Seorang pria dewasa bertubuh tinggi besar dengan jaket kulit hitam serta celana dan juga sepatu kulit yang berwarna hitam terlihat baru saja berlari memasuki gang sempit diantara dua gedung besar.
Dia adalah seorang pencuri di kota yang baru saja berhasil mencuri tas dari seorang perempuan yang sedang berjalan sendirian di trotoar jalan. Setelah melancarkan aksinya, ia langsung kabur sampai perempuan itu tidak bisa mengejarnya.
Di dalam gang sempit dan juga gelap, dia memperlambat langkah kakinya kemudian berjalan pelan sambil beberapa kali menoleh ke belakang untuk melihat situasi. Ia berjalan sambil membawa sebuah tas ransel berwarna coklat yang baru saja ia curi.
Beberapa saat kemudian, ia menghentikan langkah kakinya lalu duduk di sana sambil menyandarkan tubuh besarnya pada dinding gedung di sampingnya. Ia mulai mencari letak resleting dari tas yang telah ia curi. Ia menarik resleting itu beberapa saat setelah berhasil menemukannya kemudian membukanya lebar-lebar dan mulai memasukan tangannya untuk merogoh isi dalam tas tersebut dan mengambil barang yang dinilai cukup berharga bagi seorang pencuri seperti dirinya, seperti uang atau pun sejenis perhiasan.
Beberapa saat tangannya merogoh isi di dalamnya akhirnya ia menemukan sebuah handphone edisi terbaru di dalam tas tersebut. "Bagus. Handphone ini bisa kujual dengan harga mahal. Dengan begitu, aku bisa memakai uangnya untuk berjudi lagi," ucapnya merasa senang lalu mulai memasukkan handphone tersebut ke dalam saku jaket kulit miliknya.
Ia kembali memasukkan tangannya lalu merogoh isi tas dan menemukan sebuah dompet kecil berwarna hitam di dalamnya. Ia membuka lipatan dompet tersebut dan mengeluarkan beberapa barang yang terselip di sana. "Tanda pengenal, lempar. Kartu sekolah, lempar. Hmm.. apa ini?" Ia terdiam sesaat ketika menemukan selembar foto keluarga lama yang telah buram dengan beberapa robekan di sisi atas dan bawahnya.
Beberapa barang yang terselip di dalam dompet tersebut langsung ia buang saat dirasa tidak akan berguna untuknya dan tidak bisa dijual untuk menghasilkan uang, seperti Kartu Tanda Pengenal, Kartu Sekolah, dan beberapa barang lainnya seperti catatan kecil yang juga terselip di dalamnya. Namun, ia kini malah menatapi selembar barang yang juga tidak akan berguna untuknya yaitu selembar foto keluarga dari pemilik tas yang telah ia curi.
Entah mengapa rasanya berat sekali baginya untuk membuang selembar foto tidak berharga itu. Ia menghela nafas kasar lalu berkata, "Lebih baik ini kusimpan lagi di dalam sini. Harusnya pemilik tas ini berterima kasih kepadaku karena tidak membuang barang berharganya. Seseorang setidaknya punya satu barang berharga dalam hidupnya." Ia kembali menyelipkan foto tersebut ke dalam dompet.
Setelah membuka setiap lipatan dari dompet itu, ia tidak menemukan apapun lagi didalamnya. Ia melempar dompet itu kembali ke dalam tas. Pria itu menutup kembali resleting dari kantung yang baru dia buka sebelumnya kemudian mulai membuka kantung lain pada tas itu yang berada tepat di depan dari kantung sebelumnya.
Seketika, pencuri itu tersenyum lebar saat menemukan uang dalam jumlah yang cukup banyak di dalam kantung kedua. "Ini memang malam keberuntunganku. Tidak kusangka perempuan itu memiliki uang sebanyak ini. Harusnya aku culik saja dia lalu menyekapnya dan meminta tebusan kepada keluarganya," gerutunya lalu mulai mengantongi semua uang itu ke dalam saku jaket kulitnya yang lebih besar.
Tangannya masih mencoba mencari benda berharga lainnya di dalam tas tersebut, "Eh, masih ada rupanya," ujarnya sedikit terkejut saat kembali menemukan benda di dalam tas itu.
"Hanya jam tangan tua rupanya, tapi sepertinya ini masih bagus. Kalau kujual, kira-kira dapat berapa, ya? Ah, yang penting kusimpan saja dulu jam antik ini," gerutunya lalu memasukan jam tangan tersebut ke dalam saku jaket miliknya yang lain. Jaket dengan kantung saku yang banyak sangat berguna bagi para pencuri seperti dia, dengan begitu, ia bisa mengantongi lebih banyak barang curiannya.
Setelah mengambil semua barang berharga dari dalam tas itu, ia pun menghela nafas sesaat sebelum berdiri kemudian mengangkat kedua tangannya keatas lalu mengencangkannya untuk sedikit meregangkan tubuhnya. "Ahh ... sepertinya malam ini aku bisa tidur dengan nyenyak, karena malam ini, aku dapat banyak barang berharga," ucapnya merasa sedikit lega karena tubuhnya sedikit lebih rileks setelah peregangan.
Saat hendak melangkahkan kakinya untuk pergi dari sana, pencuri itu menoleh ke belakang menatap tas kosong hasil curiannya yang tergeletak di bawah tidak jauh dari tempatnya berdiri. Ia memandanginya sejenak lalu berlari kearahnya dan langsung menendangnya dengan kencang sampai tas tersebut terhempas dan melayang jauh.
Ia tersenyum puas sesaat setelah tas itu melayang jauh, sampai dua orang di ujung gang yang menangkap tas tersebut melunturkan sedikit senyumnya. Dua orang itu adalah Arga dan Bima.
Setelah berlari dan menyusuri sudut kota untuk mencari keberadaan pencuri itu, Arga dan Bima akhirnya mendengar suara seseorang yang berasal dari dalam gang. Mereka pun memutuskan untuk masuk ke dalamnya dan setelah didekati ternyata benar saja, itu adalah suara dari pencuri yang sedang mereka cari.
Pencuri itu tidak dapat melihat dengan jelas sosok mereka berdua, dia hanya melihat siluet bayangan hitam yang terpantulkan oleh cahaya lampu jalan di belakang mereka. Dia mencoba memicingkan matanya agar bisa melihat lebih jelas sosok kedua orang di ujung gang yang terlihat sedang berjalan mendekatinya.
Jarak diantara mereka semakin dekat, namun sang pencuri masih tidak dapat melihat wajah dari kedua sosok tersebut. Bukan tanpa alasan, matanya berbeda dari orang normal. Dia tidak bisa melihat objek yang berada jauh darinya dan harus mendekati objek yang ingin dia lihat. Penderitanya memiliki suatu keadaan yang disebut Rabun Jauh dan pencuri itu adalah salah satu penderitanya.
Setelah Arga dan Bima berada dalam jangkauan penglihatannya, ia reflek mundur satu langkah karena terkejut. "Siapa kalian?" teriak pencuri itu. Suaranya terdengar menggema di dalam gang sempit tersebut. Suara yang memantul diantara dinding menjadi bersahutan dalam tempo yang berdekatan sehingga terdengar menjadi lebih tebal dan menggema.
"Kembalikan," ucap Bima singkat dengan tatapan dingin yang menusuk.
Pencuri itu diam sejenak sebelum membalas perkataan Bima. "Apa yang kau katakan, Bocah? Aku tidak mengerti maksudmu," tanya pencuri tersebut. Sebenarnya dia tahu maksud kedatangan mereka berdua adalah untuk mengambil kembali tas yang telah dia curi. Dia berkata seperti itu untuk mencoba melindungi dirinya dengan berpura-pura tidak mengerti maksud dari perkataan Bima.
"Tas," balas Bima singkat masih dengan tatapan yang sama.
"Tas apa? Bukannya tas yang kau bicarakan ada ditanganmu? Kenapa kau malah bertanya padaku?" tanya pencuri itu masih berpura-pura bodoh.
Arga mengambil tas yang ada ditangan Bima kemudian mulai membuka dan mengecek isi di dalamnya. "Kosong, Bim. Pasti dia sudah mengambil semua isi tasnya," ucap Arga menduga.
Bima melirik singkat pada Arga lalu kembali menatap pencuri tersebut. "Untuk terakhir kalinya aku bicara kepadamu. Kembalikan—tasnya!" ucap Bima penuh penekanan.
"Hei, aku benar-benar tidak mengerti apa yang kau bicarakan, Bocah! Sekarang pergilah, jangan ganggu aku!" ujar pencuri tersebut semakin berlagak bodoh.
"Lalu apa yang tergeletak di sampingmu?" tanya Bima tiba-tiba.
"Tergeletak? Apa?" tanya pencuri itu lagi. Kali ini dia benar-benar tidak paham maksud dari ucapan Bima.
Ia melihat ke bawah dan mencari benda yang Bima maksud. Ia membulatkan matanya sesaat ketika melihat Kartu Tanda Pengenal dan Kartu Sekolah yang sebelumnya ia lempar sembarang tergeletak tidak jauh darinya.
Ia hening sejenak, "Tidak mungkin benda ini yang dia maksud, 'kan? Maksudku, dengan jarak itu, bagaimana bisa?" gumamnya pelan.
Alasan dia berkata seperti itu karena jarak antara dirinya dengan mereka berdua terbilang masih cukup jauh walaupun sudah berada dalam jangkauan penglihatannya, ditambah keadaan di dalam gang sempit tersebut yang minin cahaya.
Untuk melihat wajah satu sama lain saja sudah sangat sulit di dalam gang yang gelap itu, apalagi untuk melihat benda tipis berukuran kecil yang tergeletak di atas aspal. Bahkan, manusia dengan penglihatan normal pun tidak akan menyadari keberadaan kartu tersebut saat berjalan melewatinya.
"Dua kartu yang ada di sampingmu, bisa kau jelaskan apa itu?" tanya Bima tiba-tiba yang membuat pencuri di hadapannya terkejut.
Bukan hanya pencuri itu saja yang terkejut, Arga yang berada di sampingnya pun tidak mengerti maksud dari ucapan Bima. "Kartu apa, Bim? Dimana?" tanya Arga memandangi sekitar.
"Di sana," ucap Bima sambil menunjuk ke arah kartu yang berada beberapa kaki dari pencuri tersebut. "Kartu Tanda Pengenal dan Kartu Sekolah milik perempuan tadi." imbuhnya. Bima dapat melihat dengan jelas foto yang tertera pada kartu tersebut.
Arga memicingkan matanya dan berusaha melihat kartu yang dimaksud oleh Bima. Namun, seberapa besar pun usahanya untuk mencari letak kartu tersebut, Arga masih tidak dapat melihat kartu yang Bima maksud.
Bukan tanpa alasan, itu karena penglihatan Arga dan Bima sangat jauh berbeda. Dalam posisi Bima saat ini, ia mampu melihat keadaan sekitar dengan sangat jelas bahkan dalam keadaan gelap sekalipun. Berbeda dengan Arga, penglihatannya terbatas dan hanya mampu melihat objek tertentu dalam jarak dekat jika berada di dalam kegelapan. Bahkan bisa dikatakan, penglihatan Bima enam kali lebih tajam dari Arga dan pencuri itu.
Setelah beberapa saat terjadi keheningan, pencuri itu pun akhirnya tertawa keras yang membuat dua orang di hadapannya terkejut karena suara tawanya yang menggema.
"Kau! Kau sangat menakjubkan, Bocah! Dalam kegelapan seperti ini, kau mampu melihat benda yang kecil seperti ini." Dia mengambil salah satu kartu tersebut lalu melemparnya kembali. "Luar biasa! Luar biasa!" ucap pencuri tersebut lantang sambil bertepuk tangan beberapa kali.
Bima dan Arga hanya diam sambil terus menatap tingkah aneh pencuri di hadapan mereka.
"Ya, kau benar. Aku sudah mencuri tas perempuan itu. Lalu kau mau apa, Bocah?" tanya pencuri itu terdengar menantang kemudian mulai tertawa lebar.
Bima menoleh pada Arga. "Kau tahu apa yang harus kita lakukan, Ar?" tanya Bima.
"Ya, aku mengerti." jawab Arga dengan tatapan terfokus pada pencuri di hadapannya lalu menaruh perlahan tas yang ada di tangannya.
Sesaat kemudian, tanpa aba-aba mereka berdua melesat dengan cepat kearah pencuri tersebut dan langsung menyerangnya secara bergantian. Pukulan demi pukulan keras yang terarah dari keduanya membuat pencuri itu terpukul ke belakang langkah demi langkah.
Selama latihan bersama, mereka berdua sudah sering berlatih beberapa tehnik beladiri, bahkan mereka berdua sudah membuat kombinasi serangan dalam pertarungan bersama.
Arga menendang betis kiri.
Bima menendang tulang kering kaki kanan.
Arga menendang paha kiri.
Bima memukul rahang bawah.
Arga menyikut pelipis kanan.
Bima menendang ulu hati.
Arga menendang rusuk kiri.
Bima memukul leher kanan.
Arga melompat dan menendang tulang hidung dengan lututnya.
Berbagai macam serangan dari mereka berdua membuat pencuri itu tidak berkutik, ia hanya diam tidak melawan dari serangan mematikan mereka berdua. Tapi anehnya, dia masih tetap berdiri, seolah tidak terjadi apa-apa.
Arga dan Bima melompat ke belakang dan membuat jarak dari pencuri itu. Mereka sedikit kelelahan karena terus-menerus menyerang pencuri tersebut tanpa henti.
"Hei, kenapa ... dia ... tidak ... melakukan apa-apa?" tanya Arga dengan nafas terengah-engah.
"Entahlah. Aku pun tidak tahu." balas Bima dengan tatapan masih terpaku pada pencuri tersebut.
Bima menatap punggung tangannya yang terlihat merah dan sedikit robek pada kulitnya setelah beberapa kali menyerang pencuri tersebut. Baru kali ini dia merasakan sakit di tangannya karena memukul seseorang.
Bahkan rasa sakitnya melebihi saat dirinya memukul sebatang pohon besar sampai tumbang. Ia seolah tidak percaya dengan apa yang terjadi dan terkejut dengan kemampuan pencuri itu.
"Hei, apa kalian sudah selesai, Bocah Sialan?" tanya pencuri tersebut lantang.
Bima dan Arga kembali siaga dan membuat kuda-kuda pertahanan untuk berjaga-jaga jikalau pencuri itu tiba-tiba menyerang mereka.
Pencuri itu membunyikan ruas tulang lehernya beberapa kali, lalu sesaat kemudian ia berlari kencang kearah mereka berdua dan langsung memukul mereka bersamaan dengan kedua tangannya sampai keduanya terhempas jauh ke belakang.
"Agh, tanganku ...." Arga meringis merasakan sakit di lengannya akibat menahan pukulan dari pencuri tersebut.
"Pukulannya kuat sekali, bahkan sampai membuat kami terhempas ke belakang," gumam Bima pelan.
Bima menoleh pada Arga sesaat lalu menatap pencuri tersebut dengan tajam. "Sebenarnya siapa dia?" gerutunya bertanya-tanya.
Tanpa di duga, pencuri itu tidak memberi kesempatan mereka berdua untuk menarik nafas. Ia langsung menyerang mereka berdua bergantian dengan pukulannya yang sekeras batu.
Arga tidak mampu bertahan dari pukulan itu dan langsung terhempas ke belakang sampai terbentur tembok lalu jatuh lemas di aspal, sedangkan Bima masih bertahan dan berusaha menghindar dari setiap serangan pencuri itu.
Dengan satu pukulan keras yang mengenai dadanya, Bima berhasil membuat pencuri itu terhempas cukup jauh ke belakang, namun tubuhnya masih tetap kokoh berdiri.
Bima berlari menghampiri Arga dengan cepat. "Ar, bangunlah!" ucapnya sambil mendudukkan tubuh Arga.
Arga batuk beberapa kali saat mencoba untuk duduk, dia memegang perutnya yang terkena pukulan pencuri itu.
"Atur nafasmu," titah Bima pada Arga.
Arga mulai menghembuskan nafasnya secara teratur beberapa kali dan merasakan sakit di perutnya sudah lebih baik.
"Kau masih bisa bertarung?" tanya Bima.
"Ya, aku bisa," balas Arga mengangguk cepat.
Mereka berdua berdiri lalu kembali menatap tajam pada pencuri itu.
"Sialan, kalian bocah-bocah bodoh menyusahkanku saja!" bentak pencuri itu.
Bima dan Arga masih tetap menatapnya dengan tajam, waspada pencuri itu akan menyerangnya lagi. Kini mereka jauh lebih siap dari sebelumnya.
Tiba-tiba, pencuri itu melepaskan jaket kulit yang dia pakai kemudian dilanjutkan melepas baju kaosnya yang juga berwarna hitam sampai bagian tubuh atasnya telanjang dan hanya menyisakan celana panjangnya saja.
Dan yang selanjutnya terjadi sungguh mengejutkan mereka berdua. Tepat di depan mata mereka, tubuh pencuri itu mulai mengalami perubahan aneh. Di sekujur tubuhnya, muncul lapisan seperti kulit kayu tebal, tapi jika dilihat lebih dekat itu adalah lapisan kulit badak.
Bukan hanya itu, sebuah tanduk tajam muncul tepat di atas kepalanya layaknya sebuah cula badak.
Mereka berdua, Arga dan Bima membulatkan matanya terkejut dan tidak percaya dengan apa yang mereka lihat tepat di depan mata mereka. Mereka hanya bungkam dan tidak bisa berkata-kata.
"Ma—Mahluk apa itu, Bim?" tanya Arga dengan kaki gemetar.
Bima hanya diam membisu menatap tidak percaya pada mahluk yang ada di hadapannya. "Siapa dia sebenarnya?" gumamnya pelan sesaat setelah menelan salivanya dengan susah payah.
Pencuri yang telah berubah menjadi mahluk menyeramkan itu kemudian tertawa dengan keras sampai memenuhi seluruh celah di sana. " Dengar, Bocah! Aku Ras Valosa dari Klan Badak! Kalian akan mati di tanganku malam ini!" ucapnya lantang diikuti tawa kerasnya.
"K—Klan Badak?" ucap Arga terbata-bata.