Nicolin benar-benar membawa dokter Albert sampai di mansion Grey. Sebagai pelayan iblis yang mengerti banyak hal, Nicolin sengaja menutup kedua mata dokter Albert agar dokter itu tidak bisa mengenali dimana sebenarnya ia dibawa. Kemungkinan ia bisa mengenali suara Gilbert karena mereka cukup dekat bertahun-tahun, namun hal itu tetap saja tipis kemungkinannya untuk memastikan bahwa yang berbicara dengannya memanglah Gilbert. Jika terpaksa, Nicolin akan dengan senang hati menggantikan Tuan Mudanya sebagai pembicara saat sesi interogasi mereka.
Tidak butuh waktu lama bagi Nicolin untuk menjalankan tugas itu, dan Gilbert seperti biasa sudah menunggunya di ruang kerja.
Ada yang berbeda dari tatapan sang Tuan Muda. Nicolin tidak mampu untuk menjelaskannya. Sebagai sosok iblis agung, yang mengikat kontrak dengan manusia hanya melalui sumpah darah, Nicolin tidak pernah menemukan secuil rasa ngeri ketika ia melayani tuan-tuannya terdahulu. Semuanya terasa sama saja. Tapi Gilbert benar-benar berbeda. Ada aura yang menekan Nicolin. Aura gelap yang begitu pekat bahkan bagi sesosok iblis seperti Nicolin. Bukan hal yang buruk bagi iblis sepertinya ketika ia memiliki seorang tuan dengan aura yang sangat pekat menelan seperti itu. Malahan, Nicolin sudah berekspektasi sangat tinggi mengenai rasa nikmat jiwa sang tuan. Namun, terkadang ia merasa kerepotan. Ia adalah sesosok iblis, perwujudan gelap dari dunia, hina nan kotor, bagaimana bisa mahluk lemah seperti manusia mampu menekan sosoknya?
“Apa yang kau lakukan?” tanya Gilbert datar ketika Nicolin hanya berdiri diam di hadapannya.
Nicolin membungkuk. “Mohon maaf, Tuan Muda. Dokter Albert sudah menunggu di ruangan bawah tanah. Aku menutup kedua matanya agar ia tidak mengenali siapa yang menculiknya.”
Gilbert mengangguk. Ia sama sekali tidak mengatakan apapun dan segera turun untuk menemui dokter Albert. Nicolin benar-benar merasa ada yang berebeda dengan sang Tuan Muda. Mendapati Gilbert terdiam tanpa kata bukanlah hal baru. Ia begitu tenang dan berbicara hanya ketika perlu atau saat mereka tengah berdiskusi sesuatu. Tapi diamnya kali ini berbeda. Bukan diam dalam ketenangan, bukan diam seperti kebiasaannya namun diam yang lain.
Nicolin menggelengkan kepalanya. Ia berpikir banyak hal dan tanpa sadar telah sampai ke ruang bawah tanah. Kondisi dokter Albert sesuai yang dideskripsikan. Nicolin mendudukkan dokter Alber pada sebuah kursi kayu. Ia memasang kain hitam menutupi matanya, ia bahkan membekap mulut dokter Albert meski tidak terlalu kuat. Kedua tangannya terikat ke belakang, dan kedua kakinya diikat sejajar kaki kursi.
“Kau pikir, apakah dia mengenali suaraku?” bisik Gilbert.
Dokter Albert tampak bergerak-gerak gelisah ketika mendengar derap langkah kaki yang mendekatinya. Ia berusaha berteriak dengan suara teredam bekap kain. Kondisi yang benar-benar menyedihkan.
“Jika Tuan Muda khawatir, biarkan aku yang menanyainya. Tuan Muda tinggal bisikkan saja apa yang harus kukatakan.”
Nicolin menarik sebuah kursi dengan bantalan empuk nan mewah, kemudian mempersilahkan Gilbert untuk duduk di sana sementara ia yang akan bekerja untuk mengorek informasi dari sang dokter. Nicolin menarik kain yang membekap mulut dokter Albert, membuat pria tua itu terbaruk dan bernapas keras-keras. Ia menoleh kesana-kemari dengan kebingungan.
“Siapa? Apa yang kau lakukan? Dimana aku?”
Nicolin memandang sang Tuan Muda dan Gilbert mengangguk. Iblis dalam perwujudan pelayan tampan itu mendekati dokter Albert.
“Dokter, aku tidak akan menyakitimu jika kau menjawab seluruh pertanyaan yang kuajukan secara jujur.” Sebuah seringai tercipta. “Aku tahu ketika kau berbohong, jadi berhati-hatilah.”
“Si-Siapa sebenarnya kau? Apa yang kau inginkan dariku?”
Gilbert tersenyum—meski jelas hal itu tidak akan dilihat oleh dokter Albert. “Aku hanya ingin dokter Albert menjawab dengan jujur.”
Tubuh sang dokter menegang ketika Nicolin menyebutkan namanya. Kondisinya yang sejak tadi bergerak-gerak gelisah mendadak diam dalam posisi kaku.
“Kau mengenalku…” cicitnya pelan.
“Tentu saja, dokter. Aku tidak akan membawamu kemari jika aku tidak mengenalmu. Sekarang, kuharap dokter mau bekerja sama dan dokter akan keluar dari sini dalam keadaan baik-baik saja.”
“Apa yang kau inginkan?”
Nicolin menoleh kea rah Gilbert, demi menjaga kemungkinan dokter Albert mendengar suara yang ia kenal, Gilbert menuliskan apa yang ia tanyakan dan menunjukkannya ke hadapan Nicolin agar iblis pelayan itu membacakannya. Memang kemungkinannya tipis untuk dokter Albert benar-benar menduga bahwa yang menculiknya adalah seorang Gilbert Grey. Namun, dengan hubungan dekat mereka di masa lalu, bukan hal yang tidak mungkin jika dokter Albert mengenali suaranya.
“Katakan padaku dokter, apa yang sebenarnya terjadi di dalam kerajaan.”
“A-Apa maksudmu? Aku tidak mungkin tahu tentang hal itu, aku hanya dokter dan bukan seorang bangsawan.”
Jika terdapat jawaban yang tidak terduga, Nicolin harus bisa menekannya hingga dokter Albert benar-benar memberikan jawaban yang diinginkan Gilbert, bahkan jika jawaban itu hanya secuil sekali pun.
“Albert Tate, dokter kerajaan yang bekerja menangani para tahanan dan tentara. Bekerja di kerajaan sejak berumur sembilan belas tahun dan sudah melaksanakan pekerjaannya selama dua puluh tahun hingga sekarang. Sangat setia kepada kerajaan. Namun….” Nicolin menjeda penjelasannya, ia menarik seringai tipis. “….Tiba-tiba melarikan diri dari kerajaan bersama putera dari bangsawan Bridges.”
Bahu dokter Albert tampak bergetar, ia yang sejak tadi berusaha bergerak untuk melepaskan diri terdiam dalam kondisi tertekan. Mendapati dirinya diculik oleh seseorang yang mengetahui tentangnya sangatlah menyeramkan. Memang tidak ada sedikit pun penyiksaan yang dilakukan. Namun, setiap kalimat yang Nicolin ucapkan bagaikan bilah belati yang terus menusuk kesadarannya, membuatnya bimbang. Di dunia yang berisi orang-orang dengan level berbeda-beda, menjaga lidah adalah aturan utama. Bak sebuah senjata yang akhirnya hanya akan membunuh diri sendiri. Dokter Albert mempelajari hal itu sejak belia.
Dokter Albert merupakan yatim piatu yang diasuh oleh seorang pendeta pada sebuah gereja kecil di sudut kota. Bersama dengan anak-anak lainnya, ia belajar membaca dan menulis hingga ia menemukan ketertarikannya sendiri pada ilmu kedokteran. Pendeta yang mengasuhnya sangatlah baik. Beliau mendukung pilihan anak-anak asuhnya dan berusaha keras memenuhi kebutuhan mereka meski gereja mereka sangat minim mendapatkan bantuan dari kerajaan.
Dokter Albert pergi ke ibu kota kerajaan ketika dirinya berumur enam belas tahun, meninggalkan seluruh kenyamanan yang diberikan oleh pendeta yang mengasuhnya dan memulai kehidupan baru. Ia benar-benar ingin belajar menjadi dokter, bahkan jika ia nantinya tidak bisa menjadi dokter. Ia ingin belajar, dan menjadi seseorang yang bisa mengobati orang lain. Dengan begitu, ia bisa kembali ke kotanya dengan ilmu yang baru dan mengobati orang-orang miskin di sekitar gereja yang sama sekali tidak mendapatkan bantuan apapun dari kerajaan.
Namun, takdir ternyata cukup berpihak kepadanya. Selama dua tahun ia belajar dan bekerja untuk memenuhi kebutuhannya, dokter Albert juga sering mengobati orang-orang miskin di sekitarnya secara cuma-cuma. Terlalu seringnya ia melakukan hal itu hingga namanya terkenal dan sampai ke kerajaan. Seorang Marquess yang sering kali datang ke daerah kumuh untuk membagikan sebagian persediaan makanannya menemukan dokter Albert yang tengah mengobati beberapa orang yang tengah sakit. Marquess karismatik dan baik hati itu mengajaknya untuk bekerja di kerajaan. Dokter Albert lagi-lagi mendapatkan apa yang ia impikan. Banyak orang yang sedih ketika dokter Albert mengabarkan hal itu, namun dokter Albert juga ingin mencapai cita-citanya sejak kecil. Maka, ikutlah ia bersama sang Marquess dan memulai lembar baru perjalanannya sebagai dokter.
Sang Marquess, Alexander Grey.
Terkenal sebagai bangsawan setia dan paling baik hati di kerajaan. Memiliki satu-satunya pewaris bernama Gilbert Grey. Sedekat itu hubungan Gilbert dengan sang dokter karena ayahnya lah yang dahulu membawanya ke kerajaan. Alexander Grey mengenalkan Gilbert kepada sang dokter sejak dirinya masih kecil, dan seperti yang pernah ia jelaskan kepada Nicolin, dokter itu benar-benar mengenalnya dan menghormati keluarga Grey lebih dari ia menghormati sang Raja.
Dokter Albert bukanlah seseorang yang seharusnya mendapatkan perlakuan tidak baik, terlebih jika perlakuan itu didapatkan dari putera satu-satunya seorang Alexander Grey, seseorang yang paling ia hormati. Namun yang orang lain tidak tahu dari keluarga Grey, adalah Gilbert yang benar-benar berbeda dari pendahulu-pendahulunya. Gilbert melakukan apapun untuk mencapai tujuannya, bahkan jika ia harus memperlakukan dokter Albert seperti ini.
Tidak ada jawaban apapun dari dokter Albert usai Nicolin memberikan keterangannya mengenai sosok sang dokter. Ia hanya diam, dengan bibir bergetar. Nicolin kembali menoleh kepada Gilbert, dan sang tuan muda kembali mengisyaratkan padanya untuk melanjutkan.
“Katakan, mengapa orang yang setia dan begitu menyukai pekerjaannya di kerajaan tiba-tiba melarikan diri? Terlebih, dengan membawa salah seorang bangsawan yang menjadi tentara Kerajaan.”
“Apa sebenarnya tujuanmu menanyakan hal itu?”
“Hmmp, kau tidak perlu tahu alasanku. Sekarang, yang perlu kau lakukan hanya menjawab seluruh pertanyaanku dengan detail dan jujur.”
“AKU TIDAK MAU!”
Nicolin mendekat, ia menarik sarung tangannya. Deretan kuku-kuku tajam berwarna hitam mencuat. Ia menyentuhkan kuku telunjuknya pada pipi dokter Albert. Setitik darah keluar akibat dari ujung kuku Nicolin yang tajam.
“Mungkin, aku akan mencabikmu hingga mati.” Ancam Nicolin. Ia berbisik dengan suara tajam tepat di sebelah telinga dokter Albert.
Getar pada tubuh dokter Albert semakin jelas. Nicolin tidak akan benar-benar membunuhnya karena Gilbert tidak ingin. Hal ini ia lakukan semata-mata untuk memaksa sang dokter membuka mulut dan Gilbert akan mendapatkan apa yang ia inginkan.
“Si-Siapa kau sebenarnya? Penyihir?”
Nicolin terkekeh. “Mahluk rendahan seperti mereka bukanlah levelku.”
“A-Aku….”
“Jawablah, atau kuku ini mencabikmu sampai mati.”
Dokter Albert meneguk ludahnya kasar. “A-Aku tidak bisa, Aku—“
“Jika kau menurut dan mengatakan semua yang kau ketahui, aku menjamin keselamatanmu.”
“Benarkah?”
“Hm.”
Dokter Albert menghela napas. “Ba-Baiklah. Aku lari dari kerajaan karena aku ingin menyelamatkan diriku. Aku melihat lima rekanku dibawa pergi oleh beberapa bangsawan. Aku khawatir jika berikutnya aku akan bernasib sama seperti mereka.”
“Dibawa pergi? Oleh bangsawan?”
Dokter Albert mengangguk. “Aku tidak tahu, mereka memakai jubah bertudung. Tapi melihat kain sutera yang menempel pada tubuh mereka ketika jubah mereka tersingkap, kupikir mereka pastilah bukan orang biasa sepertiku. Mereka semua dibawa dalam keadaan mati, dan aku mendengar bahwa mereka akan diambil jantungnya.”
Gilbert dan Nicolin saling berpandangan, seperti yang mereka duga. Rencana ritual itu benar-benar dilakukan dengan serius, dan keterlibatan bangsawan adalah kunci mengapa seluruh rencana ini berjalan begitu mulus tanpa ada kegemparan apapun.
Masalahnya, siapa bangsawan yang terlibat dalam semua ini?
-----