"Aku menemukan celah untuk menyerangnya," ucap Bima. Raut wajahnya serius.
Mendengar itu, Arga cukup terkejut. "Kau serius?" tanyanya.
Sangat sulit untuk menemukan kelemahan musuh dalam keadaan terdesak. Diperlukan waktu yang cukup dan analisa yang tepat untuk menemukan celah menyerang dalam pertarungan.
Keadaan lingkungan juga sangat berpengaruh dalam menganalisa titik lemah musuh. Tingkat cahaya dan tempat bertarung sangat menentukan tindakan yang akan dilakukan dalam mengeksekusi analisa yang telah didapatkan.
Sementara itu, Bima menemukan titik lemah musuh dalam keadaan sedikit cahaya dan ruang yang sempit. Sangat mustahil dilakukan oleh seseorang dengan kemampuan terbatas. Pasukan elit militer mungkin bisa melakukannya, hanya saja dengan bantuan teknologi canggih.
"Ya, aku menemukan sesuatu saat dia berlari ke arahku. Lapisan kulitnya memang tebal dan sangat sulit ditembus, tapi- Menghindar!" teriak Bima tiba-tiba.
Pencuri itu tiba-tiba datang menyerang, sontak Bima dan Arga langsung menghindar. Mereka berdua lagi-lagi melompat ke arah berlainan. Jarak mereka berdua terpaut cukup jauh. Pencuri berada diantara mereka. Tidak mungkin melanjutkan percakapan mereka sebelumnya karena pencuri itu pasti bisa mendengarnya.
"Ar, mendekat kesini!" teriak Bima.
"Apa?! Aku tidak bisa ke sana. Kau saja yang ke sini!" sahut Arga membalas.
Bima tidak bisa mengambil langkah gegabah untuk bergerak mendekati Arga. Pencuri itu kini diam, menunggu dirinya mendekat. Tentu saja, mereka berdua saling berteriak, bagaimana mungkin pencuri itu tidak tahu apa yang akan mereka lakukan.
Bima tahu dia tidak punya cara lain untuk mendekati Arga selain melewati pencuri itu bagaimanapun caranya. Dia mengambil nafas dalam. Sesaat kemudian, ia berlari cepat ke sisi kanan Si Pencuri. Pencuri itu dapat menebak pergerakan Bima, ia bergerak ke sisi kanan untuk menghadang Bima.
Bima terus berlari hingga jaraknya hanya beberapa langkah saja dari pencuri. Gerakan selanjutnya mengejutkan, ia melompat dan berlari di permukaan dinding beberapa langkah lalu diakhiri dengan salto ke depan satu putaran dan mendarat dengan sempurna tepat di samping Arga.
Arga hanya menatap semua gerakan Bima dengan mulut menganga terkesan. Namun, dia tiba-tiba tersadar bahwa tidak ada waktu untuk terlalu terkesan saat ini. Walaupun dalam hati kecilnya ingin mendapatkan tanda tangan Bima dan berfoto bersamanya.
"Hei! Jangan banyak gaya! Cepat katakan apa kelemahan pencuri itu?!" tanya Arga.
"Kulitnya! Kelemahannya ada pada kulitnya," jawab Bima cepat.
"Kulitnya? Kulit pencuri itu sangat keras, tahu! Kau ini bagaimana?" ujar Arga. Ucapannya terkesan meremehkan Bima, itu karena dia belum mendengar keseluruhan analisa Bima
"Lapisan kulit itu tidak menutup seluruh permukaan tubuhnya. Ada penghubung diantara- Dia datang lagi!" teriak Bima kemudian menghindar bersamaan dengan Arga.
Mereka semakin dibuat terdesak. Pencuri itu tidak memberi kesempatan untuk mereka merencanakan sesuatu atau untuk sekedar membuat percakapan.
Dari awal, pencuri itu sudah bisa menebak bahwa kemampuan Bima berada di atas rata-rata. Ia tahu bahwa saat ini Bima belum mengeluarkan setengah pun kemampuannya. Nafasnya masih ringan, bahkan pergerakan tubuhnya masih sangat stabil.
"Dia tidak akan memberi kita kesempatan. Dia akan terus menyerang kita," ucap Bima.
Nafas Arga mulai terengah-engah. "Lalu ... kita ... harus bagaimana?" tanya Arga di selingi tarikan nafas.
"Aku akan mencoba menyerang titik lemahnya. Jika seranganku membuatnya kesakitan, berarti dugaanku benar dan kita berpeluang besar untuk mengalahkannya," tutur Bima.
"Baiklah, aku mengerti," balas Arga.
Sesaat kemudian, Bima melesat cepat ke arah pencuri. Dalam satu gerakan ia melompat dan membuat tendangan lurus melayang yang mengarah tepat ke d**a pencuri. Tendangan Bima cukup keras, sampai membuat pencuri itu mundur satu langkah ke belakang. Namun, serangannya tidak berdampak apapun kepada pencuri tersebut.
Tanpa jeda, pencuri itu langsung maju satu langkah sambil melayangkan pukulannya. Bima menyampingkan badannya dan berhasil menghindar. Dia mengambil langkah mundur kemudian menyerang pencuri itu kembali. Tendangan tajam yang mengarah tepat ke sendi belakang lutut, penghubung antara kaki bagian atas dan bawah. Di luar dugaan, serangan Bima membuat kaki pencuri itu tertekuk sampai lututnya menyentuh tanah. Pencuri itu berteriak kesakitan dan langsung memegangi kakinya.
"Ya! Berhasil!" seru Arga dari kejauhan.
Selagi pencuri itu berteriak kesakitan, Bima mengambil kesempatan dengan membuat jarak darinya. Ia melompat mendekati Arga.
"Bagaimana, Bim?" tanya Arga dengan antusias. Ia mengetahui serangan Bima berhasil membuat pencuri itu kesakitan, membuktikan bahwa analisa Bima tepat.
"Dugaanku benar, lapisan kulit itu tidak sepenuhnya menutupi tubuhnya. Ada beberapa sambungan di sana. Yang baru kutemukan di belakang lututnya," jelas Bima membenarkan analisanya.
"Tunggu, bagaimana kau bisa tahu itu? Maksudku, siapa yang bisa berpikir sampai sana? Lihat itu, kakinya saja tidak terlihat, bagaimana kau menemukan kelemahan yang berada di balik celananya?"
"Ruang gerak. Sendi lutut akan menekuk jika seseorang dalam keadaan berjalan ataupun berlari. Jika ruang gerak itu tidak ada, pencuri itu tidak akan bisa berlari, bahkan untuk menekuk lututnya saja tidak akan bisa. Maka, aku berspekulasi bahwa terdapat terdapat ruang kosong pada bagian tubuhnya yang tidak terlindungi lapisan kulit itu dan itu ada di bagian sendi lututnya." tutur Bima. Ia mempunyai cukup waktu untuk menjabarkan analisanya karena saat ini pencuri itu masih berusaha memulihkan rasa sakit di kakinya.
"Wah, kau sangat jenius! Baguslah, ayo kita serang titik lemahnya lagi dan buat dia kesakitan. Lalu, kita cari kelemahannya yang lain," balas Arga.
"Ya," sahut Bima mengangguk.
Sesaat kemudian, mereka berdua berlari ke arah pencuri dan langsung menyerangnya tanpa memberi kesempatan untuk membuat pertahanan. Setiap ada kesempatan, mereka berdua menyerang titik lemah pencuri itu. Satu orang memancingnya untuk memberi ruang, satu orang yang lain menyerang titik lemahnya dengan serangan yang lebih mematikan dari sebelumnya.
Sembari menyerang, Bima berusaha mencari letak titik lemah yang lain pada tubuh si pencuri.
"Sambungan lengan atas ..." ucapnya lirih saat melihat pergerakan aneh pada bahu si pencuri.
Bima melompat ke belakang sambil berteriak, "Ar, kau bisa mengunci lengannya?"
"Bagaimana caranya?" balas Arga sambil terus menyerang si pencuri.
"Pegang lengannya lalu tahan sekuatnya. Aku akan mencari kesempatan untuk melumpuhkannya dalam satu serangan," jelas Bima.
Dalam keadaan bertarung, hanya beberapa orang saja yang masih bisa berpikir jernih dan Arga bukan salah satunya. Ia tidak bisa berpikir dengan jelas, otaknya hanya terfokus pada gerakan tubuhnya yang sedang bertarung.
Namun, untuk melakukan yang Bima ucapkan mungkin masih bisa, walaupun tidak maksimal. Ia sengaja menghentikan serangannya lalu menunggu pencuri itu melayangkan pukulannya. Keinginannya terjadi, pencuri tersebut melayangkan pukulan dan dengan cepat Arga menangkap tangannya. Ia memutar tangan pencuri lalu menariknya ke belakang tubuhnya. Dengan sedikit dorongan ke atas, tangan pencuri itu sudah terkunci.
Benar saja, pencuri itu lagi-lagi berteriak kesakitan. Kunciannya berhasil, tapi Arga melupakan satu hal, tangan pencuri yang lain. Satu tangan yang bebas membuatnya mampu bertahan, ia menyikut rusuk kanan Arga dengan keras. Ia memutar tubuhnya lalu mencengkram sebelah bahu Arga dan langsung melemparnya. Arga terhempas jauh dan berakhir dengan membentur tembok.
Arga meringis kesakitan, "Agh! Punggungku ..."
Arga mendudukkan dirinya sambil mengusap punggungnya yang mulai terasa mati rasa. "Astaga, padahal tujuanku ke kota bukan untuk ini!" Ia mengeluh.
Bima segera berlari menghampiri Arga lalu membantunya berdiri. "Kau tidak apa?" tanya Bima sedikit khawatir.
"Tidak apa-apa, hanya punggungku saja yang remuk," balas Arga datar.
Bima menoleh cepat kepada Arga yang sedang menatapnya dengan malas.
"Badanku sakit semua, tahu!" seru Arga tiba-tiba.
"Pertarungan ini harus segera kita akhiri," ucap Bima memalingkan pandangannya.
"Kau benar, ayo minta maaf padanya lalu pergi dari sini. " Saran yang konyol dari Arga.
Sekarang gantian Bima yang menatapnya dengan tatapan malas, "Hei, kita sudah bilang pada perempuan itu akan kembali mengambil tasnya, kan?"
Arga menghela nafas kasar, "Baiklah-Baiklah, apa rencanamu?"
"Mungkin ini satu-satunya cara yang tersisa. Jika ini tidak berhasil, aku tidak tahu lagi," ujar Bima. Raut wajahnya kembali serius.
Arga menelan air liurnya sebelum membalas ucapan Bima. "Berarti ... ini jalan terakhir supaya kita bisa menang?" tanya Arga dengan ragu.
Bima mengangguk pelan.
Arga terdiam cukup lama sebelum kembali membuka mulutnya. "Baiklah, apa rencananya?"
Bima menjelaskan rencananya pada Arga secara singkat, jelas dan padat. Untungnya Arga mudah paham dan dapat menangkap semua ucapan Bima.
Sementara itu, Si Pencuri nampak memutar-mutar sendi lengan atasnya yang masih terasa sakit akibat kuncian dari Arga sebelumnya. Meskipun tanpa tehnik, ternyata Arga berhasil menggeser sedikit tulang bahunya. Perkembangan tenaganya sudah jauh berbeda dari sebelumnya.
"Kau siap, Ar?" tanya Bima memastikan.
Arga menghela nafas dalam. "Aku akan berusaha," jawabnya.
Mereka hening untuk beberapa saat. Pencuri itu pun kini menatap mereka berdua dan sudah siap menerima serangan selanjutnya.
"Sekarang!" ucap Bima dengan cepat.
Arga langsung berlari cepat kearah pencuri dengan tatapan tajam dan konsentrasi penuh.
"Majulah, Bocah Sialan!" teriak pencuri itu sambil merekatkan kepalan tangannya.
Pencuri itu langsung melayangkan pukulannya. Beberapa inci dari wajahnya, Arga menghindar dengan cara melompat melewati si pencuri, kakinya menginjak ujung culanya. Ia menghentakkan kakinya, menekan sedikit ke belakang sampai membuat pencuri itu terpelanting ke depan.
Arga mendarat dengan mulus dan terus berlari ke sisi lain gang. Pencuri itu mengeraskan rahangnya geram dan langsung mengejar Arga. Tanpa di duga, ujung gang ternyata buntu, Arga terjebak di sana.
"Ah ... gangnya buntu, aku terjebak. Bagaimana ini?" ucap Arga dengan wajah panik.
Arga membalikkan badannya, berharap masih bisa lolos dari kejaran si pencuri. Namun, ketakutannya terjadi. Pencuri itu tinggal beberapa langkah lagi darinya. Ia tidak mungkin memakai cara sebelumnya untuk menghindar, tidak cukup ruang untuk membuat ancang-ancang.
"AAAAAA!!!" Arga berteriak panik.
Suara benturan keras terdengar, kedua dinding diantara gang bergetar hebat. Runtuhan dinding mulai berjatuhan dan kepulan debu mulai menerpa keluar dari gang.
Bima hanya menatap kosong pada kegelapan dimana Arga berada. "Ar ...."