Arga perlahan membuka matanya dan menemukan dirinya sedang terbaring di atas tempat tidur di rumahnya. Dia menatap keluar melalui jendela kamarnya dan menyadari bahwa langit sudah gelap dan hari sudah malam. Dia mulai mendudukan dirinya lalu bersandar ke dinding belakang. Dia mencoba mengingat kembali peristiwa yang terjadi sebelumnya.
Saat berusaha mengingat, tiba-tiba kepalanya terasa sakit dan pandangannya mulai kabur, dia pun memegang kepalanya karena tak kuat menahan rasa sakitnya. Ia pun memutuskan untuk berbaring kembali dan mengurungkan niatnya untuk mengingat kejadian sebelumnya. Dan berpikir akan mengingatnya seiring waktu berjalan.
Saat mencoba memejamkan matanya, Arga merasakan ulu hatinya seperti melilit dan menimbulkan rasa sakit yang luar biasa. Dia mencengkram kuat bagian perutnya dan berusaha semampunya untuk menahan rasa sakitnya. Dia menahan nafas dan menekan perutnya, ia mencoba untuk tidak bersuara sedikit pun karena tidak ingin membuat keluarganya khawatir pada kondisinya.
Dia berguling-guling diatas tempat tidur karena tak kuat menahan rasa sakitnya. Dia membalikkan tubuhnya menjadi posisi tengkurap, nafasnya mulai berat dan keringat mulai mengucur di pelipis matanya. Seketika ia teringat perkataan temannya, Bima, bahwa dengan mengatur tempo pernafasan dapat mengurangi rasa sakit di tubuh.
Dia pun duduk bersila sembari memejamkan matanya. Perlahan dia menarik nafas dalam yang panjang sampai memenuhi rongga paru-parunya, kemudian dia menghembuskannya perlahan yang dilakukan secara berulang-ulang.
Setelah melakukan tehnik pernafasan itu beberapa kali, rasa sakit yang dirasakannya perlahan memudar, tidak hilang sepenuhnya tapi lebih baik daripada sebelumnya. Arga merasa dia harus tetap terjaga semalaman dan terus mengatur nafasnya untuk dalam tempo yang sama, karena jika dia tidur rasa sakit itu akan kembali lagi. Padahal tempo nafas kita lebih teratur saat dalam keadaan tertidur dan tidak mencoba untuk mengaturnya.
*****
Sementara itu, di jalan setapak yang berada di antara dua hutan yang bersebrangan, tepatnya di tempat kejadian sebelumnya saat perkelahian Arga dan Dion terjadi, seorang pemuda tengah berjalan sendirian menembus gelapnya malam. Pemuda itu adalah Hestra, orang yang baru saja kembali setelah mengantar Arga sampai ke halaman depan rumahnya.
Ternyata setelah pertarungannya dengan Dion, Arga masih tersadar dan bisa berjalan sampai ke halaman depan rumahnya dengan sedikit bantuan Hestra, pemuda yang baru ditemuinya.
Akan tetapi, begitu sampai di halaman depan rumahnya, Arga sudah mencapai titik akhir tenaganya. Dia tiba-tiba tak sadarkan diri dan terjatuh ke tanah.
Melihat itu, Hestra mengetahui Arga hanya pingsan karena kehabisan tenaga dan dia akan baik-baik saja. Kemudian ia pun berlalu dari sana meninggalkan Arga yang terbaring di halaman rumahnya yang sesaat kemudian ditemukan dan di bawa masuk ke dalam rumah oleh seseorang yang merupakan keluarganya.
*****
Hestra berjalan dengan tenang sembari mengantongi kedua tangannya ke dalam saku celananya, tanpa merasa takut akan sesuatu yang muncul dari kegelapan malam dan juga jalan yang dia lalui saat ini berada di antara hutan yang bisa dikatakan lebat.
Perlu diketahui, Hestra merupakan seorang pelajar dari Akademi Bach, sama halnya dengan Bima dan Arga. Dia berada di kelas 1-2. Dia tidak terlalu mencolok saat di Akademi sehingga banyak yang tidak mengenalnya.
Yang menjadi perbedaan antara dia dengan pelajar yang lain adalah dia tidak suka berteman dan bersosialisasi. Walau pun memiliki kepribadian yang cukup baik, Hestra merupakan seseorang yang tidak suka terhubung dengan orang lain dan lebih suka menghabiskan waktunya sendiri layaknya seorang introvert.
Kejadian sebelumnya yang menimpa Arga dan harus melibatkan dirinya adalah suatu kebetulan yang mengharuskan dia membantu Arga. Dan itu dia lakukan karena merasa memang harus melakukannya tapi dia tetap saja seseorang yang tidak suka terhubung dengan orang lain.
Saat dirinya sedang berjalan sambil sesekali menatap langit malam, dia mendengar sesuatu dari sebelah kirinya, tepatnya dari arah dalam hutan. Suara itu seperti dedaunan kering yang diinjak. Dia berhenti sejenak dan menoleh ke arah sumber suara. Dia hanya melihat kegelapan dari dalam hutan dengan sedikit pantulan cahaya bulan yang menembus dedaunan.
Suara itu tidak terdengar lagi, Hestra mengorek-ngorek kuping dengan jarinya, dia beranggapan suara itu berasal dari hewan-hewan kecil yang ada di dalam hutan atau bisa saja itu suara dari ranting pohon yang jatuh. Akhirnya dia memutuskan untuk melangkah kembali dan mengabaikan suara tersebut.
Sesaat kemudian, suara itu kembali terdengar namun kali ini lebih keras dan terdengar tidak alami, seperti ada seseorang yang melakukannya, suara itu terdengar seperti ranting yang dipatahkan.
Hestra menoleh kembali ke arah hutan dan mulai melangkahkan kakinya, ia berjalan mendekat ke arah suara itu. Dia melangkah dengan perlahan agar langkah kakinya tidak terdengar, karena bisa saja itu hewan buas yang tak sengaja lewat di hutan itu. Kalau langkah kakinya sampai terdengar, dia akan mendapat masalah besar jika benar itu suara dari hewan buas.
Hestra menghentikan langkahnya dan mulai memperhatikan keadaan dari dalam hutan. Saat dia melihat di antara pepohonan di dalam hutan, tiba-tiba dia melihat sebuah bayangan hitam mengintip dari salah satu pohon di dalam sana.
Karena ingin mengetahui sosok dari bayangan hitam tersebut, ia melangkah lebih dekat sampai sedikit memasuki area hutan itu. Kemudian ia melihatnya dengan lebih seksama dan benar saja, ada sesuatu dibalik pohon itu yang sedang mengintipnya seperti sosok manusia.
Saat Hestra melangkah lebih dekat, sosok tersebut kembali mengintip dari balik pohon dan bersembunyi kembali. Hestra bertanya-tanya, siapa sosok itu dan sedang apa dia di tengah hutan pada malam hari sendirian?
Kemudian Hestra berteriak kepada sosok itu, "Hei, sedang apa kau disana? Apa kau tersesat? Keluarlah!"
Sosok tersebut terlihat kembali bersembunyi untuk beberapa saat ketika mendengar teriakan Hestra, kemudian sosok tersebut kembali mengintip. Sosok itu masih tetap diam di balik pohon walau pun dia tahu kalau Hestra sudah mengetahui keberadaannya.
Hestra menggaruk pipinya dan merasa kebingungan tentang sosok apa yang ada dibalik pohon itu sebenarnya. "Sebenarnya dia sedang apa sih di sana? Apa dia tidak kedinginan?" gumam Hestra bertanya-tanya.
Kedatangan Hestra masih saja diabaikan oleh sosok itu, dia masih tetap diam dibalik pohon itu dan sesekali memunculkan kepalanya untuk mengintip Hestra.
Hestra menarik nafas panjang kemudian menghembuskannya dengan kasar. Dia merasa tak bisa membiarkan sosok dibalik pohon itu yang masih belum jelas mahluk apa dia sebenarnya untuk terus berdiam diri di dalam hutan sendirian. Tanpa pikir panjang, Hestra langsung berjalan masuk ke dalam hutan, ia mendekati sebuah pohon tempat sosok tersebut bersembunyi.
Saat Hestra berjalan ke balik pohon itu, sosok itu melompat keluar dan langsung menyerangnya dengan sebatang kayu yang cukup besar. Sosok itu memukul Hestra cukup keras sambil menjerit dengan mengeluarkan suara melengking. Hestra yang reflek karena terkejut lantas menepis pergelangan tangan sosok tersebut sampai sebatang kayu yang ada di genggamannya terlempar jauh.
Sosok itu menjerit kemudian berlari menjauhi Hestra. Karena kurangnya cahaya di dalam hutan, Hestra tidak dapat melihat wajah sosok itu dengan jelas, yang terlihat olehnya adalah sosok itu memiliki rambut yang panjang, seperti seorang perempuan.
"Hei mau kemana kau? Kemarilah! Aku tak akan menyakitimu!" teriak Hestra membujuknya untuk tidak melarikan diri darinya, karena niatnya yaitu untuk membantunya.
Hestra kemudian berlari mengejar sosok berambut panjang tersebut. Karena sosok itu tidak berlari terlalu cepat, dia dengan mudah dapat menyusulnya. Saat sudah cukup dekat di belakang sosok itu, ia meraih tangannya kemudian menariknya sampai sosok itu tidak dapat melarikan diri lagi.
Tiba-tiba, sosok berambut panjang tersebut berbalik menghadap Hestra kemudian mendorong tubuhnya sampai terhempas beberapa langkah kebelakang. Walau begitu, Hestra masih mampu untuk berdiri dan tidak terjatuh.
Kemudian, Hestra melihat sosok tersebut berlari keluar dari area hutan dan menuju jalan setapak yang sedikit lebih terang karena tersinari cahaya bulan. Keadaan jalan setapak tersebut lebih terang dibandingkan di dalam hutan sehingga dapat diketahui wajah dari sosok itu.
Hestra kembali mengejar sosok itu dan mengikutinya menuju jalan setapak yang berada di beberapa meter di depan. Saat mengejarnya dari kejauhan, Hestra melihat punggung dari sosok tersebut dan dengan melihat dari caranya berlari, ia dapat mengetahui bahwa sosok itu adalah seorang perempuan berambut panjang.
"Hei, berhenti! Aku tidak akan menyakitimu, aku hanya berniat menolongmu." Hestra kembali berteriak untuk menghentikannya, ia berpikir bisa saja sosok tersebut sedang dikejar hewan buas kemudian tersesat di dalam hutan, tapi sosok itu terus berlari menjauh darinya.
Di tengah larinya, Hestra melirik ke sebelah kanan dan melihat sebatang kayu yang tergeletak diantara semak belukar di dekat pohon besar. Ia berhenti sejenak lalu mengambil sebatang kayu tersebut. Dia menatap batang kayu itu sesaat kemudian melihat ke arah punggung dari sosok yang sudah berada cukup jauh di depannya. Dia membuat ancang-ancang lemparan sembari memejamkan sebelah matanya agar pandangannya tidak terbagi dan menjadi satu titik.
Dia melemparkan batang kayu tersebut cukup keras, alhasil batang kayu tersebut melambung tinggi dan berputar cepat. Beberapa saat berputar di udara, batang kayu itu tepat mengenai punggung dari sosok tersebut dan akhirnya dia pun jatuh tersungkur sambil berteriak kesakitan.
Melihat lemparannya tepat mengenai targetnya, Hestra kemudian segera berlari mendekati sosok itu. Saat sudah berada di dekat sosok tersebut, Hestra pun dibuat terkejut karena sosok tersebut adalah seorang perempuan cantik berkulit putih dengan rambut lurus panjang yang bergelombang di ujungnya. Wajah perempuan itu penuh dengan noda tanah dan juga bintik merah seperti gigitan nyamuk, mungkin karena dirinya terlalu lama berada di dalam hutan.
Sementara perempuan itu masih meringis kesakitan sembari mengelus punggungnya. Hestra pun berjongkok di hadapannya kemudian bertanya, "Hei, siapa namamu? Dan kenapa kamu ada di dalam hutan sendirian?"
Perempuan itu awalnya terkejut dan terlihat ketakutan saat Hestra bertanya padanya, dia menggeser tubuhnya ke belakang untuk menjauhi Hestra.
Hestra melihatnya dengan heran. "Hei, tidak apa-apa. Aku tidak akan menyakitimu. Aku hanya tak sengaja lewat lalu melihatmu sendirian di dalam hutan. Disini aku hanya ingin membantumu," ujarnya pada perempuan itu.
Perempuan itu mengangkat pandangannya lalu menatap Hestra, ia membuka mulutnya seperti akan berbicara. "A—Aku Le–Leona" ucap perempuan itu pelan.
"Hmm ... Leona ya? Seperti nama orang kaya. Kau tinggal dimana? Apa kau masih sekolah? Dilihat dari wajahmu, sepertinya kau tidak terlalu tua."
"A—Aku ma—masih seorang pe—pelajar." ucap Leona terbata-bata karena masih merasa ketakutan ditambah udara dingin pada malam hari itu.
"Dimana sekolahmu?" tanya Hestra lagi.
"A—Aku dari Akademi Bachalpsee." balas Leona.
"Akademi Bach?!" Hestra terkejut saat mengetahui kalau perempuan bernama Leona ini satu Akademi dengannya. "Tunggu-tunggu, kau bilang dirimu dari Akademi Bach, lalu kenapa kau berada di dalam hutan sendirian?" tanya Hestra lagi untuk menjawab rasa penasarannya.
"A-Ah itu ... a—aku ti—tiba-tiba te—terbangun ...." Leona semakin kesulitan berbicara karena udara malam yang semakin lama semakin menusuk. Dia tak kuat menahan dinginnya udara pada malam hari dikarenakan baju yang dia kenakan berbahan tipis dan berlengan pendek.
Hestra memahami apa yang Leona rasakan saat ini, dia pun melepas jaket hitam berbahan tebal yang dia kenakan kemudian menyelimutkan pada tubuh Leona.
Leona sedikit terkejut saat Hestra tiba-tiba melepas jaketnya dan memberikan jaket itu kepadanya. Ia menatap Hestra dengan tatapan sayu, bibirnya yang membiru tidak henti-hentinya terus bergetar karena rasa dingin yang dirasakannya.
"Pakailah!" ucap Hestra tersenyum tipis.
Dengan tubuh yang bergetar hebat, Leona segera memakai jaket milik Hestra lalu melingkarkan tangannya sendiri ke tubuhnya untuk lebih mengurangi suhu dingin di tubuhnya.
"Jadi bagaimana kelanjutan ceritanya?" sambung Hestra bertanya lagi.
Leona yang sudah merasa lebih baik akhirnya dapat berbicara lebih lancar dari pada sebelumnya. Dia pun menceritakan alasannya bisa berada di dalam hutan sendirian.
Leona bercerita bahwa saat itu, dia perlahan membuka matanya dan menyadari dirinya tengah berbaring di atas pembaringan yang terbuat dari bambu. Dalam keadaan tubuh yang lemah, dia melihat sekeliling dan hanya melihat bilik bambu disetiap sisi ruangan itu. Dia mencoba mendudukkan dirinya dan menyadari bahwa dirinya sedang berada di dalam rumah kayu yang terlihat mirip gubuk bambu kecil.
Dia berusaha turun dari pembaringan itu, tapi saat kakinya menyentuh lantai tanah, dia merasakan nyeri pada kakinya. Dia pun segera memindahkan pandangannya pada kakinya dan melihat benda hijau menempel pada kakinya. Dia menyentuh benda hijau itu kemudian mencium aromanya dan tercium seperti aroma khas dari daun obat yang biasa dia temui di pinggir jalan tetapi dia tidak pernah tahu namanya. Kemudian dia sadar kalau itu adalah obat alami dari dedaunan yang ditumbuk halus untuk mengobati bekas luka di kakinya.
Dia pun mengusap-usap obat alami tersebut dari kakinya untuk melihat lebih jelas lukanya. Luka di kakinya terlihat seperti luka gigitan dari hewan buas. Lukanya cukup dalam tetapi luka tersebut sudah mulai mengering dari luar.
Setelah beberapa saat menatap luka di kakinya, dia pun teringat pada sosok menyeramkan yang dia temui kemarin malam. Dia pun membelalakkan matanya dan tersadar bahwa dia tidak mengetahui apa yang terjadi padanya pada malam hari itu.
Sesaat kemudian dia pun berpikir bahwa dirinya telah diculik oleh sosok yang menyeramkan itu kemudian membawanya ke tempat tinggalnya yaitu gubuk yang dia tempati saat ini. Dia pun mencoba melangkahkan kakinya untuk keluar dari gubuk tersebut.
Setelah keluar dari sana, dia membelalakkan matanya sekali lagi saat melihat banyak pepohanan di depannya dan menyadari bahwa dirinya berada di dalam hutan. Dia menatap sekeliling dan tidak mengetahui arah jalan pulang ke rumahnya. Merasa dirinya akan mengetahuinya jika mulai berjalan, dia pun menarik nafas dalam kemudian melangkahkan kakinya pergi dari sana dan akhirnya dia pun tersesat di dalam hutan.
Hari sudah malam dan hutan semakin gelap, pandangannya pun terbatas. Dia berhenti di sebuah pohon yang cukup besar kemudian menyandarkan tubuh padanya dan entah kenapa, hal yang wajar dilakukan saat keadaan seperti ini malah tidak dia lakukan, yaitu menangis. Tidak sedikit pun rasa ingin menangis muncul dari dirinya, dia merasa menangis tidak akan menyelesaikan masalahnya dan tidak bisa mengeluarkannya dari hutan tersebut.
Sesaat dia berpikir untuk berteriak meminta pertolongan tapi dia sadar dia sedang berada di dalam hutan, dimana masih banyak hewan buas disana, dia takut hewan buas akan datang kepadanya jika dia berteriak.
Saat tengah termenung dan teringat pada rumahnya, dia mendengar suara langkah kaki dari kejauhan, suara itu sangat pelan bahkan hampir tersamarkan oleh suara jangkrik di sekitarnya. Dia pun berdiri kemudian menatap sekeliling untuk mencari arah suara langkah kaki tersebut.
Dia pun menemukan seorang pemuda tengah berjalan sendirian tak jauh dari sana, dia berpikir kalau itu adalah sosok menyeramkan yang tempo hari menculik dirinya, karena ketakutan, tanpa sadari dia pun melangkah mundur lalu menginjak dedaunan kering di belakangnya.
Ia pun terkejut lalu reflek menutup mulut dengan tangannya, dia mencoba mengintip pemuda tersebut dan melihatnya sedang berdiri sambil celingukan seperti tengah mencari sesuatu.
Leona pun mencoba mengatur nafasnya beberapa saat kemudian diakhiri dengan helaan nafas panjang. Dia pun berbalik lalu dengan perlahan menjauh dari sana. Tapi sepertinya nasib baik tidak datang kepadanya hari ini, kakinya menginjak sebuah ranting kering berukuran sedang sehingga menghasilkan suara yang cukup keras dan suaranya terpantulkan.
Leona kembali mengintip pemuda itu dan melihatnya sedang berjalan mendekat ke arahnya. Pemuda itu berteriak kepada dirinya tapi teriakan dari pemuda tersebut tidak dapat didengar dengan jelas oleh Leona.
Leona pun memberanikan dirinya dengan mengambil sebatang kayu yang berada tidak jauh darinya, saat pemuda itu mendekat, dia memukulnya dengan keras tetapi tangannya ditepis oleh pemuda tersebut sehingga kayu yang berada di tangannya terlempar jauh, dia pun berteriak sejadi-jadinya karena ketakutan kemudian berlari menjauhi pemuda tersebut.
*****
Leona pun melanjutkan ceritanya sampai dirinya terjatuh karena terkena kayu yang dilemparkan Hestra.
Hestra yang dari awal mendengarkan cerita Leona yang cukup panjang, akhirnya tertawa terbahak-bahak saat Leona selesai bercerita. Hestra tertawa sejadi-jadinya saat mengetahui kejadian yang sebenarnya.
Leona hanya menatap heran pada Hestra sambil mengusap-usap punggungnya yang masih terasa sakit akibat terkena lemparan Hestra.
Setelah tertawa cukup lama, Hestra kemudian duduk di depan Leona. "Hei, Nona, ceritamu itu sangat lucu," ucap Hestra kemudian disusul tawa kecil. "Apakah itu sungguhan apa kau cuma mengarangnya?" sambungnya bertanya.
"Aku tidak mengarang, kejadian yang aku ceritakan memang nyata tahu!" balas Leona dengan mimik wajah serius.
Walau begitu, Hestra tidak terlalu menanggapi dengan serius cerita dari Leona. Dia hanya sekedar mendengarnya saja dan menganggap itu hiburan bagi dirinya.
Hestra kemudian mengulurkan tangannya lalu mengajak Leona untuk berkenalan dan Leona pun menyambut tangan Hestra dengan hangat.
Leona akhirnya memberitahu alamat tempat tinggalnya dan karena Hestra suka sekali berpindah-pindah tempat tinggal, dia pun mengetahui jalan ke arah rumah Leona dan berniat mengantarnya.
Singkat cerita, mereka pun sudah mulai melangkahkan kaki ke arah rumah Leona. Saat mereka sedang berjalan sambil berbincang, tiba-tiba muncul seorang pemuda yang keluar dari hutan lalu berdiri di hadapan mereka dengan tatapan kesal.
Orang itu adalah Byron, dia mengetahui Leona tidak ada di tempatnya semula dan dia berpikir bahwa Leona telah diculik lagi oleh yang sosok sebelumnya telah membuat Leona tak sadarkan diri.
Byron melacak Leona melalui penciumannya yang tajam dan mengikuti dia sampai akhirnya menemukan Leona bersama pria asing yang tidak dia kenal.
Byron menatap tajam pada Hestra dan mengira dia adalah teman sosok yang waktu itu bertarung dengannya.
"Hei, kau! Lepaskan dia! Kalau tidak, kau akan aku bunuh seperti temanmu." Byron mengancam akan membunuh Hestar kalau dia tidak membebaskan Leona, Hestra hanya kebingungan mendengar ucapan Byron.
"Hei tunggu sebentar, kawan! Aku tidak mengerti apa yang kau bicarakan. Sepertinya kau salah paham." Hestra menjelaskan kalau ini tidak seperti yang dia pikirkan, tapi Byron tak percaya.
"Tinggalkan dia lalu kau pergi! Kalau tidak ...." ancam Byron.
Leona yang tidak mengenal siapa Byron dan juga tidak mengetahui kalau Byron yang telah menolongnya hanya terdiam dan tidak mengetahui apa yang sedang terjadi.
Dia mengira justru Byronlah salah satu teman sosok yang waktu itu, lalu dia datang karena ingin menculiknya lagi.
Hestra yang juga sepemikiran dengan Leona mulai mengepalkan telapak tangannya dan bersiap bertarung dengan Byron untuk melindungi Leona.