"Om Ren?"
"Nak Arga?"
Saat aku dalam perjalanan menuju ke tempat Hiro berada. Aku bertemu dengan Om Ren ditengah perjalanan. Umumnya kita berdua akan bertarung ketika bertemu satu sama lain saat Battle Royale. Tapi prioritas sekarang ini adalah menghentikan bentuk kebangkitan yang Hiro alami. Akan berbahaya jika dia dibiarkan terus menerus meluapkan mananya. Jika dibiarkan, maka jaringan mana yang ada di pulau ini akan terganggu dan bisa saja berakhir dengan jatuhnya pulau ini ke bawah.
"Om Ren, kau juga mengambil jalur ini?"
"Benar. Karena kupikir ini adalah rute tercepat karena jaraknya tidak terlalu jauh denganku. Nak Arga sendiri, tidak kusangka jika posisimu juga tidak terlalu jauh denganku."
"Bahkan aku juga, tidak menyangka jika akan bertemu dengan Om Ren disini."
Kami berdua pada akhirnya berbincang-bincang ringan dengan tenang. Sambil terus berlari melewati pepohonan sintetis menuju ke tempat dimana Hiro berada. Jaraknya kurang lebih tiga puluh meter lagi, tinggal sedikit lagi. Itulah informasi yang aku peroleh dari analisis kacamata visual yang kupakai.
"Tidak kusangka jika Hiro mengalami bentuk kebangkitan secepat ini."
"Terlebih lagi, karena tubuhnya masih terlalu cepat untuk dapat menahannya. Makan dari dalam tubuhnya meluap dan membuat jaringan mana yang tersebar di alam menjadi terganggu. Kita harus segera menghentikannya sebelum sesuatu yang buruk terjadi."
"Om Ren benar, kita harus segera—"
Tiba-tiba saja aku merasakan bahwa mendadak terjadi gempa bumi. Tanah tempat kami berdua berdiri bergetar, karena aku tidak siap, aku tersandung kakiku sendiri hingga menabrakkan wajahku di batang pohon yang ada di depanku.
"Tuan, kau terlihat sangat menyedihkan."
"Berisik! Selain itu, apa yang sebenarnya terjadi?"
"Sepertinya itu berasal dari pulau ini. Aku merasakan jaringan mana di pulau ini sudah mulai dipengaruhi oleh luapan mana Pahlawan Cahaya."
"Ha?! Maksudku kita akan jatuh dari sini?!" dengan wajah yang menyedihkan dan merah. Aku memeluk erat-erat batang pohon tempatku menabrak sebelumnya.
"Nak Arga, kita harus cepat."
Benar, kita harus cepat jika tidak ingin pulau ini jatuh. Dengan segenap tenaga kulawan ketakutanku. Meski kakiku gemetar tidak karuan, aku harus tetap bergerak ke tempat Hiro untuk menghentikan bentuk kebangkitannya. Kumohon, bertahanlah sedikit lebih lama lagi kakiku.
***
BOOM!
Untuk kesekian kalinya. Flora dibuat terpental hingga menembus beberapa pohon sintetis di belakangnya. Ia terbatuk darah, dan suit yang ia kenakan yang memiliki fungsi sebagai peningkatan fisik dan daya tahan tubuh pun sudah tidak terlalu berpengaruh. Pakaiannya robek sana-sini, karena telah melewati pertempuran yang panjang.
Sementara itu kondisi Hiro sendiri semakin parah pula. Kesadarannya telah hilang sepenuhnya, bahkan darah yang mengalir di sekujur tubuhnya semakin deras. Begitupula dengan mana yang meluap di sekitarnya.
"Aku ... tidak ... boleh ... kalah ...."
Menggumamkan kalimat itu. Dalam sekejap mata Hiro menghilang dari pandangan Flora. Flora berusaha untuk mencarinya menggunakan Magic Sense, tapi itu semua sudah terlambat. Karena saat dia menyadarinya, Hiro sudah berada tepat di depannya. Berusaha untuk melesatkan pukulannya sekali lagi.
Pada saat itu waktu seperti berjalan lambat. Flora berpikir, mungkin dia akan pingsan jika sekali lagi terkena pukulan mematikan seperti sebelumnya. Bahkan tidak peduli berapa kali ia membuat perisai menggunakan skill Compression, setiap serangan yang Hiro arahkan pasti selalu dapat menembusnya.
Cahaya putih mulai memenuhi pandangan Flora. Hiro melesatkan tinjunya tanpa ampun seperti sebelumnya. Itu sangat cepat, namun disaat yang bersamaan. Flora mendengar suara teriakan seseorang.
"Nak Arga!! Sekarang!!!"
"Baik!!"
Om Ren menjerat Hiro menggunakan benang yang terbuat dari mana. Itu adalah salah satu skill yang dikuasai oleh Om Ren, yaitu Mana String. Skill itu membuatmu bisa membuat benang tipis namun kuat dari mana dan mengendalikannya dengan pikiranmu. Semakin banyak benang yang digunakan semakin tinggi pula konsentrasi yang diperlukan untuk mengendalikannya.
Untuk sekarang ini, Om Ren hanya bisa mengendalikan maksimal dua benang.
Setelah Om Ren menjerat Hiro dan membuat pergerakannya berhenti. Aku segera melesat dan menggendong Tante Flora seperti layaknya Tuan Putri. Lalu menjauh dari posisinya berada.
"Nyonya Flora, kau tidak apa-apa?" tanya Om Ren setelah aku menurunkan Tante Flora.
"Ya, berkat kalian. Terimakasih."
"Om Ren, berapa lama kau bisa menahan Hiro dengan benangmu?" tanyaku.
"Setelah dipikir-pikir. Mungkin tidak lama lagi, karena aku hanya bisa menggunakan dua benang sehingga lilitannya pasti juga tidak terlalu kuat," jawabnya dengan senyum pahit. "Nyonya Flora, apakah kau masih bisa berjalan?"
Flora menggelengkan kepalanya. "Sayangnya aku kekeringan mana setelah pertarungan sebelumnya. Jadi aku tidak bisa terlalu banyak bergerak untuk saat ini."
"Mau bagaimana lagi. Kalau begitu, Nak Arga. Aku akan membawa Nona Flora pergi untuk di obati. Nak Arga karena kau adalah anak yang baik kau pasti bisa menahan Hiro untuk sementara waktu, bukan?"
"... T-tunggu Om Ren, apa yang kau maksud dengan—"
"Kalau begitu. Kuserahkan sisanya padamu, Nak Arga.
"Tidak!! Tunggu aku Om Ren!!!"
Dalam sekejap, Om Ren segera pergi bersama Tante Flora dan meninggalkanku sendirian bersama dengan Hiro yang masih mengamuk. Aku hanya tersenyum kecut, entah kenapa aku merasa dikhianati oleh orang yang paling aku hormati. Yah, mau bagaimana lagi. Aku mengerti Om Ren ingin menolong Tante Flora segera. Jika aku hanya mengulur waktu, mungkin aku bisa melakukannya hingga Pahlawan lainnya datang menjemput.
Selain itu pergerakan Om Ren juga cepat. Mungkin itu juga salah satu dari skill yang dia punya. Sungguh skill yang sangat berguna untuk melarikan diri. Aku berbalik untuk menatap Hiro yang masih terikat, tapi tidak lama kemudian benang yang mengikat tubuhnya terputus.
"Olivia, tukar Stun Gauntlet dengan Iron Gauntlet. Kita akan bertarung mati-matian disini."
"Siap laksanakan, Pak!"
Dengan begitu sarung tangan yang berada di tangan kiriku berubah menjadi besi. Sarung tangan ini bukan sarung tangan biasa, karena sarung tangan ini merupakan pemberian dari Kak Louisa sebagai hadiah kelulusanku dari masa pelatihan.
Ya, rata-rata semua barang canggih yang kupunya adalah pemberiannya. Mengingat saat Kak Louisa memberikanku benda-benda itu dengan senyum cerahnya membuatku semakin bersemangat. Sementara itu tangan kananku mengambil sebuah revolver yang berada di pinggang. Seorang All Rounder harus terbiasa dengan memanfaatkan seluruh anggota tubuh. Meski jika itu kau diharuskan untuk menjadi kidal, menggunakan kaki, atau bahkan menggunakan mulutmu. Itulah yang aku pelajari dari Kak Louisa.
Aku memasang sikap kuda-kuda bertarung. Seperti yang sudah kulatih sebelumnya.
***
"Kau, bukannya?"
"Ah?"
Saat Louisa dan Pahlawan lainnya sedang dalam perjalanan menuju ke tempat Hiro berada. Ren Zeran bertemu dengan kelompok mereka. Mereka semua terkejut saat melihat Flora yang sudah pingsan dalam gendongan Ren. Pada akhirnya, mereka memutuskan untuk berhenti sejenak untuk memeriksa kondisinya.
Eliza adalah orang yang bertugas untuk memeriksa. Karena dia adalah Pahlawan Penyembuh. Dia sudah mendapatkan pengetahuan mengenai medis saat masa pelatihan sebelumnya. Dia memeriksa detak jantung, denyut nadi, dan lain-lain.
"Bagaimana?"
"Dia hanya kelelahan karena kekeringan mana. Setelah istirahat, dia pasti akan segera pulih."
Mendengar jawabannya, semua orang langsung menghela nafas lega.
"Tunggu, jika Flora disini. Siapa yang sekarang bersama Hiro?" tanya Louisa.
Ren menggaruk pipinya dengan canggung. "Mengenai itu, sebenarnya aku merasa bersalah. Aku meninggalkan Nak Arga untuk mengulur waktu sementara aku menolong Nyonya Flora."
"Si Pecundang itu?!"