Kedua petarung berjalan memutari arena sambil menatap tajam satu sama lain. Dalam sekejap, Dino melayangkan serangan pertamanya, namun Jion dapat menghindari serangan tersebut dengan cepat.
Kekuatan Dino sangat dahsyat. Bahkan, dapat dilihat dari serangan pertamanya. Efek dari serangannya tadi membuat kolam lava di sekitar arena menyembur keluar karena dorongan tenaga darinya.
Sesaat kemudian, Dino kembali menyerang Jion dengan serangan mematikan lainnya. Ia menyerangnya terus menerus tanpa henti. Sampai akhirnya serangan darinya mengenai Jion hingga membuatnya terhempas dan membentur pagar besi pembatas arena.
Dino tidak memberikan kesempatan untuknya berdiri. Dia langsung menghimpit tubuh Jion dengan duduk di atasnya. Kedua kakinya menginjak tangan Jion. Kini Jion dalam masalah besar, tubuhnya tidak bisa bergerak.
Dino mulai memukuli wajah Jion dengan pukulan mematikan diselingi beberapa kali sikutan. Ia menyerang tanpa ampun dan terus menerus. Perlahan wajah Jion mulai hancur dan tidak berbentuk. Tulang hidungnya patah dan kulitnya robek. Mengeluarkan darah segar yang berceceran di lantai arena.
Tangan Dino kini dipenuhi lumuran darah dari Jion. Namun, serangannya masih berlanjut hingga tubuh Jion melemas dan tidak bergerak lagi.
Dino menghentikan serangannya. Suasana hening dan menjadi tegang. Dino mulai berdiri lalu berjalan mengelilingi arena sambil mengedarkan pandangannya ke arah penonton. Ia berteriak dengan keras. Suaranya menggelegar sampai memekakkan telinga. Sesaat kemudian, riuh penonton mulai terdengar saling bersahutan. Tepuk tangan dan teriakan pujian memenuhi Arena Pertarungan.
Beberapa saat kemudian, suasana kembali hening. Mata para penonton melebar dengan mulut menganga seolah tidak percaya dengan apa yang mereka lihat di dalam arena. Dino sedikit kebingungan, ia tidak tahu alasan riuh penonton tidak terdengar lagi.
Sepasang mata biru menyala menatapnya dari belakang. Gigi taring nampak saling beradu geram. Jion kembali bangkit dengan menakjubkan. Luka di wajahnya sudah hilang sempurna. Namun, darah segar masih memenuhi wajahnya.
Dino berbalik cepat ke belakang. Namun, Jion tiba-tiba sudah ada di belakangnya. Dino mendengus kesal, ia kembali membalikan badannya cepat. Jion masih tidak ada di hadapannya. Gerakan Jion jauh lebih cepat dari sebelumnya.
Sekali lagi, ia berbalik cepat. Jion kini tidak bergerak, ia hanya menatap dingin pada Dino dengan tatapan intimidasi dari mata birunya. Dino merasakan ketakutan sesaat.
Dalam sekejap, Jion sudah tidak ada di hadapannya lagi. Dia bergerak cepat ke berbagai arah. Dino berusaha menangkapnya tapi sia-sia saja. Dino berada dalam kepanikan. Kecepatan Jion melebihi kecepatannya. Ia hanya mampu berdiri sambil berusaha melindungi dirinya.
Dalam gerakan cepat itu, Jion menyerang Dino dari berbagai arah. Serangan dilakukan terus menerus, semakin lama semakin cepat, luka robekan mulai terpampang di sekujur tubuh Dino. Darah segar mengucur deras membanjiri tubuhnya. Ia tidak mampu menghindari serangan Jion.
Sesaat kemudian, Dino kembali berteriak keras, memencarkan tenaga dalam dengan jumlah yang cukup besar, sampai membuat Jion terpental membentur pagar tapi masih dalam keadaan berdiri.
Saat itulah kekuatan Valosanya muncul. Dino perlahan berubah menjadi sosok mengerikan menyerupai serigala. Mulutnya berubah menjadi moncong. Giginya menjadi taring dan jari tangannya mengeluarkan cakar runcing yang besar.
Jion hanya menatapnya dengan dingin lalu mulai tersenyum tipis. Pertarungan tersebut terus berlanjut sampai salah satu diantara mereka mati.
***
"Aku tidak tahu pertarungan itu akan berubah menjadi mengerikan. Jadi, aku ingin tahu lebih banyak tentang Ras Valosa yang kau sebut!" ucap Dion.
"Baiklah, apa yang ingin kau ketahui?" tanya Nix.
"Apa diantara kita masih banyak manusia seperti itu, maksudku Ras Valosa?" balas Dion bertanya.
Nix tidak langsung menjawab, ia berdiri di samping Dion sambil menyandarkan tubuhnya pada dinding di belakangnya. Ia menghela nafas. "Hah ... entahlah, aku tidak tahu soal itu. Keberadaan Ras Valosa sangat sulit ditebak. Mereka bisa ada dimana saja. Karena fisik mereka sama seperti manusia, mereka bisa berbaur dengan mudah. Bisa jadi mereka sebenarnya ada di sekitar kita. Bahkan bisa juga ada di Akademi ini," jelas Nix dengan senyum penuh maksud di bibirnya.
Sebenarnya dia yang menjelaskan tentang Ras Valosa adalah Ras Valosa, hanya saja lawan bicaranya belum mengetahui hal tersebut.
Dion terdiam beberapa saat sebelum bertanya lagi. "Lalu, kenapa mereka tidak pernah terlihat dan keberadaannya tidak pernah diketahui?" tanyanya lagi.
"Ada dua kemungkinan, kemungkinan yang pertama, Ras Valosa sudah mengetahui jati diri mereka yang sebenarnya, tapi tetap menyembunyikan kekuatannya dan hidup tanpa ingin menunjukan bahwa dirinya adalah Ras Valosa."
"Lalu kemungkinan kedua?" tanya Dion tidak sabaran.
"Kemungkinan yang kedua, Ras Valosa belum mengetahui jati diri mereka yang sebenarnya, sehingga mereka tidak menyadari kekuatan yang tersimpan di dalam tubuhnya."
"Lalu bagaimana cara mereka bisa tahu kalau mereka adalah Ras Valosa?" tanya Dion masih tidak sabaran.
"Kekuatan itu akan muncul seiring berjalannya waktu. Lambat laun, mereka yang mempunyai kekuatan itu akan mengetahui bahwa dirinya adalah Ras Valosa, cepat atau lambat."
"Lalu apalagi yang kau ketahui tentang Ras Valosa?" tanya Dion lagi mulai membuat Nix jengkel.
Nix menjelaskan bahwa Ras Valosa terbagi menjadi 2 golongan, Ras Valosa Nivora dan Ras Valosa Bivora.
Golongan Nivora adalah tipe Ras Valosa yang genius dalam strategi dan kemampuan. Mereka hebat dalam pertarungan kelompok dan individu. Golongan Nivora yang terkuat adalah Ras Valosa dari Klan Harimau. Mereka memiliki jumlah tenaga dalam yang lebih besar dari semua Klan yang ada. Kemampuan bertarungnya sangat mematikan bahkan tidak ada Klan lain yang menandingi kemampuannya.
Lalu Golongan Bivora, mereka adalah tipe Ras Valosa yang kurang cerdas dalam strategi namun juga hebat dalam pertarungan. Kebanyakan dari mereka menyalahgunakan kekuatannya. Jelas Nix dengan lengkap.
Dion masih sedikit penasaran dengan penjelasan dari Nix. "Jika Klan Harimau adalah yang terkuat dari Golongan Nivora, lalu yang terkuat dari Golongan Bivora Klan apa?" tanya Dion sekali lagi.
"Klan Badak." balas Nix.
***
"K—Klan Badak?" ucap Arga lalu menoleh pada Bima. "Apa yang harus kita lakukan, Bim?" tanya Arga panik.
"Aku tidak tahu, Ar. Aku baru pertama kali melihat mahluk seperti itu. Kita tidak punya pilihan lain selain mengalahkannya." balas Bima.
"Jika kita tidak bisa mengalahkannya, bagaimana?"
Bima terdiam beberapa saat. "Aku akan berusaha mencari celah untuk menyerangnya. Yang harus kita lakukan adalah terus menyerangnya sampai aku menemukan kelemahannya," jawab Bima.
Setelah mendengar jawaban dari Bima, Arga mengalihkan pandangannya pada pencuri itu lalu menelan salivanya dengan susah payah. "Baiklah aku mengerti. Aku akan mulai menyerangnya." Tanpa aba-aba, Arga berlari ke arah pencuri itu untuk menyerangnya.
Bima sangat terkejut dengan yang baru saja dilakukan oleh temannya. "He—Hei! Tunggu, Ar!" teriak Bima mencoba menghentikan Arga.
Namun Arga tidak mendengar teriakannya, ia terus berlari ke arah pencuri itu.
Pencuri tersebut menatap heran kedatangan Arga yang terang-terangan akan menyerangnya. "Cih, Bocah bodoh!" dengus pencuri itu kesal.
Arga langsung melayangkan pukulan lurus dan tepat mengenai d**a pencuri tersebut, namun pencuri itu tidak bergeming dari tempatnya.
"Bagaimana rasanya, hah?" ucap pencuri sambil tersenyum.
Arga mengencangkan rahangnya geram, ia tidak lantas mundur, ia mencoba menyerangnya lagi dengan menendang paha kanannya dengan keras, namun sia-sia saja.
"Sial, lapisan kulit kerasnya menyebar di seluruh tubuhnya, seranganku sia-sia saja," ucap Arga kesal saat serangannya tidak berdampak apapun pada pencuri itu.
"Ar, mundur dulu!" teriak Bima dari belakang.
Arga tidak mendengar teriakan Bima dengan jelas, ia hanya berbalik, menoleh pada temannya "Apa, Bim?" Arga yang lengah mengabaikan serangan pencuri di depannya.
Dengan cepat, pencuri itu menyerang Arga dengan cula di kepalanya. Dia menyeruduk Arga lalu melemparkan tubuhnya keatas sampai melayang di udara untuk beberapa saat. Arga jatuh dengan cepat. "WAAAAA!" Arga berteriak ketakutan.
Bima segera berlari tepat dibawah Arga kemudian menangkap tubuhnya sebelum membentur aspal.
"Kau gegabah sekali," ucap Bima sambil menurunkan tubuh Arga.
"Hei, kan tadi kau yang bilang untuk menyerangnya!" balas Arga dengan nada tinggi.
"Tidak! Aku tidak bilang," sanggah Bima.
"Jelas-jelas kau bilang tadi!" Arga tidak mau mengalah.
"Tidak! Aku tidak bilang apapun!" balas Bima mulai menaikkan nada bicaranya.
"Jangan pura-pura lupa. Sudah jelas kau yang—"
"Hei, Bocah!" teriak pencuri menyela pertengkaran kedua pemuda di hadapannya.
Bima dan Arga langsung menoleh bersamaan kearah pencuri itu.
"Kalian main-main denganku, ya?" Pencuri itu merasa kesal karena telah diremehkan oleh kedua bocah di hadapannya.
Sesaat kemudian, pencuri itu langsung berlari ke arah mereka berdua, dari gerakannya sudah bisa ditebak bahwa dia akan menyeruduk mereka dengan cula di kepalanya.
"Menghindar!" teriak Bima.
Mereka berdua kompak melompat ke sisi berlainan.
"Gerakannya tidak terlalu cepat, sepertinya kalau soal kecepatan, kita lebih unggul," ucap Bima mencoba menganalisa kemampuan pencuri itu.
"Kau benar soal itu, tapi lapisan kulitnya sangat tebal, serangan apapun tidak akan mempan," ucap Arga melengkapi analisa.
"Pasti ada celah." Bima mencoba optimis.
"Kalian akan kubunuh malam ini!" teriak pencuri itu lalu berlari ke arah Bima.
Sesaat sebelum menghindari serangannya, Bima menatap secara seksama seluruh bagian tubuh pencuri tersebut, kemudian matanya melebar sesaat ketika menemukan sesuatu yang janggal.
Ia melompat melewati pencuri itu dan mendarat di samping Arga.
"Walau pun dia tidak terlalu cepat, lapisan kulitnya sangat keras sehingga sulit ditembus. Apa yang harus kita lakukan? Kurasa kita akan terjebak semalaman disini." Arga mulai pasrah dengan keadaan.
"Sepertinya itu tidak akan terjadi," sanggah Bima.
"Apa maksudmu?" tanya Arga tidak mengerti maksud ucapan Bima
"Aku menemukan celah untuk menyerangnya," ujar Bima.
***
BONUS PART
"Apa kau sudah selesai berbicara denganku?" tanya Nix.
"Ya, aku akan pulang sekarang," balas Dion. Ia mulai berjalan meninggalkan Nix.
Nix tersenyum sesaat sebelum memanggil Dion. "Hei, kau!" panggil Nix.
Dion menoleh ke belakang, matanya melebar saat melihat rupa Nix. "Ja—Jadi kau juga Ra—Ras Valosa?"