21. Pertarungan Bersama

1422 Kata
Merasa dirinya terancam, dengan tenang Adisty menghela nafas dalam, lalu mencoba memusatkan tenaga dalam pada kaki kanannya. Dengan cepat ia membenturkan ujung kakinya ke tulang kering Dion. Tendangan yang bahkan bisa dirasakan rasa sakitnya tatkala mendengar benturannya seperti suara retakan. Mungkin itu bunyi dari tulang kering Dion yang sedikit retak di bagian depannya. Dion terdiam beberapa detik ketika merasakan sakit di kakinya, detik selanjutnya ia berteriak kesakitan sambil memegangi tulang keringnya. Tangan yang sebelumnya digunakan untuk mencengkram tangan Adisty kini sudah terlepas dan kedua tangannya sekarang memegangi tulang kering kaki kirinya. Adisty terjengkang beberapa langkah ke belakang saat tangannya terlepas dari cengkraman Dion. Ia melihat tangannya dan terdapat bekas merah akibat cengkraman Dion. Dia mengusapnya beberapa kali untuk mencoba menghilangkan bekas itu, tapi itu tidak terlalu menjadi masalah untuknya. Hanya saja, bekas merah itu sangat kontras dengan kulitnya yang putih, sehingga dapat dilihat dengan jelas oleh siapa pun, terlebih Adisty sedang memakai baju lengan pendek berbahan katun yang hanya sampai pada ketiaknya saja. Sesaat kemudian, ia melihat ke arah Dion yang sedang berteriak kesakitan sambil memegangi kakinya dan terlihat mengusapnya beberapa kali. Lalu ia menoleh ke belakang dan melihat Hestra yang hanya berdiri memandanginya dengan raut wajah bingung dan mata terbuka lebar. Adisty tersenyum lebar ke arah Hestra diikuti acungan jempolnya. Raut wajah Hestra berubah menjadi terkejut dan pandangannya melihat ke arah belakang Adisty. Adisty yang menyadari itu, mencoba menoleh ke belakang dan dalam beberapa detik berselang, sebuah telapak tangan yang cukup besar berada tepat di depan wajahnya, melesat dengan sangat cepat. Adisty tidak dapat menghindari tamparan itu karena hanya berjarak beberapa inci saja dari wajahnya, spontan ia memejamkan matanya. Beberapa detik berlalu, Adisty tidak merasakan apapun menyentuh wajahnya. Ia perlahan membuka kelopak matanya dan terlihat tangan itu masih di depan wajahnya, hanya saja tangan yang sebelumnya melesat ke arahnya, kini tidak bergerak karena seseorang menahannya. Adisty memalingkan pandangannya kepada pemilik tangan yang telah melindunginya dan nampaklah seorang pemuda dengan tatapan tajam menatap lurus ke depan, Hestra. Adisty membulatkan matanya lebar, terkejut saat melihat pemuda yang sebelumnya berada beberapa langkah di belakangnya, lalu sesaat kemudian sudah berada di sebelah tubuhnya untuk melindunginya. "Kau mau mati, hah?" ucap Hestra dengan tatapan tajam menatap Dion. Tangannya mencengkram kuat lengan Dion yang hampir saja mengenai wajah Adisty. Dion terdiam beberapa saat, jujur saja, dia juga terkejut dengan keberadaan Hestra yang tiba-tiba berada di sebelah Adisty dan langsung menahan tangannya. Kecepatan yang luar biasa. Dion mengepalkan tangannya kemudian menariknya dengan kuat dari cengkraman Hestra. Dia tertawa congkak sebelum membuka mulutnya. "Mau jadi pahlawan lagi, hah? Oh ... atau jangan-jangan kau kekasih perempuan ini? "Tutup mulutmu! Aku tidak punya urusan denganmu, tapi jika kau menyentuh perempuan ini, akan ku bunuh kau!" Dion mundur beberapa langkah mendekati kedua temannya lalu kembali tertawa. "Hei, apa kalian mendengar orang ini bilang apa?" Kedua temannya membalasnya dengan tertawa. "Sepertinya benar, mereka memang sepasang kekasih." ucap Dion. Hestra menghela nafas kasar lalu melihat Adisty. "Kau tidak apa-apa?" "Hei, santai aja. Aku tidak lemah seperti yang kau kira. Aku bisa menghadapi orang ini sendirian." balas Adisty. Dion yang mendengar ucapan Adisty, lagi-lagi tertawa. "Kalian dengar? Perempuan itu bilang bisa menghadapiku sendirian." Lalu kedua temannya membalasnya dengan tawa mereka lagi. "Jangan, walau pun kau bisa bertarung, sepertinya kau tidak bisa mengalahkannya." "Hei, bicara apa kau, Introvert? Aku bi—" Ucapannya terhenti saat satu pukulan keras mendarat di wajah pemuda yang saat ini berada di hadapannya. "Hei, kalian mengobrolkan apa? Buang-buang waktuku saja!" dengus Dion kesal sesaat setelah pukulannya mendarat di wajah Hestra. Akibat pukulan itu Hestra terjengkang beberapa langkah ke belakang, namun ia masih bisa menyeimbangkan tubuhnya untuk tetap berdiri. Ia mengusap bekas pukulan di pipinya dengan punggung tangannya. "Adisty, kemarilah! Biar aku saja yang menghadapinya." Tanpa berpikir, Adisty berlari ke belakang tubuh Hestra. "Kau yakin akan bertarung dengannya? Kita hanya akan membuang-buang waktu disini." "Bukannya yang membuat masalah ini terjadi adalah kau, ya?" Adisty hanya terdiam dengan pipi perlahan memerah mendengar ucapan Hestra, ia menundukkan kepalanya. "Aku minta maaf soal itu, aku kira masalahnya tidak akan menjadi serumit ini." Hestra menghela nafas kasar lalu menatap Dion. Ia maju dua langkah ke depan. "Mari selesaikan ini!" Dion mendengus kesal. "Kita lihat, siapa yang mati duluan!" Masing-masing dari mereka pun mulai melangkah mendekati satu sama lain, dan adu pukul pun terjadi. Kecepatan dan kekuatan mereka di uji di pertarungan ini. Pukulan Dion memang cepat, tapi pukulan Hestra lebih merusak. Hanya beberapa pukulan saja yang mengenai wajah Dion, ia sudah terlihat babak belur dengan pelipis robek. Satu pukulan keras dari Hestra dan Dion terjengkang ke belakang. "Sial! Apa-apaan orang ini? Kenapa pukulannya sangat menyakitkan." Dion melihat kedua temannya. "Hei sial*n! Kenapa diam saja? Ayo bantu aku!" Kedua teman Dion langsung bergerak bersamaan menghampiri Hestra dan mulai melancarkan pukulan satu per satu. Dengan mudah mereka dapat dikalahkan oleh Hestra. Dion yang melihat pemandangan itu mendengus kesal. "Tidak berguna!" Hestra memandangi mereka bertiga. "Apa kalian sudah selesai?" Kalau begitu aku pergi du—" Ucapannya terhenti saat dirinya tiba-tiba merasakan sakit yang luar biasa pada lengannya. Hestra langsung membungkukkan badannya dan meringis kesakitan memegangi kedua lengannya. "Agh! Tanganku ..." "Hei, kau baik-baik saja?" teriak Adisty dari belakang. Hestra menoleh ke arahnya tapi tidak menjawabnya. Raut wajahnya nampak sangat kesakitan dan keringat mulai bercucuran dari wajahnya. Dion yang melihat Hestra tengah kesakitan langsung memanfaatkan kesempatan itu untuk menyerangnya. Ia berlari ke arah Hestra dan langsung melayangkan pukulan keras ke wajahnya sampai ia terpental beberapa langkah ke belakang dan jatuh ke tanah. Adisty berlari mendekati Hestra. "Hei, hei, kau kenapa? Ada apa denganmu?" tanya Adisty dengan wajah khawatir. "Aku tidak bisa menggerakkan tanganku, sakit sekali." balas Hestra dengan raut wajah merah menahan sakit di lengannya. "Hei! Ada apa dengan lenganmu, sial*n? Apa pukulanku terlalu keras sampai kau tidak bisa bergerak?" ejek Dion diikuti tawa kedua temannya. Adisty mengalihkan pandangannya sejenak pada Dion sebelum kembali menatap Hestra. Ia merapatkan giginya geram. "Kau diam saja disini, biar aku yang urus orang itu." "Ka—Kau yakin?" Adisty menghela nafas perlahan. "Tenang saja, Introvert. Sudah kubilang, 'kan, aku tidak selemah yang kau kira." Setelah berkata demikian Adisty bangkit dan langsung menatap Dion yang juga tengah menatapnya dengan tatapan tajam sambil tersenyum. Adisty mendongakkan kepalanya lalu membunyikan ruas tulang lehernya. Ia menghela nafas dalam dengan mata terpejam. "Tidak kusangka, aku akan terlibat masalah di daerah ini." Ia kembali menatap Dion lalu tersenyum. "Mari selesaikan ini!" Sesaat kemudian, ia melesat ke arah Dion dan langsung menyerangnya dengan cepat tanpa henti. Hestra yang menyaksikan itu seketika membulatkan matanya karena terkejut. Pukulan demi pukulan ia layangkan sampai Dion tidak punya kesempatan untuk membalas serangannya, bahkan untuk membuka mulutnya sekali pun. Dion melompat beberapa langkah ke belakang dan memegangi bagian tubuhnya yang terasa sakit akibat pukulan Adisty. "Sial*n, tidak kusangka dia bisa bertarung sehebat ini, " gerutu Dion. Sesaat kemudian, Adisty kembali melesat dengan tendangannya. Dion yang saat ini sudah siap menerima serangannya, sudah mengepalkan tangannya kuat, saat Adisty datang dengan serangan kakinya, Dion menyampingkan tubuhnya untuk menghindar lalu mendaratkan pukulannya tepat di ulu hati Adisty. Perempuan itu terhempas jauh ke belakang sampai akhirnya terkapar di tanah, ia terbatuk beberapa kali sambil memegangi perutnya yang terasa mual. Hestra yang juga tengah terkapar berusaha berdiri untuk menghampiri Adisty, namun rasa sakit di lengannya membuat seluruh tubuhnya mati rasa, kakinya tidak dapat digerakan sedikit pun. "Agh! Sial!" "Wah ... wah ... wah, hampir saja harga diriku runtuh karena dikalahkan oleh seorang perempuan, ternyata aku terlalu cepat menilai." Dion menatap Hestra sejenak lalu mengalihkan pandangannya pada Adisty, ia berjalan menghampirinya lalu berjongkok disampingnya. "Hei, siapa namamu cantik? Kenapa kau bersama dengan pecundang itu? Bukankah lebih baik kau bersamaku?" ucap Dion. Adisty tertawa kecil mendengar ucapan Dion, dengan rasa sakit di ulu hatinya ia menjawab, "Kau tahu? Sebenarnya kau itu terlalu percaya diri dengan wajahmu itu." Mendengar itu, kedua teman Dion yang berada tidak jauh dari sana langsung tertawa terbahak-bahak. "Diam, sial*n!" bentak Dion kepada kedua temannya. Dion menatap tajam pada Adisty, lalu tanpa aba-aba, tamparan keras mendarat di pipi Adisty. Perempuan itu terdiam beberapa saat ketika tangan kotor Dion baru saja menampar wajahnya. Ia menatap tajam pada Dion. "Kau membuat kesalahan!" "Kesalahan? Apa maksudmu ini?" Dion kembali melayangkan tangannya ke wajah Adisty. Sesaat sebelum tangan itu menyentuhnya, seseorang dari belakang mencengkram tangannya. "Kau sedang apa dengan perempuan ini?" Dion yang tidak asing dengan suara itu, perlahan menoleh ke belakang. Jantungnya berhenti berdetak beberapa saat ketika melihat orang dibelakangnya adalah Bima. "Ka—Kau?" Dalam sesaat seluruh tubuh Dion bergetar, ia bahkan sampai kesulitan mengeluarkan kata-kata. Dan tidak jauh dari sana, Arga tengah membantu Hestra untuk duduk. "Hei, kau baik-baik saja?"
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN