24. Teh Merah

2473 Kata
"Teh Merah?!" Arga terkejut saat mengetahui air dalam cangkir pemberian Nenek Bima yang telah ia minum sebelumnya adalah Teh Merah. Pantas saja rasa pahitnya terasa tidak asing di mulutnya, ternyata itu adalah teh yang sudah pernah ia minum dulu sampai muntah-muntah. Dan kini, ia baru saja meminum kembali teh itu setelah sekian lama. "Iya, memangnya kenapa?" tanya Bima melirik singkat pada Arga lalu kembali meneguk Teh itu dan sesaat kemudian menjulurkan lidahnya karena kepahitan. "Astaga, pantas saja rasanya pahit sekali," ucap Arga baru menyadarinya. "Kau sudah meminumnya?" tanya Bima. Jika Arga sudah mengatakan rasanya pahit, berarti dia sudah pernah meminumnya, pikirnya. "Sudah satu tegukan saat di dalam." balas Arga. "Lalu apa yang terjadi?" tanya Bima penasaran "Lidahku seperti mati rasa," jawabnya cepat. Mendengar itu, Bima yang akan meneguk Teh Merahnya lagi langsung tertawa lebar dan tidak jadi meneguk tehnya. Arga menatapnya dan hanya diam , baru kali ini ia melihat Bima tertawa lepas seperti itu. Selama ini, ia hanya mengetahui kalau Bima orangnya cuek dan tertutup kepada orang yang baru ia temui. Pada saat mengenalnya pertama kali, Bima juga dingin kepada Arga dan jarang bicara, tapi lambat laun Bima menjadi terbuka padanya. Dan baru kali ini ia melihat Bima tertawa lebar yang membuatnya tertegun sekaligus terkejut. Ia pikir Bima tidak pernah tertawa lepas seperti itu. "Hei, kenapa kau tertawa? Apa kau menertawaiku?" tanya Arga dengan wajah kesal. Bima masih tertawa beberapa saat sebelum membalas ucapan Arga. "Astaga, kau ini lucu sekali. Bukannya waktu itu kau bilang kalau kau pernah meminum teh ini dan tidak akan meminumnya lagi? Kenapa kau meminumnya sekarang?" tanya Bima lalu kembali tertawa lagi. "Aku tidak tahu kalau ini Teh Merah!" balas Arga masih dengan wajah kesal. Bima tertawa kembali beberapa saat. "Begini, Ar, teh ini rasanya memang pahit, tapi berguna untuk meningkatkan tenaga dalam. Jika kau ingin cepat menguasai dasar mengendalikan tenaga dalam, kau harus sering meminumnya." Memang benar yang dia ucapkan, Teh Merah dapat membuat imperium atau tenaga dalam mengalir lebih lancar, sehingga akan lebih mudah untuk mengendalikan dan mengembangkannya. Tapi, bukan itu tujuan Bima sebenarnya, dia memanfaatkan momen itu untuk mengerjai Arga. Ia ingin melihat Arga meminum teh itu lagi dan merasa kepahitan. Walau pun rasa teh itu pahit tapi sama sekali tidak berbahaya bagi tubuh, malah bisa mengobati luka dalam jika rutin diminum, tapi dengan syarat harus bisa menahan rasa pahitnya. "Apa?!" Arga terperanjat kaget. "Ta—Tapi itu sangat pahit, Bim! Apa tidak ada alternatif lain?" tanya Arga. Ia merasa tidak sanggup jika harus meminum teh itu lagi. Satu tegukan saja sudah membuat lidahnya mati rasa apalagi harus menghabiskan satu cangkir penuh, sepertinya lidahnya akan mengkerut karena kepahitan. Dan jika ia meminum teh itu setiap hari sepertinya ia tidak akan nafsu makan. Bima diam sejenak sambil menyentuh dagunya. "Hm ... sepertinya tidak ada. Mau tidak mau kau harus sering meminum teh ini. Kalau kau tidak mau ya tidak masalah, itu terserah kau saja." ucap Bima. Ia sengaja berkata seperti itu agar Arga tidak punya pilihan lain selain meminum teh itu. Arga menelan air liurnya dengan susah payah. Mau tidak mau ia harus melakukannya, walau pun pahit di lidah tidak masalah, yang terpenting kehidupan pahitnya bisa ia ubah jika punya kekuatan untuk melawan. "A—Apa boleh buat." Setelah berkata demikian, Arga mulai mengangkat cangkir di tangannya ke arah mulutnya dengan tangan gemetar. Sekali lagi ia menelan liurnya. Cangkir tersebut sudah di depan mulutnya dan aroma teh itu langsung menusuk hidung, ia segera menahan nafas. Dalam satu tegukan, ia menghabiskan satu cangkir teh tersebut. Ia menaruh cangkir tersebut dengan tangan gemetar kemudian melihat Bima dengan tatapan sayu. Lambungnya terasa bergejolak dan ia mulai merasa mual. Bima hanya menatapnya sambil menahan tawanya. Wajah Arga memucat dan ia merasa mau muntah. "Bi—Bim, se—sepertinya aku mau mu—, huek, aku mau muntah!" Cairan di tubuhnya terasa akan menyembur keluar sampai membuatnya kesulitan untuk berbicara. Bima kembali tertawa terbahak-bahak kemudian menyuruh Arga untuk pergi ke toilet yang berada di samping kamarnya. Ia merasa kasihan sekaligus terhibur dengan tingkah Arga. Ia kembali teringat saat dirinya pertama kali meminum Teh Merah yang membuatnya harus keluar masuk toilet untuk memuntahkan isi perutnya. Arga segera bangun lalu berlari masuk ke dalam rumah untuk mencari toilet. Setelah cukup lama di toilet, akhirnya Arga kembali dengan wajah yang masih pucat dan rasa pahit di lidahnya belum hilang. Ia duduk di samping Bima lalu menundukkan pandangannya sambil memegang perutnya. "Bagaimana? Sudah lebih baik?" tanya Bima dengan bibir masih menyisakan tawa. "Entahlah. Aku masih merasa mual." balas Arga lesu. "Hei, tenang saja. Ini baru permulaan, tahu. Lambat laun kau akan terbiasa. Sekarang paksakan dirimu, pemanasan kita belum selesai. Ayo kita selesaikan!" ucap Bima kemudian berdiri. Ia mengulurkan tangannya untuk membantu Arga bangun. Arga meraih tangan Bima dan mencoba untuk berdiri. Ia memaksakan tubuhnya untuk kembali bergerak. Berbeda dari sebelumnya, saat ini ia merasakan perubahan pada tubuhnya. Semakin lama berlari, Arga merasa tubuhnya semakin segar dan nafasnya tidak terlalu berat. Sulit dipercaya, ia berhasil berlari sebanyak lima puluh putaran penuh walau pun tubuhnya dibanjiri keringat. Akhirnya mereka pun menyudahi latihan karena langit sudah gelap dan Arga harus segera pulang ke rumahnya. Keluarganya pasti sudah menunggunya di rumah. Sebagai permohonan maafnya kepada Arga karena telah membuatnya muntah-muntah setelah meminum Teh Merah, Bima meminta untuk menemani perjalanan Arga pulang ke rumahnya. Dan dengan senang hati Arga membolehkannya, karena ia merasa sangat aman jika berada di samping Bima. Akhirnya Bima pun meminta izin kepada neneknya terlebih dahulu kemudian mulai melangkahkan kaki mereka. Mereka berjalan sambil membicarakan tentang rasa pahit Teh Merah yang masih menempel di lidah mereka. Mereka berdua tertawa saat Bima menceritakan saat dirinya mengalami hal yang sama seperti Arga saat pertama kali meminum Teh Merah. Sesaat kemudian, Arga kembali teringat kepada seorang pria dewasa yang ada di rumah Bima pada sore hari. Kalau tidak salah dengar, Bima memanggilnya 'Paman'. Arga menoleh pada Bima. "Bim, ngomong-ngomong, pria yang ada di rumahmu tadi sore itu pamanmu, ya?" tanya Arga. Bima diam sejenak berusaha mengingat sebelum menjawab."Iya kau benar, dia pamanku ... " Ardi Raven, seorang pria berusia 30-an tahun yang merupakan anak kedua dari Nenek Bima yang berarti merupakan paman dari Bima. Ia bekerja dan tinggal di kota. Ia memiliki seorang istri dan dua orang anak perempuan yang masih kecil. Setiap bulannya, ia selalu mengunjungi ibunya, Nenek Bima, di desa untuk memberikan uang bulanan untuk memenuhi kebutuhan sehari-harinya dan juga digunakan untuk keperluan Bima. Bisa dikatakan Ardi cukup sukses di kota karena telah memiliki rumah besar dan mobil mewah. Saat sedang bekerja, ia bertemu seorang perempuan yang merupakan rekan kerjanya yang sekarang sudah menjadi istrinya. Saat dirinya masih remaja, ia selalu mengawasi Bima yang masih kecil layaknya seorang kakak yang menjaga adiknya. Bima menghabiskan masa anak-anaknya bersama Ardi yang sudah ia anggap sebagai kakaknya sendiri. Saat Ardi telah lulus dari sekolah, ia tinggal di desa selama beberapa bulan sebelum memutuskan pergi ke kota untuk mencari pekerjaan dan harus berpisah dengan Bima selama beberapa tahun sampai akhirnya ia kembali mengunjungi desa setelah sukses. Setiap bulan, ia selalu mengunjungi ibunya untuk melepas rindu dan juga memberi uang untuk memenuhi kebutuhan hidupnya. Saat Ardi menawarkan kepada ibunya untuk tinggal di kota bersamanya, Nenek Bima menolaknya dan memilih tetap tinggal di rumahnya yang berada di desa bersama cucunya, Bima. Menurutnya, hidup tenang di desa adalah yang ia butuhkan di masa tuanya. Bima pernah diberitahu oleh Neneknya bahwa Ardi adalah adik dari ibu Bima. Tapi Bima tidak menceritakan lebih jauh tentang ibunya dan Arga pun seakan memahami hal tersebut dan tidak bertanya perihal ibu Bima. Perjalanan terasa singkat, mereka sudah sampai di halaman depan rumah Arga dan ini merupakan kali pertama Bima mengunjungi rumah Arga walaupun hanya sampai halamannya saja. "Ah ... terima kasih sudah mengantarku, Bim." ucap Arga. "Tidak masalah. Ya sudah kalau begitu aku pulang dulu." balas Bima. "Ah iya, hati-hati di jalan, Kawan. Sampai bertemu besok." ***** Keesokan harinya, sepulang Akademi Arga kembali datang ke rumah Bima untuk berlatih. Tidak lupa, masing-masing dari mereka meminum satu cangkir Teh Merah sebelum memulai latihan dan yang terjadi tidak jauh berbeda dari hari sebelumnya. Beberapa hari berlalu, Arga selalu menghabiskan sore harinya untuk berlatih. Semakin lama, latihan yang dijalani Arga kian berat. Perubahan di tubuhnya semakin terlihat yang membuatnya semakin bersemangat. Perubahan fisik pada tubuh Arga sudah terlihat. Lengannya mulai berisi dan staminanya bertambah. Kini ia tidak kesulitan lagi jika harus berlari lima puluh putaran, tubuhnya masih mampu berdiri tegak dan nafasnya pun tidak terlalu berat. Bahkan, ia sering mengajak Bima untuk adu stamina. Setelah selesai latihan, mereka selalu menghabiskan waktu yang tersisa untuk lari mengelilingi halaman sebanyak-banyaknya dan yang lebih dulu berhenti karena kelelahan itulah yang kalah. Dan sudah bisa ditebak kalau Arga tidak pernah mengalahkan Bima. Tidak jarang Arga menginap di rumah Bima karena terlalu kelelahan untuk berjalan pulang. Mereka berdua tidur bersama di dalam kamar Bima. Setiap malam sebelum tidur mereka saling berbagi cerita tentang hal apa pun. Mereka pun semakin dekat, bisa dikatakan ikatan mereka seperti dua orang sahabat, bahkan mungkin kedekatan mereka layaknya saudara kandung. Bahkan orang pendiam pun membutuhkan setidaknya seorang teman dalam hidupnya. Hari demi hari berubah menjadi minggu. Tidak terasa sebulan telah berlalu, fisik dan stamina Arga sudah bertambah drastis. Arga yang dulu pendiam dan penakut sekarang telah berkembang. Tidak ada lagi hidup dalam kemalasan. Setiap sore setelah pulang dari Akademi, mereka berdua selalu lomba lari menuju rumah Bima. Kecepatan Arga luar biasa tapi kecepatan Bima sangat menakjubkan. Walau pun Arga telah mengerahkan seluruh tenaganya, tetap saja kecepatannya tidak sebanding dengan Bima. Ia perlu berlatih beberapa tahun lagi bahkan lebih untuk menyeimbangi kekuatan fisik dan stamina Bima. Tapi sepertinya itu tidak akan pernah terjadi ... karena Bima memiliki sesuatu yang tidak dimiliki oleh Arga. ***** Pada suatu hari, Arga harus pergi ke kota untuk membeli beberapa keperluan belajarnya. Dia tidak punya pilihan lain selain pergi ke kota untuk membeli keperluannya karena setiap toko di desa hanya menjual beberapa barang saja, itu pun dalam jumlah terbatas. Jarak dari desa ke pusat perbelanjaan di kota cukup jauh dan memakan waktu yang cukup lama untuk sampai ke sana, namun dapat dipersingkat dengan menaiki kendaraan sejenis mobil ataupun angkutan umum, tapi hal seperti itu hanya ditemukan di kota. Bahkan, hanya beberapa orang saja yang memiliki sebuah mobil dan itu pun sudah pasti keluarga kaya raya. Jika berjalan kaki ke kota mungkin akan memakan waktu yang cukup lama dan tenaga yang cukup besar. Mau tidak mau, setiap orang di desa harus setidaknya menaiki mobil untuk sampai ke kota. Namun berbeda dengan Arga, ia justru memanfaatkan momen ini untuk melatih fisik dan staminanya. Yang dilakukannya adalah mengajak Bima berlari menuju kota dengan tujuan mengembangkan stamina tubuhnya dan tanpa berpikir panjang, Bima menyetujui ajakan Arga. Sepulang dari Akademi, Bima pergi ke rumah Arga terlebih dahulu untuk mengganti baju dan membawa beberapa keperluannya untuk pergi ke kota. Setelah itu, mereka pergi ke rumah Bima untuk meminta izin kepada neneknya terlebih dahulu dan membawa beberapa barang yang Bima butuhkan saat berada di kota. Mereka pun akhirnya memulai perjalanan mereka menuju kota. Diawali langkah ringan yang berubah menjadi langkah cepat. Mereka berdua berlari menyusuri jalan cukup lama dikarenakan jarak yang mereka tempuh lumayan jauh, namun hal itu tidak membuat stamina mereka melemah. Kecepatan lari mereka masih tetap stabil dari awal walau pun hembusan nafas diantara mereka terdengar nyaring saling beradu. Setelah saling beradu stamina sejak awal keberangkatan, mereka berdua akhirnya tiba di kota pada malam hari. Kurang lebih perjalanan mereka untuk sampai ke kota memakan waktu tiga jam lamanya. Beberapa kali berhenti untuk minum dan menarik nafas, mereka sampai di kota tanpa kelelahan yang berarti dan stamina mereka berdua pun masih sangat bagus. Teh Merah sepertinya sangat berguna untuk mengembangkan stamina mereka. Saat pertama kali menginjakan kakinya di perbatasan kota, Bima terlihat fokus memandangi gedung-gedung besar yang ada di sana, dia tidak menemukan hal seperti itu saat di desa. Berbeda dengan Arga, ia mengedarkan pandangannya ke setiap sudut kota berniat mencari tempat yang ia tuju, pusat perbelanjaan kota. Setelah sedikit berkeliling menyusuri jalanan, akhirnya mereka pun menemukan tempat yang mereka tuju, tapi mereka terlambat datang ke sana. Tempat tersebut telah tutup dikarenakan hanya buka sampai sore hari saja. Setelah berdiskusi, mereka pun memutuskan untuk mencari tempat istirahat sampai akhirnya menemukan sebuah taman dan istirahat di sana. Mereka berdua duduk di sebuah kursi taman. "Bagaimana, Bim? Apa kita kembali ke desa saja dan kembali lagi besok?" tanya Arga. Bima diam sejenak sebelum menjawab Arga. "Sepertinya itu hanya akan memakan waktu saja. Kita tunggu disini sampai besok lalu kembali ke desa setelah kau mendapatkan apa yang kau butuhkan," usul Bima. Ia tidak khawatir jika harus bermalam di kota karena sudah meminta izin kepada neneknya terlebih dulu. Arga mengangguk paham. "Baiklah kalau begitu." Dia menyandarkan tubuhnya ke belakang lalu menghela nafas kasar dan mulai memejamkan mata untuk mengistirahatkan tubuhnya agar staminanya kembali pulih. Bima mulai merogoh tasnya dan mengambil buku kesukaannya kemudian membacanya. Tidak jauh berbeda dengan keadaan di desa, pada malam hari kota terlihat sepi walau pun lampu-lampu jalan membuatnya lebih terang. Keramaian tidak terlihat saat malam hari meski pun beberapa orang terlihat berjalan di trotoar. Mobil yang melintas di jalanan pun sangat jarang, bahkan bisa dihitung jari jumlahnya. Beberapa saat kemudian, saat mereka berdua sedang beristirahat dan memulihkan stamina, tiba-tiba saja seseorang yang memakai baju serba hitam melompat di atas mereka. Hal itu membuat mereka cukup terkejut dan bertanya-tanya siapa orang tersebut. Kenapa dia sampai harus melompati mereka berdua? Orang tersebut terus berlari sampai wujudnya hilang diantara kegelapan. Mereka berdua hanya menatap satu sama lain dan masih terkejut dengan apa yang baru saja terjadi. Beberapa menit kemudian, seorang perempuan menghampiri mereka dengan wajah sedih, terlihat garis air mata mengalir di pipinya. "Pe—Permisi, Kak. Apa kakak berdua melihat orang berbaju hitam lewat sini?" tanya perempuan itu. "Ah ... iya. Dia baru saja berlari kearah sana," jawab Arga menunjuk kearah kegelapan tempat orang tersebut berlari. "A—Apa dia membawa tas berwarna coklat, Kak? Tasku telah dicuri olehnya. Di dalam tas itu ada uang dan barang berhargaku. A—Aku tidak tahu lagi harus berbuat apa," ucapnya lalu sesaat kemudian dia mulai menangis tersedu-sedu. Arga merasa iba pada perempuan tersebut tetapi tidak tahu apa yang harus ia lakukan. Ia hanya hening menatap perempuan di hadapannya menangis tersedu-sedu. Bima yang sedari awal hanya diam mendengarkan langsung menutup lembar bukunya lalu menyimpan kembali ke dalam tasnya. Ia menghela nafas kasar sebelum berdiri dan menoleh pada Arga. "Ar." Seolah mengerti maksud dari ucapan singkat Bima padanya, Arga mengangguk pelan lalu ikut berdiri. Bima memalingkan pandangannya pada perempuan di hadapannya. "Kami akan mengambil kembali tasmu darinya dan kembali lagi ke sini. Kamu tunggulah disini!" pintanya pada perempuan tersebut. Perempuan itu mengangguk perlahan beberapa kali kemudian duduk di sana ditemani sisa tangisannya. Mereka berdua, Bima dan Arga mulai melakukan ancang-ancang. Bima menjinjitkan kakinya beberapa kali sedangkan Arga menaik turunkan lututnya. Sesaat kemudian, mereka melesat cepat menembus kegelapan untuk mengambil kembali tas perempuan itu dari perampok yang baru saja melewati mereka.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN