"Arga?" Keylia menatapku dengan bingung.
"Ya, itu namaku."
"Hei Pecundang ... d-dia Elf?"
"Benar seperti yang kau lihat. Dia benar-benar berasal dari ras Elf."
Setelah itu aku mau tidak mau juga harus menjelaskan semuanya pada Amelia. Mulai dari awal, sungguh melelahkan harus menceritakan lagi untuk kedua kalinya. Itu memakan waktu lima menit, belum lagi Amelia yang masih kesulitan dalam mencerna apa yang aku beritahukan padanya.
"Jadi intinya kita harus bisa sampai di lantai teratas supermarket ini untuk menghentikan penyebaran Virus yang bernama Crypto itu?" tanya Amelia. Menebak.
" Benar, aku juga sudah berkoordinasi dengan Commander Louisa. Katanya untuk mengembalikan kesadaran orang yang bermutasi menjadi monster. Kita harus menyebarkan sihir suci yang kuat. Dan Elf ini adalah kuncinya."
Setelah aku menjelaskan semuanya. Sepertinya Amelia sudah mengerti dengan baik. Dia mulai akur dengan Keylia. Sungguh sikapnya sangat berbeda dengan bagaimana caranya memperlakukanku selama ini.
"Namamu Keylia bukan? Tidak apa-apa. Setiap makhluk pasti pernah melakukan kesalahan. Selama mereka bisa belajar dan mengakui kesalahannya itu sudah lebih dari cukup," kata Amelia sambil mengusap rambut Keylia.
"K-kau ... apa kau benar-benar Amelia atau jangan-jangan monster muta—akh!"
Aku diinjak lagi tepat di wajahku.
***
Pada akhirnya Amelia memutuskan untuk membantu. Dia terus menerus menempel pada Keylia seperti seorang ibu yang terlalu protektif terhadap anaknya. Sementara itu, Keylia kelihatannya malah terlihat risih dengan kelakuan Amelia yang terus menempel padanya. Rasain tuh, jika Amelia sudah tertarik dengan sesuatu maka ia tidak mudah melepaskannya.
Terlebih lagi Keylia adalah ras Elf yang langka. Kuakui bahwa penampilannya cukup imut. Tapi andaikan saja dia tidak membuat kesalahan hingga membuat kekacauan besar seperti ini mungkin aku baru bisa menganggapnya imut.
Saat ini kami bertiga berada di lantai satu supermarket H-mart. Di lantai satu kami tidak menemukan kesulitan yang berarti karena tidak bertemu dengan satu monster mutasi. Jadi tanpa masalah kami berlanjut di lantai dua. Di lantai dua terdiri dari toko pakaian, jadi seharusnya tempat ini ramai di kunjungi oleh kebanyakan orang yang peduli dengan fashion mereka.
Aku melihat bahwa Amelia terlihat bersemangat memilih-milih baju untuk Keylia. Sepertinya dia sudah lupa dengan tujuan kita datang kemari.
Karena sangat sepi, entah kenapa aku menjadi merinding. Bahkan aku merasa bahwa genre novel ini mendadak berubah menjadi horor seketika. Padahal novel ini hanya berfokus pada lawakan. Tapi kurasa menambah sedikit ketegangan tidak masalah.
Kami berjalan secara normal. Hingga kemudian, kami menemukan beberapa monster mutasi yang berada tidak jauh di depan kami. Jumlahnya ada lima ekor, dan lagi mereka terlihat menjijikkan seperti biasanya. Aku bahkan tidak ingin menyentuh mereka.
Dengan cepat kami berdua membelakangi Keylia. Aku memasang sikap bertarung bersama dengan Amelia. Amelia mengeluarkan tongkat sihir yang hanya berukuran sekitar sepuluh Senti dari pinggulnya. Sementara aku menggunakan revolver laser.
"Tunggu! Amelia! Bukankah kau itu tipe penyerang jarak jauh?!"
Aku terkejut dengan Amelia yang langsung menerjang ke arah lima monster mutasi tersebut. Dia berhasil mengalahkan satu, kemudian dua. Tapi dia sedikit lengah jadi tiga monster lainnya akan segera menyerangnya. Untungnya, aku segera menembakkan stun bullet pada ketiga monster itu sehingga mereka mematung untuk sementara waktu. Melihat kesempatan yang kuberikan, Amelia langsung merobohkan monster sisanya.
"Huff ...." Aku menghela nafas lega karena tidak ada yang terluka.
"Fufu! Bagaimana, aku sangat keren bukan?"
"Keren kepala kau! Itu tadi berbahaya tahu! Apa jadinya jika aku tidak membantumu tadi?!"
"Apa kau bodoh? Siapa juga yang meminta bantuanmu. Aku sendiri sudah cukup untuk mengalahkan mereka semua."
"Kau ini tipe support bukan? Seharusnya sadar diri dong!"
"Hah? Apa yang sebenarnya kau bicarakan?"
Aku menyerah. Aku lupa bahwa Amelia tidak mungkin paham dengan formasi yang ada dalam gim RPG yang lebih banyak dimainkan oleh kalangan pria. Mengesampingkan itu, setelah mengalahkan monster mutasi kami berlanjut ke lantai selanjutnya.
Di lantai tiga kami juga tidak terlalu mendapat kesulitan. Tapi seperti sebelumnya Amelia bergerak seenak jidatnya sendiri. Aku harus membantunya dari belakang sambil menembakkan beberapa stun bullet pada monster-monster itu.
"Hee ... Jadi kalian berdua ini adalah Pahlawan yang terpilih itu?"
"Tentu saja. Hebat bukan? Terlebih lagi aku adalah pemimpinnya." Aku melanjutkan perkenalan diriku yang sombong yang belum sempat kuselesaikan tadi. Seperti sebelumnya juga, mata Keylia terlihat berbinar-binar.
Kemudian kami naik lagi ke lantai selanjutnya. Yaitu lantai empat, di lantai empat sangat berbeda dari lantai-lantai sebelumnya. Karena di lantai empat adalah taman bermain yang sangat berantakan dan kami harus melewati labirin terlebih dahulu untuk sampai ke ke eskalator selanjutnya untuk dapat naik ke lantai lima.
Tapi kupikir ini akan mudah, dengan map digital yang dimiliki oleh Keylia. Seharusnya kami dapat melewatinya. Begitulah yang kupikirkan, akan tetapi ....
"Kalau di dalam ruangan tidak bisa. Map digital hanya digunakan di tempat yang terbuka."
Sungguh tidak berguna. Sepertinya mau tidak mau kita harus tetap masuk ke dalam labirin tersebut. Aku menggandeng tangan Keylia dan langsung masuk begitu saja ke dalam labirin.
"Tung—"
Sepertinya aku mendengar suara seseorang tapi kurasa itu hanya salah paham saja. Aku terus melanjutkan perjalanan menelusuri labirin sambil berbelok-belok. Namun, tidak peduli berapa kali aku berbelok. Aku hanya menemui jalan buntu, dan kadang aku kembali ke tempat semula waktu pertama kali masuk.
Karena aku sudah kelelahan, aku memutuskan untuk berhenti sejenak.
"Keylia ... mari kita istirahat sejenak—eh?"
Wajahku memucat. Ternyata selama ini aku tidak menggandeng tangan Keylia, melainkan Amelia. Aku secara reflek langsung melepaskan tangannya, lalu membungkuk dengan posisi sudut sembilan puluh derajat.
"Maafkan aku!"
Aku akan mati, itulah yang kupikirkan pada waktu itu. Tetapi setelah menunggu beberapa saat, aku tidak mendengar balasan dari Amelia sama sekali. Aku mendongak sedikit untuk melihat wajahnya.
"Umm ... Amelia?"
"D-dibelakangmu."
Karena aku penasaran. Aku menoleh ke belakang untuk melihat apa yang ada di belakangku. Pada saat itu wajahku kembali memucat. Disana aku melihat monster mutasi yang memiliki bentuk seperti ular, hanya saja tubuhnya setengah manusia. Dia memiliki panjang enam meter dan tinggi tiga meter. Aku baru melihat monster seperti ini, dan bentuknya lebih menjijikkan daripada monster mutasi yang pernah aku temui sebelumnya.
***
"A-Amelia lakukan sesuatu! Kau ini penyihir bukan?"
"Aku terlalu takut!"
Kami berdua berlari dengan cepat sementara monster mutasi berbentuk ular itu mengejar kami dari belakang. Di depan adalah jalan dua arah, tiba-tiba sebuah rencana terbesit di kepalaku. Dengan senyum licik, aku mengaktifkan Flash Boot lalu melesat mendahului Amelia yang tertinggal.
"Awas kau!!!"
Aku berbelok ke arah kanan sementara Amelia berbelok ke arah kiri, untungnya monster mutasi tersebut mengikuti Amelia dan bukannya aku. Disaat itulah aku merasa lega karena sudah terlepas dari monster yang menjijikkan itu. Lagipula Amelia adalah orang yang kuat, jadi pasti dia bisa mengalahkan monster itu seorang diri.
"Tuan, aku yakin Nona Amelia akan membunuhmu jika bertemu lagi."
"Kalau begitu, demi keselamatanku maka aku tidak akan menemuinya lagi."
Aku telah mengisi ulang daya baterai mini-chip kemarin sampai penuh. Sekarang, untuk menghilangkan kesunyian, aku mengaktifkannya kembali untuk bertemu dengan Olivia dari mode tidurnya.
"Sekarang, tinggal mencari Keylia. Jika dia terus tersesat ada kemungkinan dia bertemu dengan monster mutasi seperti tadi. Olivia, bantu aku."
"Siap!"
***
Sementara itu di tempat lain. Amelia yang sudah kelelahan berlari segera berhenti dan berbalik. Memutuskan untuk menghadapi secara langsung monster mutasi berbentuk ular itu. Dia mengaktifkan mini-chip, lalu seekor peri AI bewarna merah muncul di sampingnya.
"Sepertinya kau sedang dalam kesulitan, Nona Amelia."
"Benar sekali, entah kenapa saat aku terlibat dengan pecundang itu. Nasib malang selalu terus menerus menimpaku. Silvia, bantu aku untuk mengalahkan monster ini."
"Dimengerti! Aku akan mulai untuk menganalisisnya. Tingkat keefektifan 75% persen pada kepalanya. Itu adalah titik yang cocok untuk memberinya damage yang besar saat menyerangnya."
"Kalau begitu, artinya aku hanya harus menyerang kepalanya, bukan?"
Amelia mengarahkan tongkat sihirnya tepat di depan monster mutasi yang sedang menuju ke arahnya. Dia menyeleraskannya, cara menggunakan tongkat sihir juga sama seperti pada saat pelatihan menembak. Dimana penggunanya harus menyelaraskan antara tubuh tongkat sihir dengan targetnya. Kemudian, tongkat sihir juga memiliki recoil tergantung seberapa kuat sihir yang digunakan.
Setelah Amelia merasakan bahwa posisi tongkat sihirnya sudah tepat. Dia mulai merapalkan sihirnya, mana meluap dari tubuhnya, seluruh bangunan bergetar dengan kuat hingga lantai dimana Amelia berdiri retak.
"Explosion!"
Bola api muncul di ujung tongkatnya. Lalu melesat dengan cepat hingga menabrak wajah monster mutasi hingga menciptakan percikan ledakan yang lumayan keras. Amelia terbatuk, sekarang setelah sihirnya tadi. Membuat banyak asap mengepul di sekitarnya hingga membutakan pandangannya.
"Seperti yang diharapkan dari Nona Amelia. Selain cantik, dia juga sangat kuat."
"Tentu saja bukan? Dengan begini pasti ada banyak pria yang akan mencintaiku. Disaat itulah aku akan mematahkan hati mereka semua," katanya sambil membusungkan d**a.
Setelah itu kepulan asap perlahan mulai menghilang, sehingga membuat Amelia bisa memandang secara normal kembali. Disaat itulah dia melebarkan matanya, bagaimana tidak. Ternyata monster mutasi itu masih belum tumbang. Dia masih berdiri dengan wajah yang sedikit koyak dan mulai beregenerasi.
Amelia langsung berbalik. Lalu berlari secepat kilat seperti sebelumnya. Sementara monster itu juga mengejarnya kembali.
"Silvia kenapa dia masih hidup?! Bukanlah katamu tingkat keefektifan serangannya berada di kepalanya?"
"Aku tidak berbohong! Itu memang benar bahwa kepalanya adalah yang paling lemah dan lambat dalam beregenerasi. Seharusnya dia akan tumbang setelah Nona Amelia menyerangnya berkali-kali."
"Apa maksudmu dengan berkali-kali? Satu saja aku sudah mengerahkan semua tekadku agar berani untuk menghadapinya secara langsung—uwaa!! Dia semakin mendekat!"
Seperti itulah, Amelia akhirnya harus menunggu hingga tekadnya kembali lagi untuk dapat menyerangnya kembali.