Chapter 10

1004 Kata
Hiro telah memasuki bentuk kebangkitannya. Atau bisa disebut dengan Awakening Form. Di Form tersebut, tubuh Pahlawan yang mengalami bentuk kebangkitan akan dipaksa untuk mengeluarkan seratus persen kemampuannya. Darah akan dipompa lebih cepat daripada normalnya, dan mana yang berada didalam tubuh akan diserap oleh tulang-tulang untuk memperkuat daya tahannya. Pemicu Awakening Form sendiri pun aku masih belum mengerti karena dulu aku tertidur saat pelajaran di kelas. Tapi dari informasi yang k****a dari internet, ketika tubuh Pahlawan masih belum cukup kuat untuk menampung luapan mana dari dalam tubuhnya. Maka Pahlawan itu akan hilang kendali dan menghancurkan apapun yang ada disekitarnya. "Tuan, aku merasakan ada yang tidak beres dengan Pahlawan Cahaya itu." Perkataan Olivia benar, bahkan aku sendiri pun merasa ada yang tidak beres dengan bentuk kebangkitan yang dialami oleh Hiro sekarang. Aku mengamati kulit Hiro yang semakin memucat dan memancarkan intimidasi yang kuat. "Tuan! Ini buruk! Setelah aku menganalisis tubuh Pahlawan Cahaya. Dia tengah pingsan!" "Pingsan? Maksudmu dia pingsan dalam keadaan berdiri?" "Seperti itulah. Hanya saja, mana yang meluap dari dalam tubuhnya terlalu besar, terlalu besar bagi tubuh Pahlawan Cahaya untuk menampungnya. Jika dibiarkan seperti ini terus maka tubuhnya bisa hancur kapan saja!" "Sial! Jadi dia beneran lepas kendali?!" Aku sudah menduga bahwa terdapat kejanggalan pada bentuk kebangkitan Hiro. Hanya saja aku tidak pernah berpikir bahwa tubuhnya bisa saja hancur saat tengah lepas kendali. Aku melihat Flora untuk melihat reaksinya, namun seperti biasa dia tidak menunjukkan tanda-tanda khusus ketakutan maupun emosi dibalik senyum merekah di wajahnya. Hingga tidak lama setelah itu, Hiro yang lepas kendali mulai menyerangnya. *** Dilain sisi, di waktu yang sama. Kak Louisa dan Professor Paul sedang mengawasi diluar area hutan tempat ujian dilakukan. Mereka melihat ke langit, dimana terdapat menara cahaya yang terbentuk dari arah barat laut. "Apa itu?" Eliza bertanya dengan gelisah. Ngomong-ngomong, para Pahlawan yang telah tereleminasi diharuskan untuk berkumpul kembali di area itu, dan menunggu hingga ujian berakhir. "Aku merasakan firasat yang sangat buruk mengenai ini," ucap Alexander. "Untuk sekarang, mari kita lihat apa yang sebenarnya terjadi menggunakan Drone." Kak Louisa menerbangkan Drone ke arah sumber cahaya tersebut menggunakan jam tangan elektrik di tangan kanannya. Dari jam tangan itu juga muncul layar hologram yang menampilkan tangkapan kamera Drone sehingga kita bisa tahu apa yang terjadi disana. Di layar Hologram, semua orang memperhatikan. Bahwa area hutan di posisi barat laut telah mengalami kerusakan parah. Banyak pepohonan dan bebatuan sintetis yang tumbang. Bahkan lebih parahnya lagi, itu cukup memakan banyak biaya untuk memperbaikinya. Namun, bukan itu masalah utamanya. Semua orang melihat ke arah orang yang sedang berhadapan dengan Flora Angelina. Dia adalah Hiro, penampilannya terlihat berbeda dari sebelumnya. "Penampilan itu?! Jangan bilang dia telah memasuki bentuk kebangkitan secepat ini?!" ucap Professor Paul dengan cemas. "Dia terlihat tidak terkendali, Professor mulai dari sekarang aku akan mengambil alih komando. Halo? Disini adalah Louisa, tolong segera sampaikan kepada Pasukan Militer untuk mengirim unit mereka ditempat ujian para Pahlawan karena terjadi keadaan darurat siaga lima. Aku ulangi, segera kirimkan unit bantuan ke tempat ujian karena telah terjadi keadaan darurat siaga lima!" Setelah mengirim pesan ke markas pusat, Kak Louisa mengalihkan perhatiannya kepada Alex, Eliza dan Amelia. "Kalian bertiga akan ikut denganku. Sebelum bantuan sampai kita harus mencoba menghentikan teman kalian sebelum menimbulkan masalah yang lebih besar lagi." "Apakah seburuk itu jika seorang Pahlawan memasuki bentuk kebangkitan?" "Bukan berarti buruk, justru setelah masuk ke bentuk kebangkitan. Seorang Pahlawan menjadi lebih mampu beradaptasi dengan kemampuannya sendiri dan dapat mengendalikannya lebih baik daripada sebelum masuk ke bentuk tersebut. Hanya saja, lain jika Pahlawan itu lepas kendali karena tidak mampu menahan luapan mana didalam tubuhnya. Jika itu terus dibiarkan, maka tubuh teman kalian akan hancur dan meledak." "I-itu sangat menakutkan," komentar Eliza dengan tubuh yang gemetar. "Maka itulah tugas kita untuk mencegahnya apapun yang terjadi. Kita tidak tahu apa yang terjadi jika satu Pahlawan telah tumbang sebelum melawan Dewa Iblis, terutama karena dia adalah penerus dari Pahlawan Cahaya. Salah satu harapan terbesar dari semua masyarakat di dunia ini." "Kalau begitu jangan buang waktu lagi! Ayo kita kembali kesana! Dengan begitu aku bisa membalas dendam pada pria pecundang yang sudah memakai cara curang kepadaku sebelumnya," ucap Amelia dengan semangatnya. "Tujuanmu sudah melenceng, kau tahu." Kemudian, mereka semua mulai bergerak. Demi menghentikan bentuk Kebangkitan Hiro sebelum dia melampaui batasannya. *** Sementara aku masih bersembunyi sambil mengamati dari balik semak-semak yang sedikit jauh dari area pertarungan Flora dan Hiro. Tiba-tiba saja muncul sebuah pesan hologram dari kacamata visualku. Aku melihatnya, dan ternyata itu adalah pesan suara dari Kak Louisa. Tanpa menunggu lama aku segera membukanya. [Semua Pahlawan! Battle Royale akan dihentikan untuk sementara. Sebagai Commander baru kalian aku akan memberikan tugas pertama untuk kalian para Pahlawan sekarang juga. Yaitu misi penyelamatan Pahlawan Cahaya, Karasuki Hiro dari bentuk kebangkitannya!] Saat aku mendengar pesan suara itu aku merasakan dua emosi sekaligus. Yaitu kebahagiaan dan kesedihan. Aku bahagia karena bisa mendengar suara lembut Kak Louisa sedangkan aku sedih karena perintahnya yang cukup mengerikan. Maksudku, aku bahkan tidak mau mendekat di pertarungan mereka berdua. Namun, jika itu demi Kak Louisa. Maka aku akan tetap melakukannya bahkan jika itu harus membahayakan nyawa sekalipun. *** Hiro terus menyerang Flora dengan membabi buta. Menerjang sambil mengarahkan pukulan demi pukulan, berbeda dari sebelumnya, pukulan Hiro kali ini terlihat lebih kuat dan mematikan. Jika sebelumnya pukulannya hanya bisa melubangi tanah sedalam satu meter maka Hiro yang sekarang mampu melubangi tanah sedalam dua meter. Bahkan saat beradu pukul pun, aku sempat melihat beberapa kali armor tidak terlihat Flora hancur. Karena tidak memiliki perlindungan, sepertinya Flora menggunakan benda-benda disekitarnya untuk berlindung menggunakan kemampuan Telekinesisnya. Namun meski begitu, Flora tidak bisa berlindung seperti itu terus selamanya. Sementara Hiro terus mengamuk. Tiba-tiba saja di sekujur tubuhnya mulai mengalirkan darah. Mulai dari lubang mata, hidung, mulut, telinga, atau bahkan pori-pori yang kecil sekalipun. Sepertinya tubuh Hiro sudah diambang batasnya dan tidak bisa bertahan lebih lama lagi. Disaat yang bersamaan, semua Pahlawan yang tersisa sudah bergerak menuju ke tempat Flora dan Hiro bertarung. Dari arah Utara, timur, dan juga barat. Bagi mereka, ini adalah tugas pertama sekaligus utama dalam menjalankan profesi sebagai seorang Pahlawan. Yaitu misi penyelamatan.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN