Desperate

1104 Kata
Gilbert mundur perlahan. Pria di hadapannya memandang lurus kepada Gilbert dan terus-terusan menyebutnya mawar berduri. Sebelumnya, Gilbert menuju ruangan itu hanya untuk mencoba kemampuan Ipsissimus miliknya. Ia mengalami penglihatan yang begitu jelas mengenai masa lalu ketika menyentuh vas bunga obsidian milik orang tuanya. Gilbert masih belum percaya akan hal itu, dan menganggapnya halusinasi. Jika yang dikatakan Leander Grey memang benar, maka Gilbert bisa melihat masa depan atau masa lalu seseorang yang disentuhnya. Jujur saja, Gilbert masih berpikir bahwa kemampuan Ipsissimus yang selalu dibahas oleh Leander Grey masih terkesan imajinatif untuk Gilbert yang selalu mengandalkan logikanya. Gilbert tidak ingin mengetahui masa lalu atau masa depan pelayannya karena mereka adalah orang-orang penting di mansion Grey, Gilbert mendapatkan mereka dengan cara yang tidak mudah. Dengan alasan tersebut, Gilbert kemudian terpikir untuk menyentuh para penyusup yang ditahan di salah satu ruangan mansion Grey. Mungkin juga, jika Gilbert beruntung, ia bisa mengetahui apa yang akan terjadi dengan orang-orang itu, atau apa yang mendasari mereka untuk melakukan tindakan sebelumnya. Sayang sekali, belum sempat Gilbert menyentuh mereka, atau bahkan masuk ke dalam dimensi lain di mana Gilbert bisa melihat masa depan atau masa lalu seseorang yang disentuhnya, ia harus menelan kenangan menyakitkan ketika salah satu dari mereka menyebutnya 'Mawar Berduri'. Gilbert benar-benar penasaran, apakah ia benar-benar Mawar Berduri seperti yang tertulis pada ramalan itu? Apakah yang disebut-sebut Leander Grey mengenai sosok yang ditakdirkan benar-benar dirinya? Bukankah ada banyak aspek untuk memastikan hal tersebut? Lantas, mengapa semudah itu mengatakan bahwa Gilbert adalah Si Mawar Merah Berduri tersebut? Ia sungguh tidak mengerti. Siapa yang menulis ramalan itu? Siapa yang memulai ramalan itu hingga Kerajaan mempercayainya selama ratusan tahun sampai-sampai mereka terus mengistimewakan keluarga Grey hanya untuk menunggu keturunan yang ditakdirkan itu. Sebegitu berbahayanya kah Gilbert Grey di mata keluarga Kerajaan hingga mereka begitu khawatir dengan masih hidupnya Gilbert Grey hingga saat ini? "Keburukan dan keindahan menyatu, kegelapan dan cahaya membaur, rupa memikat namun berdosa, kelahiran yang terkutúk dan kelak membawa malapetaka. Iris mata semerah darah, menyorot tajam, menusuk dalam diam. Tanganmu tidak akan pernah bersih dari tetesan darah, pun kakimu tidak akan pernah menjauh dari kubangan darah. Yang ditakdirkan, tidak akan pernah bertemu kebaikan." Gilbert mengernyit mendengar salah satu dari mereka terus mengulangi kalimat yang sama. Setiap kalimat yang diucapkannya seolah bermakna konotatif. Gilbert kesulitan mendefinisikannya secara harafiah. Gilbert mengerti bahwa yang dimaksud pada kalimat mereka adalah dirinya. Seperti yang dikatakan Nicolin, manusia yang memiliki iris mata berwarna ruby darah merpati kemungkinan besar hanyalah Gilbert sendiri. Namun warna iris mata langka bukan petunjuk pasti. "Apa yang sebenarnya ingin kau katakan?" Gilbert berusaha keras mengembalikan kekuatan dirinya sendiri. Ia tidak ingin tampak lemah meski yang berada di hadapannya adalah orang-orang yang sama dengan mereka yang hendak menjadikan Gilbert tumbal pemujaan. Hari itu, Gilbert mengingat dengan jelas bahwa Nicolin telah membunúh mereka semua. Gilbert benar-benar ingat setiap tebasan yang dilakukan Nicolin dengan kuku-kuku tajamnya. Semuanya mati dengan kulit tercabik-cabik, darah menggenang, dan tidak ada satu pun dari mereka yang berada di ruangan tersebut selamat. Lantas mengapa orang-orang yang menyusup ke mansion-nya ini tampak sama dengan mereka. Gilbert mungkin tidak melihat wajahnya secara keseluruhan karena mereka memakai topeng yang sama dengan yang mereka kenakan ketika melakukan pemujaan hari itu. Namun Gilbert tidak mungkin salah mengenali tatapan mata mereka. Gilbert mendekat, mengulurkan lengannya. Ia berusaha keras mempertahankan tangannya untuk tetap tegak meski jemarinya tak bisa berbohong. Gilbert jelas bergetar hebat. Ia harus membuka topeng itu dan melihat siapa dia sebenarnya. "Siapa kau sebenar—" "Tuan Muda!" Gilbert berpaling. Nicolin menghambur masuk dan segera menarik lengan Gilbert menjauh dari para penyusup tersebut. Nicolin secara cepat berdiri di depan Gilbert, menghalangi pandangan Gilbert dari para penyusup tersebut. "Apa yang kau lakukan, Nicolin!" Seru Gilbert marah. Nicolin mengabaikan hal itu dan memaksa Gilbert untuk keluar dari ruangan tersebut. Segera setelah Nicolin berhasil menarik tubuh Gilbert keluar, pintu kayu yang memisahkan mereka dengan para penyusup itu langsung dikunci oleh Nicolin. Gilbert berusaha melepaskan diri dari Nicolin, namun iblís pelayan itu selalu lebih kuat dalam apapun. Gilbert dengan tubuhnya yang lebih kecil dari pemuda seumurannya tidak bisa melakukan apa-apa ketika Nicolin dalam mode seperti itu. Meski Nicolin adalah pelayannya, yang dalam hal ini iblís itu harus melakukan apa yang ia perintahkan, iblís itu tetap sering mengambil keputusannya sendiri. Menahan Gilbert, melarang Gilbert, dan semacamnya. Gilbert menatap tajam kepada Nicolin ketika iblís pelayan itu mengembalikannya ke kamar. Nicolin berlutut dan membungkuk, menanti apapun amarah yang akan dilontarkan Tuan Mudanya. Sementara itu, Gilbert hanya diam. Ia terus menatap lurus ke arah Nicolin. Seolah, jika tatapan bisa membunuh, Nicolin mungkin sudah tewas dengan tubuh berlubang. Masalahnya, Gilbert tidak memiliki tatapan seperti itu, dan Nicolin tidak bisa mati karena dia adalah iblís. Gilbert juga tahu, bahwa meskipun Nicolin bersujud di kaki Gilbert, sama sekali tidak ada penyesalan atas tindakan yang telah ia lakukan. Iblís tidak memiliki perasaan seperti itu, dan Gilbert sadar tidak ada gunanya mengamuk kepada entitas yang tidak akan mendengarkannya dengan seksama. "Keluar dari ruanganku, Nicolin." Perintah Gilbert tegas. Nicolin akhirnya mendongak, menatap datar ke arah Tuan Mudanya. "Apakah ada sesuatu yang perlukan untuk saat ini, Tuan Muda?" Gilbert menggeleng. "Aku hanya perlu beristirahat sendirian. Pergi dan jangan ganggu aku." Nicolin bangun dari posisi berlurutnya. "Baik, Tuan Muda." Ucap Nicolin sopan sembari membungkuk singkat. Gilbert menghela napas berat sepeninggal Nicolin. Ia kembali bersandar pada kepala ranjang dan memikirkan mengenai kalimat yang diucapkan oleh para penyusup itu. Gilbert juga ingin tahu wajah penyusup itu, namun sayang Nicolin sialan itu malah mencegahnya. Gilbert pikir, Nicolin mungkin hanya tidak ingin trauma yang Gilbert alami kembali, karena sebelumnya seperti itu. "Tangan dan kakiku tidak akan pernah bersih dari darah..." Gumam Gilbert sembari mengernyit bingung. Gilbert tidak mengerti. Ada banyak hal yang bisa diinterpretasikan dari kalimat-kalimat yang dikatakan penyusup itu, sama dengan kalimat ramalan yang dikatakan oleh Leander Grey. Dunianya mungkin masih banyak memikirkan takhayul. Mereka semua sebagian memuja hal yang tidak mereka lihat, tetapi menjerit ketakutan saat bertemu langsung. Semisalnya, para penyembah iblís yang hendak memakainya sebagai tumbal pengorbanan hari itu. Tubuh Gilbert melorot turun sampai benar-benar berbaring. Ia sama sekali tidak keluar dari mansion Grey sejak traumanya kambuh ketika para penyusup itu datang. Padahal, ada banyak yang harus ia selidiki di luar. Terakhir kali, kematian yang terjadi di rumah hiburan Westminster belum juga terungkap bagaimana bisa seperti itu. Gilbert menghela napas lelah, ia memejamkan matanya, berusaha menggali ingatan bagaimana visual dimensi gelap di mana Leander Grey bertemu dengannya. Apapun caranya, Gilbert harus bertemu dengan pria itu lagi. Semua masalah tidak akan pernah selesai sebelum Gilbert tahu lebih detail mengenai keterkaitan masa lalu antara Kerajaan dengan keluarga Grey. "Leander, jika kau mendengarku, tolong bawa aku kembali bertemu denganmu." Batin Gilbert sembari memegangi simbol heksagon di dadanya. -----
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN