"Jadi Anda bersekolah di SMA Fujisaki, Tuan Arga? Tidak disangka-sangka jika kita satu sekolah."
"Begitu, kah?"
"Yah, memang aku jarang terlihat di sekolah karena masalah politik Kerajaan. Tapi terkadang aku sesekali masuk untuk menunjukkan diriku."
"Aku mengerti. Sepertinya menjadi Tuan Putri sangatlah berat."
Aku berjalan dipandu oleh Putri Roroa menelusuri koridor untuk menuju ke kamar yang telah dipersiapkan khusus untukku. Untuk menghilangkan kebosanan, Putri Roroa mencoba berinteraksi denganku hanya untuk berbasa-basi. Tentu saja aku juga mengerti itu jadi aku mengikuti alur pembicaraan yang dia buat. Lagipula aku adalah tipe orang yang susah berkomunikasi jika lawan bicara tidak membuka topik terlebih dahulu.
"Tentu saja. Tapi tugas itu tidak seberat menjadi Pahlawan yang melindungi dunia. Anda pasti sangat beruntung, Tuan Arga."
".... B-begitu, ya?"
Aku ingin mengatakan bahwa aku malah merasakan sebaliknya tetapi pada akhirnya aku putuskan untuk tidak melakukannya. Jika aku mengatakan bahwa aku sebenarnya menolak untuk menjadi Pahlawan mungkin suasana akan menjadi canggung dalam sekejap.
Selain itu, aku juga bukan tipe orang yang terlalu terbuka kepada orang lain yang baru kukenal hingga mengatakan apapun hal yang tidak kusukai secara langsung. Aku lebih memilih tutup mulut dan diam agar tidak terkena masalah apapun. Itulah prinsip hidupku selama ini. Menghindari masalah, bukan menghadapi masalah.
Beberapa menit kemudian, kami memasuki sebuah ruangan. Di dalam ruangan itu sangat mewah dan besar. Dengan fasilitas ranjang berdiameter dua meter serta dilengkapi interior mewah lainnya yang memenuhi ruangan. Di dinding ruangan juga terdapat lukisan-lukisan bagus yang tentunya tidak dapat aku pahami maknanya. Wajar saja karena aku bukanlah seorang yang bisa mengerti arti dari sebuah seni.
"Tuan Arga ini adalah kamar Anda. Jika Anda memerlukan sesuatu. Anda dapat memanggil pelayan yang berjaga 24 jam di dalam Istana."
"Terimakasih Tuan Putri. Tapi kurasa ini sudah lebih dari cukup bagiku."
"Hahaha! Tidak usah sungkan. Tolong nikmatilah karena bagaimanapun juga Anda adalah seorang Pahlawan yang spesial."
Kami berdua bertukar salam singkat lalu Putri Roroa meninggalkanku sendirian di ruangan yang besar ini. Aku menjatuhkan tubuhku diatas ranjang yang empuk. Entah kenapa hari-hariku yang biasanya membosankan langsung berubah drastis menjadi hari yang cukup berat. Bahkan aku sudah sangat lelah sebelum melaksanakan tugas sebagai seorang Pahlawan.
Jika saja Ayah dan Ibu melihatku yang sekarang ini. Apakah mereka merasa senang atau malah mengasihaniku aku tidak tahu. Hari ini sudah hampir malam, jadi sebelum tidur aku masih ingin melakukan banyak hal karena masih ada beberapa yang belum aku pahami dengan baik.
Salah satunya adalah mini-chip di tengkuk leherku. Saat ini benda itu tidak aktif, dan cara untuk mengaktifkannya adalah dengan menggunakan Command-voice, "Chip Active." Lalu benda kecil itu akan segera aktif dengan sendirinya.
Sekali lagi aku membuka menu status. Disana masih terlihat dengan jelas gelarku. Yaitu sebagai Pahlawan Tipu Muslihat. Aku belum pernah mendengar gelar itu waktu pelajaran sejarah di sekolah jadi untuk saat ini aku akan menganggapnya sebagai gelar baru.
Kemudian aku beralih ke kolom bagian level. Angkanya masih menunjukkan angka nol dan diperlukan 100 Poin pengalaman—Exp—untuk dapat naik ke level satu. Bicara soal level, sebenarnya saat manusia dilahirkan level mereka sudah ditetapkan.
Diukur dengan bakat mereka. Jika mereka sudah berbakat dari lahir. Bisa saja mereka terlahir dengan level lima atau lebih tinggi lagi jadi itu hal yang wajar-wajar saja. Yang tidak wajar adalah aku yang memiliki level nol. Artinya, aku sama sekali tidak memiliki bakat apapun atau sesuatu yang bisa kulakukan.
Aku sangatlah lemah. Terlemah di dunia, bisa dibilang begitu. Kemudian, orang sepertiku ini ternyata adalah seorang yang terpilih sebagai Pahlawan. Aku tidak bisa menertawakan diriku sendiri yang amat sangat menyedihkan ini.
"Eh, apa ini?"
Dibawah kanan panel status terdapat ikon tanda tanya dengan tulisan [Apakah Anda memerlukan seorang Pembantu?] dan membuatku cukup penasaran dengan fungsi ikon tersebut.
Tanpa sengaja aku menekannya. Kuulangi lagi, yang tadi itu benar-benar tidak sengaja karena aku terlalu bersemangat. Lalu hal yang aneh terjadi. Semua panel menghilang dari jarak pandangku. Digantikan oleh secercah cahaya seperti portal yang bersinar dengan terang hingga membuat kedua mataku silau. Aku tidak mengerti apa yang terjadi namun setelah beberapa saat ke depan cahaya itu mulai meredup.
Aku membuka mataku yang masih remang-remang, hingga mendapati sosok kecil yang terbang kesana-kemari di sekitarku.
"Data pemilik telah dikonfirmasi. Pemilik baru dari Olivia versi 2.00; Arga Mahendra dengan status Pahlawan. Data kembali di proses. Mengenali wajah pemilik. Mengambil data sidik jari dan retina mata. Data telah diambil. Proses selesai."
"Eh apa?"
"Salam kenal Tuan Pahlawan. Aku adalah AI pembantu dalam perjalananmu untuk mengalahkan Dewa Iblis. Olivia, dengan kode name 008798 saya siap melayani Anda."
Aku hanya terperangah diam ketika mendengar suara kecil itu. Tepat didepan mataku saat ini ada seekor peri wanita dengan tubuh yang sangat mungil. Dia mengatakan sesuatu yang tidak jelas seperti kode name dan pembantu tapi aku sama sekali tidak paham dengan maksudnya.
Aku menangkapnya. Sensasinya sangat empuk dan benar-benar seperti makhluk hidup pada umumnya. Aku sedikit meremas-remasnya bagaimanapun juga benda ini terlalu nyata untuk sekedar AI.
"Sepertinya Tuanku adalah orang yang m***m. Akan kumasukkan ini kedalam data milikku."
"Ah, maaf ...."
Mendengar kata-katanya aku sontak melepaskannya. Padahal hanya sebuah AI tapi dia terlalu percaya diri dengan tubuhnya yang kecil itu. Selain itu, aku juga masih pilih-pilih jika mau berbuat m***m kepada seseorang.
"Jadi, sebenarnya apa kau ini?"
"Bukankah Tuan sendiri yang memanggilku? Yah mau bagaimana lagi aku akan memulainya dari awal sekali. Namaku adalah Olivia versi 2.00. Aku adalah AI pembantu yang akan membantu Anda dalam segala hal. Bisa dibilang aku ini adalah multi talenta." Olivia membusungkan dadanya dengan bangga.
"AI pembantu, kah? Kelihatannya sangat praktis. Kalau begitu aku punya tugas pertama untukmu. Pundakku terasa kaku bisakah kau memijatnya?"
Olivia berkedip beberapa kali dengan bingung. "Hah?!"
"Apa? Bukannya kau adalah AI pembantu yang multi talenta. Tidak bisakah kau melakukan tugas kecil seperti itu?"
"B-bukan perintah seperti itu yang aku maksudkan!! Aku adalah sebuah AI dan bukanlah pelayan! Tugasku adalah mengolah data dan informasi. Bukan untuk menjadi pelayanmu!!"
"Jadi benar-benar tidak bisa ya." Aku memasang akting wajah murung, sedikit melirik ke arah AI kecil itu untuk melihat ekspresinya. Sesuai dengan dugaan, wajahnya terlihat menyedihkan. Ini adalah balasan karena telah mengataiku sebagai orang m***m tadi.
"B-baiklah jika itu mau mu aku hanya harus melakukannya, bukan?!"
"Tunggu!! Oke, aku hanya bercanda jadi maafkan aku." Aku langsung meminta maaf saat melihat Olivia membawakan sebuah tongkat yang terlihat keras. Apakah dia ingin memijatku menggunakan tongkat itu? Meski dia ini AI tapi sepertinya dia tidak diprogramkan untuk melakukan tugas pelayan. Mau bagaimana lagi.
***
"Jadi Olivia. Aku ingin bertanya sesuatu padamu. Mungkin ini terdengar aneh, tapi aku ini adalah seorang Pahlawan yang menyandang gelar Tipu Muslihat. Namun saat aku mengatakannya tidak ada orang yang tahu mengenai gelar itu. Apakah kau mengetahui sesuatu tentang gelar ini, Olivia?"
"Hmm, aku tidak menemukan data mengenai gelar itu di dalam memori internal maupun eksternalku. Sepertinya Anda adalah Pahlawan dengan status langka. Mungkinkah itu benar-benar kemunculan gelar baru?"
"Aku juga sempat berpikir seperti itu. Jadi sampai sekarang masih menjadi misteri, ya."
Aku menatap langit-langit ruangan yang sangat luas, hingga kemudian menjatuhkan tubuhku ke ranjang sekali lagi. Benar-benar kasur berkualitas tinggi karena sangat empuk. Lama kelamaan aku menjadi mengantuk. Kurasa sudah saatnya untuk tidur.
"Aku mengantuk, aku akan tidur sekarang Olivia."
"Ehh?? Padahal ini baru jam 9 malam, bukankah itu terlalu awal untuk tidur?!"
"Jangan meremehkanku Olivia. Bagi seorang kaum rebahan sepertiku. Aku harus selalu dapat menghemat energiku jika terjadi sesuatu yang genting nanti."
"Itu hanya alasanmu saja, bukan? Yah, kalau begitu aku juga akan masuk ke dalam mode tidurku. Selamat malam, Tuan Pahlawan."
"Ya."
Begitu saja, Olivia menghilang dari pandanganku. Setelah itu aku mulai memejamkan mata dan terlelap. Hari ini aku merasa sangat lelah sekali. Bangun tidur di pagi hari dan mendapati bahwa tanda Pahlawan muncul di tangan kananku.
Kemudian tidak lama setelah itu aku didatangi oleh agen dengan pengawal dua pria berotot yang menyeramkan. Ditambah lagi fakta bahwa kehidupanku yang stabil akan berubah drastis. Terlalu banyak masalah yang menimpaku hari ini, jadi kurasa tidur lebih awal adalah keputusan yang baik.
.