12. Amukan Si Tukang Tidur

1500 Kata
Dion menelan sedikit air liurnya saat melihat tatapan tajam Byron. Byron yang sedari tadi tidur dan tak terganggu oleh suara keras, sekarang sudah bangun karena terusik saat seseorang membentur kursinya dan saat ini dia dalam keadaan yang mengantuk dan marah. Byron perlahan melangkahkan kakinya menghampiri Dion dengan mata merahnya dan tangan yang sudah terkepal. Dion yang melihat itu langsung merasa berdebar dan seluruh tubuhnya gemetar, entah karena apa dia pun tak mengetahuinya. Dan tanpa dia sadari inilah sinyal dari tubuh saat berhadapan dengan ancaman yang berbahaya. Dion yang tadinya dikenal sebagai anak nakal yang pandai beladiri dan banyak bicara, sekarang terlihat seperti anak polos yang pendiam, terlihat dari raut wajahnya saat melihat Byron yang sedang marah menghampirinya. Dion yang selalu mencoba menjaga harga dirinya, sekarang mencoba terlihat tidak takut pada Byron, "Oh, jadi kau jagoan disini?" Dion mencoba terlihat berani padahal seluruh tubuhnya bergetar hebat saat mengucapkan itu. Byron hanya diam sambil terus berjalan kearah Dion dengan tatapan dinginnya. Tangannya sudah terkepal kencang seolah siap dilayangkan ke wajah Dion. Dion mencoba mengendalikan tubuhnya agar tak terlihat bergemetar, kakinya seakan-akan ingin pergi dari sana karena merasakan ancaman dan intimidasi yang hebat dari Byron, tapi dirinya menahannya dan terus mencoba terlihat berani agar harga dirinya tetap dipandang. "Kenapa kau mengganggu tidurku?" tanya Byron tepat dihadapan Dion dengan mata lurus menusuk pada mata Dion. Dion menelan air liurnya sesaat sebelum mengucapkan beberapa kata, "Apa aku harus peduli dengan urusanmu, hah?" jawabnya. "Kau tahu, aku paling benci pada orang yang mengganggu kesenangan orang lain, dan kau telah mengganggu kesenangan tidurku." ucap Byron dengan nada datar. Sekali lagi, Dion menelah air liurnya dengan susas payah, dalam keadaan itu dia masih mencoba terlihat berani dengan tawa paksanya, "Hahaha, kenapa aku harus peduli?" oceh Dion, "Tapi saat ini aku sedang malas menghajar orang. Kau beruntung sekarang karena aku harus pergi ke kelasku, akan kuhabisi kau lain kali." pungkas Dion dengan alasannya agat tak terlibat masalah dengan Byron. Dion memanfaatkan diamnya Byron untuk menepuk pipi kiri Byron beberapa kali agar terlihat lebih berani, "Akan kuhajar kau lain kali, tukang tidur!" ucapnya setelah menepuk pipi Byron. Sesudah berkata demikian, Byron membalikan badannya dan mulai melangkah untuk keluar dari Kelas 1-1 meninggalkan Byron. Dion sedikit lega karena perasaan terintimidasinya tidak berarti apa-apa. Setidaknya itu yang dia pikir. Saat kakinya baru saja bergerak, tangan Byron yang besar mencengkram bahunya. Merasa itu hanya intimidasi Byron dan bukan apa-apa, dia kembali berbalik menghadap Byron. Baru saja mulutnya terbuka dan hendak mengucapkan sesuatu, kepalan tangan Byron lebih dulu mengenai bawah dagunya. Dion terhempas ke udara sesaat sebelum jatuh ke lantai. Dion terkapar di lantai dan dia sempat tak sadarkan diri sesaat. Dua orang teman Dion yang melihat itu langsung lari keluar dari kelas meninggalkan Dion yang tengah terkapar tak sadarkan diri. Dan tanpa disadari seisi kelas memusatkan perhatiannya pada Byron Si Tukang Tidur di kelasnya, mereka tak menyangka Byron mempunyai pukulan yang begitu keras. Dalam hal ini, Byron sudah mampu menyalurkan sebagian tenaga dalam ke tangannya sehingga pukulannya menghasilkan daya rusak yang dahsyat. Dion yang tengah terkapar perlahan membuka matanya, dia tak sadarkan diri beberapa detik, dan saat sadar dia merasakan sakit yang luar biasa pada rahang bawahnya. Seketika dia langsung memegang rahang bawahnya lalu terguling-guling sambil berteriak kesakitan. Tiba-tiba Byron mencengkram leher Dion lalu mengangkatnya sehingga wajah mereka kini berhadapan dekat, "Hei, kan sudah kubilang untuk tenang." ujar Byron dengan nada datar dan tatapan dinginnya. Rintihan Dion seketika berhenti tatkala Byron mencengkram lehernya, dia hanya bisa terbungkam menahan rasa sakit itu. Dalam sekejap Dion dihempaskan dan langsung terbentur ke dinding kelas, dia terhempas ke udara lalu jatuh ke lantai, itu terjadi beberapa kali, dan secara perlahan Byron mulai diluar kendali. Dia terlihat seperti akan membunuh Dion dengan berbagai pukulan dan bantingannya. Seisi kelas yang melihat itu, merasa Byron sudah diluar batas dan tak bisa dihentikan, mereka berlari berhamburan keluar kelas karena takut akan terkena amukan Byron. "Su-Sudah he-hentikan, aku mengaku kalah..." ucap Dion dengan susah payah. Tapi Byron sepertinya tak mendengar ucapan Dion yang begitu pelan, dalam keadaan kelas yang kosong dan hanya ada mereka berdua didalamnya, Byron semakin menjadi-jadi menghajar Dion dengan leluasa. Byron mencengkram kaki Dion lalu menghempaskannya ke dinding, Dion terbentur sangat keras sampai pembuluh darahnya pecah dan darah keluar dari mulutnya. Seisi kelas yang tak berani menghentikan Byron hanya menontonnya diluar kelas lewat jendela. Mereka meringis sesekali menyaksikan Dion yang sedang dihajar habis-habisan. Satu lemparan lagi dan Dion terhempas keluar kelas. Dia terlihat sudah tak berdaya dengan wajah yang penuh memar dan darah. Byron berjalan dengan tenang keluar kelas seraya memandang Dion yang tengah terkapar di lantai, Byron mengangkat kakinya keatas seperti ancang-ancang akan menginjaknya, sesaat sebelum kakinya menghujam wajah Dion, dengan cepat seseorang menarik kaki Dion hingga injakan Byron hanya mengenai lantai dan meninggalkan bekas benturan. Byron memalingkan pandangannya ke arah orang yang telah menarik tubuh Dion dan terlihat seseorang tengah berdiri disana. "Jangan ikut campur." ucap Byron masih dengan nada datar. "Kau pikir kau bisa berbuat semaumu di Akademi?" ucap pria kekar dengan kacamata hitam terpasang dimatanya. Panggil saja dia Chayton, berusia 30-an tahun yang merupakan seorang Pembimbing di Akademi Bach. Dia seorang Pembimbing yang berfokus pada Pengembangan Reflek Tubuh. Semua orang pada umumnya mempunyai reflek. Akan tetapi, reflek tiap orang berbeda-beda dalam menerima sinyal otak. Dalam sistem tubuh, otak akan memberi sinyal pada tubuh jika ada sesuatu yang mengancam. Gerakan yang dihasilkan oleh tubuh dari sinyal otak itulah yang disebut reflek. Reflek bisa ditingkatkan dengan melatih daya sensor otak dengan berbagai macam latihan kejutan, akan tetapi membutuhkan proses yang cukup lama sampai tubuh benar-benar mampu menerima sinyal otak dengan baik dan menimbulkan gerakan yang tepat untuk menghindari ancaman yang datang. Tapi proses itu bisa dipersingkat dengan mengandalkan tenaga dalam. Itulah yang diajarkan oleh Chayton di Akademi. Byron melangkahkan kakinya menghampiri Chayton sambil berkata, "Ini urusanku, jangan ikut campur." "Semua hal yang terjadi di dalam Akademi adalah urusanku. Termasuk ini." jawab Chayton tenang dengan senyum tertempel di bibirnya. "Baiklah kalau begitu, jangan menyesal!" ujar Byron sambil terus melangkah menghampiri Chayton dengan kepalan tangannya. Chayton tersenyum lebar, "Coba saja anak muda!" Byron melayangkan pukulannya tepat mengarah ke ulu hati Byron tapi dapat ditangkis dengan mudah oleh Chayton bahkan tanpa gerakan kaki sekalipun. Byron melayangkan pukulannya terus menerus dan semua titik vital Chayton berusaha diserang. Tapi serangannya tak ada yang berarti bagi Chayton. Satu pukulan mengarah tepat di d**a Chayton lalu dengan cepat dia menyilangkan tangannya dan pukulan itu berhasil ditahan oleh Chayton. Tapi saat pukulan itu mengenai tangannya yang digunakan sebagai pelindung, dia cukup terkejut karena dia terhempas cukup jauh kebelakang dan tangan bekas pukulan itu meninggalkan memar dan rasa panas. Chayton tersenyum lebar sambil menghempas-hempaskan tangannya untuk mengurangi rasa sakit akibat pukulan Byron. Dia melangkah ke arah Byron, "Kau memang kuat, tapi kau agak lambat." Sesudah berkata demikian, Chayton melesat ke arah Byron dan menyerang Byron dari berbagai sisi. Byron mencoba membalas pukulannya dan terjadilah saling adu serang diantara mereka. Tapi yang terjadi adalah penyerangan sepihak oleh Chayton karena semua serangan Byron dapat dihindari dan ditangkis dengan mudah. Byron yang sudah menggunakan sebagian besar tenaganya untuk menghajar Dion mulai terdesak oleh Chayton. Dia tak bisa terus menerima serangan Chayton dan akhirnya tubuhnya tumbang karena kelelahan. Kakinya yang mulai melemas tak mampu menahan lagi tubuhnya untuk berdiri. Byron terkapar dilantai dengan nafas yang memburu, dadanya kembang-kempis karena terlampau kelelahan. "Kau akan menjadi hebat suatu saat nanti anak muda, tapi waktumu masih panjang untuk melalui proses itu." Chayton tersenyum sambil memandang Byron yang sudah terkapar dilantai karena kelelahan. Chayton meminta teman-teman Dion untuk membawa Dion ke Ruang Pengobatan untuk memulihkan lukanya karena serangan Byron. Kemudian Chayton melirik kanan kiri sekitarnya "Kenapa kalian tidak segera masuk kelas?" tanya Chayton kepada semua orang yang masih berdiri dan berkerumun di koridor. Mendengar itu, semua orang yang disana hanya diam sambil saling menatap satu sama lain. "MASUK KELAS KALIAN!!" bentak Chayton dengan nada tinggi sampai jendela kelas ikut bergetar. Seketika semua orang berlari memasuki kelas mereka sampai tak tersisa satu orang pun di koridor selain Chayton dan Byron yang tengah terbaring. "Hei, kau masih punya tenaga untuk bicara?" tanya Chayton. "Ya... Apa?" jawab Byron dengan mata yang perlahan terbuka. "Kau punya pukulan yang kuat. Siapa namamu?" "Byron." jawabnya singkat. "Baiklah, aku Chayton, aku rasa kau harus melatih kecepatanmu, Byron." "Untuk apa? Lambatkan lebih enak, Bung." ucap Byron dengan santainya. Chayton bernafas kasar sambil menggelengkan kepalanya, "Apa kau tahu tentang Ras Valo..." Belum selesai ucapan Chayton, Byron sudah memotongnya, "Bisa kau bantu aku untuk duduk, Bung!" pinta Byron sambil berusaha mendudukkan dirinya tapi nampaknya tenaga sudah habis sehingga untuk mendudukkan dirinya pun dia sedikit kesulitan. Chayton menatap Byron dengan tatapan malas lalu menghela nafas. Dia menarik tangan Byron sampai dia terduduk. "Baik, apa yang tadi kau tanyakan?" tanya Byron. Chayton bangkit lalu berjalan meninggalkan Byron, "Lain kali saja." ucapnya. Byron hanya menatap punggung Chayton yang perlahan menjauh dengan kebingungan sambil menggaruk pipinya, sesaat kemudian dia menguap, "Aku mengantuk..." Byron menguap sesaat setelah mengatakan itu lalu dia menjatuhkan lagi tubuhnya ke lantai dan memejamkan matanya. Dan kini Si Tukang Tidur itu tertidur di koridor Akademi.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN