Chapter 8

1422 Kata
[Pahlawan Penyembuh Eliza telah dikalahkan.] Setelah berhasil mengalahkan Eliza—dengan keberuntungan. Drone yang terbang diatas mengawasi kami tiba-tiba bersuara. Sepertinya jika ada Pahlawan yang kalah maka Drone itu akan bertugas untuk mengumumkannya. Pahlawan lainnya yang mendengarnya terkejut. Tentu saja, karena pertandingan baru saja dimulai dan sudah ada satu Pahlawan yang tumbang. Itu membuat mereka waspada tentang siapa yang mengalahkannya. Teruntuk aku, orang yang telah mengalahkan Eliza—sekali lagi dengan keberuntungan—masih terduduk lemas di tanah dengan kaki gemetaran. Aku berusaha menarik nafasku dalam-dalam lalu mengeluarkannya. Bisa saja aku mengalah sekarang dan menyerah karena tidak terlalu tertarik dengan jabatan Leader. Tapi saat aku mengetahui bahwa orang yang paling kuhormati Kak Louisa sedang menonton dan berharap banyak kepadaku. Aku tidak bisa begitu saja membuatnya kecewa. Aku harus menjadi Leader, lalu menyerahkan jabatan itu kepada Pahlawan lain setelah Kak Louisa tidak lagi mengawasi. "Kau benar-benar busuk, Tuan." "Berisik." Aku bangkit setelah merasa sedikit lebih baikan. Aku juga sudah menyandarkan tubuh Eliza yang masih pingsan di salah satu pohon sekitar hanya untuk berjaga-jaga. Bicara soal pohon, ternyata semua pohon disini palsu. Atau sintetis. Artinya seluruh pohon dan dedaunan disini adalah buatan. Aku berasumsi bahwa tidak ada binatang buas disini. Meski butuh waktu bagi Eliza untuk bangun karena aku menyerang tepat pada saraf tulang belakangnya tapi kurasa dia akan baik-baik saja. "Baiklah Olivia. Tunjukkan bahwa kau adalah AI yang berguna. Bisakah kau menunjukkan dimana lokasi Pahlawan yang tersisa berada?" "Hmm, kalau tidak salah. Orang yang kau sebut Om Ren berada 26 meter di Utara. Lalu gadis yang bernama Amelia sekarang berada 12,5 meter di sebelah barat. Sepertinya dia sedang bertarung dengan Alexander. Lalu tepat 69,7 meter di arah barat laut terdapat Hiro yang sedang bertarung dengan Flora Angelina. Sang Pahlawan perusak." "Eh, bagaimana bisa caramu mengetahui semua posisi mereka?" Aku terkejut. Padahal yang tadi itu cuma bercanda. "Kau terlalu meremehkanku Tuan. Sebagai AI yang sempurna. Beberapa menit yang lalu aku mengambil kendali atas kontrol Drone untuk melihat posisi mereka semua." Olivia membusungkan dadanya dengan bangga. "Kau melakukan Hacking?!" "Seperti itulah. Aku mengirimkan virus jahat pada Drone itu sehingga aku bisa mengaksesnya dengan mudah. Selain itu Tuanku, sebaiknya kau mengincar Ren Zeran karena dia tengah sendiri. Dia juga tidak memiliki kemampuan yang begitu menonjol, dengan kemampuan Tuan yang sekarang pasti bisa mengalahkannya dengan mudah." "Tidak akan." "Lah, kenapa?" "Om Ren adalah sahabatku. Jadi aku tidak akan mengincarnya. Selain itu aku cukup tertarik dengan pertarungan Amelia dan Alexander." "Kenapa? Bukankah Tuan adalah Tipe orang yang mencari aman?" "Kau tidak mengerti Olivia." Aku tersenyum lebar sambil menatapnya. "Terkadang kita harus memanfaatkan keuntungan yang ada." Ya, dengan melihat pertarungan mereka berdua setidaknya aku akan mengerti gaya bertarung serta sihir-sihir yang mereka gunakan. Dengan begitu jika aku bermusuhan dengan mereka dimasa depan aku masih bisa mengantisipasinya. Itulah yang dimaksud dengan memanfaatkan keuntungan yang ada. Demi hidup aman dan tentram sebagai Pahlawan, aku harus sedikit mengerahkan tenagaku. *** Pada akhirnya aku tidak mengunjungi lokasi Om Ren dan malah pergi ke sisi barat. Dimana Amelia dan Alexander sedang bertarung. Aku berjalan dengan pelan sambil terus melangkah agar tidak ketahuan oleh orang lain. Mengingat bahwa Eliza dapat menemukanku dengan mudahnya itu menjadi suatu pelajaran yang penting bagiku untuk lebih berhati-hati. Dua menit kemudian akhirnya aku sampai pada lokasi itu. Aku bersembunyi dibalik semak-semak terdekat sambil mengintip dibalik celah-celah yang ada. Dalam pandanganku, aku bisa melihat Amelia dan Alex yang sedang berhadapan satu sama lain. "Bahkan dedaunan ini juga terbuat dari plastik." Aku menggerutu saat mengetahui dedaunan semak ternyata terbuat dari plastik. Mereka pasti menggunakan bahan sintetis karena lebih ramah lingkungan. Tidak ada dedaunan yang berguguran yang membuat lingkungan tetap terjaga bersih. Mungkin itu alasannya. Sungguh, orang zaman sekarang tidak mau repot. Bahkan terkadang pekerjaan membereskan rumah dikerjakan oleh robot AI pembantu. Aku tidak memilikinya, kenapa? Tentu saja karena harganya mahal. Aku tidak memiliki banyak uang waktu itu. "Hyat!!" Disana Amelia melemparkan bola-bola api ke arah Alex. Namun Alex mampu menghindarinya dengan mudah sambil menangkis menggunakan Lightning Sword miliknya. Alhasil bola api yang dilemparkan oleh Amelia hanya mengenai pepohonan dibelakangnya. Tapi pohon itu tidak terbakar sama sekali. Sudah kuduga, selain terbuat dari plastik. Pohon-pohon ini juga memiliki daya tahan terhadap api ataupun sihir lainnya. Oleh sebab itulah hutan sintetis ini digunakan sebagai tempat untuk Battle Royale. "Sword Chronicles." Alex mengayunkan pedangnya secara bersilangan lalu tebasan cahaya melesat ke arah Amelia. Amelia berguling untuk menghindari dan membuat tebasan tersebut memotong beberapa pohon di belakang. Itu skill curang yang hebat. Daripada skill milikku yang hanya berguna membaca pikiran orang lain. Mereka berdua bertarung dengan intens. Dari pertarungan itu aku mendapatkan informasi yang berharga tentang skill yang mereka miliki dan gaya bertarung seperti apa yang mereka gunakan. Kurasa ini sudah cukup. Aku harus pergi sebelum mereka melihatku. Begitulah yang kupikirkan, tetapi langkahku tiba-tiba berhenti. "Hei, Olivia. Aku memiliki ide yang keren." "Apa itu? Jangan-jangan cara curang lagi?" "Jangan menyebutnya cara curang. Itulah yang dinamakan cerdik kau tahu. Eliza kalah karena dia tidak terlalu peka terhadap lingkungannya. Tapi sekarang sepertinya adalah saat yang tepat untuk menggunakan kelebihanku itu." Ya, aku menyadari kelebihanku sendiri. Kelebihanku adalah otakku yang cerdik. Aku cukup bangga dengan itu. Lagipula saat sekolah aku selalu mendapatkan nilai yang lumayan meski jarang menyimak. Aku harus memanfaatkan otakku dengan sangat baik, bukan? "Hah ...." Olivia menghela nafas. "Jadi rencana apa yang kau miliki, Tuan?" "Aku berpikir tentang menjatuhkan dua burung sekaligus dengan satu batu. Artinya aku ingin mengalahkan Amelia dan Alex secara bersamaan selagi mereka fokus bertarung." Aku membusungkan dadaku dengan bangganya. "Pasti cara curang lagi." "Berisik. Bukan curang tapi cerdik!!" Aku kembali mengamati pertarungan Amelia dan Alex dari balik semak-semak sintesis. Mereka berdua tidak ada yang mengalah sama sekali. Terutama adalah Amelia, meski dia adalah tipe penyerang jarak jauh tapi dia juga bisa melakukan bela diri jarak dekat karena sedari kecil pernah bermain Judo. Oleh karena itu Amelia lebih diunggulkan karena dia lebih tahu tentang teknik berpedang daripada Alex. Alex sendiri meski dia adalah seorang pengguna pedang dan serangan jarak dekat dia selalu menjaga jarak dari Amelia. Mungkin dia menyadari bahwa jika dirinya bertarung dengan jarak dekat akan kalah jika lawannya adalah Amelia. Jadi Alex memilih untuk tetap menjaga jarak sambil menyerang. "Jadi, seperti apa rencanamu, Tuanku?" "Aku akan menunggu hingga mereka berdekatan satu sama lain. Dengan skill [Mind Reading] seharusnya itu menjadi perkara yang mudah." Aku terus memperhatikan. Tidak jarang beberapa sihir bola api melontar ke arahku dan hampir saja mengenaiku. Tapi untung saja aku memiliki refleks yang bagus setelah berlatih dengan Kak Louisa. Setelah beberapa saat. Skill Mind Reading milikku menangkap pikiran bahwa mereka berdua memutuskan untuk menerjang bersama. "Fire Punch!!" "Lightning Sword!!" Amelia dan Alex menerjang bersamaan. Inilah saatnya. Begitulah pikirku. Aku mengaktifkan kacamata visual menggunakan mini-chip kemudian mengambil sesuatu dari balik tasku. Itu adalah benda bulat dengan pemicu diatasnya. Aku menariknya lalu melemparkannya ke arah mereka berdua. "Apa itu?" Amelia dan Alex terlihat terkejut saat melihat ada bola kecil yang mengarah ke arah mereka. Tapi semua itu sudah terlambat. Bola itu meledak dan menciptakan cahaya terang yang menyilaukan mata. Aku keluar dari tempat persembunyianku. Memakai sarung tangan khusus yang diberikan oleh Kak Louisa sebagai hadiah kelulusanku. Lalu mendekat ke Amelia. Aku menyentuh tengkuk lehernya dan membuat listrik dari sarung tanganku ini menyetrumnya. "Kyaa!!" Amelia berteriak dengan keras lalu terjatuh di tanah. Pingsan. Tidak berhenti disitu saja, selagi perhatian Alex dibutakan oleh Flash Bomb yang kulempar tadi. Aku harus segera menumbangkannya juga. Setelah selesai dengan Amelia aku bergerak ke arah Alex dan melakukan hal yang sama seperti sebelumnya. "Arrrggg!!!" Alex juga langsung terjatuh pingsan. Tidak lama kemudian Flash Bomb yang kulempar tadi sudah kehabisan dayanya sehingga pencahayaannya menghilang. Dua orang sudah tumbang disampingku. Aku tersenyum puas sambil menonaktifkan kacamata visual. "K-kau ... pecundang sialan. M-memakai cara kotor seperti ini. I-ini bukan gaya bertarung seorang Pahlawan" Aku melirik ke Amelia yang ternyata masih mempertahankan kesadarannya. Yah, aku tidak menyangkal bahwa cara yang kugunakan ini adalah cara kotor. Tetapi inilah diriku yang sebenarnya. Aku mengambil revolver laser dan mengarahkannya kepada Amelia. "Ini adalah cara bagaimana Pahlawan Tipu Muslihat bertarung." Lalu menarik pelatuknya. Peluru karet yang tepat mengenai saraf punggungnya membuat Amelia langsung pingsan. Sekarang gangguan utama telah diurus. Mungkin aku akan dipukuli oleh Amelia saat Battle Royale ini selesai tapi mari kita pikirkan saja untuk nanti. "Memakai Flash Bomb saat mereka berdua saling berdekatan untuk membutakan pandangan. Lalu menyerang mereka yang sedang tidak berdaya dengan Stun Gauntlet. Kau sungguh Pahlawan yang terburuk Tuan." "Tidak bisakah mulutmu itu mengeluarkan kalimat pujian setidaknya satu kali untukku?" Disaat yang bersamaan. Drone yang melewati atas kami berdua berbunyi. [Pahlawan Penyihir Amelia telah dikalahkan.] [Pahlawan Pedang Alexander telah dikalahkan.]
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN