30 Menit sebelumnya di kelas 1-5, Akademi Bach.
Guru pembimbing baru saja keluar dari kelas. Sesaat kemudian, suasana kelas menjadi sedikit ribut. Masing-masing dari mereka sibuk dengan kegiatannya sendiri. Ada yang mengobrol dengan teman sebangkunya, ada yang tidur di meja bertumpu pada tangannya, dan ada juga yang mencoba mengingat kembali apa yang pembimbing ajarkan sebelum keluar dari kelas.
Dan terlihat Arga menyenderkan tubuhnya pada kursi setelah berusaha menyimak dan mendengarkan apa yang pembimbing sampaikan. Ia mendongakkan kepalanya menatap kosong pada langit-langit kelas. Ia termenung beberapa saat dan mulai memikirkan hal-hal yang belum pernah ia pikirkan sebelumnya, yaitu belajar bela diri dan menjadi kuat.
Beberapa saat termenung sembari menatap langit-langit kelas, ia melirik sesaat pada teman sebangkunya, Bima, yang sedang melakukan kebiasaannya ketika ada waktu luang, membaca buku kesukaannya yang selalu ia bawa kemana pun ia pergi.
Arga menghela nafas kasar lalu menurun kepalanya sesaat sebelum menoleh pada Bima. "Hei, Bim ..." panggilnya pelan.
Bima melirik pada Arga sesaat sebelum menjawab sahutan teman sebangkunya. "Hm?"
"Kau paham apa yang Pak Chayton ajarkan tadi?" tanya Arga.
Bima diam sejenak sebelum membalas perkataan Arga. "Ya, aku paham."
Arga memalingkan pandangannya dari Bima kemudian menghela nafas. "Aku—"
"Jangan bilang kau tidak paham?!" tanya Bima cepat menyela ucapan Arga.
Arga menoleh pada Bima cepat. "Bu—Bukan begitu. Aku paham apa yang Pak Chayton sampaikan. Hanya saja ... pemahamanku mengenai teori yang dia sampaikan tidak akan berguna di kehidupanku jika aku tidak menguasainya." jelas Arga.
Bima terdiam beberapa saat sebelum menggeser buku yang sedang ia baca ke hadapan Arga. "Lihat ini ...," ucap Bima sambil menempelkan jari telunjuknya pada sebuah gambar di buku tersebut.
Arga menatap gambar yang ditunjuk Bima beberapa saat, lalu mulai membaca tulisan yang berada di bawah gambar tersebut. Terlihat ada sekitar 5 paragraf di sana. Ia baru sampai pada paragraf kedua lalu sesaat kemudian perhatiannya teralihkan saat mendengar suara langkah kaki cepat seseorang di depan kelas.
Ia menoleh ke samping, melihat keluar kelas dan nampak seseorang berlari cepat melewati koridor depan kelasnya. Arga membulatkan matanya saat melihat seseorang yang tidak asing di matanya melesat cepat melewati koridor kelasnya.
Sesaat setelah orang itu melewati kelasnya sampai tidak terlihat lagi dari dalam, Arga menoleh pada Bima. "Hei, itu dia ...."
"Kau mengenalnya?" tanya Bima.
"Orang itu yang aku ceritakan ..." Akhirnya Arga bercerita bahwa orang yang baru saja berlari melewati koridor kelas adalah orang yang beberapa waktu lalu membantunya saat berhadapan dengan Dion. Orang tersebut adalah Hestra, pemuda yang membuat dirinya berani melawan Dion, sampai akhirnya bisa mengalahkannya dengan pukulannya sendiri, walau pun akibat dari pertarungan itu menyebabkan organ dalam Arga sedikit terluka dan dia harus terjaga semalaman untuk mengatur nafasnya agar rasa sakit di tubuhnya berkurang.
Arga juga bercerita kalau Hestra pernah terlibat perkelahian hebat dengan Byron, seseorang yang pernah mereka temui di koridor kelas beberapa minggu lalu. Ia menceritakan semua yang ia ingat tentang Hestra, kecuali satu hal yaitu sesuatu mengerikan yang terjadi pada Hestra saat tangannya mengeluarkan duri tajam di detik-detik akhir pertarungannya dengan Byron. Ia merasa belum saatnya menceritakan hal itu pada Bima, mungkin suatu saat nanti ia akan mengatakan pada Bima tentang apa yang ia ketahui tentang Hestra.
Setelah bercerita panjang lebar tentang Hestra selama beberapa menit, Arga berdiri dari duduknya lalu mengajak Bima untuk mengikuti Hestra.
"Kau yakin ingin mengikutinya?" tanya Bima memastikan.
"Iya, cepatlah! Nanti dia keburu jauh."
Akhirnya Bima pun meng-iyakan ajakan Arga untuk mengikuti Hestra. Mereka berdua akhirnya pergi dari Akademi dan mulai mengikuti langkah Hestra.
"Hei, kau yakin dia orangnya?" tanya Bima.
"Sepertinya benar dia orangnya, aku masih mengingatnya." balas Arga.
Bima yang sudah tidak melihat sosok Hestra di depannya menoleh pada Arga. "Hei, dia sudah tidak terlihat lagi, kau mau mengikutinya sampai mana?"
Arga menggaruk pipinya dan terlihat kebingungan. "Ah ... kita berjalan saja dulu. Nanti kalau kita tidak bertemu dia di depan, kita kembali ke kelas, bagaimana?"
Bima memutar bola matanya. "Terserah kau saja."
Arga hanya tersenyum canggung menanggapi ucapan Bima yang sudah terlihat malas berjalan. Bima mulai membuka bukunya lalu membacanya sambil berjalan. Baru beberapa kata yang dia baca, Arga menyenggol tangannya, ia pun menoleh pada Arga. "Ada apa?" tanya Bima.
"Itu dia ... " ucap Arga menunjuk ke arah depan. Tapi yang terlihat bukan hanya Hestra, melainkan ada orang lain di sana. Cukup banyak, sekitar lima orang yang terlihat.
Bima memicingkan matanya untuk melihat lebih jelas apa yang terjadi di depan sana dan siapa saja mereka. Sesaat kemudian, tatapannya menjadi tajam. "Dia dalam masalah. Ayo ke sana!" Dengan cepat Bima berlari ke arah mereka diikuti Arga.
Dalam sekejap mata, Bima melesat dan berhasil menahan lengan Dion yang berniat untuk menampar wajah perempuan di hadapannya, Adisty, untuk yang kedua kalinya.
Bima mencengkram kuat pergelangan tangan Dion dari belakang dengan tatapan dingin. "Kau sedang apa dengan perempuan ini?"
Sesaat setelah mendengar suara Bima, seluruh tubuh Dion bergetar hebat, tidak terkecuali tangan yang sedang dicengkram oleh Bima.
Bima merasakan hal itu dan dia tahu bahwa Dion sedang berada dalam kepanikan yang luar biasa. Tangannya semakin kuat mencengkram tangan Dion.
Dion yang tidak tahu alasan tubuhnya bergetar dan jantungnya berpacu cepat saat mendengar suara Bima, mencoba menoleh ke arahnya. Matanya melebar dan nafasnya tertahan saat melihat sosok Bima berada di belakangnya. Dengan susah payah ia mencoba membuka mulutnya. "Ka—Kau?"
Bima semakin menguatkan cengkramannya sampai Dion meringis kesakitan, dan tanpa peringatan, ia menarik lengan Dion dan menghempaskannya dengan cepat sampai ia terlempar cukup jauh, kedua temannya yang melihat hal tersebut langsung berlari pergi dari sana, meninggalkan Dion yang berusaha berdiri lalu ikut berlari menyusul mereka. Dan sudah dipastikan, Dion sudah kalah telak dari Bima. Bahkan dengan tatapannya pun, Bima sudah membuat Dion berada dalam kepanikan yang luar biasa.
Bima memandangi kepergian Dion dan kedua temannya sejenak lalu mengalihkan pandangannya kepada Arga yang tengah berusaha membantu Hestra untuk duduk.
Sesaat kemudian, Bima memindahkan pandangannya pada perempuan yang sedang terkapar di hadapannya yang sedari awal sudah memandanginya.
Bima menatap Adisty datar. "Kau baik-baik saja?" tanya Bima tanpa ekspresi khawatir di wajahnya dan tanpa gerakan apa pun untuk membantu Adisty, bahkan uluran tangan pun tidak ia berikan.
Adisty hanya terdiam dengan tatapan masih terfokus pada Bima, entah apa yang membuat ia tidak berpaling dari Bima. Kedua orang itu masih saling melihat satu sama lain untuk beberapa saat sampai akhirnya Adisty mencoba mendudukkan dirinya sejenak lalu membersihkan butiran tanah di lengan atasnya kemudian berdiri, tanpa dibantu Bima sedikit pun.
Adisty membersihkan celana bagian belakangnya sesaat lalu menatap Bima dengan tatapan yang sama. "Aku baik-baik saja. Terima kasih."
Tanpa membalas ucapan Adisty, Bima langsung berpaling dari sana dan berjalan ke arah Arga. Adisty hanya menatap kosong ke depan saat Bima berlalu begitu saja tanpa membalas perkataannya.
Di sisi lain, Hestra masih meringis kesakitan merasakan nyeri di tangannya. Ia menoleh pada Arga yang sudah berada disampingnya setelah membantunya untuk duduk. "Kau? Kenapa bisa ada disini?"
Arga menggaruk kepalanya yang tidak gatal. "Ah ... ceritanya cukup panjang. Aku dan temanku melihatmu berlari di koridor kelas lalu memutuskan untuk mengikutimu. Maaf kami datang terlambat."
"Tidak apa, terima kasih karena kalian telah mengikuti sampai sini," ucap Hestra pelan.
"Kalau aku boleh tahu, apa alasanmu berlari di koridor Akademi dan tujuanmu kesini untuk apa? Satu lagi, tanganmu kenapa?"
Hestra tertawa kecil sebelum berkata, "Kau banyak bicara juga, ya? Begini ..." Hestra pun menceritakan alasan dia berlari di koridor kelas karena untuk menemui seorang teman yang berada di depan Akademi, Adisty. Dia tidak menceritakan kejadian awal mereka bertemu dan juga tidak mengatakan bahwa Adisty adalah perempuan aneh yang tidak mati walau pun sudah melompat dari atas gedung Akademi. Dia hanya bercerita bahwa Adisty adalah temannya dari kota yang ingin melihat-lihat pemandangan di daerah tersebut. Oleh karena itu, mereka berdua pergi dengan tujuan mengunjungi beberapa tempat bagus di sekitar sini. Dia juga bercerita alasan mereka bisa terlibat masalah dengan Dion.
Arga mengangguk paham setelah mendengar cerita Hestra. "Lalu tanganmu?"
Hestra memandangi kedua tangannya. "Entahlah, aku pun tidak tahu penyebabnya. Lenganku tiba-tiba sakit, padahal seingatku tanganku tidak pernah patah ataupun terluka sebelumnya."
Arga membulatkan matanya lalu kembali teringat tentang sesuatu yang terjadi pada lengan Hestra beberapa waktu lalu. Ia pun berbisik pelan, "Hei, jangan-jangan ini ada hubungannya dengan duri di tanganmu."
Hestra menatap Arga dengan tatapan terkejut. "Kau mengetahuinya?" tanyanya pelan.
"Tenang saja, aku tidak mengatakannya pada siapa pun, aku juga masih ragu dengan apa yang kulihat waktu itu."
Hestra menghela nafas. "Sepertinya, sesuatu yang aneh terjadi pada tubuhku."
Arga terdiam sejenak. Lalu kembali berkata, "Kau masih bisa berdiri?"
"Sepertinya bisa. Rasa sakit di lenganku juga sudah berkurang." balas Hestra.
Kemudian Arga perlahan membantu Hestra untuk berdiri. Setelah itu, Bima menghampiri mereka. "Ada apa sebenarnya?" tanyanya dengan tatapan dingin menatap Hestra.
Arga yang mulai merasakan suasana akan menjadi canggung pun berkata, "Ah ... nanti aku ceritakan kepadamu, Bim."
Bima melirik sejenak pada Arga lalu kembali menatap Hestra. "Baiklah. Ayo kembali ke Akademi!" ajak Bima kemudian berlalu dari sana meninggalkan mereka.
"Hei, kau bisa berjalan sendiri, 'kan?"
Hestra kembali tertawa kecil. "Tenang saja, Kawan. Aku sudah cukup pulih sekarang, terima kasih sudah membantuku."
Arga pun membalas dengan senyuman dan anggukan kepala kemudian berlari menyusul Bima.
Adisty yang masih berada di tempatnya, memandangi kepergian mereka berdua sampai mereka tidak terlihat lagi. Kemudian ia melihat ke arah Hestra. "Hei, Introvert, kau baik-baik saja?" teriaknya.
"Ya, aku baik." teriak Hestra membalas Adisty. Jarak mereka cukup jauh sehingga nada bicara mereka harus sedikit lebih tinggi agar bisa mendengar suara satu sama lain.
"Baiklah kalau begitu, sepertinya kita harus berpisah disini. Aku punya urusan lain yang harus kuselesaikan. Oke?"
"Ya, terserah kau saja. Pergilah!"
Adisty tersenyum sambil mengacungkan kepalan tangannya ke arah Hestra ketika mendengar teriakannya, lalu sesaat kemudian ia melompat ke dahan pohon yang berada di dekatnya dan mulai melompat ke dahan pohon lain, ia masuk ke dalam hutan sampai tidak terlihat lagi.
Hestra memandangi kepergiannya sampai ia benar-benar hilang diantara pepohonan. "Perempuan aneh ...."
Hestra yang sudah tidak merasakan sakit di tangannya lagi akhirnya mampu menggerakkan kakinya dan pergi dari sana menuju suatu tempat. Tapi yang pasti bukan kembali ke Akademi, namun ke tempat yang akan ia tuju sebelumnya bersama Adisty. Sebuah tempat sejuk penuh ketenangan yang selalu ia datangi saat ingin menyendiri dan memulihkan tenaganya.
Sementara itu, Bima dan Arga sudah hampir setengah jalan menuju Akademi Bach. Dalam langkahnya, Bima kembali membuka lembar buku yang sebelumnya baru ia baca beberapa kata saja kemudian lanjut membacanya, sedangkan Arga berjalan sambil melipat tangannya dengan tatapan kosong dan pikiran yang melayang-layang. Ia terus memikirkan hal aneh yang terjadi pada Hestra. Bagaimana itu bisa terjadi? Apa dia seorang monster? Apakah ada orang lain yang seperti Hestra? Berbagai macam pertanyaan muncul di kepalanya sampai ia hanyut dalam keheningannya sendiri.
Tiba-tiba, ia kembali teringat pertarungannya dengan Dion tempo hari lalu yang menyebabkan dirinya tidak bisa tidur semalaman karena rasa sakit di tubuhnya. Jika saja dia bisa menguasai tenaga dalam dan punya beberapa tehnik beladiri mungkin hal itu tidak akan terjadi padanya di setiap pertarungan yang akan ia lalui.
Kemudian terlintas di pikirannya untuk belajar beberapa tehnik beladiri pada pemuda di sebelahnya, Bima. Tidak perlu diragukan lagi kemampuannya untuk mengendalikan tenaga dalam. Bahkan tehnik beladiri yang dikuasai Bima bisa dikatakan di atas rata-rata.
Setelah berpikir panjang, akhirnya ia pun memutuskan untuk mulai belajar beberapa tehnik beladiri, tapi untuk itu, ia harus terlebih dulu mampu menguasai kendali penuh atas tenaga dalamnya. Dan dia tahu siapa yang bisa mengajarinya, ia pun menoleh pada Bima lalu memanggilnya dengan antusias. "Bim!"
Bima melirik singkat pada Arga. "Apa?" sahutnya.
"Aku berpikir untuk mulai belajar bela diri dan mulai menguasai tenaga dalamku, apa kau ... mau mengajariku?"