"Sini, coba aku lihat warna matamu!" Arga mendekatkan wajahnya. Menatap mata Bima.
"Tidak ada yang aneh dengan matamu, Bim. Kenapa pencuri itu bilang matamu seperti mata harimau, ya?" tanya Arga.
"Aku juga tidak tahu." Bima masih menunggu Arga melepaskan tangan dari pipinya. "Hei, sudah belum? Lepaskan tanganmu, Ar!" seru Bima.
Arga melepaskan tangannya dari pipi Bima. Ia menyentuh dagunya dan nampak berpikir. "Hm ... sepertinya ada yang salah." gumamnya.
Bima menyentuh pipinya yang sedikit sakit. "Hei, Ar, jangan terlalu memikirkan ucapan pencuri itu! Kita tidak tahu kebenarannya. Kita juga tidak tahu dia mahluk apa. Yang terpenting sekarang, kita bisa mengalahkannya dan berhasil selamat." Bima melirik pada tas di tangannya. "Dan juga berhasil merebut kembali tas ini," ujarnya. Mengangkat sedikit tas di tangannya.
Arga tersenyum lebar. "Yap, kau benar, Bim," balas Arga. Ia menepuk bahu Bima. "Ini semua berkat rencana jenius darimu, Bim," puji Arga.
Bima tersenyum tipis. "Tidak juga. Ini semua berkat usahamu, Ar. Rencanaku tidak akan berhasil jika tidak dieksekusi dengan baik," balas Bima.
Mata Arga melebar. "Ah, kau bisa saja, Bim." Ia mulai memiringkan bibirnya. "Ya walaupun, ucapanmu itu memang benar sih. Tapi tetap saja, pujian berlebihan itu tidak baik," ujarnya.
Bima kembali melangkah. Arga menyusulnya. "Kau lihat aku bertarung tadi, 'kan?" tanya Arga.
Bima menoleh. "Ya, kau sekarang sudah hebat," balas Bima.
Arga tersenyum lebar. "Sudah kuduga, aku sekarang sudah hebat. Tapi, aku tidak boleh berbangga diri. Aku harus terus latihan." Arga mengempalkan tangannya. Matanya berbinar penuh semangat.
Bima hanya tersenyum tipis mendengar celotehan Arga. Mereka lanjut melangkah.
Beberapa saat melangkah, mereka pun telah sampai di taman, tempat mereka bertemu seorang perempuan yang kehilangan tasnya.
Bima mengedarkan pandangan, mencari dimana perempuan itu berada. Ia melihat perempuan itu tengah tertidur di kursi taman. Mereka melangkah menghampirinya.
Mereka menatap perempuan itu sesaat kemudian saling menatap satu sama lain. Arga kembali memalingkan pandangan pada perempuan itu. "Dia sampai tertidur. Apa kita pergi terlalu lama, Bim?" tanya Arga.
Bima ikut memindahkan pandangan pada perempuan di hadapannya. Ia menggeleng. "Entahlah. Mungkin sekitar satu jam," jawabnya.
"Satu jam? Lumayan lama ya. Pantas saja dia sampai ketiduran," ucap Arga.
"Ya, aku rasa begitu," sambung Bima.
Arga menepuk lengan Bima. "Hei, coba bangunkan dia!" ucapnya.
Bima menoleh cepat. Ia mengerutkan kening. "Kenapa aku? Kau saja, Ar!" balik Bima.
Arga menoleh sesaat pada Bima. Ia menghela nafas. "Baiklah, aku saja," ujarnya. Arga tahu Bima tidak akan mau melakukan itu. Ia melangkah mendekat dan menepuk lengan perempuan itu. "Hei, Nona! Bangunlah! Tasmu sudah kami ambil kembali," ucapnya pelan.
Perempuan itu tidak bereaksi apapun. Matanya masih terpejam. Tidurnya sangat pulas.
Arga diam sejenak. Ia menoleh pada Bima. "Bagaimana?" tanyanya.
"Coba lagi!" seru Bima.
Arga kembali menghela nafas. Ia menepuk pelan pipi perempuan itu. "Nona, bangun!" ucapnya lirih.
"Mmh ...." Perempuan itu mulai bereaksi. Matanya perlahan terbuka. Tiba-tiba, matanya terbuka cepat. "Astaga!" Ia berteriak, terkejut melihat Bima dan Arga tengah berdiri menatapnya.
Arga tidak kalah terkejut. "He—Hei, tenanglah! Ini kami," ujar Arga berusaha menenangkan.
Perempuan itu menatap mereka bergantian. Ia menghela nafas lega. "Hah ... ternyata kakak yang tadi," tuturnya. "Ah, maaf. Aku tadi ketiduran," imbuhnya.
"Ti—Tidak apa-apa. Wajar jika kamu ketiduran. Mungkin, kami yang terlalu lama," ujar Arga.
Perempuan itu tersenyum canggung. Matanya menangkap tas yang berada di tangan Bima. "Ah, iya, tasku? Bagaimana dengan tasku, Kak? Kalian menemukannya?" tanyanya. Raut wajahnya gelisah.
Bima menatap datar. "Tenanglah! Tasmu ada di tanganku." Ia melempar tas perempuan itu kepadanya. "Coba lihat dalamnya! Kami tidak tahu masih lengkap atau ada yang hilang," ujar Bima.
Perempuan itu mengangguk cepat. "I—Iya." Ia mulai membuka tasnya dan merogoh isinya. Semua barang berharga masih berada di sana, tidak berkurang satu pun. Ia kembali menghela nafas lega. "Syukurlah." Matanya menatap Bima. "Semua barangku masih lengkap, Kak. Terima kasih banyak. Jika tidak ada kalian berdua, aku tidak tahu lagi harus berbuat apa," ujarnya.
Bima masih menatap datar. "Syukurlah," balasnya. Ia memalingkan pandangan ke arah lain.
Arga bernafas lega. "Syukurlah kalau begitu," tuturnya. Ia menoleh pada Bima. "Hei, Bim, malam ini kita tidur dimana?" tanya pemuda itu.
"Kalau soal itu sepertinya tidak masalah. Kita bisa tidur dimana saja. Kita hanya butuh tempat untuk mengistirahatkan tubuh dan memulihkan stamina kita," lontar Bima.
Arga mengangguk paham. "Ya. Kau benar juga," balasnya.
Perempuan itu mulai berdiri dari duduknya. "Maaf, apa kalian bilang tempat untuk tidur?" tanyanya memastikan. Ia tidak sengaja mendengar pembicaraan mereka.
Arga dan Bima menoleh bersamaan. "Iya, benar. Kami sepertinya butuh tempat untuk tidur," jawab Arga.
"Apa kalian berdua bukan berasal dari daerah ini?" tanya dia lagi.
"Ah, bukan. Kami tidak tinggal di sini. Kami berasal dari desa di dekat kaki gunung. Kami pergi ke daerah ini hanya untuk membeli beberapa barang saja," balas Arga.
Perempuan itu mengangguk paham. "Kebetulan, tempat tinggalku tidak jauh dari sini. Jika kalian mau, kalian bisa menginap di rumahku. Aku tidak keberatan," ucapnya.
"Ah, tidak. Kami takut mengganggu keluargamu," balas Arga.
"Tidak apa-apa. Kebetulan aku tinggal sendiri, Kak," ucap perempuan itu.
Arga terkejut. "Kamu punya sendiri?" lontarnya.
"Ah, bukan. Sebetulnya, aku juga bukan dari daerah ini. Aku hanya di sini untuk sekolah. Jadi, aku menyewa sebuah rumah untuk tempat tinggalku selama berada di sini," ucapnya.
Arga mengangguk paham. "Ah, begitu rupanya. Kamu masih sekolah ternyata," ujar Arga.
Perempuan itu tersenyum tipis. "Iya, Kak. Aku masih sekolah," baliknya.
"Kami juga masih sekolah. Sepertinya kita seumuran," Arga tersenyum ramah. Ia menoleh pada Bima. "Bagaimana, Bim? Kita menginap saja?" tanyanya.
Bima menghela nafas. "Tidak masalah. Aku rasa kita membutuhkan itu." Bima menatap perempuan di hadapannya. Tatapannya datar. "Maaf sudah merepotkanmu," tutur Bima.
Perempuan itu menundukkan pandangan. "Ah, tidak apa-apa. Justru aku yang harus minta maaf karena sudah merepotkan kalian. Sekali lagi, aku ucapkan terima kasih," balas perempuan itu.
"Oh iya, kita belum kenalan ya?" Arga tersenyum canggung sambil menggaruk belakang kepala. Ia mengulurkan tangannya. "Kenalkan, aku Arga," salam Arga.
Perempuan itu mengangkat pandangan dan menatap Arga. Ia menggapai tangan Arga. "Aku Destry. Salam kenal, Kak Arga," balasnya.
Arga menoleh pada Bima. "Orang di sampingku namanya Bima. Dia agak tertutup orangnya. Maklumi saja ya," ujar Arga. Ia tersenyum canggung.
Destry melihat Bima lalu tersenyum, "Kak Arga dan Kak Bima, senang berkenalan dengan kalian," tuturnya.