Sepuluh Hari Sebelumnya
Dion memutuskan untuk kembali menemui Nix. Ia ingin bertanya tentang perubahan mata Nix yang terjadi beberapa hari lalu saat mereka bertemu di koridor Akademi. Mereka bertemu lagi di tempat yang sama.
Dion menyandarkan tubuhnya pada salah satu sisi koridor. "Waktu itu, aku melihat warna matamu berubah. Kenapa bisa begitu?" tanya Dion.
Nix menyilangkan kedua lengannya. Ia menoleh ke arah Dion. "Itu salah satu kemampuan Ras Valosa." Nix memalingkan pandangannya lurus. "Kami yang memiliki kekuatan Valosa dapat mengubah warna mata kami. Itu juga yang membedakan kami dengan Ras Manusia," ujar pria itu.
Dion menegakkan tubuhnya. Matanya sedikit memicing. "Kau bilang Ras Valosa terbagi dalam beberapa Klan. Kalau begitu, kau ini termasuk Klan apa?" tanya Dion lagi.
Nix kembali menoleh ke arah pemuda itu. "Serigala," jawabnya singkat.
Dion terbelalak. "Se—Serigala? Berarti, kau Valosa Nivora?" ujar Dion. Raut wajahnya terkejut.
"Ya, begitulah." Nix mulai malas menjawab. "Hei, Bocah, apa kau sudah selesai bertanya? Aku tidak punya banyak waktu!" ujar Nix.
"Tunggu sebentar! Aku masih punya pertanyaan. Kalau kau bisa merubah warna matamu, itu berarti, semua Ras Valosa bisa melakukannya?" tanya Dion kembali.
Nix menghela napas kasar. "Hampir semua Valosa Nivora bisa melakukannya. Namun, hanya sebagian saja dari Valosa Bivora yang bisa merubah warna mata mereka," balas Nix.
"Lalu, jika Valosa sudah merubah warna mata, apa itu meningkatkan kemampuan mereka?" tanya Dion lagi.
Nix kembali menghela napas. Raut wajahnya kesal. Ia mulai merasa jengkel. "Perubahan yang terjadi pada mataku tidak berdampak apapun pada kemampuanku. Namun, untuk beberapa Klan, mata mereka sangat berguna. Aku mengetahui beberapa Klan yang memiliki mata dengan intensitas menakutkan. Itu adalah mata dari Klan Harimau dan Klan Elang," beber Nix.
Dion terdiam sejenak. Ia menyentuh dagunya. Matanya melirik ke sembarang arah. Raut wajahnya terlihat sedang memikirkan sesuatu.
Nix menatap Dion heran. "Apa yang sedang kau pikirkan, Bocah?" tanya Nix. Dia tidak bisa menunggu lama.
Dion menatap Nix. "Apa saja kemampuan mata mereka?" tanya Dion lagi.
Helaan nafas yang kesekian kalinya keluar dari mulut Nix. Matanya menatap kesal pada Dion. "Kau ini banyak bertanya, Bocah! Dengarkan penjelasanku, jika kau bertanya lagi, aku akan membunuhmu!" gertak pria tersebut
Nix kembali menghela nafas dalam. Ia mengangkat sedikit kepalanya. Pandangannya menatap lurus. "Salah satu kemampuan khusus yang dimiliki Klan Elang terletak pada matanya. Mereka memiliki penglihatan super tajam. Lima kali lebih tajam dari manusia dengan penglihatan sempurna. Mereka mampu melihat musuh dari jarak ratusan meter di atas permukaan tanah. Hal yang paling menakutkan dari mata mereka adalah penglihatan 340 derajat. Itu artinya mereka dapat melihat keadaan sekitarnya dengan sempurna, kecuali sedikit ruang di belakang kepala mereka. Itu disebut titik buta."
"Lalu, Klan Harimau?" tanya Dion cepat. Ia tidak memberi kesempatan untuk Nix menghela napas.
"Sabar dulu, Bocah! Biarkan aku menarik nafas!" ujar Nix. Ia kembali menghela nafas. "Klan Harimau ditakuti karena kemampuan berpikir dan analisanya. Tidak ada Klan lain yang dapat menandingi kecerdasan Klan Harimau. Mereka adalah Klan yang paling jenius. Tapi, terlepas dari itu semua, Klan Harimau sangat ditakuti karena kekuatan yang mereka miliki, terutama kekuatan pada matanya," jelas Nix.
Dion masih terdiam. Raut wajahnya terlihat serius. Ia fokus mendengarkan perkataan Nix.
"Kemampuan penglihatan Klan Harimau sangat mengerikan. Penglihatan mereka sangat tajam. Bahkan, saat malam hari, penglihatan mereka enam kali lebih baik, dibandingkan manusia dengan penglihatan sempurna. Oleh karena itu, jangan pernah bertarung dengan mereka saat malam hari!" Nix berhenti berbicara. Ia menoleh pada Dion. "Kau sudah puas sekarang?" tanya Nix kesal.
"Tu—Tunggu dulu. Aku baru ingat, bukankah Klan Harimau adalah yang terkuat?" tanya Dion.
Raut wajah Nix berubah. Tatapannya datar. "Ya. Mereka adalah yang terkuat. Beberapa Klan sangat takut kepada mereka. Sorot mata itu, cahaya di balik mata itu, menghidupkan ketakutan kepada siapa pun yang menatapnya," ucap Nix.
***
Bima menatap heran. "Klan Harimau? Apa itu?" tanya Bima.
Raut wajah pencuri itu berubah. Ia sedikit terkejut. "Ka—Kau tidak tahu?" tanyanya kembali.
Bima menggeleng. "Tidak," balas Bima singkat.
Pencuri itu kembali menatap mata Bima. "Tidak salah lagi. Kau adalah Klan Harimau." Matanya melebar. "KLAN TERKUAT DI NAVALOSA!"
***
Arga dan Bima sudah menyelesaikan urusan dengan pencuri itu. Kini, mereka dalam perjalanan kembali ke tempat sebelumnya. Tempat dimana mereka bertemu perempuan yang kehilangan tasnya. Saat ini, tas itu sudah berada di tangan mereka, lengkap dengan semua isinya. Arga dan Bima tidak mengetahui pasti apa saja isi di dalamnya. Mereka hanya mengambil kembali barang-barang yang berada di saku jaket pencuri dan yang tergelatak di tanah. Mereka berdua yakin tidak ada yang terlewat.
Arga berjalan di sebelah Bima. Ia menoleh pada Bima. "Bim, apa saja yang dikatakan pencuri itu padamu?" tanya Arga.
Bima masih menatap lurus ke depan. Ia menghela nafas kasar. "Entahlah. Aku juga tidak terlalu mengerti apa yang dikatakan olehnya. Dia berbicara tentang Klan Harimau dan Ras Valosa. Tapi, dia tidak mau menjelaskan apa arti perkataannya," balas Bima.
"Ras Valosa dan Klan Harimau?" gumam Arga.
Bima melirik singkat pada Arga. Ia menarik bibirnya, tersenyum tipis. Ia kembali mengingat pertarungan sebelumnya. Kerja sama dengan Arga tidak terlalu buruk.
Arga menyentuh dagunya. Raut wajahnya terlihat berpikir. "Klan Harimau ..., Hmm ... sebelumnya pencuri itu juga berkata kalau dia Klan Badak. Lalu setelah itu, dia berubah menjadi mahluk mengerikan menyerupai badak. Jika dipikir-pikir, ini mungkin ada hubungannya denganmu, Bim," gerutu Arga.
Bima yang mendengar itu langsung menoleh." Kau bicara apa, Ar? Jangan berpikir hal konyol!" ucapnya.
"Jangan-Jangan ... Kau bisa berubah menjadi harimau, Bima!" seru Arga.
Bima terbelalak. Terkejut dengan apa yang dikatakan oleh Arga. "Kau bicara apa, Ar?" Ia tertawa kecil. "Kau aneh sekali. Sudah kuduga kau pasti berpikir hal konyol," lontar Bima.
"Hei, bagaimana kalau pikiranku ini benar, Bim? Bagaimana kalau kau bisa berubah?" ujar Arga.
Bima kembali tertawa. "Tidak mungkin! Sudahlah, berhenti mengatakan hal konyol seperti itu!" ucap Bima
"Tidak! Aku yakin dugaanku benar. Coba kau fokus dan yakinkan dirimu bahwa kau adalah Harimau!" ujar Arga.
"Tidak. Dugaanmu itu sangat aneh, Ar!" Bima masih tertawa.
"Cobalah sekali. Aku yakin kau pasti berubah," ucap Arga lagi.
"Berubah? Kau pikir aku ini apa, hah?" balas Bima.
Arga menghentikan langkahnya. "Hei, Bim," panggilnya.
Bima ikut berhenti. Ia menoleh ke samping. "Hm?" sahutnya.
Arga langsung memegang kedua pipi Bima. "Sini, coba aku lihat warna matamu!" Arga mendekatkan wajahnya. Menatap mata Bima.