Chapter 13

1025 Kata
Pada akhirnya, pasukan yang dikirim oleh PBB datang terlambat. Semuanya telah selesai, jadi mereka datang hanya untuk membawa Pahlawan yang terluka menuju ke sebuah ruangan yang bernama KU. Ngomong-ngomong KU adalah singkatan dari Kesehatan Umum, yah aku seharusnya tidak perlu menjelaskannya karena kalian pasti sudah tahu artinya. Salah satu tanganku terasa sakit sekali, aku membuka mataku secara perlahan. Hanya untuk mendapati sesuatu yang bewarna putih. Saat aku menyadarinya, itu adalah atap dan cahaya lampu dari ruangan yang bernama KU tersebut. Sekarang aku berbaring di ranjang, dengan salah satu lengan di bungkus oleh perban. Aku ingat kata dokter dua jam sebelumnya, bahwa tulang tangan kiriku mengalami keretakan yang cukup serius. Sehingga aku diharuskan untuk istirahat total untuk beberapa hari ke depan. Di sebelahku, aku bisa melihat Hiro dan Tante Flora yang sedang mengobrol satu sama lain. Kondisi mereka bahkan lebih parah dariku, hampir dari seluruh tubuh Hiro diselimuti oleh perban. Sedangkan untuk Tante Flora, hanya bagian perut sampai lehernya. Aku berpikir bahwa sebenarnya aku cukup beruntung karena hanya mengalami retak tulang saja. "Maafkan aku Nyonya Flora, aku sungguh sangat! Sangat! Sangat! Minta maaf padamu!" Hiro dengan segenap kekuatannya menundukkan kepala. Aku mulai khawatir dengan luka yang ada di sekujur tubuhnya. "Jangan khawatir, lagipula pada waktu itu Hiro sedang tidak sadar, bukan? Jadi itu bukan sepenuhnya salahmu." "Tapi ... tetap saja, itu tidak memungkiri bahwa aku menyakitimu dan juga semua orang. Aku sungguh minta maaf!" "Sudahlah, lagipula kita semua selamat dan juga kejadian ini merupakan pengalaman bertarung yang bagus. Saat bertarung bersamamu, aku jadi mengerti letak kekuranganku. Oleh sebab itu, kita sekarang impas," jawab Tante Flora tanpa perubahan ekspresi yang jelas. "Oh, Arga kau ternyata sudah bangun, bagaimana tidurmu?" "Lumayan nyenyak, kurasa. Bagaimana dengan kondisimu, Tante Flora." "Tante?" "Ah, maafkan aku." "Hahaha! Tidak apa-apa, lagipula aku memang Tante-tante. Seperti yang kau lihat, daripada lukamu luka yang kuderita terlihat lebih parah. Tapi aku merasa lebih baikan daripada sebelumnya." "Kalau begitu syukurlah." Aku sedikit khawatir tapi sepertinya Tante Flora tidak mengalami luka yang serius. Jika di ingat-ingat lagi, padahal pertarungan mereka berdua sangat mengerikan. Hebat juga Tante Flora bisa pulih secepat ini. Sungguh, aku tidak mengerti dengan proses regenerasi dari ras yang disebut perempuan itu. "Arga, maafkan aku. Karena aku kau sampai terluka. Sungguh maafkan aku." "Tenang saja," aku memasang wajah licik. "Karena kau telah merusak tulangku yang berharga, kau hanya harus membayar sekitar satu juta Zelic dan baru akan aku maafkan." Aku bisa melihat wajah Hiro menjadi sangat pucat dan berkeringat dingin disana. Sementara Tante Flora tertawa terbahak-bahak. Disaat aku ingin memerasnya lebih jauh lagi, pintu ruangan terbuka dan beberapa orang masuk ke dalam ruangan ini. "Kak—maksudku, Commander Louisa?!" "Yo, Arga. Sepertinya kau baik-baik saja, ya." Kak Louisa dan Pahlawan yang tersisa datang menjengukku. Lupakan tentang keberadaan Amelia, Alex, Eliza dan Om Ren. Kedatangan Kak Louisa adalah sesuatu yang membuat hatiku ingin melompat kegirangan. "Flora, Hiro, bagaimana kondisi kalian?" "Aku baik-baik saja, Commander." "Aku juga. Tolong maafkan aku karena telah membuat kalian semua kerepotan." Sekali lagi Hiro menundukkan kepalanya. "Tenang saja, selain itu Hiro. Aku ingin bertanya satu hal padamu. Tapi jika kau tidak masalah dengan itu." "Aku akan menjawabnya selama aku mampu." "Hmm, kalau begitu. Apa yang memicumu masuk ke bentuk kebangkitan?" Suasana mendadak menjadi hening. Perhatian semua orang tertuju pada Hiro. Tentu saja mereka semua penasaran, bahkan aku pun begitu. Pada waktu itu, kami semua untuk pertama kalinya melihat proses memasuki bentuk kebangkitan dan jujur saja kekuatan yang dihasilkan sangat mengerikan. Apakah aku juga akan seperti itu pada suatu hari nanti? "Sebenarnya, pada waktu itu. Aku hanya tidak ingin menyerah. Waktu aku hampir saja dikalahkan oleh Nyonya Flora, aku merasa kesal, padahal aku adalah penerus Pahlawan Cahaya. Padahal aku adalah penopang harapan banyak orang, tapi aku malah kalah sebelum aku menjalankan tugasku sebagai seorang Pahlawan. Sangat lucu bukan? Untuk itu aku ingin menjadi kuat. Lebih kuat lagi demi melindungi semua orang dan juga dunia ini. Hanya itu yang aku pikirkan pada waktu itu, setelah itu aku tidak ingat mengenai apapun. Maaf." "Kau tidak perlu meminta maaf Hiro, yah dari sini sebenarnya aku sudah mengerti jawabannya. Intinya, pemicu dari bentuk Kebangkitan adalah Ambisi yang dimiliki oleh setiap Pahlawan." "Ambisi?" "Ya, ambisi. Misalnya saja adalah Hiro, dia berambisi untuk menjadi kuat demi melindungi semua orang. Karena keinginan kuatnya itulah dia tidak menyerah sehingga memenuhi syarat untuk masuk ke bentuk kebangkitan." Aku mengerti apa yang disampaikan oleh Kak Louisa. Jadi untuk memasuki bentuk kebangkitan, diharuskan untuk memiliki ambisi yang kuat. Mungkin masing-masing Pahlawan juga memiliki keinginan terbesar dari dalam hati mereka. Hanya saja, keinginan itu masih belum cukup kuat untuk memenuhi syarat masuk ke bentuk kebangkitan. "Apakah itu artinya keinginanku untuk menikah dengan Kak Louisa masih belum cukup kuat?" gumamku pelan dengan wajah serius. "Arga ...." Kak Louisa menghampiriku, lalu mendekatkan bibirnya yang merah muda di telinga kananku. "Kerja bagus karena sudah melindungi temanmu." Mukaku langsung memerah. Aku bisa merasakan kehangatan nafas Kak Louisa tepat di telingaku. "Kalau begitu semoga kalian bertiga cepat sembuh. Ah, Eliza bukankah kau juga ingin mengatakan sesuatu?" "B-benar!" Kak Louisa pergi. Sementara itu Eliza mendekat ke arahku. "A-ada apa, Eliza?" Aku jadi sedikit khawatir karena wajahnya terlihat sangat merah. Apa dia sedang tidak enak badan? "T-terimakasih karena sudah menolongku!" "Akh!" "M-maafkan aku!" Karena Eliza menunduk dengan keras sehingga kepalanya membentur kepalaku yang baru saja pulih ini. Entah karena apa, Eliza langsung berlari keluar. "Hei Pecundang! Jangan sombong dulu hanya karena kau bisa menang sekali dengan trik kotormu itu. Lain kali bertarunglah melawanku, akan kutunjukkan seberapa tidak bergunanya kau! Hahaha!" "Arga, cepatlah sembuh sehingga aku bisa membunuhmu dengan cepat." Amelia dan Alex mengatakan sesuatu yang mengerikan pada orang sakit sepertiku. Disaat inilah aku berharap untuk sakit selamanya. Setelah mereka berdua pergi, lalu disusul oleh Om Ren. Om Ren hanya mengatakan beberapa kata padaku, seperti semoga lekas sembuh dan maaf karena meninggalkanmu. Sebenarnya aku ingin memeras Om Ren seperti Hiro sebelumnya. Tapi karena aku mengerti pada saat itu Tante Flora sedang terluka parah aku akan memaafkannya. Lagipula Om Ren masih seorang dermawan bagiku. "Hei Hiro, aku akan memaafkanmu kali ini." "Huh, kenapa mendadak sekali?" Kenapa? Jika kau bertanya kenapa. Maka itu karena Kak Louisa memujiku hari ini. Berterimakasih lah kepada malaikat baik hati sepertinya.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN