Keesokan harinya lagi. Aku mengikuti pelatihan seperti biasa dan dipermalukan lagi seperti biasanya. Terlebih lagi, si Amelia itu sudah terlalu kebangetan. Selain telah mengalahkanku secara telak di pertandingan pedang dia juga sempat menghinaku. Tentu saja, Om Ren berusaha membelaku dan juga Hiro yang merupakan penyandang gelar Pahlawan Cahaya berusaha menegur Amelia agar tidak berbuat keterlaluan.
Tapi sebaliknya. Amelia juga ikut menghina mereka berdua. Jika Hiro mungkin aku bisa mentoleransi tapi aku tidak terima jika pria sebaik Om Ren akan dihina seperti itu. Tapi dengan kemampuanku yang sekarang aku tidak bisa berbuat apa-apa.
Malamnya, aku akan latihan secara diam-diam bersama dengan Kak Louisa. Dia gadis baik seperti biasanya. Tidak hanya mengajariku cara menembak. Tapi aku juga belajar banyak bidang bersamanya. Aku belajar teknik berpedang, pertarungan tangan kosong dan strategi bersamanya.
Dari sini aku mengetahui bahwa Kak Louisa sebenarnya adalah seorang All-Rounder. Dalam artian lain, dia menguasai segala jenis teknik bertarung entah itu memakai senjata ataupun tidak. Oleh sebab itu aku memutuskan untuk menjadi sepertinya di masa depan nanti. Seorang All-Rounder. Aku akan menguasai semua teknik pertarungan dan mempermudah hidupku sendiri.
Waktu berlalu dengan cepat. Satu bulan, dua bulan, tiga bulan. Perlahan ototku mulai terbentuk. Empat bulan, aku sudah mahir dalam menembak. Lima bulan, aku sudah menguasai teknik beladiri tangan kosong dan berpedang. Kemudian enam bulan, aku menjadi sosok yang cakap dalam bertarung.
Lalu tibalah hari ini. Hari dimana kami dikumpulkan di Padang rumput yang luas. Kami berdiri berjejer dengan rapi sambil menghadap Professor Paul yang berdiri tepat di depan kami.
"Sudah enam bulan semenjak kalian dilatih dibawah organisasi kami dan sekarang, adalah waktu kalian untuk lepas dari pengawasanku. Di hutan sebelah sana, semua Pahlawan akan melakukan Battle Royale. Kemudian yang bisa bertahan sampai akhir atau dalam kata lain pemenang dari Battle Royale akan menjadi seorang Leader dalam unit Pahlawan yang akan segera dibentuk."
Semua orang menjadi antusias. Terutama adalah Amelia, karena dia satu-satunya yang berbakat dalam sihir dia terlihat percaya diri dengan kemampuannya. Kedua adalah Alex, yang seperti biasa bersikap acuh tak acuh. Eliza gugup seperti biasa juga. Om Ren terlihat santai dan seolah menikmati semua ini. Hiro juga bersikap seperti biasa tersenyum cerah dan berkomunikasi dengan Flora.
"Sekarang akan kuperkenalkan, karena kalian sudah sepenuhnya lepas dari pengawasanku. Maka wanita ini yang akan menjadi Commander kalian dalam melaksanakan tugas sebagai seorang Pahlawan."
"Halo!! Halo!! Mungkin ini pertama kalinya kita bertemu tapi salam kenal."
Kedua mataku melebar saat melihat gadis yang dimaksud oleh Professor Paul. Dia adalah seorang gadis berambut pirang pendek dan selalu terlihat ceria. Tidak salah lagi, dia adalah Kak Louisa. Kak Louisa sepertinya juga menyadariku, dia mengedipkan satu matanya hingga membuat hatiku berdegup kencang.
"Pertama-tama aku akan memperkenalkan diri. Namaku adalah Louisa Zerex. Panggil saja Commander, karena sekarang adalah waktunya untuk pemilihan Leader dan wakil Leader dari unit Pahlawan yang akan aku pimpin nantinya. maka dari itu aku memutuskan untuk melihat langsung siapa yang terbaik diantara kalian."
Entah kenapa aku merasakan bahwa dia beberapa kali melirikku. Tolong jangan terlalu banyak berharap denganku, lagipula aku tidak terlalu menyukai posisi sebagai Leader dari orang-orang brutal ini.
"Karena kita tidak bisa menunda waktu lagi. Jadi aku akan mempersilahkan Professor Paul untuk menjelaskannya."
"Jadi kau benar-benar datang hanya untuk melihat hasilnya saja, ya? Ya sudahlah. Peraturannya sangat mudah. Setelah ini kalian akan diberi sedikit waktu untuk masuk ke dalam hutan dan memilih posisi untuk bersembunyi. Kemudian, saat aku menembakkan revolver laser ke atas maka itu adalah tanda dimana Battle Royale sudah dimulai. Kalian semua akan saling memburu satu sama lain, dan yang keluar dari hutan akan tereleminasi secara otomatis. Battle Royale akan berlangsung tanpa batas waktu hingga ada satu pemain yang bertahan—"
"Waktunya hanya lima menit untuk bersembunyi, selama waktu itu kalian tidak diperbolehkan untuk bertarung sebelum Battle Royale dimulai. Jadi ayo!! Ayo segera masuk ke hutan dan temukan tempat terbaik kalian untuk bersembunyi—hei!! Ada apa, sudah kubilang kalau kalian harus segera mencari tempat bersembunyi, bukan?"
"Biarkan aku selesai menjelaskan dulu!!"
Kami yang masih terkejut hanya terpaku diam dengan perkataan Kak Louisa yang tiba-tiba. Tapi untung saja kami langsung menyadari bahwa Battle Royale sudah dimulai dan hanya sedikit waktu untuk mencari tempat persembunyian.
Kami semua segera berlari, masuk ke dalam hutan.
"Dengar Arga, akulah yang akan menghancurkanmu. Dasar pecundang!"
Orang yang mengatakan itu adalah Amelia. Dia berlari disampingku. Aku tidak membalas karena tidak terlalu berguna juga. Lagipula aku juga terlalu malas untuk meladeninya. Setelah masuk ke dalam hutan kami semua segera berpencar. Aku mengambil posisi ke timur.
Berlari sambil melompat dan menghindar dari ranting-ranting pohon yang berbahaya. Aku lalu bersembunyi dibalik pohon besar yang berada tidak jauh di depanku.
"Olivia, sisa berapa waktunya?"
"Sekitar satu menit lagi."
Aku melihat ke atas dan melihat ada Drone yang terbang di langit. Sepertinya itu adalah Drone pengawas yang digunakan untuk mengawasi kami selama Battle Royale berlangsung.
"Apa rencanamu, Tuan? Bersembunyi hingga menyisakan dua orang saja lalu menyerangnya dengan diam-diam?"
Sepertinya Olivia sudah benar-benar mengingat dengan jelas sifatku ini. Maksudku hanya sifat busukku saja yang dia ingat.
"Tentu saja."
Aku tersenyum tipis lalu duduk di bawah pohon besar tersebut. Ya, seperti yang dikatakan oleh Olivia tadi. Bahwa aku akan menunggu hingga tersisa satu lawan yang bertahan lalu menyerangnya. Dengan skill [Mind Reading] milikku ini. Akan lebih mudah bagiku untuk berpindah tempat karena aku bisa mendeteksi jika ada seseorang yang datang. Sungguh efisien sekali.
Tapi berbeda dengan apa yang aku harapkan. Tiba-tiba dari arah semak-semak belukar yang ada di depanku. Seseorang melompat dan mencoba menerjangku secara mendadak. Itupun bersamaan dengan terdengarnya suara tembakan revolver laser dari arah Professor Paul berada, yang menandakan bahwa Battle Royale telah di mulai.
Aku yang sudah memiliki reflek yang bagus dari latihan malam bersama Kak Louisa langsung berguling ke samping untuk menghindar. Alhasil, pedang laser yang orang itu gunakan berhasil memotong pohon tempatku berlindung sebelumnya.
Kami berdua bertatapan satu sama lain. Kenapa? Kenapa skill pembaca pikiranku tidak berpengaruh kepadanya?
"Ma-maafkan aku!!"
"Untuk seorang Pahlawan Penyembuh tindakan tadi itu sangat berbahaya."
Eliza Marron. Pahlawan Penyembuh. Atau sebutan yang kubuat secara pribadi adalah gadis gugup. Dia adalah orang yang cukup aneh karena aku tidak bisa membaca pikirannya. Selama ini aku hanya memperhatikan Pahlawan lain karena dia terlihat tidak berbahaya sama sekali. Tapi siapa sangka dia akan menjadi orang pertama yang berhasil menemukanku sesaat setelah Battle Royale dimulai.
"Bagaimana caramu menemukanku dengan sangat cepat?"
"M-maafkan aku!! Karena aku adalah seorang Penyembuh jadi aku memiliki skill yang membuatku bisa mengetahui dimana lokasi para Pahlawan lain berada."
Jadi begitu, tapi ada satu hal lagi yang membuatku penasaran. Aku hanya mencoba menebak tapi bisa jadi ini benar.
"Jangan-jangan kau juga memiliki skill Appraisal?"
"Maafkan aku!! Itu benar!!"
Bisa-bisanya Pahlawan lain memiliki lebih dari dua skill. Terlebih lagi, skill miliknya itu cukup menguntungkan. Skill Appraisal itu adalah skill yang sering kutemukan di berbagai game RPG yang dulu pernah kumainkan. Skill itu bisa membuat penggunanya melihat status lawan secara detail termasuk skill yang mereka miliki.
Oleh sebab itu, pasti Eliza sudah tahu mengenai skill [Mind Reading] yang aku miliki sehingga mencoba menyerangku tanpa memikirkan apapun. Tidak disangka dia orang yang cukup berbahaya.
"Tuan, apakah kita akan menggunakan cara itu?"
"Kau ini cukup pengertian juga, ya. Olivia."
Aku memasang sikap bertarungku begitupun dengan Eliza. Kami berdua saling mengamati satu sama lainnya. Hanya ada desiran angin yang menerpa kami berdua.
"Sekarang!"
Aku berbalik dan berlari masuk ke dalam pepohonan yang rimbun. Eliza yang terkejut mengejarku dari belakang. Tentu saja, aku juga tidak sebodoh itu untuk bertarung dengan lawan yang tidak sepadan denganku. Dia punya banyak skill dan sihir sedangkan aku sama sekali tidak memiliki keduanya. Yang aku bisa sekarang hanyalah berlari sambil mencari kesempatan yang bagus untuk menyerang balik.
Tapi untung saja yang mengejarku saat ini adalah Eliza dan bukannya Amelia. Karena Eliza adalah Pahlawan Penyembuh sihir yang dia miliki pastinya hanyalah sihir yang berfungsi untuk menyembuhkan luka dan bukan sihir tipe serangan. Jadi aku tidak terlalu khawatir jika punggungku diserang nanti.
Aku mengambil revolver laser di pinggangku sambil beberapa kali menembakkannya ke arah Eliza yang mengejarku dibelakang. Tentu saja Eliza dapat menghindarinya. Ada beberapa peluru laser yang berhasil melukainya tetapi Eliza langsung memulihkannya dengan sihir penyembuh.
Pada akhirnya hanya ini yang bisa kulakukan. Aku berbalik, menukar revolver laserku dengan pedang laser yang kusimpan di pinggang. Aku berbalik dan menerjang ke arah Eliza hingga kami berdua saling bertukar pedang satu sama lain.
Kami saling menyilangkan pedang, saling mengayunkan pedang. Dan lagi-lagi aku berhasil melukainya. Tapi sama seperti sebelumnya dia langsung menggunakan sihir penyembuhnya dan membuat luka sebelumnya sama sekali tidak berarti.
"A-Arga darimana kau mempelajari teknik berpedang sehebat ini?"
"Latihan dengan keras."
"T-tapi, saat latihan kau selalu kalah saat berlatih tanding dengan Amelia."
"Kalau begitu maka aku berlatih lebih keras lagi."
Kami berdua langsung mengambil langkah mundur karena mulai kehabisan stamina. Suit yang aku kenakan juga sudah robek kesana kemari dengan luka memar. Sedangkan Eliza hanya sobek dan sama sekali tidak memiliki sedikit luka sama sekali. Namun meski begitu, dia tetap kelelahan.
"Tuan, tolong segera akhirilah"
"Kau ada benarnya juga, Olivia."
Aku tersenyum dengan lebar meski dengan tubuh yang babak belur. Mengganti pedang laser dengan revolver laser sekali lagi. Dengan tangan yang gemetaran, aku arahkan pada Eliza.
"Me-menyerahlah! tindakanmu itu sia-sia saja, Arga. Dengan revolver itu kita hanya akan mengulangi kejadian yang sama. Menyerahlah dan aku tidak perlu bertarung denganmu lagi."
"Meskipun aku ini pemalas, tapi aku benci kekalahan."
Dengan sekali tarik pelatuk. Peluru keluar dari revolver tersebut dan melesat ke arah Eliza dengan cepat. Eliza menghindar, meski peluru berhasil mengenai beberapa helaian rambutnya. Setelah itu, lututku terjatuh karena kakiku yang mulai melemas. kehilangan tenaganya.
"S-sudah berakhir Arga, tolong segera menyerahlah." Eliza menyodorkan ujung pedangnya ke leherku.
"Kau terlalu naif, Eliza."
"Tolong jangan bercanda. Jika kau tidak segera menyerah maka aku akan—eh?"
Sebelum Eliza sempat menyelesaikan kalimatnya. Punggungnya tertembak oleh peluru yang ditembakkan olehku tadi.
"Sesuai katamu, sudah berakhir. Tapi bukan untukku."
"B-bagaimana ... bisa?!"
Eliza terjatuh dan tidak sadarkan diri. Disaat yang bersamaan kakiku yang sudah diambang batasnya pun juga sudah tidak kuat lagi. Aku terduduk sambil bernafas terengah-engah. Yang tadi itu hampir saja. Aku mengeluarkan sesuatu dari kantung tas kecil yang berada di pinggulku.
Disana terdapat empat bola hitam yang tersisa. Bola-bola hitam itu sebenarnya adalah peluru karet. Saat bermain kejar-kejaran sebelumnya aku sempat mengganti isi revolver laser dengan peluru karet.
Lalu aku mencari tempat yang memiliki pola pohon zig-zag. Seperti tempat ini. Jadi meski tembakanku berhasil dihindari oleh Eliza peluru itu akan kembali seperti bumerang setelah memantul di pohon-pohon yang ada di belakangnya.
Tapi strategi itu benar-benar mempertaruhkan keberuntungan. Jika saja aku sedikit meleset mungkin aku sudah tamat sekarang ini.