Chapter 12

1000 Kata
"Tuan!! Wajahmu sangat menyedihkan hahahaha!!" "Berhenti menertawaiku sialan!!" Saat ini aku sedang berlari. Menjauh dari kejaran Hiro yang mengerjarku dari belakang. Karena dia telah masuk ke bentuk kebangkitan, seharusnya tidak membutuhkan waktu yang lama lagi hingga dia bisa menangkapku. Tapi aku diselamatkan karena Flash Boot yang kupakai. Flash Boot berfungsi untuk mengurangi gaya gesekan sehingga pemakainya bisa berlari tiga kali lebih cepat daripada sebelumnya. Kenapa situasiku menjadi seperti ini? Sebenarnya banyak hal yang telah keluar dari ekspetasiku. Jadi mari kita kembali pada sepuluh menit yang lalu. Setelah Olivia mengganti Stun Gauntlet dengan Iron Gauntlet. Aku langsung bertarung dengan Hiro menggunakan tangan kosong. Terkadang aku menjaga jarak untuk menembakkan beberapa peluru karet padanya. Tapi semua peluru itu berakhir dengan memantul dari tubuhnya. Terlebih lagi, saat beradu pukul dengan Hiro. Tidak kusangka meski aku telah memakai Iron Gauntlet aku masih bisa terpental sejauh dua meter. Dari sini aku berpikir, bahwa Pahlawan yang masuk ke bentuk kebangkitannya namun tidak bisa mengendalikan kekuatannya itu sangat merepotkan sekali. "Memangnya kau tidak memiliki rencana, Tuan?" "Jika aku punya aku tidak akan berlari seperti ini!" Aku merogoh tas kecil di pinggangku. Lalu mengambil Flash Bomb yang sebelumnya pernah kugunakan kepada Alex dan Amelia. Aku melempar ke belakang, sinar terang terpancar. Seharusnya itu bisa membutakan pandangannya untuk sementara waktu. Menggunakan peluang itu, aku segera melompat dan bersembunyi di area semak-semak yang berada tidak jauh dari posisiku berada. Aku mencoba mengatur nafasku, dadaku merasa sesak sekali. Bahkan saat aku melihat data fisikku melalui kacamata visual. Fisikku terlihat sangat lemah, detak jantungku meningkat dengan drastis, konsentrasi dan daya berpikirku juga berkurang akibat kelelahan. Bahkan, aku sekarang berkeringat sangat deras. Staminaku sudah diambang batasnya, jika terus seperti ini maka aku bisa mati menyedihkan. "Olivia, dimana dia sekarang?" dengan wajah lelah. Aku bertanya kepada Olivia tentang lokasi Hiro berada. "Hmm, bila kulihat dari atas sini. Dia sepertinya sedang menuju kemari—Oh? Tunggu itu sangat cepat!" "Apa—" Sebelum aku sempat menyelesaikan kalimatku. Hiro muncul dari balik semak-semak. Pada waktu itu, wajahku terlihat sangat menyedihkan. Satu-satunya yang kupikirkan waktu itu adalah, senyum Kak Louisa yang indah. Ah, jika aku bisa melihatnya sekali lagi. Mungkin aku bisa mati tanpa penyesalan. Itulah yang kupikirkan, tapi sepertinya harapan itu langsung terkabul. "Hyaa!!" Entah dari mana datangnya, Kak Lousia berdiri di depanku. Sambil menahan serangan Hiro dengan satu tangannya. Aku terkejut ketika melihatnya, bagaimana tidak. Bahkan satu pukulan Hiro bisa melesatkan manusia hingga beberapa meter. Tapi Kak Louisa dengan mudahnya mampu menahannya. "Maaf aku sedikit telat, Arga." Air mataku hampir saja mengalir keluar ketika mengetahui Kak Louisa dengan gagahnya melindungiku. Sungguh jantan sekali, aku merasa bahwa tanki staminaku yang tadinya habis langsung terisi penuh kembali. "Kenapa kau hanya bengong saja bodoh!!" "Uwaa!!" Kerahku ditarik, dan aku dilemparkan hingga wajahku menabrak pohon yang berada di samping. Ini sudah kedua kalinya wajahku mendarat di batang pohon. Sambil mengelus kesakitan, aku melihat pelaku yang melakukan hal kejam seperti itu padaku. "Cewek sialan—maksudku, Amelia!! Apa yang baru saja kau lakukan?!" "Kau baru saja ingin mengatakan cewek sialan, bukan?" "Tunggu, k-kau salah dengar, oke?" "Kalian berdua hentikanlah. Ini bukan waktunya untuk bermain." "Kami tidak bermain!" "Kalian berdua terlihat akrab sekali." "Om Ren, kumohon hentikanlah." Setidaknya aku tertolong karena komentar Alex dan Om Ren. Sekarang prioritas utama adalah menghentikan Hiro. Entah sudah berapa kali aku mengatakannya, namun meski begitu bukan perkara yang mudah untuk mewujudkannya. Disana, Hiro mengambil jarak dari Kak Louisa. Meski kesadarannya telah menghilang. Tapi instingnya masih aktif, dia menyadari bahwa dia menganggap bahwa Kak Louisa berbeda dengan orang-orang yang sebelumnya dia lawan. "Para Pahlawan!! Kepung dia dari segala arah!" "Baik!" Seperti apa yang diperintahkan Kak Louisa. Kami menyebar dan aku mengambil posisi ke timur. Sekarang Hiro telah terjebak dalam formasi lingkaran yang kami buat. Dengan begitu, dia tidak akan bisa lari dari Kak Louisa. Setidaknya itulah yang aku pikirkan, tetapi aku melupakan sesuatu. "A-apa?!" Kami semua dibuat terkejut. Aku tahu bahwa ada kemungkinan, bahwa kecepatan Hiro juga bertambah. Dengan memasuki bentuk kebangkitan, dia juga memiliki kemampuan untuk bergerak secepat cahaya. Hiro menghilang dalam kedipan mata, dan saat semua orang menyadarinya, dia sudah berdiri di depan Eliza. Bersiap untuk memukul. "Sial! Dia mengincar Eliza karena tahu bahwa Eliza tidak memiliki skill tipe bertahan," pikirku. "Awas!!" "Menyingkir dari sana!!" "Eliza! Awas!!" "Kyaaa!!" Entah kenapa pada waktu itu tubuhku bergerak sendiri. Ketika melihat penampakan itu, ada sebuah gejolak dari dalam hatiku yang memaksaku untuk langsung bergerak tanpa kusadari. Aku bertanya-tanya apa itu sebenarnya, dan perasaan yang kurasakan pada waktu itu adalah tingkatan adrenalin yang drastis. Dengan Flash Boot aku melesat dengan cepat. Aku adalah yang tercepat kedua setelah Hiro, jadi hanya aku lah satu-satunya orang yang bisa sampai ke tempat Eliza terlebih dahulu. "Hentikan!!!!" TANG! Dengan segenap kekuatanku, aku berdiri di depan Eliza sambil menangkis pukulan Hiro dengan Iron Gauntlet di tangan kiriku. Tekanan angin yang kuat terjadi, membuat beberapa dedaunan yang gugur berterbangan di udara. Tanganku bergetar kesakitan, aku bisa merasakan bahwa Iron Gauntlet milikku retak setelah menahan pukulan Hiro. Kurasa bukan hanya Iron Gauntletku saja, aku merasa bahwa ada bagian lain yang retak, tapi mari kita pikirkan saja itu setelah semua masalah ini selesai. Suasana menjadi hening sejenak, tanganku masih terasa sangat sakit. Sakit sekali hingga aku ingin berteriak dan menangis, namun aku menahannya dengan cara menggigit lidahku kuat-kuat karena aku sadar bahwa sekarang bukanlah waktu yang tepat untuk merengek dan bersikap manja. "Sekarang!!" teriak Kak Louisa. Om Ren langsung melesatkan benang mana dan berhasil mengikat Hiro yang lengah. Amelia membantu dengan sihir pengekang untuk menambah ikatan pada benang mana Om Ren. Sedangkan Alex berjaga-jaga jika sesuatu yang buruk terjadi. Dengan kekuatan Alex yang bisa dibilang cukup ahli untuk menumbangkan sesuatu, kurasa memang cocok mengisi posisi tersebut. "Magic Cancel!!" Tepat sebelum Hiro mengamuk lagi. Kak Louisa segera berkontak fisik dengannya lalu menggunakan sihir yang bernama Magic Cancel untuk menetralkan mana Hiro yang meluap-luap. Tepat setelah itu, kondisi Hiro kembali ke sedia kala. Namun, keadaannya masih dalam tidak sadarkan diri. Tubuhnya ambruk dengan nafas yang terengah-engah. Dengan begini, misi penyelamatan pertama kami sebagai Pahlawan. Telah tercapai dengan sukses.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN