Hestra mengalihkan pandangannya, perhatiannya tertuju pada Arga yang jatuh terduduk di tanah. "Hei, kau apakan anak itu?" serunya kepada Dion.
Sesudah berkata demikian, Hestra melangkah menghampiri Arga, pandangannya tertuju pada Dion. "Hei, kenapa harus pakai kekerasan, kawan? Bukankah lebih bagus diselesaikan secara baik-baik, kan?" ucap Hestra sekali lagi dalam langkahnya.
"Aku tidak peduli siapa dirimu, tapi kalau kau ikut campur dalam urusanku, kau akan menyesal!" pekik Dion. Matanya menatap tajam kepada Hestra. Kedua teman dibelakangnya ikut menatap Hestra.
Hestra terdiam dan langkahnya berhenti beberapa saat setelah mendengar ucapan Dion yang terdengar sedang mengancamnya, sesaat kemudian ia tertawa terbahak-bahak menanggapi ucapan Dion.
Dion mendengus kesal saat melihat tingkah Hestra. Pemuda itu malah tertawa saat mendengar perkataannya. Ia mengepalkan tangannya dengan kuat dan berambisi untuk menghajar pemuda itu dan juga Arga.
Hestra kembali berjalan mendekati mereka dengan langkah tenang dan senyum lebar sisa tertawaannya tadi. Ia kini berdiri tepat di belakang Arga yang masih terjatuh duduk sambil mengusap-usap sikutnya yang terbentur ke tanah saat Dion mendorongnya tadi.
Hestra menepuk bahu Arga sekali."Hei, bangunlah, kawan! Kau tidak seharusnya takut pada orang seperti mereka." ucap Hestra.
Mendengar ucapan Hestra yang mulai masuk mengaliri indra pendengarannya, Arga merenung sejenak dan mencoba mencerna ucapan Hestra.
Arga terdiam beberapa saat dan dalam batinnya berkata, "Benar juga, kenapa aku harus takut kepada mereka. Bukankah aku ini juga seorang laki-laki. Baiklah, aku akan melawan mereka!"
Sesaat kemudian, ia langsung berdiri dan menatap Dion dan kedua temannya satu-persatu. Tak ada lagi ketakutan di matanya. Entah itu memang dari sugestinya atau dari ucapan Hestra, yang jelas kini ketakutannya sudah hilang ditelan oleh keberaniannya.
Hestra melangkah kemudian berhenti di samping Arga. Ia menyentuh bahu Arga lalu berbisik kepadanya, "Tenanglah, aku akan membantumu menghadapi mereka."
Arga yang merasa ketakutannya perlahan menghilang, menoleh kepada Hestra dan melihat mata pemuda di sampingnya yang terlihat sayu dengan senyum percaya diri menempel di bibirnya.
Sesaat kemudian, Hestra juga menoleh ke arah Arga, ia menaikan satu alisnya. "Beranilah dan lawan mereka!" ucapnya sambil melirik sejenak ke arah Dion dan kedua temannya.
Entah bagaimana caranya, kalimat yang keluar mulut Hestra membuat aliran darahnya mendesir dengan cepat, keberanian mengaliri setiap bagian tubuhnya, dan kini tidak ada lagi ketakutan pada Dion atau pun teman-temannya yang selalu ia rasakan sebelumnya.
Arga memalingkan pandangannya kepada Dion dan kedua temannya, ia menatap mereka satu per satu secara bergantian. Setelah beberapa saat, dia menghela nafas panjang sebelum kakinya mulai melangkah mendekati para pemuda itu. Tangannya perlahan terkepal kencang tanpa ia sadari, jantungnya berpacu dengan cepat yang membuat tubuhnya bergetar hebat, dan giginya saling menekan rapat yang membuat bagian belakang rahangnya menonjolkan otot-otot khas. Kemana semua ketakutannya selama ini? Yang terlihat saat ini adalah seorang pemuda yang penuh amarah.
Melihat Arga yang semakin mendekat, salah satu teman Dion menekuk lehernya ke samping sampai terdengar bunyi khas tulang, ia melangkah maju tetapi Dion segara menahannya. "Jangan! Anak ini urusanku. Biar aku yang menghabisinya." serunya dengan nada rendah.
Dion menatap tajam pada Arga kemudian maju beberapa langkah ke depan. Tangannya mulai terkepal kuat, dia membuat jarak diantara kakinya untuk membentuk suatu pertahanan kuda-kuda, kemudian memposisikan tangannya dalam keadaan siap menyerang dengan satu tangan terkepal di depan dadanya dan tangan lain dalam posisi siap menangkis sejajar dengan kaki paling depan.
Kini Arga berada beberapa kaki dari Dion, ia melayangkan pukulannya sekuat yang dia bisa tanpa memperhitungkan tehnik dan ketepatan, alhasil, pukulan itu tidak terlalu kuat dan akurat sehingga Dion dapat mengelak dengan mudah.
Ia tersenyum sesaat kemudian berkata, "Dalam pertarungan, keberanian saja tidak cukup, bodoh!" Setelah berkata begitu, Dion melayangkan pukulannya dengan cepat dan tepat mengenai tulang hidung Arga, sontak saja, pukulan itu terlalu cepat sehingga ia tidak dapat menghindarinya, ia terpental beberapa meter ke belakang kemudian jatuh terkapar di tanah.
"Kukira keras ternyata hanya kertas. Kau itu bukan tandinganku, bodoh!" seru Dion mencemooh Arga. "Habisi dia!" sambungnya berteriak kepada kedua temannya untuk menghabisi Arga.
Mereka berdua tersenyum lebar kemudian berjalan menghampiri Arga yang masih terkapar kesakitan di tanah. Tinggal beberapa langkah lagi dari tubuh Arga, langkah mereka dihentikan oleh teriakan Hestra, seorang pemuda yang dari tadi hanya tersenyum menyaksikan keberanian yang muncul dari diri Arga.
"Hei kawan, jangan ikut campur urusan mereka, biarkan mereka menyelesaikan masalahnya sendiri," teriak Hestra Hestra.
Perhatian keduanya teralihkan oleh teriakan tersebut. Mereka melirik satu sama lain sebelum berlari ke arah Hestra lalu melayangkan pukulan mereka kepada Hestra secara bersamaan.
Gerakan mereka tidak terlalu cepat, sehingga Hestra dapat melihat gerakan keduanya dengan jelas dan dengan mudah menangkap pukulan mereka lalu menghempaskannya ke bawah, kemudian dalam satu lompatan, ia menendang wajah kedua pemuda tersebut dalam waktu bersamaan sehingga mereka berdua terpental jauh ke belakang kemudian jatuh tersungkur di tanah.
Hestra yang berdiri tak jauh dari Arga kemudian berteriak kepadanya, "Perkelahianmu baru saja dimulai kawan, jangan terlalu cepat menyerah."
Hestra tersenyum dan merasa yakin kalau Arga mempunyai kemampuan yang lebih daripada yang dia duga.
Mendengar teriakan itu, keberanian Arga kembali seperti semula. Ia menghela nafas kemudian bangkit dari jatuhnya. Ia melangkahkan kakinya kearah Dion dengan tatapan tajam dan tangan yang sudah terkepal.
Arga melayangkan pukulannya ke wajah Dion tapi dengan mudah Dion menangkis pukulan itu. Arga melayangkan pukulannya beberapa kali, akan tetapi setiap pukulan dapat ditangkis dengan mudah oleh Dion.
Saat ritme serangan Arga melambat dan juga pukulannya mulai melemah, Dion menendang lurus ke depan dan tepat mengenai ulu hati Arga yang membuatnya mundur beberapa langkah, ia memegangi bagian perutnya yang terkena serangan tersebut.
Arga terbatuk beberapa kali karena kesulitan bernafas dan dia juga merasakan ulu hatinya seakan melilit akibat tendangan Dion. Ia mencengkram perutnya dan berusaha mengatur nafasnya yang mulai terasa berat, sesaat kemudian ia berlari ke arah Dion sambil berteriak menahan rasa sakit yang dirasakannya.
Dion hanya melihat kedatangan Arga dengan tatapan jengkelnya sambil mendengus kesal. Saat Arga melayangkan pukulannya, Dion menghindar dengan menyampingkan tubuhnya lalu menghentakkan lututnya tepat di ulu hati Arga.
Arga kembali terhempas kebelakang kemudian jatuh tersungkur. Rasa sakit akibat tendangan sebelumnya masih terasa dan ditambah serangan kali ini di titik yang sama membuat Arga semakin kesulitan bernafas, ia kembali mencengkram kuat bagian perutnya dengan tujuan untuk menahan rasa sakit akibat tendangan tersebut.
Ia batuk beberapa kali saat mencoba untuk berdiri. Tiba-tiba mulutnya mengeluarkan darah yang diduga berasal dari luka dalam tubuhnya yang disebabkan oleh serangan Dion yang terus menerus mengenai titik yang sama.
Hestra baru saja selesai membereskan kedua teman Dion, kemudian mengalihkan pandangannya kepada Arga, ia membelalakan matanya saat melihat Arga tersungkur dengan mulut berdarah. "Kenapa dia sampai mengalami luka dalam? Apa dia sama sekali tidak menggunakan tenaga dalamnya?" gumamnya kebingungan dengan kondisi Arga saat ini.
Arga mulai merasa kesadarannya perlahan menghilang, walau pun begitu keberanian dalam dirinya masih ada dan dia terus berusaha bangkit sampai akhirnya mampu berdiri kembali.
Matanya yang sayu menatap Dion, tangannya mengusap sisa darah di mulutnya, dia kembali berjalan mendekati Dion dengan langkah sempoyongan namun dalam tempo yang cepat.
Dion mendengus kesal saat melihat Arga masih mampu berdiri. Dia melangkahkan kakinya ke arah Arga. Mereka semakin mendekati satu sama lain.
Tiba-tiba, Dion merasakan sakit yang luar biasa di kepalanya akibat perkelahiannya dengan Byron saat di Akademi. Dia tak mendapat penyembuhan yang maksimal saat di Ruang Penyembuhan karena segera kembali ke kelasnya.
Langkah Dion mulai sempoyongan, tangannya memegangi kepalanya yang sakit, tapi dia tak bisa berhenti sekarang karena harus menyelesaikan perkelahian ini.
Dia mengepalkan tangannya dengan kuat, dihadapannya, Arga juga melakukan hal yang sama. Mereka melayangkan pukulannya dalam waktu bersamaan. Karena rasa sakitnya, Dion tidak dapat mengarahkan pukulannya dengan tepat, pukulannya hanya mengenai ujung pelipis Arga, sedangkan pukulan Arga tepat mengenai bagian rahang bawah Dion.
Mereka berdua masih berdiri setelah beradu pukulan, keduanya mundur beberapa langkah, Arga masih berusaha menopang tubuhnya sekuat mungkin dengan kakinya. Sedangkan, Dion tak mampu lagi menahan tubuhnya untuk tetap berdiri, akhirnya dia jatuh terkapar di tanah dengan mata terpejam tak sadarkan diri.
Arga hanya tersenyum tipis dengan tatapan sayu saat melihat orang yang selalu dia takuti akhirnya dapat dikalahkan olehnya, setidaknya itu yang ada di pikirannya.
Arga membalikkan badannya lalu tersenyum kepada Hestra sambil mengacungkan ibu jarinya, sesaat kemudian pandangannya mulai kabur dan kesadarannya perlahan menghilang. Alhasil Arga tak mampu menahan lagi tubuhnya untuk tetap berdiri, dia pun ambruk ke tanah.
Hestra hanya tersenyum tipis melihat Arga yang sudah terkapar di tanah. "Dasar bodoh! Aku kira kau hanya tak punya keberanian, ternyata kau juga tak punya kemampuan mengendalikan tenaga dalam." ujarnya yang baru saja mengetahui jati diri Arga yang sama sekali tidak punya kemampuan mengendalikan tenaga dalamnya.
Hestra menghembuskan nafas panjang, kemudian berjalan menghampiri Arga. "Hei, dimana rumahmu, kawan?" Hestra menepuk-nepuk pipi Arga untuk menyadarkannya.
Hestra perlahan mengangkat tubuh Arga untuk mendudukkannya. Walau pun matanya terpejam, tapi dadanya masih kembang-kempis yang menandakan ia masih bernafas.