Chapter 1

1507 Kata
Aku dibawa dengan Limosin mewah melewati kerumunan orang yang penasaran denganku yang seorang Pahlawan terpilih. Meski kalian berharap kepadaku tapi mungkin harapan kalian akan segera menjadi kekecewaan setelah mengetahui sifat asliku. Lagipula aku sama sekali tidak memiliki motivasi untuk menjadi Pahlawan dan menyelamatkan dunia. Hal yang paling aku inginkan adalah hidup dengan stabil sambil menikmati hobi untuk terus bermalas-malasan. Selama aku mendapatkan itu, aku tidak akan mengeluh atau meminta apapun lagi. Dalam artian lain, aku sudah puas. Aku melihat pada punggung tangan kananku, dimana disana terdapat tanda pahlawan—bulan sabit—yang masih memancarkan warna terang. Aku mencoba menghapusnya dengan cara mengusapnya lagi dan lagi tapi benda itu benar-benar tidak bisa hilang. Dari sini aku telah yakin sepenuhnya bahwa aku yang menjadi Pahlawan itu bukanlah sebuah kesalahan. Selain itu. Jika aku seorang Pahlawan. Aku berharap menyandang gelar yang bagus. Seperti Pahlawan Pedang atau Pahlawan Penyihir. Aku tidak ingin menjadi Pahlawan Cahaya karena akan menjadi sangat mencolok. Jadi aku memilih kandidat yang rata-rata saja. Kurasa menjadi Pahlawan Penyihir adalah hal yang baik. Selain tidak perlu terjun ke garis depan aku hanya perlu menyerang dari jarak jauh dan memberikan dukungan kepada rekan-rekanku. Sungguh posisi yang sempurna. Aku berdoa agar aku benar-benar menyandang gelar Pahlawan Penyihir itu dari dalam lubuk hatiku. "Kita sudah sampai." Seperti yang dikatakan oleh Helena. Kami sudah sampai di Istana kerajaan. Kedua prajurit berzirah segera membukakan gerbang setelah mereka melihat mobil Limosin yang kami naiki dan segera memarkirkannya tepat di halaman Istana. Ngomong-ngomong, Apartemen tempatku tinggal sebelumnya adalah wilayah dari Kerajaan Symphomia. Kerajaan yang terletak di belahan timur dunia dan terkenal dengan sumber dayanya yang melimpah. Aku dipandu keluar oleh Helena dari Limosin, dan lalu aku terperangah ketika melihat besarnya bangunan Istana yang berada tepat di depanku saat ini. Saat ini adalah pertama kalinya aku datang Secara langsung di Istana kerajaan. Soalnya tempat sebagus dan semewah ini biasanya hanya bisa dimasuki oleh orang-orang kaya atau berpengaruh seperti memiliki jabatan yang tinggi dalam suatu pemerintahan. Mengetahui bahwa aku akan memasuki bangunan besar itu membuatku sangat gugup. "Anu, Nona Helena. Apakah Pahlawan lainnya sudah ditemukan?" "Sudah, sepertinya masing-masing kerajaan memiliki satu Pahlawan mereka sendiri." "B-begitu ya. Selain itu, aku penasaran dengan bagaimana Nona Helena mengetahui bahwa aku adalah seorang Pahlawan dan alamat Apartemenku." "Itu mudah, aku hanya menggunakan Mana Detector untuk mendeteksi luapan mana besar saat Pahlawan terpilih lahir. Dan kebetulan itu mengarah ke tempat dimana kau tinggal." "Mana Detector?" "Ya, benda seperti ini." Saat kami berjalan di bagian koridor Istana aku bertanya beberapa hal pada Helena. Lalu dari balik setelan jas yang dia pakai. Dia mengeluarkan sebuah alat berbentuk bulat yang ditengahnya terdapat panel angka. Saat alat itu didekatkan ke tubuhku, angka dalam panel yang tadinya nol langsung berubah ke angka seratus. Jadi ini yang namanya Mana Detector. Sungguh benda yang praktis. Beberapa saat berjalan akhirnya kami sampai di depan pintu yang besar dan dijaga oleh beberapa Prajurit berzirah. Salah satu dari mereka membukakan pintu dan kami pun masuk kedalamnya. Lagi-lagi, aku dibuat terkejut untuk kedua kalinya. Didalam ruangan yang aku masuki, terdapat banyak sekali orang-orang berpakaian mewah dan seorang pria tua yang duduk di kursi tahta. Tidak salah lagi, ruangan ini adalah Aula Istana. Dimana didalam ruangan itu terdapat kursi singgasana dimana Raja Symphomia duduk, dan beberapa kursi bangsawan yang tersedia di sisi kiri dan kanan ruangan. Helena bersama dengan dua orang berotot tadi berlutut. Karena tidak tahu harus berbuat apa, aku hanya perlu mengikuti apa yang mereka lakukan. "Helena Smith melapor kepada Yang Mulia. Saya telah membawa sang Pahlawan." "Kerja bagus. Kau dibebas tugaskan untuk sementara waktu, Helena." "Baik, kalau begitu kami permisi." Helena dan kedua pria berotot tersebut segera meninggalkan ruangan setelah memberi salam. Hei, tunggu jangan tinggalkan aku bersama orang-orang asing ini, hanya kalian lah satu-satunya orang yang aku kenal jadi jangan tinggalkan aku. Meski aku ingin mengatakannya tetapi aku segera menelannya kembali karena saat ini aku sedang berada dihadapan seorang Raja. "Tuan Pahlawan, angkat kepalamu." "Baik, Yang Mulia." Dengan suara gugup dan tubuh yang gemetar aku bangkit dan menatap langsung ke wajah sang Raja. Ngomong-ngomong, nama penguasa saat ini adalah Raja Asgard Von Symphomia. Dia sudah memenangkan masa jabatan selama empat periode karena dia dikenal dengan kebijaksanaan serta keramahannya oleh kalangan masyarakat. Sepertinya selain berhasil mempertahankan jabatannya. Dia juga memenangkan hati para rakyatnya. "Mungkin Tuan Pahlawan masih bingung dengan semua kejadian yang tiba-tiba sebelumnya. Oleh sebab itu, saya akan menjelaskan situasi yang sedang melanda dunia saat ini agar Tuan Pahlawan dapat mengerti." Raja Asgard menekan sebuah remote lalu layar hologram besar semi transparan yang mirip seperti layar lebar, muncul di tengah-tengah ruangan. "Sesuai dengan gambar itu, Dewa Iblis telah terlahir kembali di dunia ini. Tapi kami masih belum benar-benar pasti menemukan keberadaannya." Hologram itu menunjukkan gambar langit yang merah dan terdapat lingkaran sihir bewarna hitam yang memiliki rune berbentuk bintang bewarna merah di tengahnya. Tidak salah lagi, tanda itu memang benar-benar tanda dimana Dewa Iblis telah terlahir kembali. Di sejarah pun juga sudah dijelaskan. Bahwa kelahiran Dewa Iblis ditandai oleh peristiwa yang sama. Bahkan aku yang jarang memperhatikan pelajaran di kelas sekalipun juga masih paham tentang pengetahuan umum seperti ini. "Seperti itulah, maka dari itu aku harap Tuan Pahlawan bisa mengabdikan diri Anda untuk menyelamatkan dunia." Aku terdiam, pada awalnya saja aku sudah tidak mau untuk menjadi Pahlawan dan jika aku menolak disini aku hanya akan berakhir dengan cemoohan warga seluruh dunia. Aku tidak mau hidupku menjadi suram. Selain itu aku juga tidak mau menolak permintaan dari Raja yang memiliki banyak pengikut. "Saya akan berusaha sebisa mungkin." Hanya itu jawaban yang bisa kukatakan untuk saat ini. Aku tidak menjawab, "Baik, serahkan pada saya." Karena aku belum tentu bisa untuk memenuhi tugas dari seorang Pahlawan. Apa yang kalian harapkan dari seorang pemalas sepertiku ini? Setelah itu, seorang pelayan menghampiriku dan memberikan alat berupa suatu chip AI berukuran kecil yang aku tidak tahu apa fungsinya. Aku menatap Raja. Raja pun mengatakan bahwa aku harus menempelkan Chip itu tepat di tengkuk bagian belakang leherku dan aku pun menurutinya. Disaat itulah aku menyadari suatu keanehan. Seluruh pandanganku dipenuhi oleh panel-panel hologram yang muncul dalam jumlah yang banyak. Disaat aku melihat ke arah orang lain pasti akan keluar panel hologram yang menampilkan status milik mereka. Contohnya seperti level, umur, dan statistik. "Tuan Pahlawan, cobalah untuk mengatakan, "Open Status" maka sistem AI yang dipasangkan dalam mini-chip itu akan membaca voice-command dari Anda." Aku mengangguk lalu mengatakan, "Open Status" seperti yang diperintahkan oleh Raja Asgard, dan benar saja. Tidak lama setelah itu muncul panel berukuran besar tepat di hadapanku. Aku terkejut saat panel itu menampilkan statusku dengan jelas. Mulai dari level, gelar, dan seluruh statistik yang kumiliki. Kurasa teknologi sekarang sudah terlalu canggih. Tapi ada yang aneh, ada sesuatu yang mengganjal pada panel tersebut. Aku melihat gelarku bukannya Pahlawan Pedang. Maupun Pahlawan Penyihir. Gelarku adalah Pahlawan Tipu Muslihat. Aku tidak pernah mendengar gelar itu dalam pelajaran sekolah. Gelar apa ini sebenarnya? Apakah ini gelar baru untuk Pahlawan baru? Disaat aku berpikir. Raja Asgard angkat suara. "Jadi, Tuan Pahlawan. Apa gelarmu?" Sepertinya panel-panel ini hanya bisa dilihat olehku oleh sebab itulah tidak ada orang lain yang bisa melihat statusku. Bagaimanapun juga, status itu merupakan sesuatu yang bersifat privasi. "Anu, Pahlawan Tipu Muslihat." Semua orang menjadi heboh. Tentu saja, karena tidak ada yang mengetahui gelar itu sebelumnya. Aku pun juga baru pertama kali mengetahui gelar ini. Aku melihat ke dalam panel yang menampilkan semua statusku. Di bagian bawah terdapat sesuatu yang disebut sebagai skill atau bisa dibilang kekuatan cheat milikku. Biasanya para Pahlawan diberkahi oleh Dewi. Oleh sebab itu mereka memiliki minimal satu kemampuan cheat. Disaat aku melihat skill cheat punyaku. Kedua mataku melebar. Bukan karena kekuatanku yang sangat hebat. Melainkan sebaliknya, skill yang kumiliki adalah skill yang bernama [Mind Reading]. Skill yang memungkinkan penggunanya untuk membaca pikiran orang lain. Kelihatannya seperti skill yang hebat namun nyatanya tidak. Aku sama sekali tidak mendapatkan skill bertarung. Nah, apa jadinya jika Pahlawan tidak bisa bertarung? Mereka pasti akan menjadi bahan tertawaan diseluruh dunia. "Apakah memang ada gelar Pahlawan Tipu Muslihat?" "Aku tidak tahu, aku tidak pernah mendengar itu saat pelajaran sejarah. Bukannya hanya terdapat enam Pahlawan?" "Apa itu gelar baru yang muncul? Atau jangan-jangan dia itu hanya Pahlawan abal-abal?" Aku bisa mendengar pikiran semua orang dengan kemampuan ini dan itu membuat kepalaku sakit. Terlalu banyak pikiran orang di ruangan ini yang bergema di kepalaku. Sungguh kemampuan yang merepotkan. Tetapi memang inilah kenyataannya, aku adalah Pahlawan yang tidak bisa bertarung. "Untuk sekarang ini Tuan Pahlawan. Sebaiknya Anda istirahat terlebih dahulu. Roroa, tolong tunjukkan kamar bagi Tuan Pahlawan." "Baik, Ayah." Seorang wanita cantik dengan gaun yang megah mendatangiku. Aku pernah melihatnya beberapa kali muncul di televisi dan dia cukup terkenal dengan kecantikannya. Namanya adalah Putri Roroa, dia adalah anak dari Raja Asgard dan Ratu Sofia. Karena kecantikannya dia menjadi sangat populer diantara para pria. Tetapi jangan salah paham dulu. Putri Roroa sudah bertunangan dengan Putra mahkota dari Kerajaan tetangga jadi aku tidak akan berani untuk mencoba merayu maupun mendekatinya. Setelah mengangguk sebagai tanggapan. Aku pun dibimbing olehnya. "Ayah, Ibu. Sepertinya aku telah terpilih sebagai seorang Pahlawan. Tetapi ternyata hanyalah seorang Pahlawan yang tidak berguna."
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN