20. Pertemuan Hestra Dion

2052 Kata
Sementara itu, di suatu tempat yang cukup jauh dari Gedung Akademi, tiga orang pemuda tengah duduk bersandar pada sebuah pohon besar di jalan sekitar hutan. Mereka tengah membicarakan sesuatu yang tidak terlalu penting. Nampak dari gerak-gerik tubuhnya, mereka sedang terburu-buru. Ketiga pemuda itu adalah Dion dan kedua temannya yang sedang bolos pelajaran. Mereka pergi ke jalan sekitar hutan untuk merokok. Mereka baru saja sampai di sana kemudian menyandarkan tubuhnya pada sebuah pohon. Dion menoleh pada salah satu temannya. "Hei, kau bawa barangnya, 'kan?" tanyanya. "Ya, aku bawa," balasnya. "Cepat keluarkan! Jangan terlalu lama di tempat ini," ujar Dion. Pemuda itu langsung merogoh saku celananya dengan cepat. "Sebentar, sepertinya aku menaruhnya di sini." "Hei, Dion, kenapa kita harus bolos di sini? Bukankah ini terlalu jauh?" tanya pemuda satunya. Dion menoleh ke arahnya. "Tidak. Ini tidak terlalu jauh," balas Dion. Dia kembali memalingkan pandangannya pada pemuda yang tengah merogoh sakunya. "Tidak kau bilang? Ini terlalu jauh, Sialan!" ucap pemuda itu lagi. Dion kembali menoleh ke arahnya dengan tatapan sinis. "Memang kenapa, hah? Kau takut berada di sini, b******k?" Raut wajahnya kesal. Pemuda itu menelan ludahnya saat melihat wajah Dion yang nampak kesal. "Bu—Bukan begitu, aku hanya berpikir apa tidak ada tempat lain?" tanyanya kembali. Belum sempat Dion membalas ucapannya, pemuda yang tengah merogoh sakunya menimpali ucapan temannya. "Benar kata dia, sepertinya kita terlalu jauh dari Akademi. Apa tidak ada tempat lain? Kita kan bisa melakukannya di Akademi. Benar, 'kan?" "Iya, kita bisa melakukannya di atas gedung, di perpustakaan atau mungkin ... di toilet?" PLAK!! Dion memukul temannya dengan keras. "Apa kau lupa kejadian sebelumnya, Bodoh?" seru Dion. Pemuda itu mengerutkan keningnya kebingungan. "Ha? Kejadian apa?" Dia menatap teman satunya. "Kau tahu?" "Kejadian sebelumnya? Sepertinya tidak ada. Memang kejadian apa?" tanyanya pada Dion. Dion mengeraskan rahangnya dan terlihat menahan amarahnya. "Kalian lupa ya? KEJADIAN DI TOILET DASAR BODOH!!" seru Dion dengan nada tinggi. Beberapa waktu lalu saat mereka memilih bolos di toilet Akademi, mereka harus terlibat masalah saat seorang pemuda masuk tanpa melihat kertas peringatan yang mereka tempel. Mungkin bukan mereka yang terkena masalah, lebih tepatnya hanya Dion yang terlibat masalah. Ia harus dihajar habis-habisan oleh Byron karena telah mengganggu tidurnya. Dion tidak mau kejadian itu terulang lagi dan memilih untuk bolos di luar Akademi. "Ah, kejadian itu rupanya. Benar juga ya, kau harus terlibat dengan anak itu." "Sudah, diamlah, Sialan! Cepat keluar barangnya! Kenapa lama sekali?" ujar Dion yang dari tadi terus menunggu rokok dari temannya. Pemuda itu masih terlihat merogoh saku celananya. Tangannya berusaha masuk ke dalam sakunya, tapi sepertinya dia kesulitan. Celana yang dia pakai cukup ketat sehingga celah saku celananya pun sangat rapat. Kemudian posisi duduknya semakin mempersempit celah sakunya. Dion merapatkan giginya merasa kesal. Ia sudah menunggu cukup lama untuk sebatang rokok dari temannya. Mulutnya sudah terasa asam dari tadi. Ia sudah tidak tahan ingin menghisap asap rokok sekarang. "Cepatlah, Sialan! Aku sudah tidak tahan!" ujarnya. "Tu—Tunggu sebentar, ini agak susah di keluarkan." Dia masih berusaha mengeluarkan beberapa batang rokok dari saku celananya. "Cepatlah sedikit, aku sudah tidak kuat!" desak Dion lagi. "Tu—Tunggu, sedikit lagi. Agh! Kenapa susah sekali sih." PLAK!! Dion yang sudah tidak bisa menahan kekesalannya akhirnya memukul kepala temannya sampai terdengar bunyi nyaring. "Cepatlah!" "Agh! Kepalaku!" Pemuda itu spontan memegang kepalanya yang terkena pukulan Dion. Ia mengusap kepalanya beberapa kali. Matanya melihat tangannya yang terkepal sambil menggenggam beberapa batang rokok. "Hei, lihat ini! Aku berhasil mengambil rokoknya," ucapnya lalu tertawa bangga. "Berikan aku satu batang," pinta Dion. Pemuda itu melirik sinis pada Dion lalu memberikan sebatang rokok kepadanya dengan terpaksa. "Ambil!" "Cih! Lama sekali, Sialan!" Dion mengambil rokok itu kemudian menempelkan diantara bibirnya. Dia menoleh ke pemuda lainnya sambil mengulurkan tangannya. "Kau bawa koreknya? Mana?" Pemuda itu segera merogoh saku celananya. "Tunggu sebentar, sepertinya ada di sakuku." Dion menunggu sejenak sambil menatapnya dengan malas. Namun, beberapa detik berlalu, pemuda itu belum juga berhasil mengeluarkan korek dari sakunya. "Se—Sebentar, ini ada di sakuku, aku akan mengambilnya," ucapnya masih berusaha. "Cepatlah sedikit, Sialan!" bentak Dion. "Sedikit lagi. Astaga! Kenapa sulit sekali!" "Hei, sudah belum? Kenapa lama sekali? Ambil yang benar, Sialan? Jangan membuatku menunggu!" seru Dion lagi. "Se—Sebentar lagi, ini ternyata lebih sulit dari yang aku kira," balasnya. Dion menghela nafas kasar. "Apa aku juga harus menunggu koreknya, Sialan? Jangan sampai aku harus memukul kepalamu untuk mengeluarkan korek itu dari sakumu?" Pemuda itu menatap Dion dengan cepat. "Ti—Tidak! Kau tidak harus memukulku. Aku bisa mengeluarkan korek ini." "Hei, cepatlah, Bodoh! Aku sudah tidak tahan ingin segera menghisap rokok," ujar pemuda satunya dengan rokok sudah menempel di bibirnya. "Diamlah, Sialan! Kau juga lama saat mengambil rokok tadi." Dion kembali menghela nafas kasar. "Tidak ada cara lain. Sepertinya aku harus melakukannya." Pemuda itu menatap Dion. "Jangan bilang ...." PLAK!! *** "Ngomong-ngomong, kenapa kau bolos pelajaran?" tanya Adisty pada pemuda di sebelahnya, Hestra. "Bukan urusanmu," balas Hestra dengan acuh. Adisty menyenggol tangan Hestra dengan sikunya. "Hei, hei, ayolah ... kenapa sekarang kau jadi cuek begitu, Introvert?" Hestra menghembuskan nafas kasar lalu memalingkan pandangannya ke sisi lain. "Jangan bicara terus, aku sedang malas berbicara." "Kenapa? Apa karena kau seorang Introvert?" "Hei, bisa kau berhenti mengucapkan kata itu?" "Kata apa? Introvert?" "Ya, kata itu." "Mm ... baiklah. Apa tempatnya masih jauh, Penyendiri?" Hestra kembali menghela nafas kasar. "Terserah kau saja." Adisty tertawa kecil melihat wajah Hestra yang mulai cemberut karena kesal dipanggil dengan sebutan introvert. Suasana hening beberapa saat, Adisty berhenti berbicara dan mulai melihat pemandangan di sekelilingnya. Hestra akhirnya bisa bernafas lega saat tidak mendengar suara Adisty lagi. Sesaat kemudian, ia kembali teringat kejadian di Akademi saat Adisty tiba-tiba berada di bawah gedung. Ia melirik singkat pada Adisty. "Hei, apa kau benar-benar melompat dari atas gedung?" "Gedung apa?" "Gedung Akademi, bukankah tadi kau bilang kalau kau melompat dari atas gedung, apa itu benar?" "Iya benar, memangnya kenapa?" "Tidak ada. Tapi, tetap saja terdengar aneh. Seorang perempuan melompat dari atas gedung dan tidak terluka sedikit pun. Aneh sekali." "Hei, aku ini punya tulang kaki yang kuat, tahu! Kalau hanya melompat dari ketinggian segitu tidak akan terjadi apa-apa padaku." Hestra kembali melirik singkat pada Adisty. "Hmm ... hebat sekali," ucapnya datar. "Hei, Intro—, maksudku Hestra, apa kau bisa bertarung?" "Bertarung? Yah ... sepertinya aku bisa sedikit." "Wah ... apa kau punya keistimewaan?" "Keistimewaan? Apa yang kau bicarakan?" "Seperti kemampuan khusus? Kau bisa terbang? Bergerak secepat kilat?" "Cih ... bicara apa kau ini? Aneh sekali." "Yah ... mungkin saja kau memilikinya. Kau tahu? Di wilayahku, hampir semua orang punya keistimewaan itu." "Memangnya kau dari mana?" "Ah ... kalau itu, aku tidak bisa memberi tahumu, tapi yang jelas, di sana yang kuatlah yang berkuasa." "Yah ... sepertinya aku pernah dengar kata-kata itu. Itu terdengar seperti prinsip kuno, dimana yang kuat berdiri di atas kepala yang lemah." "Mm ... sepertinya tidak begitu. Mungkin ada beberapa yang seperti itu tapi makna lain dari prinsip itu adalah yang kuat bebas memerintah yang lemah dan yang lemah tidak boleh menolaknya." "Ya, aku tahu itu." "Hei, Hestra, apa tempatnya masih jauh? Kita sudah berjalan lama sekali, aku tidak terbiasa berjalan sejauh ini." Hestra menghela nafas kasar. "Hah ... tidak terbiasa? Lalu bagaimana kau bisa tiba ke daerah sini jika tidak berjalan?" "Yah ... Mm ... aku sebenarnya bisa terbang." Hestra tidak terlalu fokus mendengarkan perkataan Adisty. "Kau apa?" "Aku bisa ter—." Ucapannya terhenti ketika Hestra menghentikan langkahnya. Hestra menyentuh bahu Adisty. "Tunggu sebentar." Adisty menoleh pada Hestra. "Ada apa? Kenapa tiba-tiba berhenti? Apakah sudah sampai?" "Bukan itu. Lihat di sana!" Hestra menunjuk kearah depan. Adisty melihat ke arah yang ditunjuk Hestra lalu melihat tiga orang pemuda yang tengah berjongkok di sisi jalan dengan asap rokok keluar dari mulut mereka. Adisty kembali menoleh pada Hestra. "Ada apa dengan mereka?" "Mereka adalah berandalan di Akademi Bach." "Lalu kenapa? Tidak ada urusannya juga dengan kita, 'kan? Biarkan saja mereka. Ayo jalan lagi!" Hestra menghela nafas kasar. "Semoga saja ..." Hestra pun memutuskan untuk melangkahkan kakinya lagi kemudian diikuti Adisty. Hestra sebenarnya sedikit ragu untuk melanjutkan perjalanan saat melihat Dion dan kedua temannya tengah berkumpul di sisi jalan tidak jauh di depan mereka. Adisty yang belum mengenal Dion dan tidak tahu sifatnya merasa semua akan baik-baik saja. Dia berpikir, bila tidak mengusiknya, ia juga tidak akan mengusik. Tapi sepertinya dia juga belum mengetahui kalau orang di sampingnya pernah terlibat masalah dengan Dion. Mereka berjalan jauh ke depan sampai cukup dekat dengan Dion. Hestra mencoba mengacuhkannya dan terus berjalan dengan pandangan lurus ke depan. Tapi perempuan di sampingnya justru membuat interaksi dengan Dion. Saat mereka berdua melewati Dion dan kedua temannya, sebenarnya Dion hanya diam dan hanya memandang mereka dengan tatapan sinis. Dion masih mengingat jelas wajah pemuda yang kini sedang berjalan di depan matanya, pemuda yang menggagalkan rencananya untuk memberi pelajaran pada Arga. Dion dan kedua temannya hanya diam melihat mereka, tidak terlihat ia ingin membuat masalah dengan mereka. Entah karena sedang tidak ingin atau mungkin ada rasa takut pada Hestra, yang jelas ia hanya diam dan tidak bergeming dari tempatnya. Hestra dan Adisty sudah beberapa langkah dari hadapan mereka. Hestra menghembuskan nafas lega dan bisa menurunkan sedikit postur tubuhnya. Dia sedikit merasa heran kenapa Dion mengacuhkannya tapi ia segera menghempaskan pikiran itu. Yang jelas kini, dia tidak perlu membuang-buang waktu dengan Dion. Beberapa langkah selanjutnya, Adisty berhenti lalu diikuti oleh Hestra. Pemuda itu menoleh lalu bertanya, "Ada apa? Kenapa berhenti?" Adisty hanya terdiam dengan pandangan lurus ke depan dan berkedip beberapa kali. Sesaat kemudian, "Tunggu disini sebentar!" Dia berbalik kemudian berjalan menghampiri Dion dan kedua temannya. Hestra membulatkan matanya. "He—Hei, Kau mau apa? Kembali! Astaga. " Hestra memegang kepalanya dan tidak habis pikir dengan yang dilakukan oleh Adisty. Adisty kini berada di hadapan Dion. Cukup dekat. Mungkin hanya terpaut satu langkah saja di depan mereka. Ia memandangi ketiga pemuda itu berganti. Dion yang sedang menikmati rokok lintingnya terdiam beberapa saat ketika melihat sepasang kaki putih dengan sandal gladiator coklat tepat di hadapannya. Ia perlahan mengangkat kepalanya untuk melihat pemilik dari kaki itu. Ia tertegun dan merasa takjub beberapa saat ketika melihat wajah pemilik kaki itu yang begitu cantik dengan pipi putih mulus dan mata jelita dengan pupil berwarna coklat muda. Dion hanya terdiam sambil memandangi wajah perempuan yang sedang berdiri di hadapannya. Perlahan bibirnya terangkat keatas dan tergambar senyum diwajahnya. Bukan senyum tulus tapi senyum c***l yang muncul, lidahnya perlahan terjulur dan menjilat bibir atasnya. Adisty tidak terlalu memperhatikan wajah c***l Dion, ia hanya melihat sesuatu di tangan Dion, selinting rokok yang tinggal setengah. Beberapa saat melihat, ia menggelengkan kepalanya beberapa kali sambil berdecak. "Sudah bolos, merokok pula. Kalian benar-benar nakal ya?" ucap Adisty dengan lancangnya. Raut wajah Dion berubah seketika saat mendengar ucapan Adisty yang terdengar tidak enak di telinganya. "Hei! Apa maksudmu bicara seperti itu?" "Maksudku? Lihat diri kalian! Kalian ini sudah besar, harusnya lebih mementingkan kesehatan kalian. Lebih baik kalian kembali ke Akademi dan belajar yang rajin." Dion dan kedua temannya saling menatap satu sama lain kemudian tertawa terbahak-bahak. Sesaat kemudian Dion berdiri lalu menghisap rokoknya dan dihembuskannya tepat di depan wajah Adisty sampai ia terbatuk-batuk. "Memangnya siapa dirimu? Kau ibuku? Ayahku? Kenapa berani mengaturku?" Adisty masih batuk beberapa saat sebelum ia bisa menjawab ucapan Dion. "Astaga dadaku sesak sekali. Sudahlah aku tidak punya waktu dengan kalian. Kalian urus saja hidup kalian sendiri!" Setelah mengatakan itu, Adisty berbalik lalu melangkahkan kakinya. Langkahnya terhenti sesaat setelah lengannya dicengkeram oleh Dion. "Kau mau kemana?" Adisty berbalik lalu menatap tangannya yang dicengkeram oleh Dion, ia berusaha melepaskannya dengan menariknya tapi tenaga Dion cukup kuat untuk menahan usahanya. "He—Hei! Lepaskan tanganmu! Aku sudah selesai dengan kalian. Aku harus pergi sekarang!" Adisty masih memberontak. Hestra tertawa beberapa sesaat sebelum membuka mulutnya. "Bukannya kau yang datang duluan dan berbicara pada kami? Kenapa buru-buru sekali?" Merasa dirinya sedang terancam, Adisty dengan cepat menendang tulang kering Dion dengan kuat sampai terdengar bunyi retakan. Sontak Dion yang merasa kesakitan langsung melepaskan cengkramannya dari tangan Adisty yang membuat perempuan itu terjengkang beberapa langkah ke belakang. Dion mendengus kesal. "Perempuan sialan! Awas kau!" Dengan cepat Dion menghampiri Adisty dan langsung melayangkan tamparan ke wajahnya. Sesaat sebelum tamparan itu mengenai wajah Adisty, Dion dibuat terkejut karena seseorang menahan lengannya. Ia menatap pemilik tangan itu yang terlihat sedang menatapnya dengan tajam dan itu adalah Hestra. "Kau mau mati, hah?" ucap Hestra dengan tatapan tajam menatap mata Dion. KALAU SUKA JANGAN LUPA FOLLOW DAN LOVE, OKE!
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN