62 Perjalanan menuju Yogyakarta kali ini ditempuh dalam keheningan. Wajah ketiga Darmawan bersaudara itu tampak tegang. Sementara aku, lebih banyak menghabiskan waktu dengan tidur-tidur ayam. Sesampainya di sana, kami dijemput oleh salah seorang kerabat Bu Melia yang bernama Pak Drajat. Beliau langsung mengajak kami menuju rumah sakit tempat Bu Melia dirawat. Dua orang anak perempuan dari Bu Melia dari pernikahan sebelumnya, menyambut kedatangan kami dengan raut wajah sedih. Rasa canggung yang semula ada, perlahan mulai mencair setelah kami mengobrol selama beberapa saat. Mas Andra dan Mas Andri yang masuk terlebih dahulu ke ruang perawatan. Sedangkan aku dan Aa' Andre menunggu di teras paviliun. "Aska mau ikut masuk?" tanya Mbak Retno, anak pertama Bu Melia. "Nggak, Mbak. Aku n

