Chapter Lima : Mencairkan Suasana

1037 Kata
Keterkejutan jelas terlihat bukan hanya dari wanita itu saja, tapi aku juga demikian. Bagaimana tidak, dia adalah wanita yang dulu saat masa sekolah pernah aku buat marah karena ketahuan masuk sekolah bukan lewat gerbang melainkan salah satu lubang yang jika ketahuan pihak sekolah maka akan mendapatkan hukuman, dan akulah yang dulu pernah membuatnya dihukum. "Kamu?" Seru wanita itu saat kami berdua saling menatap. Aku sendiri tak bisa merespon lebih ketika wajah wanita itu masih sama seperti saat masa-masa sekolah, hal itu membuat ibuku dan ibu si wanita yang usianya hampir sama menatap bingung dengan apa yang aku dan wanita itu lakukan. Saling menatap dengan wajah terkejut. "Kalian saling kenal?" Pertanyaan itu dari ibuku, karena mungkin melihat putranya yang diam saja saat bertemu dengan wanita yang akan dijodohkanya. "Dia teman sekolah ku dulu," pada akhirnya aku menjawab pertanyaan ibu. Dan respon dari wanita yang ternyata adalah Irene serta ibunya sungguh di luar dugaan, keduanya berbeda dalam memberikan reaksi atas pertemuan pertama ini. Setelah bertahun-tahun aku mencoba untuk melupakannya. Tapi ternyata Irene masih mengingat wajahku. "Benarkah? Kalau begitu, ini adalah kabar bahagia. Jadi kita tidak perlu repot-repot memperkenalkan mereka berdua, aku sangat senang sekali. Ternyata putrimu adalah teman sekolah putraku," ibu berseru senang. Aku sendiri juga merasa senang setelah sekian lama tidak melihat ibu tersenyum seperti itu, kematian kakak sontak merubah keceriaan di dalam hidup wanita yang telah melahirkan ku. Kehilangan anak sulung kebanggan, kesayangan membuat ibu hancur tidak tersisa. "Mereka berarti berjodoh nyonya Victoria, kita pasti akan menjadi besan. Wah, aku juga turut bahagia." Kali ini nyonya Alexia yang berseru senang, dia adalah ibu dari Irene. Sementara aku Melihat Irene yang duduk tanpa ekspresi, sepertinya dia sangat keberatan dengan perjodohan yang kedua ibu kami rencanakan. Aku tidak tega jika harus menolaknya, sebab melihat wajah sumringah Ibu membuatku bersedia menerima perjodohan ini. "Ini baru tahap pertemuan pertama, untuk selanjutnya kalian bisa jalan ke mana saja sesuai dengan yang kalinan inginkan, aku senang sebab calon menantuku adalah putri dari sahabatku sendiri. Dan yakin kalau dia adalah wanita baik seperti ibunya." Ibu memuji calon menantunya di hadapanku secara langsung, seolah mempertegas jika keinginannya itu pantang di tolak. Yang aku khawatirkan adalah keputusan Irene yang justru tidak setuju dengan perjodohan ini. "Kalau aku sangat setuju jika kita jadi besanan, tapi apakah putramu bersedia menjadi suami dari putriku?" Nyonya Alexia menatapku, meminta jawaban atas pertanyaannya itu. "Tentu saja, aku bersedia menjadi suami dari putri nyonya. Siapa yang bisa menolak wanita cantik seperti dia, kalau boleh saya mau meminta ijin pada nyonya untuk bicara berdua saja dengan putrimu, apakah boleh?" Aku segera meminta ijin pada nyonya Alexia untuk bicara hanya berdua saja dengan Irene, agar wanita itu tidak mengacaukan pertemuan ini yang bisa saja akan berakibat fatal untuk kesehatan ibu. Yang sekarang terlihat sumringah. Aku tidak ingin ibu sampai sedih dan murung lagi jika Irene tidak menyetujui perjodohan ini. "Aku..." Suara Irene terhenti oleh ucapan ibunya. "Tentu saja boleh, silahkan kalian berdua mencari tempat yang privasi untuk bicara lebih dalam lagi mengenai hubungan kalian selanjutnya, Irene. Pergilah dengannya." Nyonya Alexia sedikit mendorong lengan putrinya untuk ikut bersama denganku, meski aku bisa melihat jika Irene sangat tidak nyaman berada di tempat ini. "Baiklah, Bu." Akhirnya Irene beranjak dan mengikutiku mencari tempat yang agak jauh dari kedua ibu kami, ada bangku kayu yang lumayan cukup panjang. Aku duduk di sana, di susul dengan Irene yang terdengar menghembuskan napasnya dengan kasar. "Maaf, atas apa yang dulu sudah aku lakukan padamu. Aku tahu, kalau kamu pasti masih merasa kesal dan marah padaku, tapi apakah kita tidak bisa melupakan kejadian dulu dan memulai dengan sebuah hubungan baru? Sepertinya akan jauh lebih seru jika kita memulainya dari awal lagi, bagaimana menurutmu?" Aku melirik sekilas ke arah Irene yang tengah menatap lurus ke seberang gedung-gedung pencakar langit. Dia hanya teridam tanpa melihatku. "Kenapa kamu bersedia menerima perjodohan ini? Bukankah, dulu kamu sangat tidak menyukaiku?" Suara Irene terdengar begitu kaku dan dingin, seolah dia enggan menjalin hubungan apapun denganku. "Aku melihat wajah bahagia Ibu saat perjodohan ini terjadi, selama bertahun-tahun ibu mengalami guncangan depresi atas kepergian kakak selama-lamanya, anak kesayangan, kebanggaannya meninggal dunia. Dia ditemukan gantung diri disekolah, tempat yang sama saat kita sekolah dulu." Wajah datar William yang mendominasi saat menceritakan kejadian masa lalu pada Irene. "Jadi ternyata kabar tentang seorang siswa yang meninggal itu benar? Bukan hanya kabar burung semata? Dan siswa tersebut adalah kakakmu?" Pertayaan itu meluncur cepat dari mulut Irene, karena dia baru saja mendengar kabar yang mengejutkan. "Iya, siswa itu adalah kakaku. Dia termasuk siswa terfavorit, menjadi juara kelas sesuai dengan keinginan orang tuaku, tapi ternyata hal itu justru tidak membuatnya senang dan berakhir tewas gantung diri," Aku menarik napas terlebih dulu, dan berhenti sejenak untuk melanjutkan ceritanya. "Mendengar kabar kalau putranya meninggal, sontak saja membuat ibu seketika kehilangan separuh nyawanya. Ibu limbung, hancur juga kacau, ibu menangis setiap hari. Murung menatap foto kakak, meracu dan bicara sendiri. Aku sedih, bertahun-tahun kondisi ibu seperti itu sampai hari ini. Aku melihat senyum itu kembali menghiasi wajahnya, maka dari itulah aku menerima perjodohan ini." Jujur aku sendiri sama sekali tidak ada perasaan apa-apa terhadap Irene, pertemuan ini sungguh mengejutkan dan membuatku tidak bisa berbuat apapun. Selain menerimanya, demi senyum yang terhias di wajah ibu. "Aku sangat berharap sekali padamu, agar mau mengerti jika kamu berada di posisiku. Tidak juga mau memaksa, apa kamu tidak melihat wajah bahagia dari ibumu? Sepertinya dia juga senang jika aku menjadi menantunya." Sedikit mencairkan suasana yang sepertinya membuat Irene tegang, aku tahu jika pertemuan ini membuat kami berdua sama-sama berada pada situasi yang serba salah. "Aku masih harus berpikir ulang untuk keputusan besar ini, sebab menyangkut masa depanku." Irene tidak banyak bicara,mungkin dia juga berpikir kenapa hal ini harus terjadi padanya. Aku sendiri tidak memaksa Irene untuk satu pemikiran denganku, yaitu menerima perjodohan ini untuk kebahagiaan Ibu. Tapi jujur, aku memang sangat berharap jika Irene juga mempertimbangkan dulu sebelum memberi keputusan. "Pikirkan dulu dengan baik, meski aku sangat berharap kalau kamu juga menerima perjodohan ini. Tapi jika rasa bencimu padaku di masa lalu, maka silahkan hukum aku dengan menolaknya. Dan resikonya adalah kedua ibu kita yang akan menanggungnya." Setelah mengatakan itu, aku bangkit dan berlalu meninggalkan Irene seorang diri. Rasanya aku akan terjebak dengan keputusanku sendiri jika terlalu lama hanya berdua dengan wanita ini.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN