Chapter Empat : Terkena Hukuman

1013 Kata
Sosok pria yang tengah berdiri di hadapanku membuat tubuh Irene yang semula menunduk, seketika menegak dan terkejut. Pria itu adalah William siswa favorit yang banyak sekali di gemari para wanita. "Sedang apa kamu di sini? Apa menguntit ku?" Aku menatap William dengan kesal, bisa-bisanya pria itu memergoki saat aku sudah berhasil masuk ke sekolah lewat lubang yang kemarin aku masuki bersama dengan Ariana. "Kamu sendiri lagi apa di sini? Bukankah jam masuk sekolah sudah terlambat? Jadi ini kelakukan kamu jika kesiangan dan akan masuk lewat lubang itu?" William menunjuk lubang yang hendak aku masuki, pria itu sungguh menyebalkan kenapa harus datang di waktu yang tidak tepat? "Bukan urusanmu?" Aku membuang muka dan segera berjalan menuju kelas sebelum ketahuan oleh guru. William mengekor di belakangku, entah apa yang dia lakukan. Tapi aku tidak memperdulikannya, tujuanku sekarang adalah segera masuk ke dalam kelas dan menghindar dari pria menyebalkan itu. "Hai, Ariana?" Aku duduk menyapa Ariana yang tengah mencari sesuatu entah itu apa di dalam tasnya. "Hai, apa kamu kesiangan? Lalu bagaimana bisa masuk ke sekolah?" Ariana tahu jika ada salah satu siswa yang terlambat pasti akan terkena hukuman berdiri di depan pintu kelas, tapi tidak pada Irene. "Aku masuk lewat lubang yang kemarin malam kita masuki." Aku berbisik di telingan Ariana agar tidak ada yang mendengarnya, bisa bahaya kalau mereka tahu apa yang telah aku dan Ariana lakukan kemarin malam. "Apa tidak ada yang memergomimu masuk lewat lubang itu?" Wajah Ariana terlihat panik. "Ada, si pria menyebalkan itu. Tadi saat aku baru saja berhasil masuk, tiba-tiba dia sudah berdiri di hadapanku." Dengan santai aku menjawab pertanyaan Ariana, tapi sepertinya wajah Ariana terlihat panik. "Ya ampun, Irene. Kamu sudah membuat masalah." Gumam Ariana yang membuat Irene bingung. "Maksudmu apa? Aku merasa tidak membuat masalah, kenapa kamu justru berpikir demikian?" Aku kesal pada Ariana karena mengatakan jika aku telah membuat masalah, padahal tidak seperti itu. "William sudah memergoki kamu masuk melalui lubang itu, yang ada nanti dia akan melaporkan pada guru dan kamu bisa kena hukuman." Ariana mengatakan hal itu dengan suara cemas, tentu saja membuatku juga takut. Bagaimana jika si pria menyebablkan itu benar-benar melaporkan perbautanku ke guru?. Irene berharap cemas dan menunggu kedatangan William ke kelas, tapi aku ragu jika harus menanyakan pada pria itu. Dan mau tidak mau aku di hadapkan pada keputusan yang sangat sulit. "Pergi ke mana pria menyebalkan itu? Kenapa masih belum masuk kelas juga?" Aku celingukan berulang kali menatap pintu kelas, berharap jika William segera masuk dan aku harus memohon padanya untuk tidak melaporkan perbuatanku ke guru. Ariana sepertinya tidak bisa banyak membantu, dia hanya menggelengkan kepalanya saat aku kembali meliriknya. Dan aku harus menghadai ini sendirian. Lumayan cukup lama menunggu, akhirnya pria itu masuk juga ke dalam kelas dan aku langsung berjalan menghampirinya. "Aku mau bicara sebentar denganmu, di luar." Sambil berjalan aku berbisik itu, takut jika para penggemarnya histeris melihat aku dekat-dekat dengan William. Tanpa menjawab permintaanku, William rupanya mengekor di belakang dan setelah sampai di luar kelas aku langsung berbalik berdiri menghadapnya. "Ada apa?" Tanya William saat aku hendak membuka mulut. "Belum juga aku bicara kenapa sudah lebih dulu dia yang buka suara?" Rutuku dalam hati. "Hmmm, begini. Aku minta tolong, jangan laporkan ke guru tentang aku yang tadi masuk lewat lubang itu." Suaraku sengaja di buat sememelas mungkin, agar pria itu merasa iba. Dengan pura-pura begini bisa aja aku bisa terhindar dari hukuman. "Apa kamu sedang melakukan sebuah kompromi denganku?" William balik bertanya. Dan aku menjadi bertambah bingung. "Maksudmu apa?" Aku meminta penjelasan padanya. "Aku tahu jika yang memasang perekat pada kursi adalah kamu, bisa saja aku melaporkan perbuatanku itu pada guru, maka para wanita yang menggemari ku tentu akan menyerbu dan membuat perhitungan denganmu, katakanlah. Kamu kan yang memasang perekat itu?" Wajah William terlihat sangat santai sekali, dan dia sedang menekan aku. Bagaimana ini? Apakah ku harus jujur atau berbohong? Setelah terdiam lama Irene berpikir dan menimbang apa yang harus dilakukannya agar bisa terhindar dari hukuman. "Aku saja atau aku akan melaporkan perbuatan kamu ke pihak sekolah." Suara William mengagetkan aku, dia terlihat serius kali ini. Sepertinya kesal karena aku lama memberikan jawaban. "Iya, kamu benar. Akulah yang sudah menaruh perekat pada kursimu itu, sebab aku kesal dengan sikap sok kecakepanmu itu. Bersikap manis menerima bunga dari wanita itu, kemudian membuangnya ke tong sampah." Aku keluarkan kekesalanku pada William tentang alasan kenapa memasang lem perekat pada kursinya, sehingga celana William robek. "Terima kasih atas kejujuran darimu, aku hargai. Tapi pihak sekolah sudah mengetahui tentang perilakumu yang masuk lewat lubang itu, jadi bersiaplah untuk mendapatkan hukumannya." Setelah mengatakan itu, William pergi menuju ke kelas. Semantara aku berdiri mematung tidak percaya jika dia telah menipuku. Rupanya William sudah terlebih dulu melaporkan aku ke pihak sekolah. "Bodoh sekali kamu, Irene. Kenapa harus percaya pada pria menyebalkan itu. Sebentar lagi kamu akan menjadi tontonan satu sekolah karena di hukum di depan pintu kelas, besiaplah untuk malu." Aku tidak bisa berbuat apa-apa lagi, bahkan untuk berjalan masuk ke kelas saja rasanya tulang lutut menjadi lemas. Ariana menatap penuh cemas saat aku masuk ke kelas dengan berjalan gontai, dia menghampiri dan menuntunku untuk duduk. Lalu Ariana memberikan minum untukku. "Minumlah dulu, apakah telah terjadi sesuatu sehingga membuatmu seperti ini?" Ariana membantu aku menutup kembali botol minum yang setengahnya sudah aku habiskan, dia benar-benar kacau melihat aku yang diam saja. "Bicaralah, jangan membuat aku ketakutan." Ariana menggerakan tanganku yang lemas seperti tidak bertenaga. "Sebentar lagi, aku pasti akan di hukum dan depan kelas karena sudah melanggar peraturan dengan masuk ke sekolah melalui lubang itu. Pria menyebablkan itu ternyata telah melaporkan perbuatanku pada pihak sekolah, aku harus bagaimana. Aku tidak bisa menahan kesedihan jika sampai hukuman itu benar terjadi, satu sekolah pasti akan menyertakan aku. "Astaga, aku turut prihatin. Dan aku minta maaf karena tidak bisa membantumu untuk terlepas dari hukuma ini." Ariana merasa iba dengan apa yang telah menimpaku. Aku juga tahu kalau dia sangat sedih sama halnya denganku. "Kamu tidak perlu minta maaf, aku memang salah. Tapi pria itu yang lebih bersalah karena tidak punya rasa belas kasih." Aku kembali menangis, tidak lagi peduli dengan mereka yang menatapku penuh tanda tanya.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN