11. Pertemuan Bima dan Byron

2255 Kata
Kontak mata itu terjadi beberapa saat sebelum Byron akhirnya menghela nafas dan menuruti ucapan Bima. Bukan karena takut, hanya saja dia sedang terburu-buru saat ini. "Baiklah, baiklah. Aku akan meminta maaf dengan benar. Sekarang lepaskan tanganmu dari bahuku, Bung!" pinta Byron. Bima pun mulai melepaskan cengkeramannya dari bahu Byron. Namun, tatapan dinginnya tidak berpaling dari pemuda itu. Setelah menepuk-nepuk bahunya bekas cengkraman Bima beberapa kali, Byron berjalan menghampiri Arga yang masih terduduk sambil mengelus-ngelus kepalanya yang membentur lantai. "Hei, kau baik-baik saja, Bung?" Byron mengulurkan tangannya untuk membantu Arga berdiri. "Ya, aku tidak apa-apa." Arga meraih tangan Byron. Dalam satu hentakan, Byron menarik Arga dengan kuat sampai pemuda itu terangkat dengan mudah dan terhempas di udara untuk beberapa saat. Arga merasakan detak jantungnya berhenti sesaat ketika tubuhnya mengapung di udara. Tubuhnya tidak terlalu ringan, bahkan bisa dibilang cukup proporsional. Begitu pun dengan Byron, tubuhnya tidak lebih besar darinya, tapi dia mampu mengangkat tubuhnya dengan mudah. Rasa terkejut Arga perlahan memudar saat melihat lengan bagian atas Byron yang sedikit tersingkap dan menampakkan otot lengannya yang cukup besar. Begitu pun dengan pemuda yang berada di beberapa langkah di belakang Byron, Bima, ia sama terkejutnya saat melihat tenaga Byron yang luar biasa. Namun, ekspresi wajahnya tidak menunjukkan itu. Dia tetap terlihat dingin dengan raut wajah tanpa ekspresi. "Maafkan aku karena telah menabrakmu, Bung," ucap Byron sambil menggaruk belakang kepalanya yang tidak gatal dengan mata terpejam. Ucapan itu tidak terdengar tulus. Namun, itu tindakannya lebih baik dari pada sebelumnya. Sambil mengelus-ngelus kepalanya yang masih terasa nyeri Arga membalas ucapan Byron, "Tidak apa-apa, kau tidak sepenuhnya salah. Salahku juga tidak menghindar tadi." "Tidak, tidak. Kau tidak salah sama sekali. Aku yang salah karena tidak melihat situasi." "Sudah, jangan terlalu diperpanjang. Aku hanya terkejut tadi karena kau tiba-tiba muncul," ujar Arga diikuti senyum kikuk. Byron menggaruk sebelah pipinya dan membalas senyuman Arga." Ah ... soal itu ... aku sedang terburu-buru, makanya aku berlari secepat mungkin agar cepat sampai ke kelasku." Arga mengangguk beberapa kali mendengar alasan Byron berlari di koridor. "Ah ... begitu rupanya." "Ngomong-ngomong, kalian dari kelas mana?" tanya Byron memecah keheningan. "Kami dari kelas 1-5. Kau sendiri dari kelas mana?" jawab Arga kemudian disusul pertanyaan. "Aku dari kelas 1-1," balas Byron. Arga hanya menanggapi ucapan Byron dengan anggukannya beberapa kali. "Baiklah kalau begitu, aku akan pergi ke kelasku sekarang," ucap Byron. "Ah ... baiklah. Kami juga akan melanjutkan perjalanan kami," balas Arga. "Sekali lagi, maafkan aku, Bung." "Sudahlah, tidak apa. Jangan terlalu dipikirkan. Aku bisa mengerti kau sedang terburu-buru," ucap Arga tersenyum sambil menepuk lengan bagian atas Byron. Byron melirik tipis ke arah lengannya, membuat Arga menghentikan tepukan itu. Raut wajahnya mulai canggung. "Baiklah kalau begitu. Sampai jumpa lagi, Bung." "Iya, sampai jumpa lagi." Byron menyentuh bahu Arga sesaat sebelum melangkahkan kakinya dari sana. Namun, langkahnya kini berbeda dari sebelumnya. Ia tidak terlihat terburu-buru dan hanya berjalan tenang meninggalkan mereka. Sementara itu, Arga mulai berjalan mendekati Bima yang tengah berdiri menghadapnya. Tatapan Bima masih tertuju pada Byron. Entah mengapa Bima merasakan ada sesuatu pada diri Byron yang ia sendiri tidak tahu itu apa. Setelah beberapa langkah berjalan, Byron menghentikan langkahnya kemudian berbalik menghadap Bima dan Arga. "Hei, kalian!" serunya. Mendengar itu, Arga membalikkan badannya menghadap Byron, sedangkan Bima yang sudah menghadapnya hanya menatapnya tanpa ekspresi. "Ya? Kau memanggil kami?" tanya Arga sambil menempelkan jari telunjuk di dadanya. "Ya. Aku belum tahu siapa nama kalian?" seru Byron. "Ah ... Namaku Arga dan ini temanku—" "Hei! Siapa namamu?" tanya Byron cepat sesaat setelah Arga menyebutkan namanya. Bisa saja ia mengetahui nama Bima dari Arga, tapi ia ingin Bima sendiri yang mengatakan namanya. Tatapannya kini terarah pada Bima. "Bima," jawabnya singkat masih dengan tanpa ekspresi. Setelah mengatakan namanya, Bima langsung membalikkan badannya dan pergi dari sana meninggalkan mereka. Arga yang melihat temannya mulai melangkah langsung menoleh pada Byron. "Ah ... kalo begitu, kami pergi dulu. Senang berkenalan denganmu." Arga berlalu dari sana menyusul Bima yang sudah lebih dulu berjalan melewati koridor berbelok. "Bima .... Tatapannya sangat menyebalkan," gumamnya merasa kesal saat melihat sorot mata Bima. Namun, di sisi lain, ia juga merasakan hal yang berbeda dari aura Bima. Entahlah apa itu, yang jelas ia mengetahui kalau Bima adalah pemuda yang kuat. Setelah itu, suasana menjadi hening, tidak ada pergerakan ataupun perkataan yang keluar dari mulut Byron. Ia menggaruk pipinya perlahan dan mulai merasa kebingungan. "Hmm ... Tadi aku mau kemana ya?" gumamnya. Beberapa saat terdiam kebingungan, Byron membulatkan matanya lebar dan mengingat kembali tujuan awalnya. Ia langsung mengambil langkah dan berlari cepat menuju kelasnya. Alasan dia ingin segera sampai ke kelasnya adalah saat ini ia sudah sangat terlambat. Akan sangat merepotkan jika ia sampai dihukum oleh pembimbing karena terlambat mengikuti pelajaran. Biasanya, pembimbing akan menghukumnya untuk berdiri di depan kelas sampai jam pelajaran selesai. Meskipun begitu, Byron tidak pernah serius mengikuti pelajaran. Ia selalu tertidur saat pembimbing sedang mengajar di kelasnya. Namun, Byron bukanlah pemuda nakal. Ia hanya pemuda pekerja keras yang tidak mempunyai waktu cukup untuk tidur. Hampir setiap hari, Byron selalu terlambat masuk kelas. Begitu pun dengan pagi ini, ia bangun kesiangan dan bergegas pergi ke Akademi tanpa banyak persiapan. Ia berlari di sepanjang koridor, berharap pembimbing belum masuk dan mengajar di kelasnya. Namun, Byron terlalu tergesa-gesa, sehingga tidak melihat kondisi sekitar. Alhasil, saat koridor berbelok, ia tidak berpikir ada orang di sana dan akhirnya terjadilah tabrakan dengan Arga. *** Keadaan ruangan kelas 1-1 sangat berisik, seisi ruangan dipenuhi dengan suara bising yang memekakkan telinga. Suara mereka saling beradu dan hampir terdengar menyerupai suara lalat. Entah apa yang sedang mereka bicarakan, tapi obrolan mereka sepertinya tentang hal yang lucu, sehingga membuat mereka tertawa terbahak-bahak. Tiba-tiba, pintu kelas terbuka dengan cepat sehingga menimbulkan suara benturan yang keras. Seseorang yang baru saja datang menggesernya terlalu keras sehingga pintu terbentur dengan pembatas dan menghasilkan bunyi yang mengagetkan. Seisi kelas yang mendengar suara itu terkejut dan dalam sekejap terdiam. Mereka memalingkan pandangannya ke arah pintu. Seseorang di bibir pintu terlihat mengedarkan pandangannya pada setiap sudut ruangan untuk mengecek situasi di sana. Orang itu adalah Byron yang baru saja sampai ke kelasnya. Mereka menatap Byron beberapa saat kemudian melepaskan pandangan darinya dan kembali melanjutkan pembicaraan mereka sehingga kelas kembali menjadi ribut. Saat mengetahui keadaan kelas yang berisik, Byron menghela napas lega karena pembimbing belum masuk ke kelasnya. Ia tidak harus berdiri di depan kelas karena keterlambatannya hari ini. "Hah ... syukurlah pembimbing belum masuk. Aku bisa sedikit bersantai pagi ini." Byron melangkah menuju kursinya yang berada di bagian paling belakang. Beberapa saat kemudian, ia menghela napas kasar dan memasang wajah malas. "Ha ... sepertinya kelas ini tak bisa tenang, setiap hari selalu saja ribut, padahal aku kan ngantuk," gerutu Byron sambil berjalan lesu menuju kursinya. Sesaat kemudian, dia menguap sambil menggaruk pipinya yang sedikit gatal. Dia menarik kursinya lalu duduk dengan tenang sambil menatap papan tulis yang berada di depan. Sedikit demi sedikit matanya menjadi berat dan perlahan-lahan mulai terpejam. Dia menguap lagi dengan lebar dan dalam sekejap dia sudah tidur dengan kepala menelungkup pada lipatan tangannya di atas meja. Byron yang dijuluki Si Tukang Tidur di kelasnya memang pantas mendapat julukan itu. Bayangkan saja, dalam keadaan kelas yang berisik, dia mampu tertidur dengan pulas, seperti orang yang tidak tidur selama setahun. Walaupun begitu, tidurnya di kelas ia gunakan sebagai pengganti tidur malam yang jarang dia cicipi. Bagaimana pun juga, ia masih harus menyempatkan waktu untuk tidur, 'kan? Bagaikan seekor beruang yang sedang hibernasi, Byron tertidur pulas tanpa terganggu sedikit pun oleh suara bising di sekitarnya. Namun, selama dirinya tertidur di kelas, tak pernah ada yang berani mengusiknya. Entah karena takut padanya atau karena mereka tidak tertarik untuk mengganggunya. *** Seperti biasa, pada saat jam pelajaran, Dion dan para komplotannya memilih bolos dan menghabiskan waktunya dengan merokok. Namun, kali ini aksi mereka bisa dibilang cukup nekat. Bagaimana tidak, mereka memilih merokok di dalam toilet akademi yang umumnya digunakan oleh banyak orang. Untuk mencegah seseorang masuk ke dalam toilet dan mendapati mereka sedang merokok, mereka menempelkan sebuah kertas yang bertuliskan 'SEDANG PERBAIKAN' di pintu utama toilet dengan ludah sebagai perekatnya. Mereka asik merokok di dalam toilet tanpa menyadari bahwa kertas peringatan yang mereka buat sudah tak lagi menempel di pintu karena mungkin ludah pada kertasnya sudah kering ataupun tertiup angin. Tanpa kertas peringatan itu, seseorang bisa saja masuk tanpa mengetahui bahwa Dion dan kedua temannya ada didalamnya. Dan itu terjadi pada seorang pemuda dari Kelas 1-1. Dengan terburu-buru dia membuka pintu utama dan masuk kedalam salah satu toilet karena terdesak oleh panggilan alam. Dia masuk tanpa melihat keadaan di sekitarnya. Dion dan kedua temannya saling menatap satu sama lain dengan bingung saat melihat pemuda itu masuk toilet tanpa menyadari keberadaan mereka. Beberapa detik sebelumnya, saat pintu utama terbuka, detak jantung ketiganya terasa berhenti sesaat saking terkejutnya. Mereka mengira bahwa yang membuka pintu toilet adalah pembimbing yang masuk untuk menangkap basah mereka yang tengah bolos pelajaran. Saat mengetahui dugaan mereka salah, mereka sedikit bernafas lega. Namun, jantung mereka masih berpacu dengan cepat. "Kau mengenalnya?" tanya Dion dengan tatapan tertuju pada pintu yang baru saja dimasuki pemuda tadi. Kedua temannya menggelengkan temannya. "Tidak, aku tak mengenalnya," jawab salah satunya. "Tapi, dia cukup berani untuk masuk ke sini dengan kertas peringatan yang sudah kita pasang di luar. Menurutmu, apa dia kuat?" tanya "Entahlah, tapi sepertinya dia punya cukup keberanian masuk ke dalam sini, mari tunggu dia keluar lalu kita hajar dia." Dion membuang puntung rokoknya ke lantai kemudian berdiri. Pemuda itu menginjak puntung rokoknya lalu meludah ke arah kiri. "Mari kita hajar orang ini." Dion dan kedua temannya menunggu di depan pintu toilet yang baru saja di masuki oleh orang itu. Selang beberapa menit kemudian, pemuda itu pun membuka pintu toilet dengan perasaan lega karena telah menuntaskan hajatnya. Satu detik kemudian, detak jantungnya berhenti sesaat ketika melihat Dion dan kedua temannya sedang berdiri di hadapannya dengan tangan terkepal sambil tersenyum ke arahnya. "Hai jagoan," sapa Dion dengan lembut sesaat sebelum melayangkan pukulan keras ke wajah pemuda tersebut. Tak berselang lama, pemuda tersebut lari tunggang langgang keluar dari toilet disusul oleh Dion dan kedua temannya yang mengejarnya dari belakang. Raut wajah pemuda itu terlihat ketakutan dengan hidung yang sudah mengeluarkan darah. Dia terus berlari dari kejaran Dion dan kedua temannya. Sampai pada akhirnya dia sampai di depan kelas lalu masuk ke dalam kelasnya (Kelas 1-1). Namun, Dion terus mengejarnya dan ikut masuk kedalam kelas itu. Emosi Dion sudah memuncak dan tidak akan hilang sebelum puas menghajar pemuda itu. Pemuda itu berusaha meminta maaf kepada Dion dengan hidungnya yang terus mengeluarkan darah segar. "Ma-Maafkan aku. Aku mohon maafkan aku. Aku tidak tahu apa salahku. Kenapa kalian memukulku?" ucap pemuda tersebut. Dia memang tidak mengetahui alasan mengapa dirinya dihajar oleh Dion dan kedua temannya. Bahkan sampai mengejarnya. Dion memukul wajah pemuda itu sampai dia terjatuh ke lantai, seisi kelas memusatkan perhatian mereka pada keributan itu. Namun, tak ada satu pun yang bergerak untuk membantu pemuda itu, padahal dia adalah teman sekelas mereka. Mereka hanya diam dan menonton. "Kau tidak bisa membaca, Bodoh! Kau lihat, kan ada tulisan yang menempel di pintu?" bentak Dion dengan nada tinggi. "A-Aku sungguh tidak tahu, aku tidak melihat ada tulisan di pintu tadi," jawab pemuda itu sambil menahan rasa sakit. Dion semakin kes dan menganggap kalau pemuda di hadapannya hanya mengada-ada dan beralasan saja. Dion melayangkan tendangan keras tepat di mulut pemuda itu sampai membuatnya terguling-guling cukup jauh dan membentur sebuah kursi di belakang. Pemuda itu merintih kesakitan sambil memegang mulutnya yang terkena tendangan Dion. Akibat tendangan Dion, mulutnya terasa perih. Dinding bibirnya robek dan separuh giginya terasa longgar. Dion berjalan mendekati pemuda itu. Dia memegang kerahnya lalu mulai mengangkat tubuhnya."Kalau kau seorang pengecut jangan sok menjadi seorang jagoan, Bodoh!" Dion menghempaskan pemuda tersebut ke lantai sampai terdengar suara memekik keluar dari mulutnya. Dion hanya tersenyum puas melihatnya terkapar di lantai sembari merintih kesakitan. Dion mengedarkan pandangannya, menatap seisi ruangan dan tak terlihat seorang pun yang menatapnya. Tatapan semua orang hanya tertuju pada pemuda malang yang tengah merintih kesakitan di lantai. Dion tersenyum angkuh karena merasa di kelas ini tak ada yang berani melawannya. Dia pun membalikkan badan dan hendak berjalan keluar dari kelas itu. Saat kakinya terangkat dan hendak melangkah, Dion dihentikan oleh sebuah gebrakan keras dari belakang. Suaranya seperti sebuah tangan yang memukul keras permukaan meja. Dion berbalik dan mencari siapa yang membuat suara gebrakan tersebut. Pandangannya berhenti pada seorang pemuda yang tengah berdiri sambil menatapnya dengan datar tanpa ekspresi. Dion mendengus remeh. "Apa kau yang menggebrak meja barusan, Sialan?" Pemuda tersebut hanya bungkam tidak menanggapi ucapan Dion. Tatapannya masih sama seperti sebelumnya, datar tanpa ekspresi. Dion mendengus kesal. "Cih! Di kelas ini banyak anak yang merasa jagoan rupanya." Dion menghampiri pemuda itu. Dia mencengkram kerahnya erat. Pemuda itu hanya menatap Dion dengan datar. Lalu dalam sekejap, lengan Dion yang berada di kerahnya langsung di cengkram kuat sampai Dion meringis kesakitan. "Le-Lepaskan tanganku, Sialan!" Dion berontak berusaha melepaskan lengannya dari cengkraman pemuda itu. Namun, tenaganya tidak mampu membuatnya terlepas dari cengkraman pemuda di hadapannya. Pemuda itu adalah Byron. Beberapa menit sebelumnya saat ia tertidur, sesuatu menggoyangkan mejanya sampai ia terbangun dari tidurnya dan itu adalah kesalahan besar. Selama ini, tidak pernah ada yang berani mengganggu tidurnya. Dengan tatapan datarnya, Byron merapatkan giginya geram. "Apa kau tidak bisa tenang, Bung?" ujarnya. Dion dalam masalah besar. Ia tidak tahu sedang berhadapan dengan siapa. Si Tukang Tidur dengan tenaga yang luar bisa. Dion tidak punya pilihan lain, ia harus segera meredam amarahnya atau paling tidak, segera melarikan diri darinya. Apa yang akan terjadi selanjutnya? Apakah akan ada pertarungan antara Si Anak Nakal, Dion dengan Si Tukang Tidur, Byron? Jika memang terjadi pertarungan, siapakah yang akan menang?
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN