk dan meminta maaf pada Shafa. Dion akui ia khilaf dan menyesal telah mengkhianati cinta tulus sang istri selama ini, ia harus segera menyelesaikan masalah ini secepatnya dan memulai semuanya dari awal lagi bersama Shafa. Dion yakin wanita itu pasti mau memaafkan dirinya karena Dion yakin hanya dirinya lah satu-satunya pria yang Shafa cintai dan jangan lupakan bawah hanya Dion lah tempat Shafa bergantung selama ini.
"Mas Dion," panggil sang mama dengan lembut.
"Iya Ma," jawab Dion masih dengan pikiran yang melayang entah kemana.
"Besok minggu ajak Shafa kerumah ya Mas, mama kangen sama dia," titah wanita paruh baya itu kemudian.
Dion tetap menganggukan kepalanya patuh, meski lawan bicara nya tidak bisa melihat hal itu. "Iya Ma, aku usahain. Mudah-mudahan Shafa nggak ada kerjaan tambahan Ma."
"Ya sudah kalau begitu Mama tunggu kalian di rumah ya Mas." Setelah mengucapkan hal itu wanita paruh baya itu pun lalu mematikan sambungan telepon nya. Beliau senang dan sudah tidak sabar menunggu hari minggu dimana anak dan menantu nya akan datang berkunjung.
Dion melemparkan ponsel nya di atas meja dengan kencang, pria itu lalu menguyar rambut nya kasar. Menghela nafasnya yang terasa berat dan begitu sesak. Apa mungkin Shafa mau jika diajak berkunjung kerumah ibunya setelah keributan yang mereka lakukan beberapa hari ini. Pria itu terus memutar otak memikirkan bagaimana caranya mengajak Shafa kembali pulang kerumah, hingga tanpa terasa saat ini kepala Dion mulai berdenyut nyeri seakan-akan otak dalam kepalanya ingin pecah keluar begitu saja.
"ARGH, SAYANG MAAFKAN MAS," erang Dion begitu frustasi kala memikirkan sang istri yang tak kunjung pulang.