50 Sepulangnya dari rumah sakit, aku benar-benar dipingit total. Tidak boleh masak, bersih-bersih kamar dan jumpalitan. Hanya diperbolehkan menggendong Revanaka yang semakin membulat bak tahu digoreng dadakan lima ratusan. Bahkan, APS harus rela bolak-balik ke sini setiap sore. Menyerahkan laporan dan meminta tanda tangan. Seperti halnya sore ini. Pria berkacamata dan berwajah imut bak marmut itu, tampaknya sangat bahagia datang ke sini. Karena setiap dia muncul, karyawan kantor depan akan berdatangan dan mengintip dari celah jeruji pintu pembatas rumah dan kantor. "Senyum-senyum mulu," ucapku sambil membaca berkas. "Habisnya didadah-dadahin ama fans, Teh," sahut APS. Tangannya tak henti bergerak membetulkan letak jambul ayamnya itu ke samping kiri. Membuatku gemas untuk memasang se

