Gilbert mendecak kesal. Ia sudah berkali-kali mencoba untuk kembali terhubung dengan Leander Grey. Sayangnya, ia sama sekali tidak tahu pemicu untuk masuk ke dalam dimensi gelap itu. Jujur saja, ia benar-benar frustrasi karena tidak segera berhasil masuk ke dimensi gelap tersebut. Jika terus seperti itu, maka Gilbert tidak akan bisa mengetahui semua fakta keluarganya dengan detail. Gilbert tidak bisa melawan seisi Kerajaan hanya dengan secuil informasi.
Gilbert meraba dadanya, menyentuh simbol heksagon yang mirip seperti luka bakar dari besi yang dicap ke tubuh para pelacúr di rumah hiburan. Gilbert ingat pernah melihat cara menempatkan simbol serupa ketika ia menyelidiki hilangnya lima pelacúr tingkat tinggi di area distrik merah. Saat ini, simbol heksagon itu jelas-jelas mirip seperti stempel perdagangan manusia yang digunakan untuk menandai bahwa tubuhnya adalah milik perusahaan tersebut.
Gilbert berdiri di hadapan cermin seukuran tubuhnya, memandangi simbol heksagon berbentuk luka bakar tersebut. Ia berkali-kali mengernyit ketika tidak sengaja menggosok luka tersebut dengan jemarinya. Rasanya aneh sekali memiliki luka itu di saat kulit Gilbert sebelumnya benar-benar bersih tanpa bekas luka apapun. Bahkan bekas tusukan belati ketika ia nyaris menjadi tumbal di aula pemujaan sebelumnya benar-benar hilang seolah luka tersebut tidak pernah ada. Nicolin yang membuatnya tetap hidup dan menghapus luka-lukanya. Gilbert bertanya-tanya apakah luka berbentuk heksagon tersebut juga bisa hilang dari kulitnya andai ia meminta Nicolin untuk menghapusnya, karena sebenarnya luka itu tidak lebih buruk dari luka yang ada di tubuh Gilbert saat dirinya nyaris menjadi tumbal pemujaan.
Gilbert menggeleng pelan kemudian menghela napas. Ia menatap vas bunga obsidian yang ada di dekat meja riasnya. Benda itu adalah satu-satunya vas bunga yang tidak Gilbert lempar ketika dirinya marah. Vas berwarna hitam pekat itu adalah kenang-kenangan Ayahnya yang tersisa setelah kebakaran. Sebenarnya masih ada banyak hal. Nicolin membuat semua yang terbakar di dalam mansion kembali seperti sedia kala. Satu-satunya barang yang benar-benar asli tidak rusak tanpa bantuan Nicolin hanya vas bunga tersebut.
Gilbert benci bersikap emosional. Ia juga tidak suka menjadi melankolis. Dirinya tidak seperti itu dan tidak akan pernah seperti itu. Tetapi menyimpan kenangan orang tuanya rasanya menjadi satu-satunya pengingat tujuannya tetap hidup hingga saat ini. Gilbert tetap hidup untuk membalas mereka yang membunuh orang tuanya. Gilbert tidak akan pernah mati dengan damai jika orang-orang tersebut masih bebas berkeliaran sementara ia tenggelam dalam dendam kesumatnya sendiri.
"Aku tahu Ayah dan Ibu tidak akan pernah mengizinkanku membalas dendam apapun alasannya, namun ingatlah bahwa semua ini kulakukan untuk kalian. Aku—"
Gilbert melebarkan matanya. Kedua telapak tangannya yang memegang vas bunga obsidian itu bergetar hebat. Pandangan matanya mendadak kabur. Seperti putaran dalam setiap halusinasi yang Gilbert alami selama bertemu dengan Leander Grey di dimensi gelap, kali ini sensasinya berbeda. Gilbert merasa benar-benar pusing, dan tidak hanya itu saja, ia juga merasa tubuhnya seperti ditarik paksa. Jauh lebih kuat dan keras daripada ketika ia merasa ditarik saat memasuki dimensi gelap Leander Grey.
"Halusinasi lagi kah?" Gumam Gilbert kepada dirinya sendiri.
Gilbert menatap sekitarnya, bukan dimensi gelap yang sering ia kunjungi, dan ia juga tidak menemukan Leander Grey. Gilbert jelas berada di tempat yang berbeda. Gilbert berdiri seperti orang linglung. Terutama ketika ia kemudian menyadari bahwa dirinya berdiri di dalam mansion-nya sendiri, namun bukan di dalam kamarnya. Untuk apa ia kembali berhalusinasi namun di mansion-nya sendiri? Padahal sebelumnya Gilbert juga berada di mansion-nya sendiri.
Suasana mansion tampak sama, ralat, benar-benar sama. Gilbert bertanya-tanya mengapa ia berada di mansion Grey. Maksudnya, ia biasanya tersesat dalam dimensi lain seperti dimensi gelap di mana Leander bertahan sebelum tujuannya selesai. Gilbert merasakan sensasi yang mirip dengan ketika ia tertarik ke dimensi gelap Leander Grey, namun mengapa ia tidak berada di sana dan malah berada di mansion-nya sendiri? Apakah ia sedang berteleportasi? Gilbert segera menggeleng ketika menyadari pikiran bodohnya sendiri.
Pelan-pelan Gilbert melangkah, dan semakin banyak ia berjalan, semakin Gilbert menyadari bahwa ia benar-benar di mansion-nya sendiri. Lantas, sensasi ditarik paksa dan berkunang-kunang yang dirasakan Gilbert tadi apa?
Gilbert menghela napas pasrah. "Sepertinya aku hanya berhalusinasi karena—"
"—obsidian sangat indah. Aku berharap memiliki iris mata sekelam obsidian, karena terlihat sangat pekat dan menelan."
“Kudengar salah satu leluhur Grey ada yang memiliki iris mata obsidian dan itu benar-benar langka.”
“Benarkah? Pasti sangat indah.”
Gilbert merasa jantungnya berdegup dengan cepat ketika mendengar suara yang amat familiar. Sudah berapa lama ia tidak mendengar suara tersebut? Secepat kilat Gilbert mendekat ke arah suara itu. Dengan detak jantung yang begitu kuat, Gilbert mengintip dari balik dinding, ragu-ragu untuk melihat dan meyakinkan dirinya bahwa suara yang ia dengar adalah benar suara seseorang yang ia pikirkan.
"Ayah..." Gumam Gilbert pelan.
Gilbert tidak tahu harus menggambarkan ekspresinya saat ini bagaimana. Yang sedang ia lihat benar-benar Ayahnya. Pria itu duduk di kursi kesayangannya, dengan santai mengusap vas bunga obsidian yang sangat ia sukai. Ibunya juga berada di sana, tersenyum geli melihat suaminya begitu senang dengan vas bunga obsidian tersebut. Ada tawa yang cukup ramai di antara keduanya, membuat kulit Gilbert neremang ketika mendengar suara tawa yang sudah cukup lama absen dari mansion yang ia tinggali.
Mendadak, Gilbert mengingat semua yang terjadi di mansion Grey pasca kebakaran. Jelas, suasana mansion Grey sebelum dan sesudah kebakaran sangatlah kontras. Mansion Grey mungkin tidak banyak memiliki pelayan seperti mansion bangsawan lainnya, tetapi suasana selalu ramai dan hidup. Saat ini, ketika Gilbert menjadi kepala keluarga hanya dengan Nicolin dan empat pelayan lainnya, suasana mansion sebenarnya lebih seperti bangunan tak berpenghuni. Suram, sepi, dan begitu lengang. Entahlah, Gilbert pikir Milo, Darius, Miya, dan Charly sudah cukup banyak bicara, namun suasana mansion Grey tetap tidak sehidup ketika kebakaran itu belum terjadi.
Cukup lama Gilbert berdiri di balik dinding, mendengarkan apapun yang dikatakan oleh kedua orang tuanya mengenai vas obsidian tersebut. Sedikit banyak, Gilbert ingat dengan seluruh pembicaraan itu. Ia memang tidak berada di sana ketika Ayah dan Ibunya membicarakan mengenai vas obsidian tersebut, tetapi Gilbert sempat melewati ruangan itu sebelum kembali ke kamarnya sendiri untuk mengerjakan beberapa pekerjaan dari Ayahnya. Gilbert memejamkan matanya, mendengarkan setiap pembicaraan ceria yang dilakukan Ayah dan Ibunya. Jujur saja, ia tidak tahu mengapa dirinya melihat dan kembali ke masa di mana orang tuanya masih hidup. Masa di mana kebakaran itu belum terjadi. Apakah ini benar-benar dirinya? Atau Gilbert hanya kembali berhalusinasi karena terlalu memikirkan bagaimana caranya kembali ke dimensi gelap untuk bertemu dengan Leander Grey? Sungguh, ia benar-benar tidak mengerti.
Beberapa detik setelahnya, Gilbert merasa begitu panas dan perih di bagian dadanya. Tanda berbentuk heksagon yang mirip luka bakar itu terasa menyengat dan menyakitkan. Gilbert jatuh terduduk sembari memegangi simbol di dadanya itu. Ia benar-benar ingin berteriak saking sakitnya. Sekuat tenaga ia berusaha untuk tidak berteriak meski rasa sakit mengguncangnya begitu hebat. Gilbert tidak tahu apakah jika ia bersuara, orang tuanya akan mendengar, karena jika dipikirkan, Gilbert tidak benar-benar ada di sana. Ia hanyalah bentuk imajinasi yang entah bagaimana bisa sampai ke waktu yang sudah terlewat.
Gilbert menggigit bibirnya kuat-kuat untuk menahan rintihan karena rasa sakit itu. Ia bahkan menelan rasa tembaga di mulutnya yang itu artinya bibirnya berdarah. Gilbert memejamkan matanya, dan tubuhnya kembali terasa melayang seolah ia begitu ringan. Perasaan ditarik paksa kembali menyerang. Gilbert hanya bisa pasrah dan terus memejamkan matanya setiap kali hal itu terjadi. Dia pikir, mungkin sensasi aneh itu adalah proses ketika dirinya berpindah dari satu dimensi ke dimensi lainnya. Mungkin terdengar konyol, jujur saja Gilbert juga merasa konyol. Tetapi kenyataannya selalu seperti itu dan Gilbert tidak bisa melakukan apa-apa selain menerimanya.
Satu...
Dua...
Tiga...
Empat...
Lima...
Gilbert terus berhitung setiap kali sensasi aneh itu terjadi. Terkadang, semuanya berhenti di hitungan kelima, terkadang ketujuh, terkadang kesepuluh. Gilbert tidak pernah bisa memastikan pada hitungan ke berapa dirinya akan kembali dalam kondisi normal. Yang jelas, Gilbert butuh untuk berhitung sekaligus sebagai penenang dirinya sendiri meski ia sendiri tidak benar-benar paham mengapa seperti itu.
Ketika sensasi tersebut hilang, Gilbert tak langsung membuka matanya. Ia akan diam dalam beberapa detik hanya untuk memastikan bahwa tubuhnya telah kembali normal, dan benar saja, ia kembali pada posisinya semula. Duduk sembari mengusap vas bunga obsidian milik Ayah dan Ibunya.
Gilbert menatap vas bunga hitam pekat tersebut. "Apakah yang sebelumnya terjadi hanya halusinaku belaka? Atau—ugh."
Gilbert menyentuh lambang heksagon di dadanya yang kembali terasa terbakar. Hanya rasa sakit itu yang memisahkan Gilbert dari pemikiran apakah ia hanya berhalusinasi atau memang jiwanya pergi. Sungguh, Gilbert tidak paham lagi bagaimana untuk mendefinisikan keadaannya saat ini. Semuanya terasa benar-benar rumit setelah Gilbert bertemu dengan Leander Grey dalam dimensinya.
Melihat masa lalu hanya karena menyentuh barang, apakah itu juga bagian dari 'menjadi seorang ipsissimus' yang diceritakan oleh Leander Grey? Ah, rasanya Gilbert benar-benar tidak bisa menghentikan kepalanya dari terus berpikir dan bertanya banyak hal. Padahal, semua itu sama sekali tidak mendapatkan jawaban apapun.
---
Gilbert yang merasa tidak akan berhasil kembali ke dimensi gelap itu memutuskan untuk menyerah berusaha masuk saat ini juga. Selama ini, Gilbert benar-benar tidak tahu apa pemicu dirinya bisa masuk ke dalam dimensi tersebut, sehingga ketika ia secara tak sengaja tiba-tiba keluar dari dimensi tersebut, Gilbert merasa benar-benar bingung dan nyaris seperti orang tersesat yang linglung. Lagipula, memasuki dimensi gelap bukan hal yang bisa dipikirkan dengan logis. Untuk kembali ke sana dan bertemu dengan jiwa tersesat Leander, Gilbert harus menemukan cara lain yang juga tidak logis. Masalahnya, Gilbert tidak pernah memikirkan hal-hal tidak logis. Sebelum ia nyaris mati di aula pemujaan tersebut, Gilbert tidak akan pernah percaya jika ada seseorang yang mengatakan bahwa iblís itu nyata dan bisa dijadikan pelayanan. Bahkan meski jika keluarganya dituduh sebagai seorang penyihir sekali pun seperti apa yang dialami Leander Grey di masa lalu, Gilbert juga tidak akan pernah percaya. Mereka tidak lagi hidup di masa Leander Grey. Ya, Gilbert mengakui bahwa praktik sihír dan semacamnya pasti masih ada di sekitarnya. Hanya saja, sebelum Gilbert benar-benar mengalaminya sendiri, kepercayaan tidak akan pernah terjadi padanya.
Gilbert menggigit bibirnya. "Di masa depan, apakah dunia akan tetap seperti ini? Membedakan manusia dengan kasta dan gelar, menunduk dan tidak boleh menatap Raja, hanya keturunan murni yang memiliki hak tahta, menghukum kesalahan dengan digantung atau dipenggal..." Gilbert tidak memiliki banyak bayangan mengenai masa depan. Karena ketika ia bertemu dengan Leander kemudian mendengarkan pria itu bercerita, dunianya dan dunia Gilbert tidak benar-benar berbeda satu sama lain. Padahal, masa hidup mereka berjarak ratusan tahun.
Gilbert mengacak-acak rambutnya kesal. Ia menyibak selimut yang menutupi kakinya dan segera turun dari ranjang. Mendadak, ia ingat dengan para penyusup yang sebelumnya masuk ke mansion Grey dan berhasil dibekuk oleh para pelayannya. Ia bahkan terus berada di dalam kamar hingga memimpikan—jika itu bisa disebut sebagai mimpi, Leander Grey yang kemudian merembet kepada kisah masa lalu Grey.
Gilbert berjalan keluar, sama sekali tidak memanggil Nicolin atau yang lainnya. Ia tahu di mana Milo dan yang lain menahan para penyusup yang sebelumnya datang. Mereka adalah orang-orang yang sama dengan orang yang berusaha membunuhnya di aula pemujaan. Sebenarnya, Gilbert masih tidak yakin. Satu-satunya yang menjadi dasar ia menyimpulkan seperti itu adalah topeng mereka yang sama. Gilbert bahkan sempat merasa traumanya kambuh hanya karena melihat hal itu. Seolah, tubuhnya kembali merasakan bagaimana rantai-rantai berkarat itu menahan leher, tangan, dan kakinya. Kerangkeng kecil yang membuat tubuhnya kaku dan sulit bergerak, serta meja pemujaan yang menjadi tempatnya berbaring hanya untuk ditusuk-tusuk dengan belati secara bergantian.
Gilbert berhenti sejenak sebelum membuka pintu salah satu ruangan di bagian belakang mansion Grey. Ia memegangi perutnya, menahan gejolak mual yang mendadak muncul ketika ia mengingat kejadian traumatis tersebut.
"Tidak Gilbert, kau bukan manusia lemah yang jatuh hanya karena melihat mereka." Gumam Gilbert kepada dirinya sendiri.
Gilbert menolak kelemahan, terutama pada dirinya sendiri. Ia menarik tuas pintu perlahan-lahan, membuat pintu kayu tersebut berderit. Mereka masih berada di sana, terikat dalam posisi duduk melingkar dan mulut yang disumpal. Mereka bergerak-gerak berantakan ketika melihat Gilbert mendekat. Seolah, kedatangan Gilbert sangat mereka nantikan.
Sekuat tenaga Gilbert berusaha mendekat. Langkah kakinya pelan seiring dengan sendi-sendinya yang terasa lunglai. Ia benar-benar butuh usaha ekstra hanya untuk sampai benar-benar di hadapan mereka dan berjongkok untuk menatap mereka dari dekat.
Gilbert menarik senyum tipis. "Kalian merindukanku?" Tanya Gilbert pelan.
Hanya geraman tidak jelas yang terdengar dari orang-orang tersebut. Gilbert menarik salah satu kain yang menyumpal mulut pria di hadapannya, membuatnya langsung terbatuk-batuk hebat. Pria itu kemudian menatap lurus kepada Gilbert, tajam dan menusuk dari balik topeng yang begitu familiar dalam ingatan Gilbert. Jujur saja, Gilbert ingin sekali menarik topeng tersebut dan melihat bagaimana rupa mereka, tetapi ia urung melakukannya dan tetap mempertahankan posisi tersebut.
"Mawar berduri."
Jantung Gilbert berdetak kencang ketika mendengar hal itu. Ia yang hendak menyentuh pria di hadapannya mengurungkan niat tersebut. Gilbert terdiam dengan tubuh kaku, begitu terkejut ketika mendengarnya. Mungkin hal itu hanya akan menjadi kalimat random jika Gilbert mendengarnya sebelum ia bertemu Leander Grey yang menceritakan banyak hal. Sayang sekali, bunga mawar sudah tidak lagi menjadi kata biasa yang bisa Gilbert dengar dengan cara yang biasa pula.
Lantas, mengapa orang ini menyebut hal itu?
-----