9. Sosok Misterius

1818 Kata
Beberapa jam telah berlalu dan suasana malam itu sangat hening. Bima yang memilih pulang dari Akademi paling akhir baru saja tiba di halaman depan rumahnya. Dari tempatnya berdiri, ia melihat pintu rumahnya sedikit terbuka. Cahaya lampu dari dalam sedikit meruak keluar melewati celah pintu sampai menerangi sebagian teras depan. Bima melangkahkan kakinya dan dengan perlahan membuka pintu depan. Ia mengedarkan pandangan pada sekeliling ruangan. Matanya melihat seseorang tengah duduk bersila dengan mata terpejam sambil mengatur nafasnya dengan tenang, yang tak lain adalah neneknya, Ling. Kebiasaan neneknya memang tidak berubah setiap harinya. Ketika Bima sampai di rumah sepulang dari Akademi, ia pasti melihat neneknya tengah duduk bersila di tempat yang sama. Bima menghela napas dalam sebelum melangkahkan kakinya dengan perlahan. Jika sampai langkah kakinya terdengar oleh neneknya, maka dia harus siap terkena pukulan Ling. Oleh karena itu, Bima tidak ingin hal itu terjadi hari ini, ia harus melangkahkan kakinya perlahan agar langkahnya tidak terdengar. Bima mulai melangkahkan kakinya dengan perlahan, berharap setiap langkahnya tidak menimbulkan suara pijakan. Namun, kondisi rumah Bima yang berlantai kayu membuatnya cukup kesulitan. Sedikit saja kakinya menginjak lantai, maka akan terdengar bunyi decitan yang sangat mengganggu. Namun, Bima cukup mahir melakukannya. Ia menjinjitkan kakinya sehingga langkahnya hampir tidak bersuara sama sekali. Sejauh ini, belum ada pergerakan dari Ling yang menandakan kedatangan Bima masih belum ia sadari. Beberapa langkah sudah Bima lakukan. Hampir tidak ada suara yang terdengar. Matanya melirik tipis pada Ling yang masih diam di tempatnya dengan tenang. Senyum lebar terkembang di bibir Bima. Pemuda itu berpikir ia berhasil melewati Ling tanpa pukulan darinya. KRIETT!! Lantai kayu berdecit pelan, membuat Bima mematung di tempat dengan satu kaki terangkat. Matanya melirik tipis pada Ling. Ia takut neneknya mendengar suara langkah kakinya barusan. Namun, sepertinya Ling tidak bergerak dari tempatnya, membuat Bima bernafas lega. Saat ia menurunkan perlahan kakinya yang terangkat, satu pukulan keras menghantam kakinya sampai ia jatuh terjungkal ke belakang. BRUGH!! Tubuh Bima membentur lantai kayu dengan keras sampai menghasilkan suara nyaring yang memenuhi ruangan. "Agh ... punggungku ...." Bima meringis kesakitan sambil memegangi punggungnya yang membentur lantai. "Kenapa kau berjinjit, Thera?" tanya Ling masih di tempatnya dengan mata terpejam. "Karena kalau langkahku sampai terdengar, nenek pasti akan memukulku," balas Bima. Mendengar itu, Ling mengangguk perlahan sambil tersenyum tipis. "Bagus, rupanya kau belajar dari pengalaman. Sekarang mandilah lalu makan, sudah kusiapkan sup ikan. Makanlah selagi hangat!" ucap Ling. "Tapi, Nek, aku penasaran, bagaimana bisa pendengar nenek sangat tajam. Padahal aku sudah mencoba untuk berjalan sepelan mungkin. Bahkan, aku sendiri pun tidak mendengar langkahku sendiri. Apa langkah kakiku tadi masih bisa nenek dengar?" tanya Bima penasaran. "Ya, langkah kakimu masih terdengar jelas di telingaku," jawab Ling. "Masih terdengar? Ta-Tapi, bagaimana bisa?" tanya Bima lagi dengan wajah penuh kebingungan. "Itu artinya kau harus latihan lebih keras lagi, Thera! Cobalah untuk kendalikan tubuhmu seperti air mengalir. Fokuslah dan jangan melawan arah angin." "Itu sepertinya terdengar sulit, Nek!" "Tidak jika kau mau berusaha. Jika kau sudah mampu mengendalikan tenaga dalammu, itu akan lebih mudah. Buatlah tubuhmu ringan seperti sebuah kapas yang melayang terbawa angin." "Ta-Tapi, Nek, dimana nenek mempelajari itu? Bukankah sangat sulit mendengar suara dengan frekuensi yang rendah?" "Tidak terlalu sulit jika kau sudah menguasai tehniknya," ujar Ling. "Bagaimana?" "Tehnik ini sebenarnya cukup sulit dilakukan oleh anak muda sepertimu. Tapi aku akan memberitahu cara kerjanya, yang harus kau lakukan adalah mematikan semua fungsi indramu. Lalu pusatkan fungsi indra pada pendengaranmu, jika kau mampu melakukan hal itu, kau akan bisa mendengar suara yang belum pernah kau dengar sebelumnya. Bahkan, suara terkecil sekali pun." "Aku ingin menguasai tehnik itu, Nek. Latihan apa yang harus aku lakukan?" "Sebelum kau menguasai tehnik itu, kau harus lebih dulu menguasai Tehnik Langkah Harimau, Thera! Jika kau sudah menguasai tehnik itu, aku akan mengajarimu Tehnik Pendengaran Kelelawar." Senyum lebar terkembang di bibir Bima, matanya bersinar penuh harapan. "Baik, Nek! Aku akan menguasai tehnik itu secepatnya dan akan menguasai semua tehnik dengan sempurna," seru Bima penuh semangat. "Sudah, jangan banyak bicara! Pergilah mandi, lalu makanlah sup ikan itu sebelum dingin." "Baik, Nek." Setelah itu, Bima mulai bangkit dan masuk ke kamarnya. Setelah cukup lama di dalam kamar, ia keluar dengan rambut sedikit basah. Dia kemudian pergi ke dapur untuk mengambil semangkuk sup ikan yang telah Ling siapkan untuknya. Kepulan uap hangat masih terlihat dari kuah sup. Bima pergi menuju teras belakang dan mulai duduk di sana. Pemuda itu menyantap makanannya dengan perlahan sambil sesekali menatap langit malam penuh bintang. Kesunyian dan dinginnya angin malam menemani makan malamnya. Sesekali Bima mengedarkan pandangannya pada hutan lebat di sekitarnya. Beberapa kali Bima melihat sekelebat bayangan hitam melintas diantara pepohonan. Namun, Bima masih duduk tenang dan mencoba mengabaikannya. Ia tidak mempedulikan hal itu. Yang ia pikirkan sekarang adalah ucapan neneknya tentang Tehnik Langkah Harimau yang harus segera ia kuasai. "Tidak melawan arah angin, bergerak seperti air mengalir, dan ringankan tubuh seperti kapas yang melayang terbawa angin. Aku harus segera menguasai tehnik itu secepatnya," gumam Bima di tengah kegiatannya. KREK!! Tiba-tiba, terdengar suara patahan ranting dari arah hutan. Suara itu cukup nyaring sampai membuat Bima melihat ke arah hutan cukup lama. Awalnya, Bima mengira suara itu berasal dari hewan liar yang melintas dan tidak sengaja menginjak ranting pohon. Tidak aneh juga karena hutan di sekitar rumah Bima masih sangat lebat dengan pepohonan dan sudah pasti masih banyak hewan liar yang hidup di sana. Namun, saat Bima melihat lebih jelas ke kedalaman hutan, bayangan hitam itu kembali terlihat bergerak cepat diantara pepohonan. Namun, Bima tahu persis sosok dibalik bayangan itu bukanlah hewan. Secara perlahan, Bima menaruh mangkuk berisi sup ikan itu di sampingnya kemudian mulai berjalan mendekati pepohonan. Bima menatap secara seksama kearah hutan, lalu tiba-tiba bayangan itu kembali muncul beberapa meter di hadapannya. Bima semakin mendekat beberapa langkah karena penasaran. Bayangan itu bergerak sangat cepat sehingga Bima tidak dapat memastikan sosok di balik bayangan tersebut. Lalu tiba-tiba, dari arah samping terdengar suara tawa keras seorang pria. Bima langsung menoleh cepat kearahnya dan melihat seorang pria tengah berdiri di sana menatapnya dengan senyum lebar terkembang di pipinya. Mata kuning menyala menatap Bima, membuat pemuda itu sedikit terkejut. Bima masih menatapnya untuk beberapa saat sampai sosok itu mulai berbicara. "Tidak salah lagi, HARIMAU...." ucap sosok itu penuh penekanan. "Harimau? Apa maksudmu?" tanya Bima tidak mengerti maksud ucapan sosok tersebut. Sosok itu kembali mengeluarkan tawa kerasnya seperti orang gila. "Tidak kusangka, ternyata masih ada," ucapnya sambil senyum menyeringai. Bima yang masih tidak mengerti maksud ucapannya hanya memasang tatapan dingin. "Siapa kau? Apa maumu?" tanya Bima kembali. "Tunggulah sebentar lagi! Jika sudah saatnya, kau harus siap dengan semuanya!" ujarnya diikuti tawa kerasnya sekali lagi. Setelah itu, ia melesat cepat masuk ke dalam hutan. Bima berpikir orang itu adalah pencuri yang sedang mengintai rumahnya. Karena tidak ingin membiarkan seseorang pun mengganggu kehidupannya, Bima bernait mengejar sosok tersebut. Baru saja hendak melangkah, suara Ling dari belakang menghentikannya. "Biarkan saja, Thera. Jangan mengejarnya." Setelah berkata demikian, Ling kembali masuk ke dalam rumah. Bima menatap sesaat ke dalam hutan sebelum akhirnya melangkah kakinya kembali ke teras untuk melanjutkan makan malamnya. Sementara itu, di suatu ruangan yang gelap, seorang perempuan tengah terbaring sendirian tidak sadarkan diri, yang tidak lain adalah Leona. Beberapa saat kemudian, jari Leona terlibat sedikit bergerak diikuti matanya yang perlahan mulai terbuka. "Aghh ...." Leona berusaha mendudukan dirinya sambil merintih merasakan pegal di kakinya. Leona mengedarkan pandangannya menatap sekeliling. Matanya membulat lebar saat menyadari dirinya tengah berada di dalam ruangan kosong yang sangat kumuh dengan suasana gelap yang membuat suasana terasa mencekam. "Dimana aku?" Leona berusaha tenang dan mencoba untuk mengingat kembali peristiwa yang telah ia lalui dan alasan kenapa ia bisa berada di dalam ruangan tersebut. Namun, kepala Leona terasa sangat sakit seperti habis terbentur. Leona berusaha berdiri dan berjalan ke arah dinding untuk tumpuan tangannya agar membantunya tetap berdiri. Perlahan ia mulai melangkah kakinya menyusuri ruangan itu untuk mencari letak pintu keluar. Namun, tawa keras tiba-tiba terdengar dari arah pojok ruangan. "MAU KEMANA KAU?" serunya dengan keras terdengar menggelegar sampai memenuhi ruangan. Leona yang mendengar itu langsung terjatuh saking terkejutnya, dia memalingkan pandangannya ke arah teriakan tersebut dan terlihat mata kuning menyala di antara kegelapan. Seketika Leona mengingat kejadian yang terjadi sebelumnya. Lehernya dipukul oleh sosok misterius sampai membuatnya tak sadarkan diri. Setelah itu, Leona dibawa ke sebuah Gedung Tua di belakang Akademi olehnya. Dalam sekejap, aliran darah Leona berdesir sangat cepat dan detak jantungnya terpompa dengan hebat. Saking terkejut, Leona hampir tidak bisa bernafas. "Si-Siapa kau? Ja-Jangan dekati aku! Pergi!" jerit Leona Sosok itu perlahan melangkah mendekat ke arahnya Leo dengan senyum menyeringai yang menyeramkan. Leona semakin ketakutan dibuatnya, ia langsung bangun dan mencari letak pintu keluar. Beruntung, letak pintu itu tidak terlalu jauh dari tempatnya. Leona langsung berlari keluar dari sana, menuruni beberapa anak tangga hanya bermodalkan instingnya karena kurangnya cahaya di dalam sana. Setelah berhasil melewati semua anak tangga, Leona yang melihat pintu keluar lainnya langsung berlari melewatinya dan akhirnya berhasil keluar dari sana. Leona menoleh ke belakang dan melihat sebuah Gedung Tua di belakang. Ia mengenali tempat tersebut yang berada di sekitar Akademi. Dia terus berlari sekuat tenaga berharap sosok menyeramkan itu tidak mengejarnya. Ia kembali menoleh ke belakang, tapi naas, ia tersandung batu besar hingga ia jatuh tersungkur dan kesulitan untuk bangun. Lalu tiba-tiba, sosok itu sudah berada di hadapannya tengah menatapnya dengan senyum menyeringai. Matanya kuning menyala dengan dua gigi taring keluar dari mulutnya. Tubuh Leona bergetar hebat. Bibirnya membisu tapi dia masih mampu untuk menggerakan tubuhnya. Ia berusaha merangkak menjauhi sosok itu. "Pergi! Jangan dekati aku!" jerit Leona. Sosok itu masih menatapnya dengan senyum menyeringai. Lidah runcingnya keluar, menjilat bibir atasnya dari sisi kiri ke sisi kanan. Sosok itu mencengkram kaki Leona dengan keras sampai membuatnya berteriak kesakitan sambil meronta-ronta berusaha melepaskan diri. Namun, sosok itu tidak mempedulikan jeritan Leona. Ia mulai membuka mulutnya dengan lebar, menampakan dua taring panjang di mulutnya yang meneteskan lendir kental. Tanpa peringatan, sosok itu langsung menggigit kaki Leona dengan kasar, membuat perempuan itu menjerit kesakitan. Tidak ada satu pun tanda-tanda seseorang akan datang menyelamatkannya. Beberapa saat kemudian, Leona kembali tidak sadarkan diri karena mengalami ketakutan yang luar biasa. "Hei, apa yang kau lakukan, Bung?" Tiba-tiba, sebuah suara dari arah belakang mengejutkan sosok itu. Ia berbalik cepat dan melihat seorang pemuda tengah berdiri sambil menatapnya kebingungan. Pemuda itu bernama Byron yang merupakan salah satu pelajar di Akademi Bachalpsee. Seumuran dengan Bima dan termasuk anak dari Bidang Beladiri yang duduk di kelas 1-1. Byron membelalakan matanya saat melihat rupa sosok itu yang terlihat menyeramkan. "Astaga! Kau ini mahluk apa, Bung? Kenapa rupamu menyeramkan sekali? Kau ini manusia asli apa manusia jadi-jadian?" ujar Byron bertubi-tubi saking terkejutnya. Sosok itu menatap tajam pada Byron, ia mulai berdiri dan melangkah ke arahnya. Byron melangkah mundur secara perlahan. "Hei, kenapa kau mendekat, Bung? Jawab dulu pertanyaanku! Kau ini manusia apa bukan?" Namun, sosok itu mengabaikan ucapan Byron. Dari tatapannya, ia terlihat sangat marah. Rahangnya mengencang geram dengan gigi bergemericik. Lalu tanpa aba-aba, sosok itu melesat cepat ke arah pemuda itu sambil membuka mulutnya lebar-lebar bersiap menerkam Byron.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN