17. Kesalahpahaman

2032 Kata
Byron mengeraskan rahangnya sampai gigi geraham atas dan bawahnya beradu. Dia tak punya cara lain untuk menghadapi Hestra selain menggunakan sisa tenaga dalamnya untuk serangan terakhir. Dia berniat memusatkan tenaga dalam ke tangannya agar pukulannya memiliki daya hancur yang dapat menumbangkan Hestra dalam sekali pukul, tapi jika pukulan itu gagal, Byron tidak tahu lagi apa yang akan dia lakukan dengan tenaga dalam yang sudah habis dan tubuh yang sudah lemah serta penuh luka. Hestra sudah berada di depan mata Byron, ia melayangkan pukulan yang mengarah ke wajahnya. Bagi Byron, itu adalah pukulan paling berbahaya yang pernah ia hadapi, bagaimana tidak, itu adalah pukulan dari kepalan tangan dengan duri diantara jari-jari tangannya. Tidak bisa dibayangkan jika sampai pukulan itu mengenai bagian tubuh manusia, mungkin akan menyebabkan luka robek yang sangat dalam bahkan mungkin bisa lebih parah. Tanpa memikirkan apapun, Byron langsung melayangkan pukulannya kearah pukulan Hestra. Tinggal beberapa inci saja sampai pukulan keduanya bertemu .... "Cukup! Kalian berdua, hentikan pertarungan kalian!" Teriakan seseorang membuat pukulan keduanya meleset dari tujuan awalnya, mereka berdua pun menoleh kearah suara dan terlihat Arga di sana yang sudah berada di samping Leona. "Bukannya dia yang waktu itu di Akademi, kenapa dia disini?" batin Byron heran. Hestra hanya menatap Arga dengan datar, tiba-tiba duri yang berada di siku dan diantara jari tangannya perlahan masuk kedalam tubuhnya sampai benar-benar menghilang, seketika Hestra jatuh terduduk seperti kehilangan tenaga tiba-tiba. Byron melirik sedikit pada Hestra tapi dia tidak terlalu mempedulikannya, dia sekarang lebih tertuju pada kehadiran Arga. "Hei, kamu tidak apa-apa, Leo?" Arga menyentuh pelan bahu Leona. Leona menggelengkan kepalanya pelan kemudian menunjuk kearah Hestra dan Byron. "Ta–Tapi mereka ... seperti akan saling membunuh, bi–bisa kau lerai mereka?" Arga memalingkan pandangannya mengikuti pandangan Leona. "A–Apa yang terjadi dengan mereka? Kenapa mereka bisa sampai seperti itu?" "Aku tidak tahu, semua terjadi begitu saja, mereka tidak berhenti saling melukai lalu salah satu dari mereka mengeluarkan semacam benda aneh dari tangannya." Leona masih ketakutan, terlihat dari tangannya yang masih bergetar. "Hah?" Arga terkejut tak percaya dengan yang Leona katakan, bahkan Arga sedikit kesulitan mencerna perkataan Leona. Cukup lama Byron terpaku pada Arga yang tengah berbincang dengan Leona, ia memindahkan pandangannya pada Hestra. "Hei, siapa kau sebenarnya? Kenapa kau bertarung mati-matian demi gadis itu?" Hestra menghela nafas. "Kenapa katamu? Untuk melindunginya dari orang sepertimu." "Apa maksudmu? Aku datang untuk menyelamatkannya." "Begitu juga aku. Kau pikir kenapa orang sepertiku berniat menculiknya?" "Ya ... bisa saja kau teman sosok yang bersamanya waktu itu." "Sosok apa?" "Lupakan saja, Bung, aku malas menjelaskannya kepadamu. Kepalaku masih sakit gara-gara kau." Byron menyentuh kepalanya yang masih terasa sakit akibat serangan dari Hestra walau pun rasa sakitnya tidak seperti sebelumnya. Hestra menghela nafas kasar kemudian mengusap sisa darah di ujung bibirnya akibat pertarungannya dengan Byron. Byron mengulurkan tangannya pada Hestra. "Kau masih bisa berdiri?" Hestra melihat tangan Byron yang diulurkan kepadanya sesaat lalu melihat Byron. "Entahlah." Hestra meraih tangan Byron dan mencoba berdiri. Byron menariknya sedikit agar Hestra lebih mudah mendirikan tubuhnya. Dengan sekuat tenaga Hestra mencoba berdiri, ia mencoba menahan agar kakinya dapat menopang tubuhnya tetap berdiri namun tenaganya sudah tidak tersisa lagi, kakinya tak dapat lagi menopang tubuhnya, ia pun kehilangan keseimbangan, sesaat sebelum tubuhnya ambruk, Byron memegang lengan atasnya. "Sandarkan tanganmu padaku, aku akan membantumu berdiri." Hestra mulai bertumpu pada Byron, ia meletakkan tangannya pada bahu Byron. "Ayo kita hampiri mereka." ajak Byron pada Hestra. Byron mulai berjalan perlahan ke arah Arga dan Leona sambil memapah Hestra. Mereka berjalan beberapa saat sampai akhirnya berada tepat di hadapan mereka. "Kau bisa berdiri sekarang?" tanya Byron pada Hestra. "Sepertinya tenagaku sudah pulih." Hestra mengangkat tangannya dari bahu Byron, kakinya sudah mampu menopang tubuhnya saat ini. "Hei, kau!" tegur Byron dengan nada tinggi. "Kau yang waktu itu di Akademi, kan? Kenapa kau bisa ada disini?" lanjutnya bertanya. "Ah itu ... aku hanya kebetulan lewat." jawab Arga. "Hei, bagaimana lukamu?" Giliran Hestra yang bertanya. Byron menoleh pada Hestra. "Kau mengenalnya?" "Ya ... ceritanya cukup rumit. Tapi aku juga tidak tahu alasan dia ada disini." balas Hestra. "Tunggu sebentar, kenapa kalian malah membicarakan aku? Lihat diri kalian! Sebenarnya apa yang terjadi?" lontar Arga. "Yah ... kita semua tahu siapa yang harus menjawab ini." ucap Byron kemudian menatap Leona lalu diikuti oleh semua mata yang ada disana. Leona yang sedari tadi terdiam, tiba-tiba merasa canggung saat semua pasang mata tertuju padanya. "A–Aku?" ucap Leona terbata-bata. "Tentu saja kau, Nona! Siapa lagi kalau bukan kau?" ucap Byron dengan nada tinggi. "A–Aku banyak mengalami hal yang aneh, tapi kemarin malam ...." Leona mulai bercerita panjang lebar tentang kejadian yang ia alami sampai akhirnya mereka bisa bertemu saat ini. "Jadi ... semuanya hanya—" "Sudah kuduga, ini hanya salah paham saja" sela Hestra memotong ucapan Byron. "Ma—Maafkan aku, gara-gara aku, kalian jadi—" "Sudahlah, ini hanya salah paham, tidak ada yang harus disalahkan." ucap Hestra memotong ucapan Leona. "Yah ... walau pun kepalaku agak sakit, tapi benar yang dia katakan, ini hanya salah paham saja dan kita sekarang sudah tahu kebenarannya." imbuh Byron menyambung ucapan Hestra. "Hei kau, siapa namamu? Aku belum pernah berhadapan dengan orang sekuat dirimu." tanya Hestra pada Byron. "Panggil saja Byron, Bung. Dan kau?" "Hestra." Mengulurkan tangan mengajak berjabat tangan. Byron meraih tangan Hestra. "Percayalah, kau orang terkuat yang pernah aku hadapi." Hestra hanya tersenyum tipis menanggapi ucapan Byron lalu hal itu diikuti oleh Byron yang sesaat kemudian mengalihkan pandangannya kepada Arga. "Dan kau, kenapa bisa ada disini, Bung? Bukankah sangat janggal jika kau kebetulan ada disini?" tanya Byron pada Arga. "Ah ... aku hanya mencoba melatih tubuhku dengan berlari malam, lalu aku tidak sengaja melihat kalian bertiga ada disini." jawab Arga. Byron mengangguk paham. "Jadi seperti itu ... ya sudah kalau begitu, kau yang antarkan dia. Aku mau pulang, ini sudah lewat jam tidurku." Sesudah berkata demikian, Byron pergi dari sana meninggalkan mereka semua. Beberapa langkah berjalan, Byron menghentikan langkahnya lalu berbalik dan menatap Hestra. "Hei kau, kapan kita akan bertemu lagi, Bung?" "Entahlah ... mungkin jika sudah waktunya kita akan bertemu lagi." balas Hestra diikuti dengan senyum tipis. "Baiklah kalau begitu, sampai jumpa." Byron melanjutkan langkahnya sampai tak terlihat lagi di kegelapan. Hestra melihat Arga. "Dan kau?" "Ah ... sepertinya aku akan mengantarkan Leona ke rumahnya." balas Arga. "Baiklah, berhati-hatilah. Sampai jumpa lagi." Hestra pergi dari sana meninggalkan Arga dan Leona. Setelah Hestra tidak terlihat lagi, Arga menyentuh bahu Leona pelan. "Kamu masih bisa berdiri?" Leona mengangguk lemah. "Ayo, aku antar kamu sampai ke rumahmu." ajak Arga. Leona perlahan berdiri dibantu oleh Arga. "Kamu yakin masih bisa berjalan sampai rumahmu? Aku bisa menggendongmu kalau kamu mau." ucap Arga. "Ti—Tidak usah, Ar. Aku masih bisa berjalan, terima kasih." balas Leona. "Yasudah kalau begitu, ayo." Mereka berdua pun mulai melangkahkan kaki mereka menuju rumah Leona. Karena Arga belum mengetahui rumah Leona, dia hanya berjalan di belakang Leona. Suasananya sangat canggung, tidak ada percakapan diantara mereka, mungkin karena beberapa hal aneh yang mereka alami beberapa waktu lalu. Jarak rumah Leona cukup jauh dan mereka berjalan cukup lama hingga akhirnya mereka tiba di halaman depan rumah Leona. "Sepertinya sudah sampai, baiklah ... aku pergi dulu ya. Sampai jumpa." Arga berbalik dan hendak melangkahkan kakinya. "Tu—Tunggu!" panggil Leona menghentikan langkah Arga. Arga membalikkan badannya. "Ya?" "Te—Terima kasih." Arga tersenyum tipis kemudian menangguk pelan. "Lebih berhati-hatilah lain kali." Arga pun pergi dari sana. Setelah cukup lama menatap kepergian Arga, Leona tersenyum tipis kemudian masuk kedalam rumahnya. ***** Beberapa hari berlalu setelah kejadian itu. Bima sedang duduk bersama Arga di kantin Akademi. Bima masih dengan buku yang selalu ia bawa sedangkan Arga celingukan melihat sekitar seperti sedang menunggu seseorang. Kedua telunjuknya beberapa kali mengetuk meja kayu di hadapannya. Bima melirik Arga sedikit. "Bisa tenang sedikit, Ar?" "Ah ... maafkan aku. Aku hanya teringat kejadian waktu itu." Bima menutup bukunya lalu menatap Arga. "Kejadian apa?" "Ah ... bukan apa-apa, itu hanya .... " Arga menahan perkataannya cukup lama. "Hai, boleh aku duduk bersama kalian?" Leona tiba-tiba datang dan menghampiri mereka berdua. Bima menatap datar pada Leona sedangkan Arga terlihat gugup dengan muka perlahan memarah. Arga bangun dari duduknya. "Boleh, silahkan. Disini masih ada kursi kosong. Duduk saja." Bima menengok kearah Arga lalu menatapnya heran. "Oke, terima kasih sudah membolehkan aku duduk bersama kalian." Leona menarik kursi lalu duduk di depan mereka berdua berbatas meja. Sesudah Leona duduk, Arga pun mulai kembali duduk dan terlihat kecanggungan di wajahnya setelah Leona berada di hadapannya. "Kalian sedang membicarakan apa? Boleh aku tahu?" tanya Leona. "Ah ... kami hanya membicarakan hal-hal yang tidak penting." balas Arga diikuti senyum canggungnya. Bima yang sudah membuka bukunya kembali melirik Arga kemudian menggelengkan kepalanya pelan dengan mata masih tertuju pada bukunya. Leona mulai menatap Arga dalam. "Mm ... aku masih tidak tahu cara membalas kebaikanmu waktu itu, Ar." "Ah ... lupakan saja. Itu bukan apa-apa, lagi pula aku hanya mengantar kamu saja, tidak lebih." Bima yang mendengar pembicaraan mereka mulai sedikit penasaran dengan apa yang sedang mereka bicarakan. "Oh iya, bukannya dua orang yang waktu itu juga ada di Akademi ini?" tanya Leona lagi. "Ah ... sepertinya begitu, aku pernah bertemu Byron di koridor kelas." jawab Arga. Mendengar ucapan Arga, Leona mengangguk beberapa kali, kemudian mulai melihat sekitar, pandangannya berhenti di sebuah meja dengan seorang pemuda sedang tertidur dengan bertumpu pada tangannya. Ia tertidur sangat pulas, bahkan keramaian di sekitarnya tidak mengganggunya sedikit pun. "Eh bukannya dia orang yang waktu itu?" Leona menunjuk kearah pemuda yang sedang tertidur tersebut. Arga melihat kearah yang ditunjuk oleh Leona. "Ah ... benar, itu Byron." "Sebentar, aku akan bangunkan dia lalu mengajaknya kesini." Leona bangun dari duduknya. "Jangan!" pekik Arga. Leona sedikit terkejut. "Kenapa? Bukannya bagus kalau dia bergabung disini?" "Itu ... aku pernah mendengar dari kelas lain kalau Byron pernah mengamuk karena tidurnya terganggu." "Hah?" Leona bereaksi tak percaya. Bima termenung sesaat setelah mendengar perkataan Arga tentang Byron. "Tapi aku tidak tahu itu cerita betul apa tidak, tapi sebaiknya kita berjaga-jaga saja." pinta Arga. "Mm ... yasudah kalau begitu." Leona kembali duduk di kursinya. Kemudian dia menatap Arga dan Bima bergantian. "Ada apa?" tanya Arga heran. "Kalian tidak memesan apa pun? Mau aku pesankan?" balas Leona bertanya. "Ah ... tidak usah, biar aku saja yang pesan. Kebetulan kami belum lama duduk disini jadi belum sempat memesan." "Oh begitu, yasudah tidak apa-apa, biar sekalian saja. Kalian mau pesan apa?" "Ah ... aku mungkin mau teh hijau saja." Arga menoleh pada Bima. "Kau mau pesan apa, Bim?" "Samakan saja denganmu." balas Bima singkat. "Baik kalau begitu, nanti ya, aku pesankan dulu." Leona bangkit dari duduknya tapi sesaat kemudian terdengar suara sesuatu seperti kaca yang pecah membentur lantai. "Eh, suara apa itu?" Leona dan Arga reflek mencari asal suara sedangkan Bima masih tetap tenang, ia menutup bukunya lalu menghela nafas kasar dengan pandangan lurus ke depan. Setelah suara kaca yang pecah, terdengar pembicaraan dengan nada tinggi dari arah belakang kantin Akademi yang menjadi pusat perhatian orang-orang yang ada di sana. "Apa kau tidak punya mata, sial*n!" Suara itu terdengar tidak asing di telinga sebagian orang di sana. Itu adalah suara Dion yang sedang membentak seseorang karena telah membasahi bajunya karena ulahnya sendiri. Dia menabrak seseorang yang tengah membawa semangkuk sup ditangannya lalu sebagian kuah sup membasahi bajunya. "Ma—Maafkan aku, aku tidak sengaja." ucap orang tersebut. Dion mencengkram kerah pemuda tersebut. "Maaf katamu? Apa kau tidak punya malu? Kau pikir dengan permintaan maaf-mu, bajuku jadi kering, hah?" "Ta—Tapi aku benar-benar tidak sengaja dan ini juga bukan sepenuhnya salahku." balas pemuda tersebut. Mendengar ucapannya, Dion menjadi kesal dan melampiaskannya dengan mendorong pemuda itu sampai terjatuh. Bima yang melihat pemandangan itu berniat berdiri dan menghampiri mereka, tapi Arga segera menahannya dan menunjuk ke arah pemuda yang tengah berjalan ke arah Dion dan pemuda itu. "Sepertinya kau harus ku beri—" Ucapan Dion terpotong saat sebuah tangan menyentuh bahunya. "Apa kau tidak bisa tenang, Bung?" Dion yang mengenali suara itu mencoba menoleh dengan ragu-ragu. Benar seperti dugaannya, orang yang menyentuh bahunya adalah Byron yang baru saja terbangun dari tidurnya karena mendengar keributan yang disebabkan oleh Dion. Tanpa mereka sadari, seorang pemuda yang sedang duduk di pojok ruangan kantin Akademi tengah memperhatikan mereka dengan tatapan dinginnya, seperti seseorang yang misterius dan orang itu adalah Hestra.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN