32. Destry

1027 Kata
Bima menatap Destry. "Kau tidak perlu memanggil kami "kakak". Panggil nama saja. Usia kita tidak terlalu jauh," ucap Bima dingin. Destry mengangguk cepat. "Ah, baik," balasnya. Suasana mulai canggung. Ia mengangkat pandangan. "Bagaimana kalau kita mulai berjalan ke rumahku?" tanya Destry. Akhirnya mereka bertiga mulai melangkah menuju tempat tinggal Destry. Suasana hening, tidak ada obrolan. Namun, kecanggungan itu tidak berlangsung lama karena tempat tinggal Destry tidak terlalu jauh, sehingga perjalanan mereka terasa singkat. Mereka sudah sampai di depan pintu. Destry merogoh tasnya, mengambil kunci pintu lalu membukanya. Ia menoleh ke belakang, menatap mereka berdua. "Maaf sebelumnya, tempat tinggalku tidak terlalu besar. Aku memilih ukuran kecil supaya harga sewanya tidak terlalu mahal," tutur Destry. Ia tersenyum canggung. "Tidak apa. Ini lebih dari cukup," balas Bima. Destry menatap Bima sesaat lalu membuka bibir pintu lebih lebar. "Silakan masuk," ucapnya. Bima melangkah lebih dulu disusul Arga, diikuti Destry yang kemudian menutup pintu dengan rapat. Destry mengizinkan mereka untuk duduk di lantai ruang tengah. Ukuran rumahnya tidak terlalu sempit jika hanya ditempati satu orang. Destry meminta izin masuk ke kamarnya untuk mengganti pakaian. "Destry!" seru Arga tiba-tiba. Destry menghentikan langkah lalu menoleh ke belakang. "Iya, Ar? Ada apa?" tanya Destry. Arga mengipas-ngipas kerah bajunya. "Boleh aku numpang mandi di sini? Badanku keringat semua," ucap Arga. Badannya terasa lengket karena keringat yang mulai mengering. Ia mendapatkan keringat saat bertarung dengan pencuri sebelumnya. "Oh boleh, kamar mandinya ada di sebelah sana." Destry menunjuk sebuah pintu di sudut ruangan. "Ah, di sana, ya? Baiklah, terima kasih, ya," tutur Arga. Ia mulai berdiri. "Hei, cepatlah! Aku juga mau mandi!" ujar Bima tiba-tiba. Arga menoleh. "Hei, aku bahkan belum mandi! Bersabarlah sedikit! Aku tidak bisa diburu-buru saat sedang mandi," balas Arga menaikkan nada bicara. "Ini bukan rumahmu! Jangan menghabiskan air orang lain!" balik Bima lagi. "Iya-Iya, aku tahu." Arga mulai melangkah menuju kamar mandi. Destry terlihat menahan tawa melihat tingkah kedua orang itu. Sikap mereka sangat kekanakan ketika bersama. Ia memalingkan pandangan pada Bima. Di saat yang sama, Bima juga menatapnya. Suasana mulai canggung. "Kalau begitu, aku kamar dulu, Bim," ucap Destry. Ia langsung berlari kecil menuju kamarnya. Bima hanya menatapnya datar. Beberapa saat kemudian, Destry kembali dengan baju tidurnya. Ia melihat Bima. "Mau aku ambilkan minum, Bim?" tanyanya. Bima mengangkat pandangan. "Boleh," balasnya. Sedari tadi, tenggorokannya terasa kering. Namun, ia menahan diri untuk meminta minum. "Kamu mau minum apa?" tanya Destry lagi. "Air putih saja, maaf merepotkan," pinta Bima. Destry tersenyum ramah. "Baiklah, tunggu sebentar, ya." Destry pergi ke dapur untuk mengambil segelas air putih untuk Bima. Sesaat kemudian, ia kembali membawa segelas air di tangannya. "Silakan, Bim." Destry menyerahkan pada Bima. "Ah iya, terima kasih, Destry." Bima mengambilnya dan mulai meneguknya sampai habis. Destry menatap Bima. Matanya berbinar penuh takjub. Sedetik kemudian, ia mengingat sesuatu. "Ah iya, aku baru ingat. Aku mau ke kamarku dulu, Bim," ucapnya. "Iya, silakan," balas Bima. Destry kembali masuk ke dalam kamarnya. Meninggalkan Bima di ruang tengah. Pemuda itu mengedarkan pandangan ke seluruh ruangan. Destry sangat pandai menjaga rumahnya. Keadaan rumahnya sangat bersih dan tertata rapi. Namun, tidak ada kipas di sana. Bima melirik ke arah kamar mandi. Pintunya masih tertutup, Arga masih belum keluar. Ia mulai merasa sedikit gerah. Bima bangun dari duduknya lalu berjalan ke luar untuk mencari udara malam yang sejuk. Bima berdiri di depan pintu. Seketika rasa gerahnya hilang. Ia memejamkan matanya saat udara sejuk menerpa wajahnya. Kesejukan itu mulai terasa menjalar ke seluruh tubuhnya. Sedetik kemudian, ia membuka matanya. Pandangannya mengedar menatap keadaan sekitar. Suasana di sana tidak jauh berbeda dengan suasana di desanya. Keheningan menghiasi malam. Hanya saja, lebih banyak pohon di desa daripada di sini. Sementara itu, Destry sudah kembali ke ruang tengah. Ia tidak menemukan Bima di sana. Tangannya menenteng wadah berisi tiga cangkir teh. Saat di kamar, ia mengambil teh hijau bubuk yang sudah ia beli sebelumnya. Ia menyeduhnya untuk Arga dan Bima. Tapi, saat dia kembali, pemuda itu sudah tidak ada di tempatnya. Destry mengedarkan pandangan. Ia melihat pintu rumah sedikit terbuka. Ia berjalan kearahnya dengan tangan membawa tiga cangkir teh. Ia melebarkan bibir pintu dan melihat Bima sedang berdiri di sana, membelakanginya. Destry menghela nafas dan memutuskan untuk menghampirinya. Tiba-tiba, ia mulai merasa gugup. Tangannya gemetar. Langkahnya mulai kaku. Getaran di tangannya membuat cangkir itu saling beradu dan menimbulkan suara gemerinting. Bima yang mendengar suara itu langsung membalikkan tubuhnya. Ia melihat Destry sedang berjalan ke arahnya dengan langkah terbata-bata. Destry terkejut saat melihat Bima sudah berbalik badan dan tengah menatapnya. Keseimbangan kakinya hilang. Ia tersandung kakinya sendiri dan terpelanting ke depan. Dengan sigap, Bima langsung melesat dan menangkap tubuh Destry sebelum jatuh ke lantai. Bima menatap wajah Destry. Perempuan itu menutup matanya. Destry yang merasakan tubuhnya melayang di udara mulai membuka matanya. Matanya melebar dan pipinya mulai memerah. Degup jantungnya menjadi cepat. Dua pasang mata indah tengah menatapnya dari dekat, mata Bima. Tatapan itu terjadi cukup lama. Destry tidak bisa menyembunyikan sinar matanya. Lalu tanpa dia sadari, matanya melirik tipis pada bibir Bima. Ia menelan salivanya. Wajahnya semakin mendekati wajah Bima. Buah bibirnya perlahan terbuka dan semakin mendekati bibir Bima. Ia mulai memejamkan mata. Bima tidak bereaksi apapun. Ia hanya diam dan mengikuti alur. Matanya melirik pada bibir tipis Destry. Ia masih diam di tempatnya. Semakin lama, bibir mereka semakin dekat. Beberapa detik kemudian, bibir mereka akhirnya bertemu. *** BONUS PART Pembicaraan antara Dion dan Nix sudah selesai. Dion mulai melangkah pergi, meninggalkan Nix. "Aku melupakan satu hal," seru Nix. Dion menghentikan langkahnya. "Apa itu?" balasnya tanpa membalikkan badan. "Sebenarnya, sangat jarang ada manusia yang bisa melihat langsung mata Ras Valosa," seru Nix lagi. Dion mengernyitkan dahinya. Ia membalikkan badan. "Apa maksud dari perkataanmu?" tanya Dion. "Untuk bisa melihat kehadiran Ras Valosa, manusia hanya bisa melihatnya dari perubahan fisiknya. Mereka tidak bisa melihat langsung perubahan pada mata Valosa," balas Nix. Dion kembali mengerutkan dahi. Ia masih tidak memahami ucapan Nix. "Berbicaralah yang jelas, Sialan! Jangan berbelit-belit!" serunya. "Jika harus kusimpulkan, perubahan mata Valosa hanya bisa dilihat oleh sesama Ras Valosa," ucapnya. Nix memiringkan bibirnya. Dion terbelalak. Ia menelan air liurnya dengan susah payah. "Apa? Ja—Jadi maksudmu, aku juga Ras Valosa?" ujar Dion tidak percaya. Nix tersenyum satiris. "Itu benar, Bocah! Kau juga Ras Valosa!" seru Nix.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN