Jika ada hal yang bisa membuat Dorothy merasa tertekan, maka itu adalah kemunculan Nicolin dan tatapan mata Gilbert. Ia sudah lupa bagaimana rasanya ketakutan hebat. Perasaan di mana seluruh pori-pori timbul dan terpaan rasa dingin menusuk tulang. Mungkin, ketika pertama kali Dorothy terbangun di rumah Nyonya Gemuk bertahun-tahun silam. Ah, tapi ia bahkan sudah lupa bagaimana sensasinya. Hingga pertemuannya dengan dua sosok berbeda jenis yang kembali menghantarkan sensasi menakutkan itu datang, secara tiba-tiba ketika ia berada di puncak kebebasannya.
Mengapa pembunuh sepertinya menjadi p*****r?
Pertanyaan Gilbert berputar di kepalanya. Sampai hari ini, Sampai Gilbert menanyakan hal ini, Dorothy tidak pernah terpikirkan alasan apa untuk kehidupannya. Mungkin, selama ini prinsipnya hanya bertahan hidup dan merasa bebas. Ia tidak peduli apa yang akan ia lakukan selama dirinya merasa hidup dan tidak terkekang apapun.
Lagipula, ia sudah lebih dulu menjadi seorang p*****r sebelum menjadi pembunuh. Sejak usianya masih belia, sejak ia bahkan belum mengerti apa itu persetubuhan. Ia dipaksa mengetahui semua itu dengan tubuhnya sendiri. Rentetan rasa sakit yang berulang dan menyiksanya, semakin membelenggunya dan membuatnya muak. Dan ia menemukan sedikit kebebasan ketika menjadi pembunuh. Dorothy yakin kisahnya akan berulang seperti itu. Dia sudah cukup awas dengan jiwanya sendiri. Ia sudah cukup waspada jika suatu hari nanti dirinya merasa bosan menemani bangsawan-bangsawan hidung belang dan ingin menggenggam pisau lalu merobek-robek tubuh manusia lagi, seperti yang ia lakukan sebelumnya. Ia bahkan sadar kemungkinan terbesar siklus hidupnya akan terus berputar seperti itu. Karena meski ia masih mengingat rasa sakit ketika dipaksa melayani pria-pria tua yang memesannya ketika ia belia, pada akhirnya ia tetap terikat dengan hal itu. Ironi memang, dan Dorothy sadar sepenuhnya.
“Katakan, mengapa pembunuh sepertimu memutuskan untuk menjadi p*****r?” Ulang Gilbert.
Dorothy memberanikan diri menatap iris ruby darah merpati di hadapannya, yang terasa dalam dan menenggelamkannya. Ia berusaha mencari celah, berusaha mencari maksud dari pertanyaan Gilbert dari sorot matanya. Tetapi Dorothy tak menemukan jawaban apapun selain pekat yang dalam, yang menariknya hingga tenggelam.
“Aku hanya mengikuti arus?” Bahkan Dorothy sama sekali tidak yakin dengan jawabannya sendiri. Ia tidak pernah merasa yakin akan pilihannya. Mungkin, memang benar jika ia hanya mengikuti kemana arus kehidupan membawanya.
“Kau yakin?”
Dorothy mengangkat bahu. “Aku tidak memiliki jawaban yang lebih tepat untuk pertanyaan Tuan Muda. Sampai hari ini, aku bahkan tidak pernah mempertanyakan tujuan hidupku selain bertahan hidup.” Ia tertawa kecil sembari menggaruk tengkuknya, yang seketika langsung dilirik tajam oleh Nicolin.
Gilbert mengusap dagunya. “Begitukah?”
“Maksudku, manusia tanpa gelar bangsawan sepertiku tidak memiliki banyak pilihan. Tuan Muda pasti mengerti, berhubung Tuan Muda sering sekali memberikan bantuan kepada perkumpulan warga miskin di ujung kota itu.”
“Kau tahu?”
“Ah, kurasa Tuan Muda sudah tahu jika distrik hiburan selalu membeberkan segala macam rahasia orang. Walau apa yang Tuan Muda lakukan bukan sebuah rahasia. Orang-orang sering membicarakannya dan mengatakan bahwa Grey melakukan itu hanya untuk menarik simpati warga. Tapi aku ingat sejak dahulu Grey selalu melakukannya, rasanya aneh jika disebut tengah menarik simpati orang. Dan—oh, maafkan saya Tuan Muda.”
Gilbert terkekeh. Orang-orang yang tidak memiliki pangkat kebangsawanan apalagi seorang wanita penghibur biasanya tidak akan selancar itu berbicara dengannya. Dorothy mengatakan apa yang terlintas di pikirannya secara alami, tanpa ditutup-tutupi. Ia terkesan tidak sopan, tetapi sesungguhnya menarik.
“Bekerjalah denganku, Dorothy.”
Dorothy berlutut dan menunduk dalam-dalam. “Dengan segala hormat, Tuan Muda tetapi aku tidak bisa menerimanya.”
“KAU!” seru Nicolin.
Gilbert melirik pelayannya dan memerintahkannya untuk diam. Ia berdiri, berjongkok tepat di hadapan Dorothy. “Apa alasanmu?”
“Aku merasa tidak akan mendapatkan kebebasan jika aku bekerja dengan seorang bangsawan. Lagipula aku sudah tidak memiliki hasrat untuk membunuh. Mungkin di masa depan aku punya, tetapi untuk sekarang aku sama sekali tidak memiliki kemauan itu. Karena itu, kurasa tidak ada keuntungan bagi Tuan Muda dengan mempekerjakanku.”
“Aku akan membayarmu lebih dari Tuanmu di rumah hiburan.”
Dorothy menggeleng. “Aku tidak mengejar uang, aku hanya mengejar kebebasan. Kuharap Tuan Muda mengerti.”
Gilbert tidak pernah ditolak sebelumnya. Ia terbiasa mendapatkan apa yang ia inginkan meski dengan kerja keras sekali pun. Kebanyakan orang biasa akan dengan senang hati menerima tawarannya, dan seharusnya Dorothy juga. Tetapi wanita ini berbeda dan Gilbert cukup terkejut.
Gilbert memejamkan matanya sebentar kemudian menghela napas. “Nicolin, antarkan wanita ini kembali ke tempatnya.”
“Huh? Kau yakin Tuan Muda?”
“Ya.”
Nicolin menunduk patuh. Ia membawa Dorothy kembali ke ruangan bawah tanah yang sebelumnya menjadi tempat pertama kali Dorothy datang. Sementara Dorothy masih tidak paham dengan bagaimana ia bisa berada di tempat yang berbeda hanya dalam hitungan detik. Ia baru sampai di sana ketika Nicolin menusukkan jari telunjuknya ke dahi Dorothy dan seketika ia merasakan perasaan seperti diputar-putar dan berakhir dengan berdiri di depan perbatasan distrik Westminster sama seperti sebelum ia berada di mansion Grey.
Dorothy berkedip bingung. Ia berdiri seperti orang i***t sementara orang-orang yang berlalu-lalang memandanginya dengan kening berkerut.
“Woah, apakah ini sejenis sihir?” pikir Dorothy.
Ia segera menggelengkan kepalanya. Sungguh, perasaan lega memenuhi jiwanya. Ia kira, dirinya akan terjebak selamanya dengan iblis itu. Ia juga tidak menyangka jika bangsawan Grey yang sangat terkenal itu mempekerjakan iblis seram yang berubah begitu patuh di hadapannya. Dorothy menebak-nebak bayaran apa yang diberikan Gilbert Grey kepada iblis itu hingga si iblis bisa begitu patuh.
Dorothy kembali ke rumah hiburan secara diam-diam, menyelinap saat rumah hiburan begitu ramai dengan pengunjung dan masuk ke kamarnya. Ia segera bernapas lega ketika melihat tidak ada jejak seseorang yang menerobos masuk ke dalam kamarnya. Dengan kata lain, masih tidak ada yang tahu jika ia keluar distrik secara diam-diam.
Segera ia menuju ke kamar pakaian dan mengganti pakaian biasanya dengan gaun standar untuk melayani pelanggan. Ia sempat bertemu Annie, wanita yang cukup dekat dengannya itu menanyakan apakah keadaannya baik-baik saja dan Dorothy menjawabnya dengan semangat. Ia rasa, kelegaan membuatnya bersemangat.
“Hm, saatnya kembali beker—Nell? Apa yang kau lakukan di sini?”
Dorothy baru hendak kembali ketika sudah merapihkan dirinya ketika ia mendapati Nell Gwyn berdiri kaku memandangnya tajam. Nell Gwyn selalu dikenal dengan sorot mata lemah lembut dan perangai manis di kalangan pelanggan. Bahkan untuk Dorothy sendiri, ia sama sekali belum pernah melihat Nell Gwyn menunjukkan raut tidak enak.
“Kau butuh sesuatu, Nell? Atau salah satu gaunmu ada yang terselip di ruangan ini?”
Dorothy mendengar dari Annie bahwa Nell tampak aneh, tetapi pada dasarnya ia belum melihatnya secara langsung.
“Nell?”
Nell Gwyn hanya diam dan menatap Dorothy tanpa berkedip. Dorothy mendekati wanita itu dan menepuk bahunya. Ia baru akan menggerakkan telapak tangannya sampai Nell mencengkram pergelangan tangan Dorothy kuat-kuat.
“Nell? Apa yang kau lakukan?” seru Dorothy panik.
Jika memang apa yang dikatakan Annie adalah benar, maka yang sekarang sedang menguasai tubuh Nell lah yang tengah mencengkram pergelangan tangannya. Tapi kenapa? Dorothy tidak ingat pernah bermasalah dengan Nell. Bahkan jika diingat, selama Dorothy berada di sana, hanya Dorothy saja yang tidak pernah bertingkah menyebalkan kepada Nell.
Tetapi Nell sama sekali tidak menjawab dan terus mencengkram lebih kuat pergelangan tangan Dorothy. Dorothy meringis sakit, ia berusaha menarik lengannya, berharap cengkraman Nell mengendur dan ia akan segera melarikan diri. Rumah hiburan sedang ramai, di siang hari biasanya ruangan gaun akan kosong dan jarang ada wanita-wanita penghibur yang datang kemari karena harus menemani beberapa pelanggan. Dorothy juga tidak akan bisa berteriak. Jika seseorang atau pilihan terburuk adalah Tuannya datang, maka Dorothy sudah tidak memiliki hak membela diri lagi. Nell adalah level khusus sementara ia hanya wanita penghibur biasa yang paha atasnya dicap oleh simbol dengan besi panas.
“Nell! Lepaskan aku!”
Tangan Nell yang lain menjambak rambut pirang Dorothy kuat-kuat, membuat Dorothy harus mengikuti gerak tarikan tangan Nell untuk mengurangi rasa sakit. Aneh, benar-benar aneh. Dorothy sangat bingung mengapa Nell sampai menyakitinya seperti ini. Dan Dorothy, sebagai mantan seorang pembunuh yang tega merobek-robek tubuh korbannya benar-benar tidak berkutik di tangan Nell yang menjadi wadah iblis.
“Kau! Kau bukan Nell! Keluar dari tubuhnya dasar iblis terkutuk!”
Nell menggerakkan kepalanya patah-patah. Ia menatap tajam Dorothy, dan seperti apa yang dikatakan Annie, ada bola mata lain yang mendesak keluar. Bola mata berwarna merah pekat. Dorothy membeku, ia lengah hingga Nell yang dikuasai oleh iblis di dalam tubuhnya menarik pergelangan tangannya kuat-kuat dan melemparnya hingga membentur dinding.
Dorothy merintih, ia merasakan seluruh tubuhnya nyeri. Pergelangan tangannya terasa menyakitkan dan ia curiga jika Nell mematahkannya ketika ia mencengkramnya kuat-kuat.
“Kau melaporkan keadaanku kepada iblis itu.” Suara Nell terdengar lebih berat dan serak seolah tenggorokannya tertahan sesuatu.
“Nell? Bukan, kau siapa sebenarnya?”
Nell tertawa terbahak seperti orang gila. “Aku Nell, wanita yang memiliki level lebih tinggi darimu.”
“Bukan, kau bukan dia. Siapa yang memasukkanmu ke dalam tubuh Nell?”
Nell berjongkok, kembali menarik surai pirang Dorothy hingga membuatnya mendongak secara paksa. “Dan kau akan melaporkannya lagi kepada iblis itu?”
Iblis itu? Dorothy bertanya-tanya apa maksudnya. Yang berada di hadapannya adalah sesosok iblis yang bersembunyi di dalam tubuh manusia. Beberapa detik ia bertahan pada posisi itu sembari mengikuti kemana tangan Nell menarik-narik rambutnya. Ia hanya bisa tengkurap dan tidak mampu untuk bangun karena tulang punggungnya terasa amat sakit saat digerakkan.
“Iblis itu—hah?” seolah menyadari sesuatu, Dorothy membelalak dan menatap Nell dengan ketiga bola matanya itu. Wanita yang tengah dirasuki iblis itu tersenyum lebar, dan hal yang membuat Dorothy merasa ngeri adalah dua taring tajam yang timbul di antara gigi-gigi Nell.
Tubuh Dorothy menegang, serangan rasa merinding merambat ke atas kulitnya, membuat pori-porinya timbul. Ketika Nell terus menarik rambutnya hingga ia berdiri tegak, Dorothy tidak bisa menahan lagi rasa sakit yang terasa menyiksa di seluruh tubuhnya. Ia mengayunkan tangan kanannya, berusaha untuk menyerang tubuh Nell, sementara tangan kirinya ia gunakan untuk menahan remasan kuat tangan Nell di rambutnya. Usahanya sia-sia, bukannya mengurangi rasa sakit, Dorothy malah semakin merasakan selutuh tubuhnya ngilu.
“N-Nell….” Rintih Dorothy pelan.
Tangan kiri Nell muncul dengan kuku-kuku panjang tajam berwarna hitam pekat. Ia mengarahkannya ke leher Dorothy kemudian merobeknya dengan sekali sayat. Dorothy berteriak kesakitan. Rasa panas dan perih menyebar, bau amis darah, dan juga rasa lengket yang mengalir di sekitar bahunya. Nell tertawa-tawa seperti orang gila dan kembali mengarahkan tangan dengan kuku-kuku panjangnya. Kali ini tujuannya adalah d**a Dorothy yang terbungkus pakaian dalam tipis. Hanya dengan sekali sayat, kain tipis yang menutupi tubuh Dorothy robek, sekaligus dengan kulitnya sendiri.
Dorothy tidak bisa menjelaskan bagaimana rasanya. Mungkin, seperti inilah rasanya ketika dirobek-robek, dan mungkin seperti ini juga yang dirasakan korban-korbannya sebelum mereka benar-benar mati. Dorothy bernapas putus-putus, pandangannya juga sudah mulai kabur. Satu-satunya yang bisa ia dengar hanya suara tertawa Nell yang menggelegar.
“Nell, kau—AGKH.”
Dorothy membelalak, ia kemudian memuntahkan darah, dan paru-parunya terasa sesak. Nell mengakhiri semuanya dengan menusukkan tangannya yang penuh kuku-kuku tajam tepat di perut Dorothy hingga menembus punggungnya. Dorothy kejang-kejang hebat, bersamaan dengan darahnya yang mengalir menutupi lantai kayu ruangan itu. Hanya dalam beberapa detik saja, dan gerakan pada tubuh Dorothy berhenti, pun dengan napasnya.
-----