58 Sinar matahari pagi yang menyorot langsung ternyata tidak mampu menghangatkan tubuhku. Semenjak dari bangun tidur, tulang-tulang sepertinya langsung berderak protes. Di saat yang lain asyik bercengkrama di kolam renang, aku hanya bisa duduk di kursi santai dengan mengenakan jaket tebal. "Minum ini," ujar ibunya Evita. Aku mengambil gelas tinggi itu dan menatap air cokelat kehitaman di dalamnya, sebelum menyesap dan menghabiskan dalam beberapa kali tegukan. "Pintar, jamunya langsung habis," ujar beliau sambil mengusap rambutku. "Aska memang doyan jamu dari kecil," sela Mama yang membawakan semangkuk bubur ayam. Beliau duduk di ujung kaki dan menyuapiku dengan pelan. "Bagus kalau doyan. Jangan kayak Evita. Dari dulu kalau disuruh minum jamu udah nangis-nangis kayak dicubitin,"

