19. Adisty

1630 Kata
Perempuan itu tertawa pelan melihat tingkah Hestra yang cukup lucu baginya. Ia kembali mengubah posisinya menjadi duduk lalu melihat ke arah Hestra. "Hei! Yang bolos disini itu cuma kamu, tahu!" Jarinya menunjuk Hestra. Hestra tidak terlalu mencermati ucapan perempuan tersebut, ia tambah kesal setelah mendengar ucapannya."Ha? Bagaimana bisa cuma aku? Kau 'kan juga ada disini, itu berarti kau pun bolos juga." Hestra yang tidak mau mengalah mencoba membalikkan perkataan perempuan tersebut. Perempuan itu menutup wajahnya dan memasang ekspresi kecewa. "Sepertinya kamu tidak paham maksudku ya, Introvert?" "Apa?! Introvert? Apa maksudmu? Aku hanya suka menyendiri saja, tahu!" Hestra membalas dengan nada tinggi dan berapi-api. Perempuan itu memasang wajah datar. "Ya karena itulah kau disebut introvert." Hestra tersentak lalu terdiam sejenak dan mencoba mencermati perkataan perempuan tersebut. Perempuan itu memutar bola matanya. "Sudah, lupakan saja! Dengar, aku bukan dari Akademi ini." "Ha? Bukan dari Akademi?" Hestra spontan bertanya cepat. "Hmm ..., aku hanya sedang bersantai disini." Ia berdiri lalu berjalan ke arah Hestra sampai tiba di hadapannya. "Kenalkan ... aku Adisty." Perempuan itu mengulurkan tangan mengajak berkenalan. Hestra diam sejenak sambil menatap telapak tangan perempuan itu sebelum meraihnya dengan ragu. "Hestra. Kau bisa memanggilku begitu." Adisty mencoba tersenyum tipis. "Baiklah Hestra, apa yang membuatmu suka menyendiri?" ***** Pada akhirnya mereka berdua memutuskan untuk mengakhiri adu suara memperebutkan tempat dan sepakat untuk mengobrol santai dengan kepala dingin sebagai sesama introvert yang berbagi cerita. Langit biru berawan yang cerah serta semilir angin sejuk menghiasi suasana di atas sana, menemani dua orang introvert yang tengah berbincang setelah bersitegang tentang masalah sepele. Mereka berdua duduk bersila saling bersebelahan memandangi hutan rimbun disekitar dari atas gedung Akademi. Sebenarnya di dalam hati Hestra masih tersimpan banyak pertanyaan tentang perempuan di sebelahnya, tapi ia mencoba menahannya dan bertanya secara perlahan. Hestra menoleh pada Adisty. "Jadi sedang apa kau disini?" tanya Hestra penasaran. Adisty yang sedang terpejam sambil merasakan angin sejuk yang menerpa wajahnya menjawab tanpa membuka matanya, "Tidak ada. Aku hanya suka disini. Rasanya nyaman sekali saat kau bisa merasakan ketenangan saat sendirian. Memandangi langit biru tanpa memikirkan apapun, bisa merasakan hembusan angin mengenai wajahmu, entah kenapa aku sangat menyukai hal itu." balas Adisty memaparkan alasannya berada di atas gedung Akademi. "Benarkan? Sudah kuduga bukan aku saja yang berpikiran seperti itu." Hestra berbicara antusias. "Kau juga begitu?" Adisty membuka sebelah matanya lalu melirik pada Hestra. "Tentu saja. Menyendiri dalam ketenangan adalah saat-saat terindah dalam hidupku." jelas Hestra. Adisty memutar bola matanya. "Sepertinya kau terlalu melebih-lebihkan, Introvert." "Hei! Sudah kubilang jangan memanggilku dengan sebutan itu! Kita 'kan sudah membicarakannya tadi!" Hestra mendengus kesal. Adisty tertawa kecil mendengar omelan Hestra. " Iya, iya, maafkan aku. Ngomong-ngomong, selain disini, biasanya kau menenangkan diri dimana? Kau punya tempat lain? "Tentu saja ada. Itu adalah suatu tempat yang tidak akan aku bilang padamu." Hestra memalingkan wajah lalu menekuknya. Adisty menghela nafas kasar kemudian membuka matanya, ia menoleh pada Hestra. "Hei, ayolah ... aku ingin mengetahui tempat-tempat tenang di daerah sini," pinta Adisty. "Tidak! Tidak akan!" ucapnya masih dengan wajah tertekuk. "Hmm ... bagaimana kalau kita buat kesepakatan?" Adisty mencoba mencairkan kekesalan Hestra. "Tidak tertarik tuh." Masih dengan wajah tertekuk. Adisty yang mulai merasa kesal kepada Hestra karena langsung menolak tawarannya spontan memukul kepalanya tanpa ragu sampai terdengar bunyi nyaring. "Diam dulu! Dengarkan dulu sampai aku selesai bicara, Introvert!" Hestra meringis kesakitan sembari memegangi kepalanya. "Agh ... kepalaku! Kenapa kau memukulku? Tanganmu ini tidak bertulang ya? Ringan sekali memukul kepala orang. Dasar!" Adisty tidak menghiraukan omelan Hestra, ia malah memasang wajah cemberut lalu memalingkan wajahnya ke sisi lain. "Makanya dengarkan aku dulu!" Hestra akhirnya mengalah dan mencoba untuk mendengarkan Adisty. "Yasudah, cepat katakan apa mau 'mu?" Wajah cemberut Adisty perlahan memudar, ia kini menatap Hestra. "Begini ... Kita buat kesepakatan, aku tahu tempat di wilayah sebrang yang sejuk dan sangat tenang, aku akan mengajakmu ke tempat itu, tapi dengan syarat, kau harus memberitahuku tempat-tempat untuk menenangkan diri di sekitar sini dan juga tunjukan tempatmu menenangkan diri. Bagaimana?" Hestra berpikir sejenak sembari menyentuh dagunya. "Aku tidak tertarik. Sepertinya tempatku jauh lebih sejuk dan tenang dibandingkan tempat yang kau katakan. Adisty menatap Hestra dengan senyum menyeringai penuh maksud. "Apa di tempatmu ada air terjun jernih yang airnya sejuk dengan kolam penuh ikan di bawahnya? Kau bisa berenang dan merendam tubuhmu di sana seharian, bahkan jika kau mau, kau bisa menikmati ikan-ikan itu. Apa benar kau tidak tertarik, hah?" Adisty menaik turunkan alisnya menggoda Hestra. "Tidak. Suara air terjun sangat berisik, bagaimana aku bisa menenangkan diri? Aku juga tidak terlalu suka ikan. Dan sebenarnya tubuhku tidak bisa terlalu lama di dalam air. Jadi lupakan saja." Hestra sama sekali tidak tertarik dan menanggapinya biasa saja. Adisty diam sejenak sambil melirik kiri-kanan, ia kembali memikirkan cara untuk membuat Hestra tertarik dengan ucapannya. "Begitu ya ... baiklah. Apa di tempatmu burung-burung masih bebas berkicau? Coba bayangkan ... kau menenangkan dirimu dengan bersandar pada sebuah pohon, burung-burung menghampiri dan berkicau di depanmu, sangat tenang bukan? Bagaimana? Kau tertarik?" "Hmm ... kicauan burung ya? Kalau cuma burung yang berkicau disini juga masih banyak. Jadi apa bedanya tempatmu dan disini?" Adisty mulai kesal. Ia akhirnya mulai mengarang cerita agar Hestra tertarik. "Baiklah, baiklah, lupakan itu semua! Sebenarnya yang membuat tempat itu istimewa adalah sumber air yang bisa menambah tenaga dalam kalau kau meminumnya. Apakah disini ada sumber air seperti itu? Hestra menoleh cepat pada Adisty lalu menatapnya dengan mata terbuka lebar . Adisty membalas tatapannya dengan menggerakkan alisnya naik turun. "Bagaimana? Apa kau tertarik? Bayangkan ... saat kau meminum air itu seteguk saja, tenaga 'mu bertambah dengan luar biasa. Jika kau meminumnya setiap hari, kau bisa mempunyai tenaga dalam yang sangat banyak." Sepertinya Adisty terlalu melebih-lebihkan ceritanya. Nyatanya, tidak ada sumber air seperti itu, tapi ceritanya tidak sepenuhnya salah, yang dia katakan memang benar, ada cara untuk menambah tenaga dalam, tapi bukan sumber air seperti yang dia katakan. "Apa yang kau katakan itu benar? Apa ada tempat seperti itu? Tidak mungkin ada tempat seperti itu." Hestra mencoba tidak terlalu percaya ucapan Adisty walau pun dia sangat menginginkan tempat yang Adisty katakan. Sebenarnya, saat Adisty menceritakan satu-persatu keistimewaan tempat yang ia maksud, jauh dalam hati Hestra, ia menginginkannya. Ia membayangkan duduk bersila di suatu tempat dengan air terjun di depannya dan cipratan air sejuk menerpa wajahnya. Burung-burung berkicau dengan bebas. Dan yang paling menggiurkan baginya adalah tenaga dalam yang terus bertambah tanpa latihan. Hidup yang sempurna. "Bagaimana kalau ada?" goda Adisty lagi masih memainkan alisnya naik turun. Ucapan Adisty cukup membuat Hestra tertarik, tapi dia masih ragu apakah benar ada tempat seperti itu. Hestra masih terdiam dengan tatapan terpaku pada Adisty. Perempuan itu memutar bola matanya sembari menghembuskan nafas kasar. "Kau terlalu banyak berpikir. Jadi tidak?" Akhirnya setelah berpikir lama, Hestra memutuskan untuk percaya kepada perempuan tersebut. "Baiklah, aku akan menunjukkan beberapa tempat untuk menenangkan diri di sekitar sini. Dan aku akan mempertimbangkan untuk menunjukan tempatku untuk menenangkan diri kepadamu, tapi kau harus berjanji untuk menunjukan tempat yang kau sebutkan barusan kepadaku. Kalau tidak—" "Ya, ya, ya. Kau terlalu cerewet untuk seorang introvert. Ayo pergi!" sela Adisty memotong ucapan Hestra. Sebenarnya, Adisty belum lama tinggal di daerah sini. Dia datang ke wilayah timur karena suatu alasan. Dia hanya sedang melaksanakan perintah gurunya untuk mengawasi seseorang di sana, Bima Panthera, salah satu siswa Akademi Bach. Karena suatu alasan, ia harus selalu mengawasi dan menjaga Bima. Gurunya berpesan untuk melindungi Bima jika ia dalam bahaya. Entah apa tujuannya dan tidak diketahui darimana ia mengenal Bima. Oleh karena itu, tanpa diketahui oleh Bima, Adisty selalu mengawasinya dari kejauhan. Namun, berbeda dengan hari biasanya, hari ini Adisty cukup bosan dan ingin sedikit bersantai dengan berkeliling mencari tempat bersantai di temani Hestra, pemuda yang baru saja ia temui di atap gedung Akademi untuk bolos pelajaran dan bersantai. "Ayo lewat sini!" Hestra berbalik badan kemudian berjalan menuju pintu masuk Akademi yang berada di atas gedung. Namun ucapan Hestra tidak ditanggapi oleh Adisty. Ia menghentikan langkahnya lalu berbalik badan untuk melihat Adisty. "Hei, jadi ti—" Hestra tidak melanjutkan ucapannya, mulutnya masih terbuka karena perkataannya belum tuntas. Matanya terbuka lebar melihat perempuan tersebut sudah tidak ada di tempatnya semula, ia melihat sekeliling tapi Adisty benar-benar hilang dalam pandangannya. "Hei! Adisty! Dimana kau!" Hestra berteriak keras sembari memutar badannya untuk melihat sekeliling. Lalu sesaat kemudian terdengar suara dari kejauhan, suara itu sangat kecil namun Hestra masih bisa mendengarnya. "Hei Introvert! Aku dibawah sini. Cepat turun!" Hestra mengerutkan dahinya, ia mengenali suara itu. Ia segera berlari ke tepi gedung lalu melihat ke bawah dan ternyata Adisty sudah ada dibawah sana dengan tangan terlipat sambil melihat ke atas. "Cepat turun, Introvert! Disini sangat panas." teriak Adisty. "Astaga, bagaimana dia tiba-tiba ada dibawah sana." Hestra hampir tidak percaya dengan apa yang dia lihat. Seingatnya tidak ada eskalator atau pun jalan pintas dari atas gedung menuju lantai bawah. "Ba—Baik, tunggu di sana." Hestra pun segera berlari menuruni satu persatu anak tangga, melewati beberapa lantai, berlari diantara koridor kelas sampai ke lantai paling bawah, ia berlari keluar gedung dan melihat Adisty sudah ada di sana melihatnya dengan tangan masih terlipat. Adisty menatap Hestra datar. "Kau sangat lambat." Hestra berjalan menghampiri Adisty. "Ba—Bagaimana kau bisa tiba-tiba ada di bawah sini?" Hestra masih tidak bisa berkata dengan lancar karena terlalu terkejut dengan yang baru saja terjadi. "Aku melompat." "Ha?" Hestra langsung menatap ke atas gedung lalu menurunkan pandangannya perlahan sampai bawah dan dia tahu gedung itu cukup tinggi. Mustahil seseorang melompat dari ketinggian itu. Mungkin hanya satu orang saja yang melompat dari ketinggian seperti itu yaitu orang yang ingin bunuh diri. "Kenapa kau terkejut begitu? Apa kau tidak pernah melompat dari ketinggian?" Hestra menggelengkan kepalanya pelan dengan mulut menganga. "Sudah kuduga. Yasudah lupakan saja. Ayo berangkat." Hestra tidak mampu berkata apa-apa lagi. Mulutnya masih menganga tidak percaya kalau Adisty bisa melompat dari gedung tinggi. Akhirnya mereka pun mulai melangkahkan kakinya ke suatu tempat.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN