0o0
Virgi, Sheren dan juga Asila masuk ke dalam ruangan mereka. Spontan semua mata kawan-kawan tertuju kepada gadis yang berdiri di tengah-tengah yaitu Virgi.
"Ciye ... pengantin barunya udah masuk. Kagak ambil cuti lama-lama nih?" cibir salah satu kawan kuliah Virgi. Dia adalah Fafa musuh bebuyutan Virgi. Dia cinta mati sama Bima, tapi malah ditolak karena Bima cinta banget sama Virgi. Ini kisah namanya cinta segitiga.
Virgi sudah menduga kalau dia pasti akan menjadi sasaran bully kawan-kawannya, tapi mau bagaimana lagi? Semua harus dihadapi karena ia tetap harus melanjutkan pendidikannya. Yang harus dia lakukan sekarang adalah membuat teman-temannya percaya bahwa dia belum menikah dan berita yang menyebar adalah gosip semata.
"Ehem ... jadi begini, ya ..." Virgi angkat suara hendak berdrama untuk meluruskan informasi tentang dirinya.
"Biar aku aja yang bantu ngejelasin," ucap Bima sembari berjalan mendekat kepada Virgi yang masih berdiri di depan ruangan diapit oleh dua sahabatnya.
Jelas hal ini membuat hati Fafa terbakar cemburu. Padahal dia berharap Bima mau menghindari Virgi setelah ini, karena Virgi sudah jadi istri orang. Akan tetapi ... kenyataannya Bima masih saja berpihak kepada gadis itu.
"Teman-teman ... " Bima mulai berbicara dengan lantang di hadapan kawan-kawannya.
"... jadi berita yang kemarin menyebar di kampus kita perihal pernikahan Virgi dan seorang lelaki itu adalah berita hoax," terang Bima membuat kegaduhan seketika terdengar.
"Aku nggak tahu siapa yang nyebar gosip ini, tapi itu berita beneran bohong banget. Virgi udah ngomong jujur ke aku kalau dia belum menikah," tandasnya.
"Fa, jadi kamu bohongin kita, ya?" tegur Anggi.
"A-aku ... aku nggak bohong, sumpah!" Fafa menaikkan kedua jarinya membentuk huruf V. Gadis itu pun kaget kenapa bisa dia mendapatkan informasi yang salah, padahal menurutnya informan yang memberikan berita ini tuh amat sangat bisa dipercaya. Jadilah karena hal ini dia menjadi pihak yang dihakimi oleh rekan-rekannya, karena gosip ini sumber awalnya dari Fafa.
"Oh jadi kamu yang nyebar gosip itu," sahut Virgi sambil manggut-manggut santai.
"Aku nggak nyebar gosip, Vir! Aku dapat informasi dari temannya abang aku yang kerjanya di hotel tempat kamu nikah," terang Fafa membeberkan dari mana ia mendapatkan berita tersebut.
"Yang mana yang benar sih?"
"Mungkin teman abang kamu salah orang kali, Fa!" Teman-teman bersahut-sahutan menanggapi kericuhan ini.
"Mana mungkin dia salah orang?!" Fafa percaya bahwa teman abangnya pasti tak salah orang, karena dia juga melihat foto Virgi bersama suaminya yang dikirimkan oleh kawan dari kakaknya tersebut.
"Aku ada fotonya, Kok. Kalau kalian mau lihat," ucap Fafa sembari merogoh ponselnya yang ia letakkan di dalam tasnya.
"Ini kalau kalian mau lihat! Biar kalian percaya kalau aku nggak fitnah," oceh Fafa dengan jemari tangan yang bergerak lincah membuka galeri foto yang ada di handphonenya.
Mati aku! Pekik Virgi dalam batin.
"Cil, gimana ini?" bisik Sheren di telinga Virgi. Asila pun ikutan panik jadinya.
Tangan Fafa sampai gemetaran kalau takut jadi bulan-bulanan kawan-kawannya kalau ia tidak bisa membuktikan bahwa dialah yang benar.
"Teman abang kamu siapa sie, Fa? Emangnya dia kenal sama aku?" tanya Virgi dengan jantung berdebar-debar. Dalam hati panik, tapi ia tetap berusaha menutupi kepanikannya.
"Ya kenallah, kan abang aku dan temannya itu dulu teman kuliahnya Mbak Veli, otomatis dia kenal banget dong sama kamu juga? Kan mereka sahabatan sering banget main ke rumah kamu juga," jawab Fafa.
Aduh ... bener juga, ya! Atau jangan-jangan justru Mbak Veli yang udah bilang sama temannya itu kalau aku nikah di hotel tempat dia kerja?! Gawat! Virgi merasa dalam masalah yang besar.
"Ya udah mana fotonya, Fa? Kita kan butuh bukti bukan cuma omong doang," sahut Avika sudah penasaran banget, tapi sejak tadi Fafa hanya sibuk menatap layar ponsel dan menyahuti omongan Virgi.
"Aduh ... perasaan kagak aku hapus, deh. Kok nggak ada, ya?" Fafa kebingungan karena sudah ia scroll berkali-kali, tapi tak dia temukan gambar yang dia maksud.
"Kalau nggak ada fotonya berarti kamu yang bohong!" tuduh Avika.
"Ya ngapain aku bohong juga?" balas Fafa masih terus berusaha mencari di setiap galeri dan folder, tapi tak ia temukan juga foto itu ada di mana.
"Ngapain?" Virgi membalik pertanyaan yang Fafa tujukan pada Avika. "Ya kan udah jelas motifnya kenapa kamu lakuin itu. Karena dari dulu kamu itu benci sama aku, karena Bima itu cintanya sama aku bukan sama kamu!" terang Virgi sambil melipat kedua tangannya di depan d**a.
Syukur banget deh foto itu hilang, jadinya nyawaku terselamatkan, batin Virgi bisa bernapas lega sekarang.
"Jadi kalau kalian mau tetap percaya sama rival aku yang cemburunya nggak karuan sama aku, ya itu silahkan! Toh dia nggak bisa nunjukkin buktinya kan?!" tegas Virgi. Kepercayaan dirinya bangkit setelah tadi sudah menciut saja nyalinya.
"So, mulai sekarang aku mohon untuk nggak usah lagi ngebahas tentang berita bohong yang Fafa sebar ya, Guys!" perintah Bima. Sebagai salah satu anggota Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) di Kampus Xyz tempatnya berkuliah, akan dengan mudah Bima membuat teman-temannya percaya dengan kata-katanya.
"Aku nggak bohong, Bim! Demi Allah!" sahut Fafa yang berani bersumpah bahwa dirinyalah yang benar dan Virgi yang salah.
Ups ... sorry, ya, Fa! Kali ini aku yang harus gantian ngefitnah kamu, ucap Virgi merasa bersalah, tapi mau bagaimana lagi? Dia memang belum siap untuk menyandang status baru sebagai seorang wanita yang sudah menikah di hadapan teman-temannya.
Setelah ini aku harus terus berbohong dan berbohong, pikir Virgi yang merasa hidupnya akan penuh tantangan karena harus menyembunyikan sebuah kebenaran yang besar tentang dirinya.
0o0
Jam kuliah telah selesai dan Virgi pun harus bergegas pulang karena Mama sudah mengomelinya sejak tadi. Mama dan papa tak tahu kalau anak bungsunya tersebut nekat berangkat kuliah padahal seharusnya dia mengajukan ijin dulu paling tidak sampai tiga hari ke depan.
"Jadi kamu nggak bisa ikut kita nonton dong, Cil? Padahal ada film romantis yang baru launching, lho," desah Sheren menyayangkan sekali karena kini waktunya dengan si sahabat sudah terbatas tak seperti dulu lagi.
"Mau gimana lagi? Aturan aku juga pingin nonton, tapinya .... " Mata Virgi berkaca-kaca. Sekarang dia merasa menyesal karena sudah berlagak sok jadi anak baik yang penurut. Di mana otaknya ketika tetiba dia memiliki ide untuk menggantikan posisi kakaknya? Mana Jeffri juga nggak ada perlawanan apapun ketika dijodohkan.
"Andai aja Bang Jeff nolak dijodohin, pasti pernikahan ini nggak akan terjadi kan biar pun aku setuju buat merried gantiin Mbak Veli?" sesal Virgi yang malah menyalahkan suaminya.
"Iya kamu bener, Cil. Karena Bang Jeff-nya juga mau-mau aja dinikahin gitu. Memang dia nggak ada pacar, ya? Masa cowok sekeren itu nggak ada gebetan kayaknya nggak mungkin, deh," selidik Sheren.
"Huum ... cowok sekaya dan setampan Bang Jeff masa jomblo?" timpal Asila.
"Eh diam dulu!" perintah Virgi ketika melihat teman lelakinya berlari kecil menghampirinya. "Bima nyamperin aku," tutupnya. Jangan sampai deh ada yang dengar obrolan mereka terutama Bima.
"Vir!" sapa Bima dengan seulas senyum manis terkembang alami di bibir tebal lelaki tersebut.
Bagaimana perasaan Bima kali ini? Dia sudah sangat lega karena ternyata Virgi masih sendiri dan tak menikah seperti kata Fafa. Berderet status galau yang kemarin dia post di status whatsappnya pun segera dia hapus meskipun belum dua puluh empat jam. Lalu lelaki itu pun mengirim pembaruan status terkini sekitar sepuluh menit yang lalu yang isinya begini, 'Percayalah! Kalau Jodoh Tak Akan Ke Mana'. Virgi sudah membaca status lelaki itu dan dalam hati ia menjawab, "Aku juga nggak terpikir bakalan berjodoh sama kamu." Hanya dalam hati Virgi menjawabnya. Tak mungkin kan dia ngomong seperti itu sama Bima-nya langsung karena itu hanya akan membuat Bima sakit hati dan Virgi tak tega untuk menyakiti hati Bima yang tulus mencintainya. Ya ... meski pun dengan tak membalas perasaannya itu pun sudah menjadi luka, tapi seenggaknya mereka masih berteman dengan baik hingga sekarang.
"Hei, Bim!" sapa balik Virgi.
"Kamu udah mau pulang, ya?" tanya Bima berbasa-basi.
"I-iya ... soalnya udah ditungguin Mama mau ada acara," jawab Virgi mencari-cari alasan.
"Oh ... padahal aku mau ngajakin kamu ngeband buat ngisi acara buat menyambut hari jadi kampus kita bulan depan," kata Bima. Dilihat dari wajahnya, lelaki itu sangat kecewa. Karena dia berharap dengan acara ini, dia bisa lebih dekat lagi dengan Virgi.
"Yach ... aku mau banget padahal, tapi ...."
Mana mungkin aku berlama-lama di kampus? Mama pasti marah besar sama aku, batin Virgi.
"Tapi kenapa?" tanya Bima.
"Virgi lagi banyak acara, Bim. Jadi dia nggak punya banyak waktu sekarang," jawab Sheren mewakili Virgi.
"Nggak bisa ya nyisihin waktu hanya seminggu dua kali buat latihan gitu? Mumpung ada kesempatan buat kamu tampil di panggung yang besar, Vir. Nanti bakalan diliput di salah satu stasiun televisi swasta lho padahal," bujuk Bima, berharap Virgi mau mengubah keputusannya. Dia tahu benar kalau Virgi sangat suka bernyanyi dan tampil di panggung yang besar adalah impiannya.
"Mm ...." Virgi dilanda kegalauan. Agak nyesel juga kenapa timingnya bisa nggak pas kayak begini.
"Nanti aku pikir-pikir dulu ya, Bim," cetus Virgi karena sejujurnya ia pun juga berat kalau harus melewatkan kesempatan ini.
"Tiiin!" Suara klakson sebuah mobil berbunyi nyaring membuat Virgi, Sheren, Asila dan juga Bima kompak menoleh ke arah gerbang kampus mereka.
"Wuuiih ... mobilnya keren banget," ucap Asila yang mata duitan, langsung ngiler kalau melihat mobil mahal.
Asila, Sheren dan Bima menatap mobil mewah yang belum pernah mereka lihat itu dengan mata terbelalak. Mulut kedua sahabat Virgi pun bahkan sampai ternganga lebar.
Siapa sie? Kok kayaknya asing banget, pikir Bima penuh tanda tanya.
Seorang lelaki bertubuh seratus tujuh puluh lima centimeter keluar dari dalam mobil berwarna merah tersebut sambil membuka kaca mata hitam yang sejak tadi bertengger nyaman di hidung panjangnya. Maklum sebagai lelaki darah keturunan India dari ibu kandungnya, ia memiliki hidung yang mancung seperti Shahrukh Khan. Meski tak dijelaskan pun, orang-orang pasti akan tahu kalau Jeff lelaki yang lahir tak murni dari darah Indonesia.
"Oh dia ..." Sheren dan Asila seketika paham dengan siapa yang datang. Lelaki itu adalah yang mereka lihat tadi pagi mengantarkan Virgi berangkat kuliah. Mana bisa mereka lupa dengan lelaki tampan nan manis yang sukses menyedot perhatian mereka. Sampai-sampai mereka ingin sekali menggantikan posisi Virgi. Iya ... menjadi istri Jeff yang tajir dan juga rupawan.
Sedangkan Bima, dia menajamkan penglihatannya menatap Jeff yang berjalan menghampiri Virgi dengan langkahnya yang lebar. Jantung Bima berdebar hebat, rasanya tak terima saja bila lelaki asing itu benar-benar mencari Virgi.
"Mm ... aku pulang dulu, ya!" pamit Virgi kepada kawan-kawannya. Wajah gadis itu sejak tadi tertunduk tak berani menatap ke depan apalagi melihat Bima yang begitu penasaran dengan kehadiran suaminya.
"Virgi, mama udah nungguin!" ucap Jeff dengan gayanya yang sok dibuat cool. Ia tak menyapa ramah kepada teman-teman Virgi biar pun ia tahu kalau mereka memperhatikannya.
"I-iya, Bang! Ini juga aku udah mau pulang," sahut Virgi dengan gagap bin gugup.
"Vir, dia siapa?" tanya Bima penasaran. Bima lelaki yang tak suka memendam apapun yang ingin dia ketahui. Maka dia pun segera bertanya jikalau itu memungkinkan untuk mendapatkan jawaban.
"Oh ... dia-"
"Perkenalkan," sahut Jeffri seraya mengulurkan tangannya kepada Bima.
"Aduuh ... !" pekik Virgi sembari menyembunyikan wajahnya di punggung Sheren.
"Tamat riwayatmu, Cil!" lirih Sheren yang jantungnya ikut berdebar-debar padahal bukan dirinya yang terkena masalah.
"Game over!" desis Asila sama nervesnya dengan yang kedua temannya rasakan. Gadis itu mematung dengan sekujur tubuh yang susah untuk digerakkan. Sedangkan Virgi hanya berani mengintip dari balik punggung Sheren.
Bima melihat tangan Jeff yang terulur padanya. Tinggi badan Jeff dan Bima ternyata sepadan meski tubuhnya lebih kekar Jeff daripada Bima.
Kayaknya angkuh banget ini cowok. Aku nggak suka! cibir Bima dalam hati, tapi dia akhirnya tetap membalas uluran tangan Jeff.
"Aku Jeff sepupu Virgi," ucap Jeff memperkenalkan dirinya.
"Oooh My Ghost!" seru Virgi, Sheren dan juga Asila dengan mata terbelalak. Mendengar Jeff mengakui dirinya sebagai sepupu Virgi membuat mereka merasa sangat lega. Ibarat sudah kebelet pipis terus antri toilet panjang banget, sudah gitu akhirnya tiba juga giliran kita. Duh ... lega banget!
"Aku Bima teman kampusnya Virgi," ucap Bima gantian memperkenalkan dirinya.
Udah aku duga kalau dia Bima. Udah kecium dari baunya, ucap Jeff dalam batin.
"Oh jadi kamu yang namanya Bima?" tanya Jeff sambil manggut-manggut. Sikapnya sungguh tenang dan santai kayak di pantai. Berbeda dengan Virgi yang jantungnya tak mau berhenti berdag-dig-dug ria sejak tadi, meski seharusnya dia sudah lega karena Jeff tak mengaku bahwa dia adalah suami Virgi. Kalau sampai Jeff berkata yang sebenarnya, bisa benar-benar tamat riwayat Virgi hari ini juga.
"Kamu kenal sama aku?" tanya balik Bima dengan kening berkerut seraya mengurai jemari tangannya.
"Tentu aku kenal sama nama kamu, karena ..." Jeff tersenyum miring sambil melirik istrinya yang wajahnya memucat sejak melihat kedatangannya.
"... karena Virgi bilang kamu adalah lelaki yang sejak semester pertama kamu melihatnya sampai detik ini kamu masih tergila-gila sama Virgi. Benar begitu?" jelas Jeff lalu melempar pertanyaan singkat untuk Bima.
"Ya Tuhan, kenapa dia mesti ngomong kayak gitu?" decit Virgi dengan suara yang pelan. Ia kembali menyembunyikan wajahnya di punggung Sheren.