Di sudut belakang ruang kantin, Hestra tengah duduk tenang dengan tangan bertumpu pada meja dan pandangan datar menatap ke arah keributan. Kehadiran Hestra di sana tidak disadari oleh Arga dan Leona yang pernah bertemu dengannya.
"Ma—Maafkan aku, a—aku benar-benar tidak sengaja," ucap pemuda yang bertabrakan dengan Dion.
"Maaf kau bilang?" lontar Dion yang tanpa peringatan langsung melayangkan pukulannya ke wajah pemuda tersebut sampai ia terjatuh.
Pemuda itu termenung sesaat sambil menatap lantai. Pandangannya kosong seolah terkejut dengan yang baru saja ia alami. Rahangnya mengeras dan tatapannya berubah marah, tangannya terkepal seolah tidak terima dengan perlakuan Dion. Ia menatap Dion dengan tajam tapi mulutnya tidak mengeluarkan kata-kata.
Dion terkejut sesaat setelah melihat tatapan pemuda tersebut, ia tersenyum angkuh kemudian. "Cih! berani sekali kau menatapku seperti itu. Mau kuhancurkan wajahmu, hah?" seru Dion dengan lantang.
Dion kemudian berjongkok lalu mencengkram kerah pemuda itu. Mata mereka saling menatap satu sama lain. Dion yang merasa kesal melihat tatapannya lantas melayangkan satu tamparan keras punggung tangannya.
Pandangan pemuda itu kembali terhempas dari Dion. Ia kembali menatap lantai dengan tatapan yang sama. Namun, tiba-tiba sorot matanya berubah menjadi lesu. Kepalan tangannya pun perlahan melemas.
Dion yang melihat raut wajah pemuda di hadapannya berubah lantas tersenyum lebar dan berbangga diri. Ia berpikir pemuda tersebut sudah takluk kepadanya. Hal itu tentu saja dapat mengembalikan harga dirinya yang telah lenyap karena kekalahannya saat bertarung dengan Byron tempo lalu.
Sementara itu, Bima yang melihat dari tempatnya merasa tidak bisa diam saja melihat perlakuan Dion kepada pemuda tersebut. Ia tidak habis pikir pada mereka yang hanya diam saja melihat penindasan. Bahkan, beberapa orang tidak peduli dengan apa yang terjadi di sekitarnya. Mereka hanya acuh dan hanya memikirkan nasib mereka sendiri.
Namun, setiap orang berbeda-beda. Mungkin saja mereka takut bernasib sama dengan pemuda itu jika dia ikut campur. Hal itu tentu saja sudah ada di pikiran Bima. Karena tidak setiap orang memiliki keberanian untuk melawan penindasan.
Bima menghela nafas dalam sesaat sebelum akhirnya bangun dari duduknya. Saat hendak melangkah, Arga yang duduk di sampingnya menghentikan langkahnya.
"Kau mau membantunya?" tanya Arga.
Bima menoleh pada Arga. "Ya. Aku tidak bisa diam saja melihat penindasan yang dilakukan olehnya," balas Bima.
Arga menatap Bima sesaat kemudian mengalihkan pandangannya, ia menunjuk pada seorang pemuda yang tengah berjalan ke arah Dion. "Coba lihat itu!"
Pandangan Bima mengikuti arah yang ditunjuk Arga. Ia melihat seorang pemuda tengah berjalan ke arah Dion dengan tatapan dinginnya. Bima pun menghela nafas sebelum akhirnya kembali duduk dan hanya melihat mereka dari tempatnya.
Dion masih mengintimidasi pemuda itu untuk melemahkan mentalnya. Entah kata apa saja yang telah keluar dari mulutnya. Sekali lagi, ia berniat memukul wajah pemuda itu sampai cengkraman di bahunya cukup membuatnya terkejut dan mengurungkan niatnya.
"Apa kau tidak bisa tenang, Bung?" Suara yang tidak asing di telinga Dion. Suara yang pernah Dion dengar sebelumnya. Bunyi dan nada itu, tidak salah lagi. Itu adalah suara Byron, pemuda yang pernah mengalahkannya.
Dengan ragu-ragu Dion menoleh ke samping, menatap jari tangan yang tengah mencengkram bahunya. Ia semakin memutar kepalanya menoleh ke belakang. Benar saja, itu adalah Byron.
"Ka—Kau?" Seketika Dion gugup saat melihat Byron berada di hadapannya. Mulutnya kaku dan tubuhnya tiba-tiba mematung.
"Apa kau tahu satu hal, Bung? Aku paling benci orang yang mengganggu tidurku."
Dion menelan ludahnya, keringat dingin mulai mengucur di pelipisnya dan bayangan masa lalu mulai terlintas di kepalanya saat Byron menghajarnya tempo hari. Dengan susah payah, Dion mencoba mengendalikan ketakutannya dan menghilangkan ingatan-ingatan yang terlintas di kepalanya.
"A—Aku tidak punya urusan denganmu. Lebih baik aku pergi dari sini." Hanya dengan cara itu, Dion bisa terhindar dari Byron. Ia pun pergi dari sana secepat mungkin sambil terus menjaga citranya di depan orang lain.
Byron menatap kepergian Dion dengan perasaan kesal karena tidurnya telah terganggu. Kemudian ia mengalihkan pandangannya pada pemuda yang sedang duduk terjatuh di hadapannya. "Hei, Bung! Sedang apa kau di sana?"
"Ah ... terima kasih banyak karena telah menolongku," ucap pemuda tersebut.
"Aku belum pernah melihatmu sebelumnya, siapa namamu?"
"Ah iya, kenalkan, aku Axel dari kelas 1-4. Aku baru saja masuk Akademi Bach hari ini."
Byron mengulurkan tangannya untuk membantu Axel kemudian menariknya setelah pemuda itu meraih tangannya sampai ia berdiri.
"Terima kasih bantuannya." Axel membungkukkan sedikit badannya.
"Hei, Bung! Kuberi tahu satu hal ...."
Axel kini memperhatikan Byron.
"Jika kau tidak ingin ditindas maka lawanlah, tidak peduli kau akan menang atau kalah, melawan bukan berarti kau ingin jadi jagoan, tapi terkadang harga diri harus dipertahankan." Setelah mengatakan hal tersebut Byron melangkah pergi.
Axel masih termenung beberapa saat setelah Byron pergi dari sana. Ia tersadar kemudian berbalik ke arah Byron. "Hei, boleh aku tahu siapa namamu?"
"Panggil saja Byron," jawab Byron di tengah langkahnya tanpa menoleh.
Setelah perbincangan singkat mereka, suasana kembali normal seperti biasa. Axel juga melangkah pergi dari sana.
Kembali ke perbincangan Bima, Arga, dan Leona.
"Orang itu memang tidak pernah berubah, masih saja b******k seperti dulu," ucap Leona tiba-tiba.
Arga memusatkan perhatiannya pada Leona, sedangkan Bima hanya melirik singkat lalu kembali fokus dengan bukunya.
"Ah ... bukannya dulu kamu juga terlibat masalah dengannya, Leo?"
Leona terdiam sesaat. "Ya, tapi sudahlah, aku tidak mau membicarakannya."
Arga menarik bibirnya canggung lalu diam seribu bahasa.
"Bagaimana denganmu, Ar? tanya Leona mencoba memecah kecanggungan.
"Eh, Ba—Bagaimana denganku apanya?"
"Yah ... bisa saja kamu pernah terlibat masalah dengan orang itu, 'kan? Aku rasa semua orang di sini pernah terlibat masalah dengannya."
"Ah itu ... beberapa hari yang lalu, aku terlibat masalah dengannya dan akhirnya harus bertarung dengannya."
"Benarkah?" Leona sedikit terkejut mendengarnya.
Arga menghela nafas dalam kemudian mengangguk pelan.
"Bagaimana ceritanya? Apa kau tidak apa-apa?"
Arga tersenyum tipis. "Ya ... aku baik-baik saja, lagi pula aku menang darinya, kok."
"Wah ... kamu hebat." Leona tersenyum lebar sambil bertepuk tangan beberapa kali pada Arga.
Perbincangan mereka pun berakhir setelah cukup lama. Bima dan Arga pergi ke kelas mereka sedangkan Leona masih berada di kantin Akademi dengan teman perempuannya.
Di koridor Akademi, Arga dan Bima sedang berjalan sambil membicarakan sesuatu.
"Ar ..." Bima memanggil Arga ragu.
Arga menoleh. "Kau bilang sesuatu, Bim?"
"Ya ... soal yang kau bilang tadi di kantin, apa itu sungguhan?"
Arga tertawa kecil. "Ya ... sulit dipercaya memang tapi aku sungguh menang darinya."
Bima diam sejenak. "Bagaimana caranya?"
"Entahlah ... aku hanya terus melayangkan pukulan dan terus bertarung tanpa berpikir apapun."
"Sulit dipercaya."
"Kan sudah kubilang tadi!" ucap Arga dengan nada tinggi kemudian kembali berkata, "Tapi ...." Arga menahan ucapannya.
Bima terfokus pada Arga tanpa bertanya.
"... keberanianku tidak muncul tiba-tiba, ada seseorang di sana yang membuat rasa takutku hilang begitu saja." Arga menyambung perkataannya.
"Seseorang? Siapa?"
Arga hendak menjawab pertanyaan Bima sampai seseorang dari belakang tidak sengaja menabrak mereka berdua.
"Eh ... Ma—Maafkan aku," ucap Axel membungkukkan badannya memohon.
Mereka berdua membalikkan badan lalu melihat Axel.
Bima hanya menatapnya datar sedangkan Arga tersenyum canggung lalu berkata, "Ah ... tidak apa-apa." Kemudian raut wajah Arga berubah. "Tunggu, bukannya kau yang tadi di kantin ya?"
Axel menatap Arga kebingungan. "Siapa? Aku?"
*****
Akhirnya setelah perbincangan singkat, mereka memutuskan untuk mengobrol sambil berjalan karena arah tujuan mereka sama.
"Kelas 1-4 ya?" tanya Arga memastikan ucapan Axel sebelumnya.
"Iya, kelas 1-4. Kalau aku boleh tahu, kalian dari kelas mana?" balas Axel kemudian bertanya balik.
"Ah ... kami dari kelas 1-5."
Axel mengangguk paham kemudian kembali bertanya, "Boleh aku tahu nama kalian?"
"Aku Arga." jawab Arga kemudian menepuk bahu Bima. "Dan ini Bima, dia agak tertutup orangnya jadi maklumi saja jika dia jarang bicara."
Bima melirik tajam pada Arga lalu dibalas tawa kecil olehnya.
Axel tersenyum canggung melihat tingkah mereka berdua. "Tidak apa-apa, aku mengerti."
Cukup lama mereka berbincang sambil berjalan sampai akhirnya Arga dan Bima tiba di depan kelasnya.
"Ah ... ini kelas kami, sepertinya kita berpisah disini," ucap Arga.
"Iya tidak apa-apa, terima kasih telah meluangkan waktu kalian untuk mengobrol denganku."
Arga tersenyum tipis. "Baiklah, sampai jumpa lagi." Mereka berdua pun masuk kelas dan mengakhiri pembicaraan dengan Axel.
Karena kelas mereka bersebelahan, Axel hanya perlu berjalan beberapa langkah saja untuk sampai ke kelasnya.
Sementara itu, di lantai gedung Akademi yang berbeda, lebih tepatnya lantai 5 berbeda 3 tingkat di atas kelas Arga dan Bima, seseorang tengah menaiki satu persatu anak tangga menuju atap gedung Akademi, Hestra.
Sebagian besar waktunya, ia habiskan untuk menyendiri di atas gedung Akademi atau bisa juga di sebut atap Akademi.
Sebagian besar waktunya di Akademi, ia habiskan di atap gedung. Duduk bersila sambil mengatur nafas atau pun hanya tiduran sambil memandangi langit biru, seperti itulah yang biasa ia lakukan di sana.
Menyendiri seolah bagian dari hidupnya. Ketenangan yang ia rasakan dapat membuatnya fokus dan ia bisa lebih mudah mengendalikan tenaga dalam tubuhnya.
Tapi kali ini, ia merasa tidak akan mendapatkan ketenangan yang selalu ia rasakan sebelum-sebelumnya saat melihat seseorang tengah merebahkan tubuhnya menghadap langit sambil memainkan jari tangan di atas wajahnya.
Hestra berjalan pelan menghampiri orang itu. "Kau seharusnya berada di kelas sekarang, kan?"
Orang itu mendongak ke atas untuk melihat Hestra, karena posisi Hestra tepat di atas kepalanya.
"Bukannya kau yang harusnya ada di kelas sekarang?" ucapnya membalikkan perkataan Hestra.
Hestra sedikit terkejut saat mendengar suara orang itu yang terdengar seperti suara seorang perempuan.
"Aku sedang tidak ingin masuk kelas, dan kau ... pasti punya tempat lain untuk bolos, kan? Kenapa harus disini?"
Orang itu merubah posisinya menjadi duduk kemudian menoleh ke arah Hestra, "Kalau aku suka disini, bagaimana? balasnya sambil tersenyum.
Hestra membulatkan matanya saat mengetahui orang tersebut adalah seorang perempuan.
"Kenapa melotot begitu?" tanyanya saat melihat raut wajah Hestra yang terkejut.
Mendengar ucapannya, Hestra mencoba mengontrol mimik wajahnya. "Ekhem ... begini ... ada baiknya seorang perempuan tetap diam di kelas dan belajar, jadi dengan senang hati aku persilahkan kau kembali ke kelasmu," ujar Hestra.
"Aku tidak mau." Orang tersebut kembali merebahkan tubuhnya menatap langit.
"He—Hei! Ayolah, disini tempatku! Carilah tempat lain untuk bolos!"
"Tidak—Mau!" ucap perempuan itu kekeh dengan penekanan.
Hestra menghela nafas kasar. "Haish ... siapa sih kau ini? Mengacaukan rencana saja." Hestra mulai kehilangan semangat.
Perempuan itu tertawa pelan. "Namaku Adisty dan aku bukan siswi disini," ucapnya.