Lima Menit Sebelumnya
"Baiklah, apa rencanamu?" tanya Arga dengan tatapan serius.
Arga merasa bahwa ia tidak bisa terus-terusan terjebak dalam perkelahian itu. Dia tahu tubuhnya memiliki stamina yang terbatas. Suatu waktu, tubuhnya pasti akan mencapai titik akhirnya. Dia harus memanfaatkan kesempatan sekecil apapun untuk menang dalam pertarungan tersebut.
Arga sangat berkonsentrasi saat ini. Memanfaatkan waktu yang tersisa dan menggunakan sebaik-baiknya kesempatan yang ada adalah hal yang harus dia lakukan. Kini dia mencoba memusatkan fokusnya pada Bima. Itu akan membantunya untuk memahami setiap kata yang keluar dari mulut Bima.
Bima menatap Arga dengan tatapan serius. Dia menghela nafas dalam sebelum berbicara. "Begini, Ar, setelah kuperhatikan, gang ini hanya terbuka di salah satu ujungnya saja. Dengan kata lain, ujung gang ini buntu."
Arga mengangguk. Ia dapat memahami inti dari perkataan Bima.
"Yang harus kau lakukan adalah cobalah sebisa mungkin membuat pencuri itu untuk pergi ke ujung gang yang buntu. Pancing dia dengan cara apapun yang kau bisa! Buat dia marah agar mengejarmu sampai ke ujung sana!" lanjut Bima. Ia menjeda perkataannya. Melihat respon Arga.
Arga mengangguk paham. Ia tahu apa yang harus dia lakukan.
"Setelah kau sampai di ujung gang bersama pencuri itu, buatlah dirimu seolah kau terjebak di sana. Bertingkah dan berteriaklah dengan panik! Itu akan membuatnya berpikir bahwa kau sudah terjebak dan tidak bisa melarikan diri." Bima kembali menjeda perkataaannya. Arga kembali mengangguk paham.
"Saat tidak ada lagi ruang untuk melarikan diri, hal yang pasti akan dia lakukan adalah menyerangmu. Jika dugaanku benar, kemungkinan besar dia akan menggunakan cula di kepalanya untuk menyerangmu. Tetaplah fokus pada saat itu, tunggu sampai dia berlari ke arahmu." Bima kembali berhenti. Arga mengangguk paham lagi.
"Ketika pencuri itu tinggal beberapa langkah darimu, segera menghindar! Bergeraklah ke sudut tembok dengan cepat. Jika rencana ini berhasil, pencuri itu tidak akan menduga bahwa kau akan menghindar. Dia akan terus menyerang sampai akhirnya dia akan menabrakkan dirinya ke tembok. Cula di kepalanya akan membuat sebuah lubang berukuran sebesar kepala. Lubang itu akan membuat kepalanya tersangkut di sana. Saat itulah waktu yang tepat untuk melumpuhkannya."
"Baik, ada lagi?" tanya Arga. Sejauh ini, raut wajahnya cukup meyakinkan Bima.
"Berilah tanda kepadaku jika rencana ini berjalan lancar. Kau bisa berteriak memanggilku. Dan ingat, berhati-hatilah! Jangan gegabah!" Bima memegang bahu Arga. Matanya menatap berharap. " Apa kau mengerti semua yang aku katakan, Ar?" tanya Bima lagi mencoba memastikan.
Bima sangat berharap Arga mengerti semua yang dia ucapkan. Tidak ada waktu untuk terus berdiskusi tentang rencana. Mereka harus menggunakan waktu yang tersisa sebaik-baiknya dengan mulai menjalankan rencana tersebut.
Arga terdiam sejenak dan itu membuat Bima mulai khawatir. "Aku mengerti. Ayo kita lakukan!" jawab Arga dengan mantap. Membuat Bima sedikit bernafas lega.
***
Suara benturan terdengar keras diikuti suara benda berjatuhan ke tanah. Bima berfikir itu adalah runtuhan tembok yang hancur akibat serangan pencuri itu.
Suasana hening beberapa saat. Membuat Bima hanya menatap kosong ke depan sambil menunggu sebuah tanda panggilan dari Arga. Berharap terdengar suara yang menandakan bahwa rencananya berjalan lancar. Namun, satu hal yang harus Bima ingat, kunci keberhasilan rencana tersebut bergantung pada Arga. Seberapa tepat Arga bereaksi dan seberapa cepat ia menghindar dari serangan Si Pencuri menentukan hasil dari rencana mereka.
Namun, Bima sangat yakin, temannya mampu melakukan semua rencananya dengan benar. Dia menepis jauh-jauh pikiran negatif tentang kegagalan rencananya dan resiko yang akan Arga dapatkan jika sampai rencana mereka gagal.
Suasana masih hening untuk beberapa saat. Kepulan debu mulai menerpa wajah Bima dan mengganggu penglihatannya. Bima mencoba untuk tetap fokus. Ia berusaha melihat menembus kepulan debu tersebut. Namun, hal itu cukup sulit untuk dilakukan. Kepulan debu itu cukup tebal karena benturan sebelumnya cukup keras.
Tiba-tiba, dari ujung gang, tepat di balik kepulan debu tersebut, terdengar suara batuk beberapa kali. Suara yang tidak asing di telinga Bima. Dia pernah mendengar suara batuk itu sebelumnya. Benar, itu suara Arga. Bima mulai berjalan mendekat dengan langkah cepat.
"Sekarang, Bim!" Arga memanggil dari sana. Tanda rencana mereka berjalan lancar.
Bima langsung berlari menghampiri Arga memasuki kepulan debu itu. Ternyata, kepulan debu yang cukup tebal di bagian depan, sudah menipis di bagian belakang. Membuat penglihatan Bima kembali sempurna. Kini ia dapat melihat keadaan sekitar dengan jelas seperti sebelumnya.
Rencananya berjalan dengan sempurna. Pencuri itu kini terjebak dengan kepala menancap pada tembok. Ujung culanya yang lancip tidak membuat tembok itu hancur, melainkan hanya membuat lubang kecil seukuran kepala saja. Benturan terdengar begitu keras karena tembok yang dia tabrak sangat tebal. Ketebalannya mencapai 60 sentimeter.
Pencuri itu berontak dan berusaha untuk melepaskan diri dengan menarik-narik kepalanya untuk keluar dari lubang tembok. Namun, Bima belum selesai dengan rencananya. Ia masih harus melakukan satu hal lagi, melumpuhkan Si Pencuri.
Dalam sekejap, Bima langsung menyerang titik lemah pencuri itu dengan tendangan tajam punggung kakinya. Serangannya sangat keras bahkan sampai terdengar bunyi tulang remuk. Bima kembali mengangkat kakinya keatas kemudian dihujamkan tumit kakinya dengan keras ke titik yang sama dan akhirnya satu kaki pencuri itu patah.
"Argh! Hentikan, Bocah Sialan! Kalian menghancurkan kakiku! Hentikan!" teriak pencuri itu menahan sakit.
"Ar, kaki satunya!" seru Bima pada Arga. Tanpa berpikir panjang, Bima berniat membuat kedua kaki Si Pencuri patah untuk melumpuhkannya secara total agar ia tidak kembali menyerang.
Arga butuh waktu beberapa saat untuk merespon ucapan Bima karena ia masih terbatuk-batuk oleh debu yang dihirupnya.
"Ba—Baik," balas Arga sesaat setelah batuknya reda.
Ia langsung melakukan tendangan keras dengan punggung kakinya beberapa kali tepat di titik lemah Si Pencuri sampai kedua kakinya mengalami hal yang sama, patah di bagian lututnya.
Arga menghela nafas dalam dan mencoba mengatur nafasnya yang mulai terasa berat. Tenaganya sudah habis dan staminanya berada di titik kritis. Tubuhnya sudah tidak bisa melakukan pertarungan. Beruntung pertarungan itu telah berakhir dengan kemenangan yang mereka dapatkan.
Beberapa saat kemudian, tubuh pencuri itu kembali seperti semula layaknya manusia biasa. Staminanya yang melemah membuat kemampuannya perlahan memudar yang membuat lapisan kulit keras dan cula di kepalanya kini menghilang.
Beberapa saat setelah mengatur nafas, Bima dan Arga kemudian menarik tubuh pencuri itu untuk melepaskannya dari tembok. Bagaimana pun juga, mereka berdua masih punya sifat manusiawi untuk tidak membiarkan pencuri itu terjebak semalaman dengan kaki yang patah.
Jika dipikir, cukup kejam yang mereka berdua lakukan kepada pencuri itu. Namun, mereka tidak punya pilihan lain. Mereka harus melakukan itu. Jika tidak dilakukan, justru merekalah yang akan terbunuh oleh Si Pencuri.
Secara tidak langsung prinsip Pertarungan Hukum Rimba telah mereka gunakan. Mungkin bisa dibilang, setengah prinsipnya karena mereka berdua tidak sampai membunuh pencuri itu.
Mereka mendudukkan tubuh besar Si Pencuri kemudian menyandarkannya pada tembok.
Pencuri itu mendengus kesal karena telah dikalahkan. "Untuk apa kalian melakukan ini, hah? Kenapa kalian mengeluarkanku dari lubang itu?" tanyanya dengan kepala tertunduk.
"Jangan banyak bicara, kami hanya tidak ingin kau mati dalam keadaan tertancap tembok," balas Bima datar.
Si Pencuri tersenyum sinis dengan kepala masih menunduk ke bawah. "Siapa kau sebenarnya?" tanyanya lagi.
Bima maju satu langkah lebih dekat kepada pencuri itu lalu berjongkok di hadapannya. "Bima," jawabnya hanya mengatakan separuh namanya saja.
Pencuri itu mengangkat kepalanya lalu menatap Bima, "Bima ya ... harus ku akui kau cuk—" ucapannya tiba-tiba terhenti. Matanya melebar, ia terlihat ketakutan. Ia menatap Bima cukup lama, matanya manggambarkan ketakutan yang sangat dalam.
"Kau ... Ma—Mata itu!" Pencuri itu terlihat ketakutan dan berusaha bergerak menjauhi Bima.
"Mataku? Ada apa dengan mataku?" Bima sedikit kebingungan melihat ekspresi ketakutan Si Pencuri saat menatap matanya.
"Ma—Mata itu ... ka—kau Klan Harimau!" ucap Si Pencuri.