Hestra mencoba memicingkan matanya menatap Byron kemudian turun sampai kakinya, ia melihat rupa Byron dari ujung kepala sampai ujung kaki. Perawakan Byron yang Hestra lihat adalah pemuda yang memiliki d**a bidang dengan tinggi badan hampir sama dengan dirinya, sekitar 182 cm, warna kulit sawo matang, memiliki alis tebal dan mata yang sayu, juga memiliki kantung mata yang sedikit hitam seperti seorang yang kurang tidur
Setelah memandangi Byron cukup lama, ia menoleh ke arah Leona yang sedang berdiri di belakang samping kanannya. "Apa kau mengenalnya, Leo?" tanya Hestra kepada Leona mencoba memastikan siapa pemuda yang berdiri di depannya.
"Tidak, aku tidak mengenalnya dan tidak tahu siapa dia." Leona menggelengkan kepalanya, dia merasa tidak pernah mengenal Byron, bahkan dalam ingatannya, dia baru kali ini bertemu dengannya.
Wajar saja, dirinya tidak sadarkan diri saat diselamatkan oleh pemuda yang berada di hadapannya sekarang. Dan saat ini, Leona malah menganggap Byron sebagai teman dari sosok menyeramkan yang waktu itu menculiknya. Andai saja dia tahu yang sebenarnya terjadi, mungkin dia akan merasa berhutang nyawa pada Byron yang telah menyelamatkannya dari sosok yang akan membunuhnya pada malam hari itu.
Setelah mendengar jawaban dari Leona, Hestra menghela nafas kasar kemudian memalingkan pandangannya ke depan lalu menatap Byron dengan tajam. Tangannya bergerak ke belakang dan seolah memberi isyarat pada Leona. "Tetaplah di belakangku, bisa saja dia teman sosok yang menculikmu waktu itu dan datang untuk menculikmu lagi." ujar Hestra meminta Leona untuk tetap di belakangnya agar dia bisa lebih mudah melindunginya dari Byron.
Byron yang sedari tadi mencoba menebak isi percakapan mereka merasa sedikit kebingungan setelah melihat Leona yang malah berdiri di belakang tubuh Hestra seperti berlindung padanya. Dia yang datang untuk menyelamatkan malah diacuhkan oleh Leona.
Dia menatap tajam pada Hestra. "Hei, apa yang kau lakukan padanya?" teriak Byron. Ia masih kebingungan melihat Leona yang malah berlindung di belakang tubuh Hestra. Dia mencoba mencari alasannya dan mendapatkan kesimpulan. "Jangan mengancamnya!" bentak Byron. Dia menduga bahwa Hestra telah mengancam Leona sehingga dia tidak berani melarikan diri darinya lalu menyuruh Leona untuk diam di belakangnya agar Byron tidak bisa menyelamatkannya, setidaknya itulah dugaan Byron.
Mendengar teriakan Byron, Hestra mengerutkan dahinya dan merasa kebingungan. "Mengancam katamu? Bukannya kau yang paling terlihat menakutkan disini? Pergilah! Aku cukup lelah untuk bertarung saat ini. Jika aku tidak bisa mengontrol kekuatanku, kau bisa terbunuh disini." ujar Hestra sedikit mengancam Byron dan mencoba menghindari pertarungan dengannya agar mempersingkat waktu.
Mendengar perkataan Hestra yang terdengar seperti mengancam dirinya, Byron pun tertawa kecil menanggapinya. "Membunuhku? Kau salah pilih lawan, Bung! Aku akan membuatmu bernasib sama seperti temanmu waktu itu." balas Byron membalikkan perkataan Hestra.
Byron sebenarnya cukup merasa kelelahan karena sudah banyak mengeluarkan tenaga pada hari ini. Pertarungan dengan Dion saat di Akademi sudah cukup menguras tenaganya, lalu saat mencari Leona pun dia harus mengerahkan tenaganya lagi.
Sebenarnya, Byron tidak terlalu kesulitan mencari Leona, karena dia memiliki semacam kemampuan khusus di indra penciumannya yang sangat tajam yang mampu mencium bau dengan radius yang sangat jauh. Sebagai seseorang yang sudah mampu mengendalikan tenaga dalam, ia dapat memusatkan seluruh indranya pada satu titik yaitu indra penciuman. Oleh karena itu, ia bisa dengan mudah menemukan Leona, tapi kondisi tubuhnya saat ini tidak memungkinkan untuk bertarung terlalu lama dan juga saat ini sudah masuk waktu tidur Byron si Tukang Tidur.
Sesaat kemudian Byron mulai mengepalkan tangannya dengan tenaga penuh dan berniat menyelesaikan pertarungan dengan satu pukulan agar mempersingkat waktu. Dengan satu hentakan, Byron melangkah mendekati mereka, Hestra dan Leona.
Sementara itu, Leona yang berada cukup jauh di hadapan Byron, melihat pemuda itu tengah berjalan kearahnya, sontak hal itu membuatnya mulai merasa ketakutan, kakinya gemetar, tubuhnya reflek mendekati Hestra. Tangannya yang gemetar perlahan meraih baju bagian belakang Hestra kemudian mencengkram kuat seolah ia tidak mau Hestra meninggalkannya.
Hestra yang merasakan cengkraman Leona di bajunya dapat mengetahui bahwa perempuan tersebut sedang ketakutan. Ia menyentuh lengan Leona lalu berkata padanya, "Tenanglah, aku akan membereskannya. Kau tetaplah di tempatmu, jangan menjauh dariku. Ya?"
Leona pun mengangguk lalu melepaskan cengkramannya dari baju Hestra. Kemudian ia mulai mundur beberapa langkah ke belakang agar jaraknya dengan Hestra tidak terlalu dekat sehingga ruang gerak Hestra semakin luas.
Hestra menoleh ke belakang untuk melihat Leona kemudian memindahkan pandangannya pada Byron. Ia menatap tajam pada Byron sembari menyeringai sehingga menghasilkan mimik wajah yang mengintimidasi. "Apa yang kau bilang barusan, hah? Salah pilih lawan? Sepertinya bukan aku yang salah memilih lawan, tapi kau!" ujar Hestra dengan nada tinggi penuh penekanan. Ia pun melangkah maju ke arah Byron yang juga sedang mendekat ke arahnya dan detik-detik pertarungan pun mulai tercium.
Byron datang dengan kepalan tangannya yang sudah dia siapkan sejak awal. Dengan keahliannya, dia menyalurkan separuh tenaga dalam pada kepalan tangannya sehingga pukulannya memiliki daya hancur yang dahsyat yang bisa saja membuat lawannya tumbang dalam sekali pukulan. Saat mereka berdua hanya terpaut beberapa langkah saja, dengan cepat Byron melayangkan pukulannya yang mengarah pada wajah Hestra.
Hestra yang tidak sempat membuat pertahanan cukup terkejut dengan serangan awal yang dilakukan Byron. Dia tidak menduga Byron akan langsung memukul ke wajahnya, ia mencoba mengelak dari pukulan itu dan pukulan itu hanya melesat di samping kiri wajahnya. Tapi dia cukup terkejut dengan serangan Byron, walau pun pukulan itu tidak mengenainya tapi udara disekitarnya seolah membentuk pusaran dan saat mengenai wajahnya, pusaran udara tersebut terasa seperti sebuah pukulan. Bayangkan bagaimana jika pukulan itu yang mengenai wajah Hestra, entah dia masih bertahan atau tidak.
Saat Byron sudah masuk dalam jangkauan serangannya, Hestra menekuk tangannya dan membentuk sebuah sikutan lalu dengan cepat dia menyikut telinga kiri Byron dengan kuat dan tajam.
Byron mundur beberapa langkah sambil memegangi telinganya yang mulai terasa sakit dan berdengung akibat sikutan Hestra. Ia mencoba menyentuh bagian dalam telinga kiri dengan jarinya. Ia membelalakan matanya saat mengetahui ada darah yang keluar dari telinganya. Gendang telinganya sepertinya pecah akibat serangan Hestra.
Ia kembali mengepalkan tangannya dengan kuat sampai terdengar gemericik giginya yang saling beradu. Ia menatap tajam pada Hestra kemudian berlari ke arahnya dan melayangkan beberapa pukulan yang membuat Hestra kewalahan.
Hestra sebisa mungkin menghindar dan menepis pukulan Byron, tapi semakin lama ia semakin terpojok, langkahnya perlahan terpukul mundur. Ia mencoba bertahan dengan pertahanannya sampai serangan Byron mulai melambat, ia mencoba mengimbangi pertarungan dengan menyerang balik. Dan terjadilah baku hantam yang mengerikan. Malam yang sunyi dipenuhi dentum pukulan demi pukulan.
Udara malam yang dingin seakan menusuk tulang belakang, membuat siapa pun yang menyentuhnya menggigil kedingin. Tetapi dua orang pemuda malah merasakan hawa panas yang membakar kulit, keringat bercucuran bercampur darah segar yang mengalir dari setiap luka di tubuhnya, ya ... Hestra dan Byron masih terbakar dalam emosi keduanya.
Entah sudah berapa putaran jarum jam sejak awal pertarungan mereka, keduanya masih berusaha berdiri dengan luka di tubuh mereka. Tenaga kedua pemuda itu perlahan terkikis habis, terlihat dari pukulannya yang semakin melemah sampai akhirnya satu pukulan lemah dari satu pemuda menumbangkan pemuda lainnya. Pemuda yang masih berdiri ialah Byron si Tukang Tidur yang mengalahkan Hestra dalam pertarungan sengitnya malam itu. Kekuatan serangan diantara mereka tidak bisa di bandingan karena keduanya punya tehniknya masing-masing dalam bertarung namun sepertinya dalam segi tenaga, Byron berada diatas Hestra, hal itu dibuktikan dengan pertarungan ini.
Leona yang berada tidak jauh dari mereka berdua dan hanya tarpaut beberapa langkah saja, melihat perkelahian mereka secara langsung dari awal sampai akhir, hingga salah seorang diantara mereka terkapar jatuh. Dia melihat perkelahian mereka seperti dua orang gladiator yang berniat saling membunuh, kakinya lemas dan tidak mampu untuk berdiri lagi saat melihat baku hantam diantara mereka. Ia terduduk lemas dengan pandangan kosong menatap lurus ke depan.
Byron yang masih berdiri pun hanya menatap Hestra dengan dingin. Kemenangan yang dia dapatkan tidak mudah, ia harus mengalami pendarahan di kedua telinganya dan beberapa luka sobek di kepalanya. Ia masih berdiri sambil mencoba mengatur nafasnya yang terengah-engah akibat pertarungan tersebut.
Byron mencoba menyentuh beberapa luka sobek di kepalanya yang terus mengeluarkan darah dan berkali-kali juga ia terkejut kesakitan saat lukanya tersentuh oleh tangan. "Ah ... sakit sekali! Bagaimana bisa pukulan orang ini sangat tajam, seperti memakai pisau saja." ujar Byron keheranan.
Pertarungan ini mungkin menjadi salah satu pertarungan paling membekas bagi Byron. Dalam hidupnya baru kali ini dia terluka cukup parah dalam pertarungan, bahkan bisa saja Byron kehilangan kesadaran saat ini juga jika ia tidak berusaha untuk menjaga kesadarannya.
Bahkan, tatapan itu masih menempel di mata Byron, tatapan tidak percaya. Mana mungkin bisa, seseorang memiliki pukulan yang mampu merobek kulit dalam sekali serang. Walau pun, itu bisa saja terjadi dalam pertarungan memakai senjata tajam seperti pisau dan benda runcing lainnya, tapi hal seperti itu mana mungkin terjadi pada pertarungan tangan kosong. Satu-satunya kemungkinan yang terjadi adalah orang tersebut memiliki kemampuan khusus yang dapat merubah struktur tulangnya menjadi tajam dan itulah dugaan Byron saat ini.
Setelah menatap Hestra yang tengah terkapar cukup lama sembari mencoba mengatur nafasnya, Byron kemudian mengalihkan pandangannya pada Leona yang berada tak jauh dari sana, ia terlihat duduk dengan tatapan kosong melihat kearah Hestra, terlihat ketakutan di matanya.
Dengan langkah tertatih-tatih, Byron berjalan kearah Leona untuk mencoba menenangkannya. Leona yang mulai tersadar dengan suara langkah kaki Byron, memindahkan pandangannya kepada Byron. Beberapa saat mematung, Leona mulai menggapai tanah lalu menggeser tubuhnya ke belakang.
"Ja–Jangan mendekat!" teriak Leona sambil terus berusaha menjauh dari Byron.
Byron menghentikan langkahnya. "Hei, ada apa denganmu? Tenanglah! Aku datang untuk menyelamatkanmu."
"Tidak! Aku tidak percaya, kau pasti salah satu dari mahluk itu!" balas Leona.
"Apa maksudmu? Mahluk apa?"
"Kau kira aku tidak tahu? Aku tahu, kau pasti datang untuk menculikku lagi seperti malam itu. Katakan saja!"
Byron mengernyitkan dahinya. "Apa yang kau bicarakan? Aku tidak ada hubungannya dengan mahluk itu. Dan apa kau tidak ingat bahwa aku yang telah menyelamatkanmu malam itu dari mahluk menyeramkan yang menculikmu. Apa kau tidak ingat itu?"
Leona terdiam beberapa saat setelah mendengar perkataan Byron, ia mencoba mengingat kembali kejadian pada malam hari itu. Tapi sia-sia saja, Leona masih tidak bisa mengingat kejadian itu secara utuh karena dia tidak sadarkan diri waktu itu.
"Aku tidak mengingat apa pun tentangmu. Aku tidak ingat kau ada disana untuk menolongku." ucap Leona.
"Sepertinya, karena kau tidak sadarkan diri waktu aku menyelamatkanmu, jadinya kau tidak bisa mengingat apa-apa. Tapi itu tidak penting sekarang. Saat ini ada yang ingin aku tanyakan padamu, kenapa kau bisa tiba-tiba ada disini dan siapa orang aneh yang bersamamu?" Byron berbalik dan menunjuk kepada Hestra.
Tiba-tiba, suasana menjadi hening kembali. Byron mematung dan bungkam beberapa saat ketika melihat pemuda yang baru saja ia kalahkan sudah berdiri kembali dengan tatapan tajam terpaku padanya.
Tidak hanya sampai disitu, Byron dibuat terkejut sampai harus menelan air liurnya dengan susah payah saat melihat hal yang aneh terjadi pada pemuda di hadapannya.
Entah apa yang terjadi pada Hestra, tapi saat ini, ia benar-benar menjadi sosok yang berbeda. Muncul semacam duri melengkung yang keluar dari kedua sikunya dengan ujung yang runcing. Tidak hanya itu, tepat di sela-sela jari tangannya, duri yang sama muncul juga, hanya saja tidak melengkung tapi sama-sama berujung runcing.
Byron masih mematung dengan mata terbuka lebar menatap Hestra tak percaya, nafasnya perlahan memburu saat melihat wujud Hestra yang saat ini sudah berbeda dari sebelumnya. "A–Apa yang terjadi?"
"Kau kira pertarungan ini sudah selesai?" tanya Hestra. Dia membunyikan ruas tulang lehernya sesaat sebelum berlari ke arah Byron.
Byron tersentak kaget sampai mundur satu langkah ke belakang, ia menelan salivanya. "Apa boleh buat ...." Byron mulai mengepalkan tangannya kembali dan mulai memasang kuda-kuda pertahanan. "KEMARILAH!" teriak Byron siap menerima serangan Hestra.