Chapter 16

1480 Kata
Akhirnya aku memutuskan untuk membantu Keylia dalam menghadapi masalahnya. Kami kembali duduk di bangku dalam sebuah kafe yang cukup sepi pengunjung. Tepatnya adalah di bangku yang berada paling sudut ruangan. Es serutku sudah habis sementara Keylia belum menyentuh es serutnya sama sekali. Aku sudah mendengar beberapa masalahnya. Seperti yang aku duga bahwa masalahnya lebih rumit dan sepertinya Keylia telah terlibat dengan sesuatu yang berbahaya. Virus Crypto, adalah virus yang berupa cairan bewarna kuning. Konon virus itu mengandung sel Iblis. Ras yang sudah lama sekali punah dan jika virus itu sampai menyebar. Bisa langsung menginfeksi orang yang menghirupnya melalui udara. Sungguh virus yang mengerikan. Orang yang terkena dampak dari virus itu akan bermutasi. Artinya mereka akan menjadi setengah Iblis, virus Crypto akan menginfeksi hampir enam puluh persen dari tubuh kita. Dan kemudian setelah virus itu sampai ke otak, orang yang terinfeksi akan benar-benar menjadi monster yang lepas kendali. "Itu mengerikan sekali kau tahu?! Kenapa kau tidak menceritakannya dari awal?" "Bukankah kau sendiri yang ingin pergi begitu saja tanpa menolongku? Bagaimana aku bisa menjelaskannya?" Sekarang, setelah Keylia menceritakan padaku bahwa dia secara tidak sengaja menjatuhkan virus itu di tengah keramaian Distrik Perbelanjaan. Itu sudah menjadi masalah yang sangat serius. Jika seperti ini, maka aku berasumsi bahwa sudah terdapat beberapa orang yang terinfeksi virus tersebut. "Orang yang terinfeksi virus itu, apakah akan mati?" "Tidak. Mereka hanya kehilangan kesadaran karena otak mereka dikendalikan oleh sel Iblis. Kita bisa menyingkirkannya jika kita bisa melepaskan sel Iblis tersebut." Aku lega mendengarnya. "Itu bagus, jadi bagaimana caranya?" Mendadak, Keylia menjadi gugup. Dia memainkan poninya sambil memutarnya. "M-mengenai itu, sebenarnya aku tidak tahu. Hahahaha!" Sungguh, aku ingin sekali menjitak kepalanya. Dia sudah membawa bencana besar pada Distrik ini dan lagi dia mengatakan bahwa dia tidak tahu cara untuk mengembalikan orang yang telah terinfeksi karena kesalahannya. "Hei Keylia kesini sedikit biar aku bisa menjitak kepalamu." "Maafkan aku!" "Lagian kenapa kau membawa benda semacam itu di Distrik ini. Selain itu, bukankah ras Elf di zaman sekarang hidup dengan bersembunyi? Tapi kenapa kau malah muncul di permukiman manusia?" "I-itu ada alasannya. Aku menemukan virus itu di suatu tempat. Karena terlihat mahal, kupikir aku bisa menjualnya dengan harga yang tinggi di tempat seperti ini jadi—" Aku langsung saja mengambil es serut Keylia dan menghabiskannya. Dia terlihat seperti ingin menangis karena belum memakan satu sendok pun. Tapi itu salahnya sendiri karena telah membawa bencana besar dengan alasan konyol. "Jika sudah begini, mau tidak mau aku harus mengirimkan pesan kepada Kak Louisa." Pada akhirnya aku mengirim informasi ini pada Kak Louisa melalui perantara telepon pintarku. *** Sementara itu kondisi di Distrik Perbelanjaan menjadi kacau balau setelah munculnya mutasi monster yang menakutkan. Semua Pahlawan melakukan proses evakuasi pada penduduk dan juga penyelamatan. Kebanyakan para Pahlawan masih tidak sanggup untuk membunuh, karena mereka tahu bahwa sebelum mereka bermutasi menjadi monster. Mereka masihlah manusia yang memiliki kesadaran. "Hiro! Coba tahan mereka dengan sihir sucimu. Mereka sepertinya takut dengan cahaya yang memancar dari tubuhmu!" "Serahkan padaku, Commander." Hiro memancarkan cahaya yang lebih banyak dari tubuhnya. Membuat para monster yang mutasi bergerak mundur ketakutan. Sementara Louisa berusaha untuk mengarahkan para warga menuju jalur evakuasi. Louisa juga sudah mengirimkan pesan kepada seluruh Pahlawan jika kondisi distrik perbelanjaan sedang di ambang kekacauan. Para Pahlawan sepertinya juga mengerti, jadi mereka melakukan tugasnya seperti pada umumnya. Disaat itulah, Louisa menerima pesan dari seseorang. Dari pandangannya, sebuah panel pesan muncul. Disana terdapat nama Arga Mahendra (pengirim pesan). Louisa yang penasaran langsung membukanya. Dia membacanya dengan teliti, kemudian kedua matanya melebar. *** Aku menjelaskan semuanya kepada Kak Louisa. Yaitu mengenai aku yang bertemu dengan seorang gadis Elf, dan dia yang secara tidak sengaja membawa malapetaka pada Distrik Perbelanjaan dengan menjatuhkan virus yang bernama Crypto di tengah keramaian hanya karena alasan konyol. Setelah menunggu beberapa saat, aku mendapat balasannya. [Kalau begitu hanya ada satu cara untuk mengembalikan kesadaran orang yang terinfeksi. Monster yang bermutasi takut dengan sihir suci. Oleh sebab itu sihir suci yang kuat mungkin bisa menetralkan sel Iblis yang tertanam pada tubuh mereka. Karena Elf memiliki sihir suci yang melimpah, bawa dia pada gedung tertinggi di distrik perbelanjaan. Lalu Arga, dengan peluru kosong yang kau miliki seharusnya kau bisa menyerap semua sihir itu ke dalamnya. Kemudian, kau hanya perlu menembakkan ke udara dan membiarkan sihirnya menyebar.] Begitulah kira-kira jawabannya. Seperti yang diharapkan dari Kak Louisa dia sangat pintar. Sekarang aku hanya harus mencari gedung tertinggi di Distrik Perbelanjaan. Dan kebetulan itu berada dekat dari lokasiku. Yaitu sebuah bangunan supermarket besar yang memiliki delapan lantai. "Hei Keylia. Ikuti aku." "Kita akan kemana?" "Membersihkan kekacauan yang kau buat." *** Sementara itu disisi lain. Amelia sudah beberapa kali memukul monster mutasi dan membuatnya tumbang. Dia terus berlari sambil mencari keberadaan seseorang untuk melampiaskan amarahnya. Dia marah kepada pria yang bernama Arga Mahendra. Karena selain meninggalkannya, dompetnya juga tidak sengaja terbawa olehnya saat terjatuh dari ketinggian. Oleh sebab itu Amelia tidak bisa membeli baju apapun di toko pakaian sebelumnya. Disaat Amelia ingin meminta dompetnya kembali, namun Arga telah menghilang. "Pecundang! Dimana kau?!" Di tempat yang berbeda. Kelompok Eliza dan Alex juga sibuk menghadapi monster mutasi. Monster mutasi yang mereka hadapi berbeda dengan monster-monster mutasi yang sebelumnya pernah mereka hadapi. Kali ini, monster mutasi yang mereka hadapi memiliki ukuran yang sangat besar. Tingginya sekitar tiga meter, dengan satu tangan yang mengembang dan bisa berubah-ubah menjadi beragam senjata. Trang! Alex menangkis Kapak besar dari serangan monster mutasi dengan pedangnya. Meski begitu, kekuatan monster yang telah bermutasi lebih besar daripada yang Alex bayangkan. Jadi ia memilih untuk mengambil langkah mundur terlebih dahulu. Di belakangnya adalah Eliza, dia adalah gadis penyandang gelar Pahlawan Penyembuh. Jadi saat Alex merasa kelelahan ataupun terluka, Eliza akan langsung menggunakan sihirnya padanya. "Support Shield." Saat Eliza merapalkan sihirnya. Tubuh Alex dilindungi oleh perisai semi transparan yang berputar-putar mengelilinginya. Kemudian, Alex menerjang sekali lagi ke tempat monster mutasi berada. Monster mutasi yang melihat Alex juga tidak tinggal diam begitu saja. Dia sekali lagi mengayunkan tangan besarnya. Yang membawa kapak tebal berdiameter satu meter setengah. Tapi saat besi kapak itu menabrak Support Shield di tubuh Alex. Kapak tersebut terpental, seperti yang diharapkan oleh kekuatan dari Pahlawan, bahwa setiap sihir pertahanan yang digunakan pastinya sangat kuat hingga tidak bisa ditembus dengan mudah. Melihat kesempatan, Alex memanfaatkannya dengan baik. Dia mengayunkan pedangnya secara horizontal dan vertikal dengan cepat dan berulang-ulang. Gerakannya yang cepat itu tercipta dari pelatihan yang dia dapatkan selama enam bulan terakhir ini. Tidak lama setelah itu, monster mutasi roboh hingga mengeluarkan suara jatuh yang cukup keras. Sementara di tempat lainnya lagi, kelompok Flora dan Ren sama sekali tidak memiliki masalah yang berarti. Dengan kekuatan Telekinesis Flora, semua monster mampu dikalahkan dengan mudah tanpa bersusah payah. *** Aku berlari bersama dengan Keylia. Dengan memakai map hologram yang ada di tangan Keylia kami menjadi lebih mudah untuk menentukan rute terdekat menuju supermaket yang bernama H-mart. H-mart adalah supermarket dengan delapan lantai. Bagaimanapun juga kami harus bisa sampai di lantai teratas untuk menghentikan semua kekacauan yang ada. Hingga beberapa menit kemudian, akhirnya kami berdua sampai di depan supermaket tersebut. "Sudah kuduga, akan sangat sepi sekali disini." "Tentu saja, para penduduk pastinya sudah menuju ke tempat evakuasi berada. Mungkin yang ada di dalam supermarket ini hanyalah orang-orang yang terinfeksi." "Jadi meskipun kita sudah mencoba menghindari mereka dalam perjalanan kemari pada akhirnya kita harus tetap melawan mereka, ya?" "Tidak ada pilihan lain." Seperti kata Keylia. Tidak ada pilihan lain selain kita harus menghadapi mereka untuk sampai ke lantai paling atas. Bahkan hanya dengan melihat rupa para monster mutasi saja sudah membuatku bergidik ketakutan. Tapi sekarang aku harus melawannya, sungguh hari yang buruk untuk hari pertama magang. "Ngomong-ngomong, siapa namamu ya?" "Ah." Benar juga, selama ini aku belum memberitahu namaku kepada Keylia. Dengan begini aku harus memperkenalkan diriku dengan sangat keren bukan? Bisa jadi Keylia akan menjadi salah satu fansku nanti. "Baiklah, buka lebar telingamu. Karena namaku ini akan menjadi besar di masa depan nanti. Namaku akan dikenal oleh semua orang di seluruh dunia, dan namaku juga akan membuat dunia ketakutan hanya dengan mendengarnya." Mari kita lihat bagaimana ekspresi Keylia sekarang ini. Lihat, ternyata matanya berbinar-binar. Seperti yang diharapkan dari anak kecil dia pasti akan mudah untuk mempercayai omongan tidak jelas seperti ini. "Namaku adalah—" "Arga pecundang! Disini kau rupanya!" "Ohok!" Disaat aku sudah siap untuk memperkenalkan diriku dengan sangat elegan. Entah darimana Amelia datang dan melesatkan kakinya tepat di wajahku. Karena kekuatannya yang setara seperti Gorila, aku sampai terpental beberapa meter dari posisiku berdiri sebelumnya. "Apa-apaan kau ini?!" "Heh ... itu balasan karena sudah meninggalkanku sendirian. Selain itu dompetku menyangkut di suit yang kau pakai! Karenamu aku jadi bermasalah dengan penjaga toko itu." Aku sedikit tidak mengerti dengan apa yang Amelia bicarakan. Tapi setelah melihat ke belakang, akhirnya aku sadar. Bahwa dompet Amelia ternyata selama ini menempel pada resleting bagian belakang suitku. Jadi selama aku menunggu lama sekali tadi dia hanya melihat-lihat saja dan belum mulai berbelanja? Dari sini pula aku memiliki trauma untuk menemani Amelia berbelanja lagi. .
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN