Di halaman belakang gedung Akademi, Bima sedang duduk sambil membaca buku yang selalu dia bawa, sedangkan Arga baru saja tiba dari kantin Akademi sambil membawa dua cangkir berisi teh hijau yang masih mengepulkan uap panas.
"Ini punyamu." Arga menyodorkan satu cangkir tepat dihadapan wajah Bima.
Bima melirik ke arah cangkir itu sejenak lalu melirik ke arah Arga. Tatapan itu cukup lama sampai membuat Arga merasa kebingungan.
"Ada apa? Ini hanya teh hijau." Arga menatap heran sambil menjelaskan apa yang dia bawa agar Bima berhenti menatapnya.
Bima menutup buku yang sebelumnya dia baca lalu menaruhnya di sebelah badannya kemudian dia mengambil cangkir berisi teh hijau yang diberi Arga. "Terimakasih," ucap Bima.
Kemudian Arga duduk di sebelah Bima dengan cangkir yang masih ia pegang. Dia melihat sekitar dan pandangannya berhenti pada sebuah bangunan agak besar yang terlihat kumuh dan ditumbuhi rumput liar di sekitarnya.
Arga menyenggol sedikit lengan Bima. "Eh, Bim, menurutmu itu bangunan apa?" tanya Arga sambil menunjuk pada bangunan kumuh itu dengan tangan yang masih memegang cangkir teh.
Bima menoleh lalu menatap wajah Arga sesaat kemudian melihat tangan Arga, pandangannya mengikuti arah yang ditunjuk Arga lalu perhatiannya berhenti pada bangunan kumuh itu, tiba-tiba detak jantung Bima berpacu dengan cepat dalam waktu singkat, ia merasakan aura tak biasa yang berasal dari bangunan itu walau hanya dengan menatapnya saja.
"Entahlah, tapi sepertinya bangunan itu sudah lama tidak digunakan." Bima memalingkan pandangannya dari bangunan itu. Perhatiannya kini tertuju pada cangkir yang berada di tangannya. Dia mulai meneguk teh hijaunya secara perlahan sesaat setelah meniupnya.
"Aneh sekali ya, kenapa bangunan itu tidak digunakan lagi? Sepertinya bangunan itu menyimpan rahasia di dalamnya," gumam Arga. Ia mencapit dagunya menggunakan tangan lainnya dan memikirkan misteri di balik bangunan yang tidak terpakai itu.
Setelah meneguk tehnya beberapa kali, Bima berkata tanpa menoleh, "Daripada memikirkan itu, lebih baik kau memikirkan cara agar dirimu semakin kuat." Ia kemudian menoleh setelah berkata begitu.
Arga memalingkan pandangan pada Bima kemudian menghela nafas panjang. "Kau mudah mengatakan itu karena kau sudah bisa mengendalikan tenaga dalammu, sedangkan aku?" tuturnya. "Sepertinya aku memang tidak berbakat dalam hal ini," ungkap Arga yang mulai lemas dan tak bersemangat.
Bima memindahkan perhatiannya kepada cangkir tehnya lagi. "Kau pasti bisa, berlatihlah lebih keras." Setelah berkata begitu Bima kembali meneguk tehnya.
Raut wajah Arga berubah saat melihat Bima meminum teh hijaunya. Arga menatap Bima dengan heran, kemudian bertanya, "Sepertinya kau suka sekali pada Teh Hijau, apa seenak itu?"
Bima menoleh sesaat. "Teh ini jauh lebih enak dari yang biasa ku minum di rumah," balas Bima.
"Memangnya teh apa yang biasa kamu minum di rumahmu?" tanya Arga penasaran lalu mulai meneguk teh hijau miliknya.
"Teh Merah," balas Bima singkat.
Arga langsung tersedak begitu mendengar jawaban Bima yang menyebabkan dirinya terbatuk cukup lama.
Bima melirik pada Arga yang masih terbatuk-batuk sambil memukul-mukul dadanya.
Arga berusaha mengatur nafasnya setelah terbatuk-batuk cukup lama tadi. "Kau minum Teh Merah?" tanya Arga sontak.
"Iya, kenapa?" balas Bima lalu bertanya kembali.
"Bukankah Teh itu sangat pahit?" tanya Arga lagi.
"Ya, kau pernah meminumnya? tanya Bima kembali.
"Pernah sekali dalam seumur hidupku dan aku tak akan pernah meminumnya lagi," ujar Arga. "Kau tahu, begitu Teh itu masuk ke mulutku aku langsung muntah saking pahitnya, " imbuhnya.
"Yah... aku tidak terkejut kenapa kau langsung muntah," ucap Bima sambil menatap teh hijaunya yang tinggal sedikit.
Kemudian Bima bangun dari duduknya sesaat setelah meneguk habis teh hijau miliknya. "Ayo pergi ke kelas," ajaknya kepada Arga.
*****
Di dalam Ruang Penyembuhan, Dion perlahan mulai membuka matanya dan terlihat langit-langit ruangan yang nampak asing di matanya, dia memalingkan kepalanya lalu melihat sekeliling ruangan dan dia baru menyadari bahwa dirinya sedang berada di ruang Penyembuhan.
"Ah, sial ...." Dion berusaha mendudukan dirinya. "Si Tukang Tidur itu ternyata sangat kuat, aku tak pernah menduganya, kukira dia hanya mengintimidasi saja," gerutunya dalam keadaan sudah duduk.
Dion memegang bagian belakang kepalanya yang terasa nyeri akibat terbentur tembok ruangan kelas beberapa kali, "Ah ... kepalaku ...." Dion meringis kesakitan saat bagian kepalanya yang sakit tersentuh oleh tangannya.
Kemudian Dion menurunkan kakinya satu persatu ke lantai dan turun dari pembaringannya. Dia berjalan ke arah pintu dan keluar dari sana.
Disisi lain, Nix, seorang pembimbing di Akademi sedang menyusuri koridor dengan langkah yang terburu-buru, saat akan melewati koridor berbelok, Nix berpapasan dengan Chayton, Pembimbing di bidang Tehnik Reflek, keduanya terkejut begitu bertatap muka.
"Astaga, Nix, kau mengejutkanku saja!" seru Chayton sambil memegang dadanya reflek karena terkejut.
Nix yang juga terkejut berusaha terlihat tenang. "Oh kau rupanya, Chayton," ucapnya tanpa ekspresi.
"Tak seperti biasanya, mau kemana kau sampai tergesa-gesa?" tanya Chayton dengan tatapan menyelidik. "Lalu kenapa dengan wajahmu?" sambungnya bertanya.
Begitu mendengar ucapan Chayton, Nix langsung menutupi luka memar diwajah sebelah kanannya. "Ah ... Ini bukan urusanmu, sudahlah aku sedang terburu-buru." Nix bergegas pergi dari sana dan tak memperpanjang pembicaraannya dengan Chayton.
"Kenapa dia?" cetusnya. Setelah berkata demikian Chayton menaikan bahunya sesaat lalu melangkah kembali.
*****
Bima dan Arga baru saja sampai di depan kelas mereka, saat akan melangkah masuk ke dalam kelas, terdengar seseorang dari kejauhan berteriak memanggil mereka untuk berdiam sejenak di tempat dan menunggunya.
Orang itu melesat ke arah mereka tanpa diduga, Arga yang melihat kecepatan orang itu sangat terkejut, berbeda dengan Bima, dia sudah tahu kalau orang tersebut bergerak dengan cepat menggunakan tenaga dalamnya.
"Apa ini kelas kalian?" tanya Nix menatap Bima dan Arga bergantian.
"Ya benar, ini kelas kami." jawab Arga. Bima hanya menatap Nix datar di belakang Arga.
"Apa kalian mengenal siswi bernama Leona di kelas ini?" tanya Nix lagi.
"Yah ... kami tahu orangnya, hanya saja kami tidak terlalu mengenalnya," balas Arga lagi.
"Dia masuk tidak hari ini?" lontar Nix lagi dengan tatapan mengintrogasi.
"Mm ... entahlah, kami tidak tahu, kami belum melihatnya hari ini, mungkin dia sedang berada di dalam kelas," tutur Arga.
"Baiklah, aku akan mengeceknya." Sesudah berkata demikian, Nix bergegas masuk kedalam kelas disusul Bima dan Arga.
Nix melihat sekeliling ruangan kelas dan mencari keberadaan Leona tapi dia tak dapat melihatnya di sudut manapun.
Bima dan Arga pun yang ada disana tidak melihat Leona, yang ada hanyalah kursinya yang kosong di sudut ruangan.
Nix langsung bergegas keluar ruangan tanpa sepatah kata pun diikuti dengan pandangan Arga yang kebingungan, sedangkan Bima masih dengan tatapan datarnya dan sedikit rasa curiga.
Bima mulai melangkah ke kursinya kemudian duduk disana, diikuti Arga yang juga duduk di kursi sebelahnya.
Arga masih terpaku pada kursi Leona yang kosong, dia menggaruk kepalanya yang tidak gatal dan memikirkan alasan yang tepat untuk menjawab penyebab tidak hadirnya Leona di kelas Akademi, walau pun sebenarnya dia tak perlu melakukan itu.
Disebelahnya, Bima mengambil buku yang selalu dia bawa dari dalam tasnya kemudian membuka beberapa lembar halaman dan mulai membacanya.
Arga memalingkan pandangannya pada Bima, "Bi—" belum selesai Arga memanggil Bima, Bima lebih dulu berbicara memotongnya.
"Coba kau perhatikan setiap kursi disini, apakah ada kursi lain yang kosong?" sela Bima bertanya dengan tatapan masih terpaku pada buku dihadapannya.
Mendengar itu, Arga kembali memalingkan pandangannya ke sisi lain dan mulai memperhatikan setiap kursi disana dan ternyata ada dua buah kursi yang kosong, kursi tempat duduk Leona dan satunya lagi kursi tempat duduk Dion.
Jelas saja kursi Dion kosong karena dia berada di Ruang Penyembuhan setelah perkelahiannya dengan Byron dari kelas 1-1.
Setelah merasa mendapat kesimpulan, Arga kembali memalingkan pandangannya kepada Bima. "Jadi maksudmu ... ini ada hubungannya dengan Dion?" tanya Arga mencoba memastikan pemikirannya.
"Entahlah, aku pun tidak tahu," balas Bima singkat. "Aku akan mencoba menemuinya sepulang dari Akademi." sambung Bima.
"Kau serius?" seru Arga terkejut.
"Ya." balas Bima singkat tanpa berekspresi sedikitpun.
Beberapa saat kemudian, pintu kelas terbuka dan seseorang masuk ke dalam kelas dengan langkah tertatih-tatih, tangannya memegang bagian belakang kepalanya. Orang itu adalah Dion yang baru saja sampai ke kelasnya setelah berjalan dari Ruang Penyembuhan.
Sontak saja pandangan seisi kelas tertuju padanya. Mereka tidak terkejut dengan keadaan Dion saat ini karena mereka sudah tahu alasannya yaitu akibat perkelahiannya dengan Byron.
Saat perkelahian berlangsung, sebagian dari mereka melihat perkelahian itu. Dari mulut ke mulut, akhirnya seisi kelas mengetahui hasil akhir dari perkelahian itu dimana Dion dikalahkan oleh Byron.
Dion menarik kursinya kemudian duduk. Sesaat kemudian dia baru menyadari bahwa seisi kelas sedang menatapnya. Merasa diremehkan Dion pun berdiri lalu menggebrak mejanya dengan keras.
"Apa yang kalian lihat, brengs*k?" bentak Dion dengan tatapan tajam menatap setiap orang yang melihatnya.
Seketika, semua pandangan yang awalnya tertuju padanya langsung hilang. Hanya ada keheningan di dalam kelas itu.
Dion yang merasa suasana sudah agak nyaman untuknya akhirnya kembali duduk lalu mendongakkan kepalanya menatap langit-langit kelas.
*****
Hari sudah sore dan kegiatan di akademi telah berakhir. Di halaman depan akademi, di antara para siswa yang berjalan untuk pulang, terlihat Bima dan Arga sedang berdiam diri di sana.
Bima bersandar pada sebuah pohon sambil membaca bukunya sedangkan Arga duduk di sebuah kursi sambil memegang lututnya yang gemetar.
Bima melirik sejenak pada Arga, lalu berkata, "Tenanglah, kita hanya akan bertanya padanya." Bima mengetahui kalau lutut Arga yang terus gemetar disebabkan karena ketakutannya pada Dion.
"Ya, aku tahu," sahutnya berusaha tetap tenang.
Setelah cukup lama, akhirnya Dion dan teman-temannya keluar dari gedung Akademi.
Saat Dion akan berjalan melewati mereka, Bima berseru kepada Dion dan teman-temannya, "Hei, kalian!"
Dion yang mendengar seruan itu reflek menoleh ke arah suara dan melihat Bima, seketika raut wajahnya menjadi kecut. "Kau berbicara kepada siapa, sial*n?" sahut Dion dengan nada tinggi.
"Kau," terang Bima. Kemudian Bima berjalan menghampiri pemuda itu lalu berdiri di hadapan Dion dan teman-temannya.
"Aku tidak ada waktu denganmu, enyahlah!" pungkas Dion kemudian berjalan melewati Bima.
Bima hanya berdiri dengan tatapan lurus ke depan. "Dimana Leona?" tanya Bima tiba-tiba.
Dion seketika menghentikan langkahnya lalu berbalik. "Apa maksudmu?" sahutnya bertanya balik.
Bima membalikan badannya lalu menatap Dion. "Dimana Leona?" tanya Bima sekali lagi.
"Aku tidak mengerti maksudmu, brengs*k," balas Dion.
Arga yang merasa percakapan mereka tidak akan berjalan lancar, mencoba memberanikan diri bertanya langsung kepada Dion. "Ma-Maaf, begini ... kami hanya bertanya, apa kamu tahu dimana Leona?"
Dion mengalihkan pandangannya pada Arga. "Kau siapa? Berani sekali berbicara kepadaku?" tegur Dion.
"Ah ... kami tidak ingin mencari masalah denganmu, kami hanya—" ucapan Arga terpotong saat Dion hendak berjalan ke arahnya.
Tapi Dion tak melanjutkan langkahnya karena bahunya ditahan oleh tangan Bima. "Kau hanya tinggal menjawabnya saja, jangan banyak tingkah!" tegas Bima. Tangannya mencengkram bahu Dion.
Dion merasakan cengkraman Bima yang menempel di bahunya semakin lama semakin kuat sehingga dia tak bisa membiarkan itu terjadi terlalu lama.
Dion berbalik badan dan menatap Bima. "Lepaskan tanganmu! Aku tidak tahu dimana Leona dan itu juga bukan urusanku." bebernya.
Bima pun melepaskan tangannya dari bahu Dion, kemudian mengalihkan pandangannya pada Arga. "Ayo pulang, Ar," ajaknya kepada Arga yang terlihat semakin gemetar setelah bertatapan dengan Dion. Kemudian Bima melirik sedikit pada Dion. "Dia tidak mengetahui apa-apa," sambungnya.
Arga berjalan melewati Dion, kemudian berlalu dari sana bersama Bima.
Dion masih diam ditempat ditemani teman-temannya. Dia mendengus kesal, "Anak culun itu sudah berani menatapku, awas saja kau."
Dion melirik bergantian kepada kedua temannya. "Ayo pergi!" lontarnya. Kemudian Dion dan kedua temannya melanjutkan langkah mereka dan berlalu darisana.
*****
Arga dan Bima sudah sampai di persimpangan jalan yang membuat mereka berpisah.
"Baiklah, sampai ketemu besok, Bim, " pamitnya.
"Ya, selau berhati-hati dan waspada." sahut Bima.
Mereka pun akhirnya melanjutkan perjalanan pulang mereka secara terpisah. Keduanya pulang melewati jalan setapak di tengah hutan, hanya saja Arga tinggal di sebuah kota kecil tak jauh dari sana, berbeda dengan Bima, dia harus melewati hutan lebat untuk sampai ke desanya. Tapi itu tidak menjadi masalah untuknya.
Setiap berjalan melewati jalan setapak di tengah hutan, Arga selalu melangkah dengan cepat agar segera keluar dari area hutan tersebut.
Tiba-tiba, langkahnya berhenti saat melihat Dion dan kedua temannya sudah berada di ujung jalan setapak tersebut, mereka menatap Arga sambil tersenyum sinis.
"Hei kau, kemarilah!" teriak Dion dari kejauhan.
Arga yang tidak mau mengambil resiko akhirnya berjalan menghampiri Dion.
"A—Apa kalian memanggilku?" tanya Arga terbata-bata.
"Hei siapa ini? Anak culun ini sudah menjadi pemberani rupanya." cetus Dion. Dion menepuk beberapa kali pipi Arga cukup keras.
Arga hanya diam tak berkutik saat itu terjadi karena dia masih sangat ketakutan pada Dion.
"Hei, kenapa sekarang kau menjadi pendiam? Bukankah tadi kau sangat berani berbicara kepadaku? Oh ... aku tahu ... pasti karena orang itu ada di dekatmu, kan?" ujar Dion.
Arga hanya diam sambil menundukkan kepalanya tak berani menatap atau pun berbicara kepada Dion.
"Kenapa diam saja, b******k?" bentak Dion tepat di depan wajah Arga. Pemuda tersebut semakin ketakutan dibuatnya.
Dion yang merasa geram mendorong tubuh Arga dengan keras sampai Arga terjatuh.
"Ma—Maafkan aku, aku hanya—"
"Hei! Siapa yang menyuruhmu berbicara, sial*n?" bentak Dion menyela ucapan Arga.
Arga hanya bisa diam tertunduk tanpa bisa melakukan perlawanan apa pun.
Dion berjongkok kemudian memegang kerah Arga. "Anak sepertimu harus diberi pelajaran supaya menyadari kemampuanmu." ujarnya.
Dion mengepalkan tangannya dan membuat ancang-ancang untuk memukul Arga.
Saat pukulan itu dilayangkan, tiba-tiba terdengar suara seseorang entah dari mana, "Hentikan!"
Dion menahan pukulannya lalu melepaskan tangannya dari kerah Arga. Dia berdiri dan melihat sekeliling untuk mencari arah suara itu.
"Sepertinya ada pecundang lain disini," cemoohnya berniat memancing pemilik suara barusan untuk keluar dan menunjukan dirinya.
"Hahaha," kekehnya kembali terdengar. Tiba-tiba seseorang muncul dari arah hutan dengan memakai jaket hitam.
"Pecundang? Hahaha, sepertinya julukan itu pantas untukmu," seru orang itu disertai gelak tawanya.
Dion yang geram mendengar ucapannya kemudian bertanya, "Siapa kau, sial*n?"
"Sial*n? Hahaha, kau kasar sekali kawan. Namaku adalah Hestra." balasnya kemudian tersenyum sinis.