Mereka berdua berjalan dalam keheningan untuk waktu yang cukup lama. Hingga pada akhirnya Arga mengatakan keinginannya untuk belajar beladiri dan menguasai tenaga dalam kepada Bima yang tidak diragukan lagi kemampuan bela dirinya. Bahkan bisa dikatakan kemampuannya di atas rata-rata.
"Kau serius ingin berlatih bela diri?" tanya Bima melirik Arga.
Arga menggaruk kepalanya yang tidak gatal. "Ah ... sepertinya begitu. Paling tidak, aku harus bisa melindungi diriku sendiri, 'kan?" balasnya sedikit canggung.
Bima diam sejenak sebelum menjawab. "Kalau begitu, datanglah ke rumahku! Aku akan mengajarimu cara mengatur pernafasan dan dasar mengendalikan tenaga dalam sebelum kau mempelajari tehnik bela diri. Bagaimana?"
Arga menoleh pada Bima cepat. "Baik, aku akan datang. Selepas pulang dari Akademi aku akan langsung ke rumahmu kemudian pulang ke rumahku pada malam hari." Terlihat kegembiraan di wajah Arga.
"Kau yakin?" tanya Bima memastikan keinginan Arga.
"Tentu saja," jawab Arga cepat.
Setelah perbincangan singkat tersebut, mereka pun melanjutkan langkah mereka sampai tiba di Akademi dan kembali ke kelas mereka.
Siang berganti sore dan kelas sudah selesai. Waktunya pulang untuk semua orang di Akademi. Bima dan Arga tidak langsung pulang melainkan menunggu sampai semua orang keluar dari kelas dan hanya menyisakan mereka saja. Hal itu mereka lakukan agar tidak berdesakan saat berjalan di koridor, karena semua kelas pulang bersamaan. Saat koridor sudah cukup sepi mereka pun memutuskan untuk keluar dari kelas dan pulang menuju rumah Bima.
Sejak awal-awal masuk Akademi mereka berdua memang selalu pulang paling akhir. Itu sudah menjadi kebiasaan mereka. Sebenarnya pada awalnya hanya Bima saja yang melakukannya tapi semenjak Arga mengenalnya, dia pun mengikuti kebiasaan Bima sampai sekarang dan akhirnya mereka pun semakin dekat sebagai seorang teman.
Cukup lama mereka berdua berjalan menuju rumah Bima tapi tidak kunjung sampai, bahkan halaman depan rumah Bima pun belum terlihat walau pun mereka sudah berjalan cukup jauh. Meski pun Arga dan Bima teman dekat, tapi keduanya belum pernah sekalipun saling berkunjung karena jalan menuju rumah mereka berbeda.
Hingga pada akhirnya Arga meminta untuk istirahat sejenak karena kelelahan. Kakinya sudah lemas dan nafasnya sudah terengah-engah. Ia tidak bisa membayangkan jika harus setiap hari berjalan sejauh ini seperti Bima. Akhirnya, mereka pun memilih berhenti di bawah sebuah pohon rindang di pinggir jalan. Arga duduk menyender pada pohon tersebut sedangkan Bima bersandar pada sisi lain di pohon yang sama sambil membaca bukunya. Sepertinya Bima tidak melakukan hal lain di waktu kosong selain membaca bukunya.
Arga mencoba duduk dengan nyaman sambil mengatur nafasnya. Ia menghela nafas dalam sebelum akhirnya menoleh pada Bima. "Hei, Bim, kalau boleh tahu, sejak kapan kau mulai berlatih bela diri?" tanyanya.
Bima melirik sejenak pada Arga. "Aku tidak tahu pasti kapan mulai berlatih bela diri, tapi aku sudah melatih tubuhku sejak kecil, saat umurku sekitar 5 tahun." balasnya.
Arga cukup terkejut mendengarnya. "Wah ... pantas saja sekarang kau sangat kuat, tehnik bela dirimu bahkan sudah seperti seorang master."
Bima menghela nafas kasar. "Sudahlah, tidak usah melebih-lebihkan. Jika kau berlatih, kau juga bisa kuat."
Arga terdiam beberapa saat sebelum kembali berbicara. "Apa aku bisa kuat juga?" gumamnya.
Setelah tenaganya pulih dan nafasnya sudah stabil kembali, Arga pun berdiri lalu mengajak Bima untuk melanjutkan perjalanan mereka yang cukup melelahkan.
***
Sementara itu di kediaman Bima, terlihat seorang pria dewasa berumur 30-an tahun, baru saja keluar dari pintu rumah diikuti Nenek Bima yang menyusulnya keluar.
Pria itu turun dari teras lalu berbalik menatap Nenek Bima. "Baiklah, Bu, sepertinya aku akan pulang sekarang. Semoga uang itu cukup sampai bulan depan ya."
"Kau yakin tidak ingin beristirahat dulu disini?" tanya Nenek Bima.
"Tidak, Bu. Keluargaku sudah menungguku di rumah. Mungkin lain kali aku menginap disini, sekalian aku ajak keluargaku." jawab pria tersebut kemudian tersenyum lembut.
"Baiklah kalau begitu. Berhati-hatilah." balas Nenek Bima.
"Oh iya, sampaikan salamku pada Bima, ya. Kudengar dia sekolah di Akademi Bachalpsee, apa itu benar?"
"Iya, itu benar."
"Ngomong-ngomong, dimana dia sekarang? Aku sudah lama tidak bertemu dengannya?"
"Sepertinya dia masih di Akademi. Mungkin sebentar lagi dia pulang."
Baru saja dia berkata demikian, terlihat Bima dan Arga dari kejauhan berjalan mendekat.
"Ah itu dia." Nenek Bima memandangi kedatangan mereka sampai tiba di halaman depan.
Pria tersebut membalikkan badannya lalu ikut memandangi kedatangan Bima sambil tersenyum lembut. Bima tidak menyadari keberadaan pria itu karena ia berjalan dengan mata tertuju pada buku di tangannya.
Ketika Bima sudah cukup dekat, pria itu pun menyapanya. "Hei, Bim, kau sudah besar ya?
Bima mengangkat pandangannya cepat. "Paman?" ucap Bima sedikit terkejut.
"Apa kabar, Bim?" tanya pria tersebut sambil tersenyum lembut.
"Baik. Paman bagaimana?" tanya Bima kembali.
"Yah ... seperti biasa ... hidup di tengah kebisingan kota." jawabnya lalu tertawa kecil.
"Paman kapan tiba kesini? Mau masuk dulu?" Bima berjalan mendekati pamannya.
"Tidak, tidak. Aku sudah dari tadi berada disini. Sekarang aku mau kembali ke kota." ucap pamannya kemudian tersenyum lagi.
Bima diam sejenak. "Baiklah kalau begitu, Paman. Berhati-hatilah."
Pria tersebut tersenyum lembut kemudian mengalihkan pandangannya pada Arga yang berada di samping Bima. Ia terlihat masih terengah-engah. "Siapa ini? Apa dia temanmu, Bim?" tanyanya memandangi Arga dengan kebingungan.
"Iya, Paman, dia Arga, temanku dari Akademi." jawab Bima.
"Dia sepertinya sangat kelelahan, cepat beri minum sebelum dia pingsan karena kehabisan nafas," ujarnya kemudian tertawa beberapa saat. Setelah itu, ia pun berlalu dari sana dengan mobilnya menuju kota.
Arga yang terlalu kelelahan tidak sadar dengan yang baru saja Bima dan pamannya bicarakan. Ia hanya diam di samping Bima tanpa mengeluarkan suara. Bima pun mengajaknya untuk menemui neneknya.
Nenek Bima yang masih berdiri di teras luar memandangi kedatangan Bima dan Arga.
"Nek, ini temanku, Arga. Dia ingin berlatih bela diri, jadi aku ajak kesini, tidak apa-apa, 'kan?" tanya Bima.
Saat mendengar ucapan Bima pada neneknya, Arga cukup terkejut saat mengetahui sikap Bima saat di rumahnya yang bertolak belakang dengan kepribadiannya saat di Akademi. Bima yang terkenal dingin dan tertutup saat di Akademi adalah anak yang lugu dan terlihat sopan saat berada di rumahnya.
Neneknya menatap Bima beberapa saat sebelum mengalihkan pandangannya pada Arga. Ia menatapnya datar tanpa ekspresi, membuat Arga menjadi canggung lalu mencoba tersenyum kepadanya.
"Masuklah." ucapnya singkat kemudian berjalan masuk ke dalam rumah.
Bima menghela nafas lega kemudian mengajak Arga untuk masuk ke dalam rumah. Ia menyuruh Arga untuk menunggu dulu di ruang tengah sementara ia mengganti baju di kamarnya.
Arga hanya duduk manis di depan sebuah meja kayu bundar sambil memandangi keadaan rumah Bima yang hampir sepenuhnya terbuat dari kayu. Terlihat kuno tapi masih kokoh dan layak untuk ditinggali. Arga sedikit takjub dengan pemandangan di sekitar rumah Bima yang terbilang masih sejuk dan jauh dari keramaian kota.
Setelah menunggu beberapa saat, Arga dikejutkan oleh kedatangan Nenek Bima yang membawa 2 buah cangkir berisi air teh berwarna merah. Ia duduk menghadap Arga lalu memberikan satu cangkir kepadanya.
"Minumlah ini." ucapnya.
Arga yang tidak mengetahui itu air apa tidak berani untuk bertanya dan langsung meminumnya sesaat setelah mencium baunya, ia merasa tidak asing dengan aroma air itu.
Sesaat setelah meneguk air tersebut, raut wajahnya berubah menjadi lucu. Ia tidak kuasa menahan rasa pahit air itu tapi tetap berusaha untuk menelannya. Akhirnya satu tegukan berhasil ia minum.
Walaupun rasa pahit itu menempel di lidahnya, ia tetap berusaha tersenyum lalu berterima kasih pada Nenek Bima karena telah mengijinkannya masuk. Semakin lama senyumnya semakin pudar saat rasa pahit itu mulai memasuki kerongkongannya.
Nenek Bima mengangguk pelan setelah beberapa saat menatapnya. "Siapa namamu?" tanyanya.
"A—Arga, Nek." jawab Arga ragu.
"Kau temannya Bima?" tanyanya lagi.
"I—Iya benar."
Kemudian Bima yang baru selesai mengganti bajunya keluar dari kamar lalu berjalan menghampiri mereka. "Ayo, Ar." ajak Bima.
Arga menoleh ke arah Bima kemudian berdiri setelah menjawab ajakannya.
"Nek, kami akan latihan di halaman belakang sekarang."
"Baiklah. Jangan terlalu keras melatih anak ini. Dia berbeda denganmu," ucap Nenek Bima lalu menyerahkan satu cangkir lainnya kepada Bima.
Bima mengambilnya dengan ragu yang membuat Arga heran. Setelah itu, mereka pun berlalu ke halaman belakang dengan masing-masing cangkir di tangan mereka.
Bima menyuruhnya melepas pakaian atasnya supaya lebih leluasa bergerak dan tidak terkotori oleh keringat. Arga pun mulai melepas bajunya dan terlihatlah badan dari seorang pemuda yang tidak pernah melatih tubuhnya.
Akhirnya mereka pun memulainya dengan pemanasan. Ya, pemanasan bagi Bima tapi tidak untuk Arga. Itu seperti latihan berat yang menguras tenaga. Bayangkan saja, lari mengelilingi halaman belakang lima puluh kali putaran baru dihitung sebagai pemanasan, bagaimana latihan intinya?
Tanpa membuang waktu, mereka pun mulai berlari. Setelah beberapa putaran, sudah bisa ditebak apa yang terjadi, Arga tidak sanggup berlari lagi, padahal baru saja berlari delapan putaran. Perjalanan dari Akademi sampai ke rumah Bima saja sudah cukup menguras semua tenaga Arga, ditambah pemanasan tidak masuk akal di rumah Bima, Arga bisa mati kelelahan jika terus memaksakan tubuhnya.
Hingga pada akhirnya, Arga menyerah untuk berlari lagi dan meminta untuk beristirahat dulu. Bima memaklumi kondisi Arga dan menuruti kemauannya untuk beristirahat sejenak di teras.
Arga merebahkan tubuhnya pada lantai teras karena sangat kelelahan sedangkan Bima mulai mengambil satu cangkir berisi air yang diberikan neneknya. Ia meneguknya dengan perlahan. Tegukan pertama, masih bisa ia telan, tegukan kedua, raut wajahnya berubah, lalu saat tegukan terakhir melewati kerongkongannya ia tidak mampu menahan rasa pahitnya dan akhirnya batuk karena tersedak.
Cukup lama Bima terbatuk sampai membuat Arga melihat ke arahnya. "Hei, kau kenapa?"
Bima menjawab ucapan Arga setelah beberapa saat terbatuk, "Teh. Ini gara-gara teh itu."
"Teh? Teh apa?" tanya Arga.
"Teh dalam cangkir itu. Lidahku masih tidak terbiasa dengan rasa pahitnya."
"Maksudmu ini?" tanya Arga mengangkat cangkir miliknya.
"Ya, itu."
"Memangnya air dalam cangkir ini apa? Kenapa rasanya pahit sekali?"
"Itu Teh Merah."
"Teh Merah?!