2 Minggu Sebelumnya di Akademi Bachalpsee
"Sialan, kenapa orang itu lama sekali? Sampai kapan aku harus menunggunya di sini?" Dion mendengus kesal.
Ia terlihat sedang berdiri sendirian di koridor Akademi, tepat di depan pintu kelasnya. Ia sedang menunggu kedatangan seseorang sambil melipat kedua tangannya dan wajahnya nampak kesal karena sudah berdiri di sana cukup lama.
Keadaan Akademi sore itu terlihat sepi karena semua orang telah pulang.
Tidak berselang lama, langkah kaki seseorang terdengar bersahutan dari ujung koridor diikuti dengan munculnya pemilik langkah tersebut, yang tidak lain adalah Nix, salah satu pembimbing di Akademi.
Urusan diantara mereka berdua tempo lalu belum selesai. Dion masih belum mengerti maksud dari ucapan Nix tentang Ras Valosa.
Saat terjadinya peristiwa penculikan Leona dan juga kejadian setelahnya yaitu pertarungan antara Nix dengan Byron, Dion tidak ada di sana. Ia tidak mengikuti ucapan Nix untuk datang ke tempat yang telah disebutkan olehnya karena terlalu malas untuk datang ke tempat tersebut dan alasan lain dia tidak terlalu peduli dengan apa yang dibicarakan oleh Nix.
Kemudian pagi ini, Dion sengaja menemui Nix dan membuat janji dengannya untuk bertemu di koridor Akademi pada sore hari untuk membicarakan kembali tentang Ras Valosa.
Alasan Dion mengajak Nix untuk bertemu sore hari setelah keadaan di Akademi sepi agar tidak ada yang mengetahui pembicaraan mereka berdua, bahkan kedua teman yang selalu bersama Dion pun disuruh pulang lebih dulu.
Nix menghentikan langkahnya tepat di depan Dion, ia menoleh padanya dengan tatapan serius. "Apa yang ingin kau bicarakan denganku?" tanya Nix. Ia sebenarnya tidak punya waktu untuk sekedar berbicara dengan Dion, hanya saja dia telah mengetahui latar belakang keluarganya yang sangat erat hubungannya dengan Geng CanisLupus Nigreos.
Dion menegakan tubuhnya yang awalnya bersandar pada dinding di belakangnya. "Waktu itu kau mengatakan sesuatu tentang Ras Valosa. Jelaskan padaku tentang Ras Valosa! Aku ingin mengetahuinya," titah Dion dengan serius.
Nix mengerutkan kening sambil menarik sedikit bibirnya. "Ada apa denganmu? Kenapa kau tiba-tiba ingin mengetahui tentang Ras Valosa?" tanyanya penasaran. Padahal jelas-jelas waktu itu Dion sama sekali tidak peduli pada ucapannya tentang Ras Valosa. Ia bahkan tidak datang ke tempat yang telah Nix sebutkan.
Dion terdiam sejenak, matanya menatap serius pada Nix. "Itu karena ...,"
Dua hari yang lalu, Dion diundang untuk datang ke Pusat Wilayah Timur untuk menghadiri Pertemuan Penting yang diadakan oleh para Petinggi Geng CanisLupus Nigreos yang dilaksanakan setiap lima tahun sekali.
Setiap lima tahun sekali, semua anggota Geng CanisLupus Nigreos yang tersebar di seluruh wilayah harus berkumpul di Pusat Wilayah Timur. Tujuan dilaksanakannya pertemuan tersebut adalah untuk menyeleksi calon pemimpin baru yang akan memimpin pergerakan Geng tersebut untuk waktu lima tahun ke depan.
Pemimpin Geng CanisLupus Nigreos yang telah memimpin sebelumnya tidak lantas digantikan oleh calon pemimpin yang baru. Ia akan mengikuti seleksi sampai ditentukan pemimpin yang akan memimpin selanjutnya.
Penyeleksian diikuti oleh semua calon pemimpin yang terpilih atau yang mencalonkan dirinya untuk jadi pemimpin. Sistem penyeleksian yang dilakukan adalah semua calon pemimpin akan bertarung sampai mati.
Pemenang dari pertarungan pertama akan langsung menghadapi lawan yang juga telah menang dari pertarungan pertamanya pada hari itu juga tanpa istirahat. Kemudian pemenang dari pertarungan kedua akan langsung bertarung dengan pemenang pertarungan kedua juga, begitu seterusnya sampai ada satu pemenang yang tersisa, dialah satu-satunya calon pemimpin yang masih hidup dan dinyatakan layak menjadi kandidat terbaik untuk menjadi calon pemimpin.
Tidak hanya sampai disitu saja, tiga hari kemudian kandidat terbaik tersebut akan bertarung kembali dengan pemimpin sebelumnya. Pertarungan itulah yang akan menentukan siapa pemimpin selanjutnya yang akan memimpin Geng CanisLupus Nigreos untuk lima tahun ke depan.
Sistem Penyeleksian masih sama dengan sebelumnya, dimana kedua calon pemimpin akan bertarung sampai salah satu diantara mereka mati. Dan pertarungan inilah yang dinamakan Pertarungan Hukum Rimba, dimana yang lemah akan dimangsa oleh yang kuat. Hidup dan mati ditentukan oleh kekuatan.
Ayah Dion merupakan anggota penting dalam Geng tersebut sehingga keluarganya sudah menjadi bagian dari Geng itu sendiri. Dion yang merupakan anak dari seorang anggota penting mendapat undangan khusus untuk menghadiri pertemuan tersebut dan dapat menyaksikan langsung Pertarungan Hukum Rimba secara jelas. Dia dan keluarganya duduk bersama dengan para petinggi Geng tersebut. Namun, ini adalah pertama kalinya Dion datang ke pertemuan itu dan dia sama sekali tidak mengetahui apa-apa tentang Pertarungan Hukum Rimba.
Pertarungan Hukum Rimba dilakukan di dalam sebuah arena bundar berlantai beton dengan pagar besi yang menjulang tinggi dengan ujung yang tajam. Arena bundar tersebut berada di tengah-tengah kolam lava yang akan melahap apa saja yang masuk ke dalamnya.
Arena bertarung sengaja dibuat seperti itu agar kedua petarung yang sedang bertarung memperebutkan tahta kepemimpinan tidak bisa melarikan diri. Walaupun dalam keadaan sekarat, ia harus tetap bertarung mempertahankan hidupnya atau ia harus siap menghadapi kematian. Pertarungan tidak akan dihentikan sampai salah satu petarung benar-benar mati. Ingat, prinsip dalam Pertarungan Hukum Rimba adalah Membunuh atau Dibunuh.
Dion bertepuk tangan dan berteriak dengan antusias mengikuti para penonton yang hadir di sana. Tidak ada orang lain, hanya anggota Geng Canislupus Nigreos yang diperbolehkan untuk menghadiri pertemuan tersebut.
Dia duduk di tempat khusus bersama dengan para petinggi Geng tersebut sehingga dapat melihat dengan jelas pertarungan yang berlangsung.
Petarung pertama mulai memasuki arena melewati pintu besi yang dijaga oleh dua penjaga bertubuh kekar, namun masih kalah kekar dengan petarung tersebut.
Sebut saja Dino, dia adalah pria berusia sekitar 30-an tahun yang merupakan pemimpin Geng Canislupus Nigreos sebelumnya. Tubuhnya kekar sempurna, bahkan urat tangannya terlihat lebat merambat di seluruh tangannya. Terdapat banyak luka sayatan di punggungnya. Matanya biru menyala dan tatapannya mematikan. Hanya dengan melihat matanya saja, sudah bisa diketahui kalau Dino sangat kuat dan orang yang berbahaya.
Dion mengalihkan pandangannya ke sebelah kiri, tepat di sisi kirinya hanya berjarak beberapa meter, para Petinggi Geng Canislupus Nigreos duduk di sana. Nampak lima orang duduk berjajar, usia mereka semua diperkirakan tidak terpaut jauh, mungkin sekitar 50 an tahun, hal itu terlihat dari rambut mereka yang sudah terdapat uban. Walaupun begitu, tubuh mereka masih sangat bugar dan kekar, terlihat jelas dari balik jasnya.
Mereka duduk dengan tegak tanpa ekspresi, matanya tajam melihat kearah Arena Pertarungan.
Setelah memperhatikan para petinggi itu beberapa saat, Dion kembali memalingkan pandangannya ke dalam arena.
Tidak berselang lama, pintu besi dari sisi lain Arena Pertarungan mulai terbuka. Seorang pemuda melewati pintu tersebut dan berjalan santai memasuki Arena. Tatapan dingin tanpa ekspresinya mengintimidasi, tubuhnya kekar berisi namun tidak sebesar petarung pertama. Dia adalah Jion, pemuda yang berusia sekitar 20 an tahun, seumuran dengan Dion.
Sesaat kemudian, Dion tersenyum sinis. "Siapa bocah itu?" ucapnya sambil terkekeh. "Apa dia bisa bertahan di dalam sana? Paling hanya satu menit saj," imbuhnya. Dilihat dari sudut mana pun, pemuda itu bukanlah tandingan pria pertama.
Tidak ada wasit di dalam Arena, hanya kedua petarung saja. Waktu pertarungan tidak terbatas, namun biasanya tidak lebih dari sepuluh menit sudah dapat ditentukan pemenangnya. Tidak ada aturan dan waktu istirahat. Titik menyerang bebas, tujuan pertarungan untuk saling membunuh.
Dada Dion berdebar kencang, ia sudah tidak sabar ingin segera melihat kedua petarung itu saling menyerang. Namun sedikit di dalam hatinya, ia ingin melihat petarung kedua mati dalam pertarungan.
Kemudian salah satu dari kelima Petinggi Geng tersebut berdiri untuk menyampaikan pidato singkat. "Ini adalah Pertarungan Hukum Rimba. Menanglah atau kau akan kalah. Bunuhlah atau kau akan dibunuh. Dan kuatlah untuk menjadi yang teratas," ucapnya menggelegar sampai memenuhi setiap sudut di sana. Setelah itu, ia duduk kembali.
Terdengar aneh di telinga Dion. Namun, ia tidak terlalu mempedulikannya. Ia hanya fokus pada pertarungan itu.
Setelah itu, pagar besi pembatas Arena berputar cepat, tanda pertarungan telah dimulai.
Kedua petarung berjalan memutari arena sambil menatap tajam satu sama lain. Dalam sekejap, Dino melayangkan serangan pertamanya. Detik selanjutnya mereka akan terus bertarung sampai salah satu diantara mereka mati.