Beberapa Jam Sebelumnya
Matahari baru saja tenggelam di ufuk barat dan sinarnya sudah sirna di telan malam. Keadaan Akademi sangat hening karena semua orang sudah pulang ke rumahnya, kecuali satu orang.
Byron Arctos, pemuda berusia 20 tahun yang tengah menjalani kehidupan remajanya dengan bersekolah di Akademi Bachalpsee. Dia mengikuti Bidang Keahlian Beladiri dan duduk di Kelas 1-1.
Beberapa jam setelah bel pulang berbunyi, Byron masih berada di dalam kelasnya, duduk terdiam dengan kepala menelungkup pada tangan di atas meja. Matanya terpejam dan mulutnya sedikit terbuka, ia tengah tertidur pulas di ruangan kelasnya.
Hal ini sudah menjadi kebiasaannya sejak satu bulan terakhir. Kehidupannya yang keras membuatnya jarang tidur malam, sehingga membuatnya selalu mengantuk saat siang hari, terutama saat berada di Akademi.
Beberapa jam telah berlalu, ia mulai membuka matanya perlahan dan menatap sekeliling ruangan. Byron mengangkat kedua tangannya tinggi, meregangkan tubuhnya sambil menguap lebar. "Ah ... lagi-lagi aku ketiduran. Sudah jam berapa ini?" gerutunya. Ia berjalan mendekati jendela dan menatap langit yang sudah gelap.
"Sial! Sudah malam ternyata." Byron mulai berjalan cepat keluar dari kelas. Menyusuri koridor sepi sendirian dan akhirnya keluar dari Gedung Akademi.
Setelah berjalan cukup jauh, Byron melihat seorang pria bersama dengan seorang perempuan jauh di hadapannya. Namun, dia tidak dapat memastikan apa yang sedang mereka lakukan. Dia pun melangkah mendekati mereka dan mendengar jeritan histeris dari perempuan tersebut. Ia segera berlari cepat menghampiri mereka.
Saat dia memanggil mereka dan membuat pria tersebut menoleh ke arahnya, Byron sangat terkejut saat melihat rupa dari wajah pria tersebut yang terlihat sangat mengerikan.
***
BUGH!!
Tanpa peringatan, pria tersebut tiba-tiba melesat ke arah Byron dan langsung melayangkan pukulan ke wajahnya, membuat pemuda itu terhempas beberapa langkah ke belakang dengan keadaan tubuh masih berdiri tegak.
Byron mulai merasakan perih di tepi bibirnya akibat pukulan itu. Dia menyeka ujung bibir kirinya dengan punggung tangannya. Pemuda itu mendengus kasar saat melihat bercak darah di tangannya. "Haa ... Ada apa denganmu, Bung? Kenapa kau tiba-tiba memukulku? Kau ini kenapa?" Byron masih terlihat tenang meskipun pria di hadapannya terus menatapnya dengan tajam.
Pria itu menekan giginya geram. "Pergi dari sini, Bocah Sialan! Kau mengganggu makan malamku!" ucapnya dengan nada tinggi.
Byron menatap sekeliling. "Makan malam? Dimana? Aku tidak lihat ada makanan di sini?"
"Bocah Bodoh! Lebih baik kau segera pergi dari sini! Kalau tidak, kau akan kujadikan makan malam seperti perempuan ini," ujarnya menunjuk Leona yang tengah terkapar tidak sadarkan diri.
Byron memicingkan matanya, mencoba melihat tubuh perempuan di samping pria tersebut. Dia terlihat terbaring dengan mata terpejam. Kakinya terlihat berlumuran darah segar dan darah itu masih keluar dari luka akibat gigitan pria tersebut.
"Hei, hei, tunggu dulu! A-apa yang sudah kau lakukan padanya, Bung? Jangan bilang perempuan itu-"
"Ya, kau benar, Bocah! Perempuan ini adalah santapanku malam ini. Dan kau akan kujadikan sebagai hidangan pembukanya."
"Jangan bercanda, Bung! Yang benar saja!" Byron melangkahkan kakinya mendekati pria itu. Mencoba melihat lebih jelas tubuh Leona yang tengah terkapar.
Byron menghentikan langkahnya saat mendengar geraman dari pria di hadapannya. "Tunggu dulu, kau bisa menggeram, Bung? Yang benar saja! Kau ini mahluk apa sebenarnya, hah? Kau vampir, siluman, atau apa?" tanya Byron bertubi-tubi.
Raut wajahnya terlihat semakin kesal. Rahangnya mengencang geram melihat tingkah Byron yang seolah tidak ketakutan sedikit pun saat berhadapan dengannya.
Byron mengangkat satu alisnya."Kenapa diam saja, Bung? Apa kau tidak mendengar suaraku? Baiklah, kalau begitu, aku akan lebih mendekat ke arahmu." Byron kembali melangkahkan kakinya.
Sekali lagi, tanpa peringatan, pria tersebut kembali melesat ke arah Byron dan langsung melayangkan pukulan ke perutnya. Membuat pemuda itu terbungkuk untuk beberapa saat, tapi kakinya tidak berpindah dari tempatnya.
Byron menatap pria tersebut dengan tatapan dingin tanpa ekspresi. Dengan cepat, dia mencengkram lengan pria itu yang masih menempel di perutnya.
"Kenapa kau terus memukulku, Bung? Apa aku terlihat lemah di matamu, sehingga kau mengira bisa mengalahkanku dengan pukulanmu itu? Kali ini, raut wajah Byron berubah, tatapan dingin itu masih tergambar di wajah tanpa ekspresinya.
"Ya, kau hanyalah seorang Bocah Bodoh!" balas pria tersebut.
"Apa aku masih terlihat lemah? Byron semakin menguatkan cengkramannya.
Pria itu mencoba menahan rasa sakit di lengannya akibat cengkraman Byron. Namun, semakin lama rasa sakit itu semakin luar biasa. Tulang lengannya serasa akan remuk jika dia terus membiarkan Byron mencengkram lengannya.
"Lepaskan tanganku, Bocah Bodoh!"
"Memohonlah!" ujar Byron.
Pria itu mendengus kasar dan terdengar geraman di mulutnya. Dia menarik lengannya dengan paksa. Namun, cengkraman Byron lebih kuat dari dugaannya. Ia terus berusaha terlepas dari cengkraman Byron, tapi semakin dia mencoba melepaskan diri, cengkraman Byron terasa semakin kuat.
"Kenapa? Tidak bisa terlepas, hah? ujar Byron mengoloknya. Telapak tangan Byron memang lebih lebar dari pada pemuda seusianya. Hal itu membuatnya dengan mudah mencengkram lengan pria di hadapannya.
Pria itu mulai meronta-ronta berusaha terlepas dari cengkraman Byron. Namun, cengkramannya terasa semakin menyakitkan dari sebelumnya. Lengannya mulai mati rasa karena aliran darahnya telah berhenti cukup lama. Kulit lengannya pun mulai berganti warna menjadi biru.
Tidak punya pilihan lain, pria itu langsung menghantam wajah Byron dengan pukulan kerasnya. Namun, pukulan itu seperti tidak berdampak apapun pada Byron. Pemuda itu masih menatapnya tanpa ekspresi setelah pukulan keras menghantam wajahnya.
Merasa tidak ada cara lain, pria itu sekali lagi melayangkan pukulan ke wajah Byron. Beberapa inci sebelum menghantam wajahnya, Byron mencengkram leher pria itu dengan kuat sampai mulutnya terbuka lebar untuk berusaha bernafas.
"Khek ... khek ...." Pria itu mulai kesulitan bernafas.
"Kau terus melayangkan pukulanmu tanpa mengetahui kekuatan lawanmu, Bung!" Byron lebih menguatkan cengkramannya dan mengangkat lengannya, membuat tubuh pria itu terangkat dengan mudahnya.
Pria itu terlihat semakin kesulitan bernafas, kakinya menendang ke segala arah dan tangannya berusaha melepaskan cengkraman Byron.
"Diamlah! Aku akan melepaskanmu, tapi kau harus menjawab pertanyaanku. Aku tanya sekali lagi, kau ini mahluk apa dan apa yang sudah kau lakukan pada perempuan itu?"
"Khek ... khek ...." Suara tersedak kembali terdengar dari mulutnya. Pria itu tidak menjawab ucapan Byron dan terus berusaha melepaskan diri. Ia mulai mencakar lengan Byron dengan kukunya yang runcing. Namun, sia-sia saja, cengkraman Byron semakin membuatnya kesulitan bernafas.
Gerakan dari pria itu mulai melemah, mulutnya semakin terbuka lebar dan bola matanya bergulir ke atas, menyisakan warna putihnya saja. Namun, sosok itu masih berusaha bernafas walau pun saluran udara di lehernya sudah sangat sempit.
Byron menaikan satu alis dan menatapnya dengan bingung. "Padahal sudah kuberi kesempatan, tapi kau masih tidak mau menjawab. Tunggu dulu, apa karena cengkramanku terlalu kuat, ya?"
Pria itu sudah tidak bergerak sama sekali. Perlahan, hembusan nafas beratnya pun mulai tidak terdengar. Lengan dan kakinya tidak lagi berontak, melainkan jatuh ke bawah dalam keadaan lemas.
Byron menggoyangkan tubuhnya, berusaha untuk membuatnya kembali sadar. Namun, tiba-tiba asap hitam keluar dari tubuh pria itu. Tubuhnya terasa mengecil dan rupa wajahnya perlahan berubah menjadi sosok manusia.
Gigi taringnya perlahan memendek dan cakar di lengannya mulai menumpul. Pupil mata kuningnya kembali menjadi berwarna hitam. Jauh berbeda dari wujud sebelumnya.
Byron yang terkejut langsung melepas cengkramannya, membuat pria itu jatuh lemas ke tanah. "Astaga! Kau ini mahluk apa sebenarnya, Bung? Kenapa wajahmu bisa berubah?"
Pria itu langsung memegangi lehernya yang masih terasa tercekik dan terbatuk beberapa kali. Ia masih terlihat kesulitan bernafas. Beberapa saat kemudian, ia menatap Byron dengan tajam." Sialan! Tidak kusangka kekuatanmu sangat mengerikan," ujarnya kemudian terbatuk lagi.
"Ha! Sudah kuduga kau itu manusia," seru Byron dengan lantang sambil menunjuk pria itu.
Sesaat kemudian, raut wajahnya kembali berubah. "Tunggu dulu, sepertinya wajahmu tidak asing. Aku pernah melihatmu sebelumnya, tapi dimana ya?"
Beberapa saat mencoba mengingat, akhirnya Byron menemukan titik terang dalam ingatannya. "Ha! Aku pernah melihatmu di Akademi, kalau tidak salah kau Pembimbing Keahlian Beladiri, kan?"
Ya, pria itu tidak lain dan tidak bukan adalah Nix, Pembimbing Keahlian Beladiri di Akademi Bachalpsee. Alasan dia bisa bergerak dengan cepat dan juga rupanya berubah menjadi menyeramkan karena dia adalah Ras Valosa. Namun, kekuatannya ternyata tidak mampu mengalahkan Byron.
Nix masih terlihat memegangi lehernya. Ia menatap Byron dengan tajam. "Ya, kau benar. Aku ingin tahu siapa namamu, Bocah?"
"Untuk apa aku memberitahumu?"
"Cih! Sebutkan saja namamu, Bocah!" ucap Nix dengan nada tinggi.
"Byron Arctos. Kau bisa memanggilku Byron."
"Byron? Baiklah aku akan mengingat namamu."
"Sekarang giliranku bertanya kepadamu, mahluk apa kau sebenarnya? Apa kau manusia vampir atau manusia siluman?
Nix mendengus kasar. "Bocah Bodoh! Aku bukan vampir ataupun siluman. Aku adalah-"
BUGH!!
Belum selesai Nix berbicara, sebuah pukulan keras menghantam tepat di tulang hidungnya. Membuat pria itu terlempar jauh ke belakang, tubuhnya terhempas menyusuri tanah. Akibat pukulan itu, ia langsung terkapar tidak sadarkan diri.
Byron mengipas-ngipas tangannya setelah memukul Nix. "Dasar Orang Gila!" Byron kemudian berjalan mendekati Leona yang sedari tadi tidak sadarkan diri dengan kaki berlumur darah akibat gigitan Nix.
Byron memandanginya sesaat sebelum mengangkat tubuh Leona dan membopongnya ke suatu tempat. Beberapa langkah berjalan, Byron menghela nafas kasar. "Hah ... merepotkan saja."
Byron berjalan dengan tenang sampai tubuhnya benar-benar hilang di telan kegelapan malam.
***
Esok paginya, keadaan Akademi seperti hari-hari sebelumnya. Bima dan Arga berjalan di koridor berdampingan sambil berbincang ringan. Sebenarnya, hanya Arga yang berbicara, pemuda di sampingnya hanya mendengarkannya sambil sesekali menanggapinya dengan anggukan ataupun ucapan singkat.
"Ha ... Sepertinya aku tidak akan bisa sepertimu, Bim." ucap Arga.
"Maksudmu?" tanya Bima.
"Itu soal beladiri, sepertinya kemampuan beladiriku tidak akan pernah berkembang. Berbeda denganmu, kau sudah sangat ahli bertarung."
"Kenapa kau berbicara seperti itu?" tanya Bima lagi.
"Bayangkan saja, saat orang lain sudah mulai menguasai tehnik-tehnik hebat, aku masih belum bisa menguasai Tehnik Pernafasan Dasar," tutur Arga.
Perlu diketahui, Arga merupakan salah satu anak yang paling kesulitan untuk menguasai Tehnik Beladiri, baik itu dalam Tehnik Bertarung ataupun mengendalikan tenaga dalam. Bahkan, Tehnik Pernafasan Dasar pun yang merupakan pondasi dasar dalam pengendalian tenaga dalam belum mampu ia kuasai.
Bukan tanpa alasan, Arga sama sekali tidak memiliki minat dan bakat di Bidang Keahlian Beladiri. Ia terpaksa mengikuti bidang tersebut karena keinginan kedua orang tuanya yang menginginkan Arga menjadi petarung kuat dan bisa melindungi orang-orang lemah. Namun, tetap saja, butuh waktu lama untuk Arga menguasai itu semua.
"Kau tahu? Tidak ada yang sulit jika kau mau berusaha." Ucapan Ling tiba-tiba melintas di pikiran Bima. Yang Ling katakan memang benar, asalkan kita mau berusaha, kita pasti mampu mendapatkan apa yang kita inginkan.
Arga semakin kehilangan semangat dan mulai tertunduk lesu. Nyatanya, keberadaannya di Bidang Beladiri hanyalah untuk menyenangkan hati kedua orang tuanya. Namun, Arga masih belum menemukan apa yang sebenarnya dia inginkan.
Mereka terus melangkahkan kaki sampai hampir tiba di koridor yang bercabang. Bima menghentikan langkah karena mendengar suara langkah kaki cepat sedang menuju ke arahnya.
"Tunggu, Ar!" ucap Bima menghentikan langkah Arga.
"Ada apa, Bim?" tanya Arga.
"Kau mendengarnya?"
"Mendengar apa? Aku tidak mendengar apapun."
Tiba-tiba, seseorang muncul dari koridor sebelah kiri dan langsung berbelok tanpa melihat sekitarnya. Bima yang sudah mendengar langkah kakinya sudah mengetahui bahwa orang tersebut tengah berlari ke arahnya.
Saat orang itu berpapasan dengannya, ia menyampingkan tubuhnya dan berhasil menghindari tabrakan dengan orang tersebut. Refleknya yang cepat membuatnya dengan mudah menghindar. Namun, berbeda dengan Arga yang tidak mempunyai reflek seperti Bima.
Alhasil, mereka bertabrakan dan membuat Arga terhempas jauh ke belakang dan jatuh di lantai koridor.
"Agh ... kepalaku!" rintih Arga memegangi kepalanya dan berusaha mendudukkan tubuhnya.
Berbeda dengan Arga yang langsung terhempas ke belakang, orang yang menabraknya masih terlihat berdiri tegak tanpa berpindah dari tempatnya. Orang itu adalah Byron.
"Astaga! Maafkan aku, Bung. Aku sedang terburu-buru tadi, jadi aku tidak menyadari keberadaanmu. Salahmu juga tidak menghindar," ujar Byron.
Byron hendak kembali melangkahkan kakinya tanpa niat sedikitpun membantu Arga untuk berdiri. "Kalau begitu, aku pergi dulu. Lain kali berhati-hatilah, Bung."
Sesaat sebelum kakinya melangkah, Bima mencengkram bahu Byron dengan erat dengan tatapan dinginnya. "Minta maaflah dengan benar," ucap Bima datar tanpa ekspresi.
Byron terdiam beberapa saat sebelum menoleh ke belakang. Ia menatap Bima dengan tatapan yang sama, tatapan dingin tanpa ekspresi. Kontak mata keduanya seketika mengubah aura di sekitar menjadi dingin dan terasa mencekam.
Apakah yang akan terjadi selanjutnya? Apakah akan ada pertarungan diantara mereka? Jika mereka bertarung, siapakah yang akan menang?